Beranda > Tulisan Orang > BENARKAH TUHAN ITU ADA?

BENARKAH TUHAN ITU ADA?

BENARKAH TUHAN ITU ADA?

Oleh: Ar Budi Prasetyo *

Di masa kejayaan komunis berbagai cara digunakan untuk “menyadarkan” masyarakat bahwa keberadaan Tuhan adalah ilusi dan hanya produk pikiran akibat kebodohan manusia, berbagai sarana digunakan untuk “mengganyang” gagasan yang dianggap sebagai opium itu. Di jawa pernah diciptakan ludruk dengan lakon “Pejahe gusti Allah”, opera ini pernah menjadi senjata ampuh untuk “menertawakan” keberadaan Tuhan.

Di Iran lain lagi, para guru komunis tak ketinggalan dalam “mendakwahkan” kematian Tuhan. Seorang ulama dari Iran pernah bercerita, bagaimana para pendidik komunis secara demonstratif mereduksi pemahaman tentang ketuhanan bagi siswanya. Diceritakan, seorang guru memerintahkan siswanya berdoa kepada Tuhan, dengan doa yang sangat sederhana. “Anak-anak, hari ini kita ingin membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak.” Kata Guru itu, “Coba sekarang pejamkan mata kalian, dan berdoalah pada-Nya, Wahai Tuhan yang Maha Kuasa, dengan kekuasaan-Mu aku memohon saat ini juga pada-Mu agar engkau memberi aku sebutir permen.” Siswa mengikuti instruksi gurunya, dan guru tersebut berkata: “Tetap pejamkan mata kalian, tunggulah sampai Tuhan menaruh permen dalam tangan kalian.” Menit berlalu permen dari Tuhan tak kunjung dikasihkan. Sang guru tampak puas, kemudian dia berkata, “Bagaimana, belum di kasih juga?” tanyanya. “Belum.” Jawab siswa serempak. “Coba sekarang gantilah doa kalian, ‘Guru berilah aku saat ini juga sebutir permen.” Siswapun mengikut perintah gurunya, dan saat itu juga guru itu menaruh permen yang sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu dia berkata, “Nah anak-anak, sesungguhnya Tuhan itu tidak ada! Barusan kalian membuktikannya sendiri, Dia yang disebut Maha Kuasa bahkan tak mampu memberi kita walau hanya sebutir permen.” Sang guru melanjutkan ujarnya, “Tuhan hanyalah produk pikiran yang kita ciptakan, kalau Dia memang ada pastinya dia bisa kita indera, nyatanya keberadaannya pun tak dapat diketahui.”

Keberadaan sesuatu acapkali diukur dari bisa tidaknya indera bekerja untuk mendeteksi keberadaan sesuatu tersebut, jika ia tidak bisa ditangkap oleh indera maka sesuatu itu dianggap tidak ada. Misalnya kita meyakini bahwa akal itu ada, namun dapatkah kita indera kita menangkap apa itu akal? Bagaimana warna, bau, dan rasa akal itu?

Membuktikan Adanya Tuhan

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa keberadaan Tuhan secara doktriner dapat dibuktikan melalui Kitab Suci, pandangan semacam ini sebenarnya masih menyisakan persoalan, yakni, bukankah yang dipersoalkan adalah ada tidaknya Tuhan? Dengan bukti firman sama artinya sudah ada keyakinan bahwa Tuhan itu ada dulu. Artinya kita sudah mempercayai adanya Tuhan, padahal persoalannya adalah ada atau tidak Tuhan itu?

Pandangan lain menyebutkan bahwa keberadaan Tuhan bisa dibuktikan dengan ciptaannya, fenomena keberadaan alam, keteraturan alam semesta meniscayakan adanya sang pencipta. Seandainya alam semesta dan seisinya ini tidak diciptakan oleh Tuhan bagaimana bukti bahwa Tuhan itu ada?

Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib as dalam doa Arafah yang panjang mengatakan, “Maha Suci Engkau Ya Allah Yang Tidak Bergantung Pada Makhluk-Mu untuk membuktikan keberadaan-Mu.” Mulla Sadra seorang Ulama Ahlulbayt membuat formula matematis dari doa Imam Husein as tersebut untuk membuktikan adanya Tuhan meskipun Dia tidak menciptakan apapun. Formula tersebut sederhananya demikian:

ADA” tidak sama dengan “TIDAK ADA”. Adanya “ADA” pasti ada yang mengadakan. Adanya “TIDAK ADA” mustahil tidak ada yang mengadakan, dengan kata lain adanya “TIDAK ADA” karena ada yang menciptakan pula. Dengan demikian “ADA” atau “TIDAK ADANYA” ciptaan sama-sama ada yang menciptakan yakni Yang Maha Mengadakan atau Allah Azza wa Jalla.

Fenomena Kebetulan

Seorang Fisikawan berbakat Stheephan Hawking pernah mengajukan hipotesa ateismenya dalam The Mind of God. Alam semesta ini adalah ada, tanpa batas atau ujung. Dia tidak mempunyai awal dan akhir. Dia semata-mata hanya ada, lalu dimanakah sekrang tempat sang Pencipta? Sementara itu, Atkins yang ahli Kimia menuliskan dalam bukunya Creation Revisited mengatakan “sebelum alam tercipta yang ada adalah ketiadaan dan sesuatu muncul dari ketiadaan. Lalu bagaimana peran Tuhan dalam alam ketiadaan itu? Apakah Tuhan adalah Ketiadaan itu sendiri?

Persoalan semacam ini sebetulnya ada sepanjang sejarah manusia. Imam Ali bin Abi Thalib kw, pintu kota ilmu Rasulullah Sawaw, pun pernah mendapat pertanyaan yang hampir mirip dengan pertanyaan para ahli tersebut. “Ya Ali, dimanakah Allah itu?” Tanya seseorang. “Ketahuilah hai fulan, Allah yang menciptakan Dimana maka Dia tidak butuh Dimana.”

Manusia acapkali mengalami fallacy dalam membuat pertanyaan tentang Tuhan, sehingga jika diteliti lebih cermat akan ditemukan kesalahan dalam pertanyaannya itu sendiri. Jika dalam mengajukan pertanyaan, materi pertanyaannya saja salah bagaimana mungkin akan diberikan jawaban yang benar. Letak kesalahannya adalah menisbahkan suatu pertanyaan dengan ukuran dan batasan makhluk. Tuhan direduksi dalam konteks tujuan, dimensi ruang, waktu dan lain sebagainya, dimana variable itu adalah pembatas. Buatlah pertanyaan tentang Tuhan yang tidak terbatasi dalam konteks ruang, waktu, dan tujuan baru akan kami berikan jawaban, begitu kelakar seorang bijak.

Kebetulan adalah formula canggih untuk menyingkirkan mitos Tuhan dalam benak manusia. Tapi ide inipun tak sekokoh konstruksi yang dibangun laba-laba. Ustadz Abu Amar pernah menceritakan sebuah anekdot yang disampaikan gurunya ketika beliau nyantri di Hauzah Ilmiah Qum di Iran. Diceritakan sekelompok kaum komunis bermaksud mengadakan dialog panel, yang akan mendiskusikan fenomena kebetulan dalam proses penciptaan alam. Sebagai lawan dialog, diundanglah seorang ulama Islam. Pihak komunis mempersiapkan acara ini dengan serius dan sungguh-sungguh, mereka hendak melucuti pandangan kuno dan jumud yang akan dibawakan oleh seorang ulama tersebut. Singka cerita, tibalah waktu yang telah ditentukan. Mereka menunggu dengan tak sabar, sebentar lagi mereka akan mempertontonkan canggihnya creation berdasarkan kebetulan, dan membuktikan betapa dungu dan kunonya teori creation yang dipaparkan oleh agamawan. Namun lama menunggu hingga batas yang ditentukan ulama ini belum datang juga, mereka mulai resah. Mulailah mereka menggerutu, “Aku menduga ulama itu tidak akan berani datang, dia tidak lebih dari tukang bual, yang meninabobokan rakyat dengan dongeng neraka dan surga yang diciptakan Tuhan. Dengan begitu dia mendapatkan kedudukan yang terhormat. Begitu dia mendapatkan undangan untuk membuktikan ada tidaknya Tuhan nyalinya ciut.” Komunis yang lain pun menimpalinya, “Kaki tangan borjuis itu saya jamin tidak akan datang, dia akan kesulitan untuk membuktikan peran Tuhan dalam penciptaan, bukankah pekerjaan dia hanyalah membius massa dengan pahala dan dosa!!” Ruangan mulai gaduh, tapi sekonyong-sekonyong keributan itu berhenti ketika melihat kedatangan lawan mereka, tanpa dikomando merekapun kembali mengeluarkan omelannya. “Kami kira Anda takut! Lha mana Tuhan? Kok tidak diajak?” kemudi seorang pemuka komunis tampak sewot mengeluarkan kekesalannya.” Hai Mullah! Engkau ini bukan sedang menghadapi orang-orang konyol, kami sangat kesal Anda tidak datang tepat waktu!” Ulama tersebut kemudian berkata: “Saudara-saudara semua, kami juga merasa sedih dengan kejadian ini, kenapa saya sangat terlambat dan tidak tepat waktu, dimana ajaran Islam sangat menghargai waktu.” “Huuuuuuuu….!” Sorak para komunis yang tidak puas. Ulama itu melanjutkan, “Saudara-saudara, ijinkan saya menjelaskan sebab keterlambatan kedatangan saya, seperti yang ada ketahui tempat tinggal saya ada di seberang sungai dan untuk datang ke sini tidak ada jalan lain kecuali menggunakan sarana perahu penyeberangan. Ketahuilah, saat aku menuju kemari tidak ada satu perahupun ada di sana. Maka aku putuskan menunggu di pinggir sungai sampai lama demi memenuhi undangan kalian. Eh…tahu-tahu sebuah pohon besar tak jauh dari tempatku menunggu bergoyan keras, kemudian pohon itu tumbah pecah dan terpotong-potong membentuk pecahan teratur. Tidak cukup sampai di situ saudara, pecahan itu ternyata membentuk sebuah papan, keanehan itu terus terjadi kemudian papan-papan itu satu sama lain saling mengkait menempel erat dan membentuk sebuah perahu. Saat itu aku teringat akan undangan kalian, langsung saja aku naiki perahu itu dan membawaku sampai ke sini.” Meledaklah tawa di ruangan itu mendengar alas an yang dibuat ulama itu. Mereka tertawa terpingkal-pingkal, di antara pemuka komunis itu berkata, “Hai Mullah, apakah Anda menganggap kami ini anak bodoh yang engkau tipu dengan bualan kosongmu itu?” “Maksud Anda apa?” Tanya sang Mullah. “Hai orang kolot!, teriak mereka, “Apakah Anda ingin menipu kami dengan dongeng khayalan yang mengisahkan tentang perahu yang jadi dari sebuah pohon dengan sendirinya, kami buykan anak kecil!” lanjutnya. Ulama itu kemudian terdiam, kemudian dengan wibawanya berkata, “Anda ini aneh saudara-saudara, menertawakan kami sampai terpingkal-pingkal. Padahal ini hanyalah persoalan kecil, hanya persoalan perahu, mengapa kalian heran dan menganggap sebagai kedunguan dan kegilaan? Harusnya tertawa Anda itu lebih keras demi menertawakan diri Anda sendiri!” Pemuka komunis itu bertanya, “Memangnya apa ada yang salah dengan kami?” “Ya, Anda merasa lucu dengan pohon yang dengan sendirinya berubah menjadi perahu, mengapa Anda tidak merasa lucu dengan pandangan Anda yang meyakini alam semesta yang luas, besar dan teratur ini tiba-tiba jadi dengan sendirinya, tanpa pencipta ytang Maha Pandai dan Maha Cermat. Harusnya sedari awal Anda sudah terpingkal-pingkal dengan acara ini.”

Wallahu a’lam bishawab.

*Penulis adalah Pengurus Daerah IJABI Klaten dan Aktivis Komunitas Kaki Lima Asyura

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: