Tawar Menawar Kewajiban Shalat 5 Waktu

Tawar Menawar Kewajiban Shalat 5 Waktu

Sempat bingung juga sih mau nulis apa di weblog ini. Setelah membaca shalawat 3x lalu aku membuka web Eramuslim, aku menemukan satu tulisan yang nampaknya asyik juga untuk didiskusikan lebih lanjut. Tulisan itu adalah hasil konsultasi agama dari seseorang yang bernama NN kepada Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. Berikut kutipannya:

————————-

Kita sering mendengar kisah Isra’ Mi’raj Rasul SAW, yang di mana ketika mendapat perintah dari Allah untuk sholat 50 waktu dalam sehari maka nabi SAW bolak balik minta keringanan atas anjuran nabi Musa kepada Allah sehingga menjadi 5 waktu…

Kisah itu dari hadits kan? Sebenarnya hadits yang menuturkan kisah itu palsu nggak sih? Kenapa tidak ada ayatnya?

Soalnya kalo aku pikir-pikir, kok rasanya aneh banget nabi SAW (yang merupakan nabi paling mulia) disuruh bolak balik kaya’ orang bodoh. Dan lagi bukankah Allah Maha Tahu?

Kenapa Allah nggak langsung aja ngasih perintah tuk sholat 5 waktu sejak awal?? Kebijaksanaan apa yang Allah maksud dengan membiarkan nabi kesayangannya harus bolak balik?

Terus yang nyuruh nabi Musa? Nabi Musa kan nabinya orang-orang Bani Israel? Jangan-Jangan ini hadits Israiliyat?

Dan pak ustad apakah saya dosa kalau tanya begini yang kesannya meragukan, soalnya saya sangat ingin tahu semakin saya pelajari Islam semakin saya haus, pak ustadz tolong dijawab ya soalnya saya dalam masa persimpangan

NN

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shahih tidaknya suatu hadits adalah urusan para ahli hadits. Mereka kita sebut dengan istilah muhaddits. Dengan segala ilmu yang ada, mereka adalah orang-orang yang punya kapasitas dan otoritas untuk menilai dan menetapkan kedudukan suatu hadits.

Sementara kita yang bukan ahli hadits, tentu saja tidak dibenarkan main tuduh tentang kedudukan suatu hadits. Shahih dan tidaknya suatu hadits, sama sekali kita tidak pernah mengetahuinya, dan tidak pernah ada yang memberikan otoritas kepada kita untuk mengatakan apa pun tentang hal itu.

Mereka yang termasuk para muhaddits adalah para ulama besar yang diakui oleh dunia Islam sepanjang sejarah. Di tempat teratas, boleh kita sebut nama-nama besar seperti Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim rahimahumallah.

Keduanya boleh dibilang begawan dalam ilmu hadits. Masing-masing telah menyusun kitab yang disepakati sebagai kitab paling shahih di dunia setelah Al-Quran. Tidak ada yang menentang hal ini dan sudah teruji sepanjang 14 abad terakhir ini.

Hadits Mi’raj

‏قال النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ففرض الله عز وجل على أمتي خمسين صلاة فرجعت بذلك حتى مررت على ‏ ‏موسى ‏ ‏فقال ما فرض الله لك على أمتك قلت فرض خمسين صلاة قال فارجع إلى ربك فإن أمتك لا تطيق ذلك فراجعت فوضع شطرها فرجعت إلى ‏ ‏موسى ‏ ‏قلت وضع شطرها فقال راجع ربك فإن أمتك لا تطيق فراجعت فوضع شطرها فرجعت إليه فقال ارجع إلى ربك فإن أمتك لا تطيق ذلك فراجعته فقال هي خمس وهي خمسون لا يبدل القول لدي فرجعت إلى ‏ ‏موسى ‏ ‏فقال راجع ربك فقلت استحييت من ربي

Nabi SAW bersabda, “Allah mewajibkan atas umatku 50 shalat dan aku kembali dengan perintah itu, sampai aku melewati nabi Musa di mana dia bertanya, “Apa yang Allah wajibkan kepada umatmu?” Aku menjawab, “Allah mewajibkan 50 shalat.”Musa berkata, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya dan aku kembali kepada Musa dan berkata, “Allah telah menghapuskan sepatuhnya.”

Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya dan aku kembali kepada Musa.

Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah berkata, “Shalat itu lima (waktu) dan dinilai lima puluh (pahalanya) dan perkataan-Ku tidak akan berganti.” Aku kembali lagi kepada Musa.

Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu.” Namun aku berkata, “Aku sudah malu kepada tuhanku.”(HR Bukhari Muslim)

Kedudukan Hadits Mi’raj

Hadits tentang kisah mi’raj nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi Musa ‘alaihissalam, adalah hadits yang terdapat di dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Artinya, hadits itu adalah hadits yang shahih, bukan hadits dhaif atau hadits palsu.

Selain Al-Bukhari dan Muslim, para ahli hadits lainnya juga mengatakan hal yang sama, yaitu hadits ini adalah hadits yang shahih. Tidak adasatu pun catatan yang menyebutkan bahwa misalnya ada satu ahli hadits yang mengatakan bahwa riwayat ini tidak shahih atau palsu.

Tawar Menawar

Adapun urusan’tawar menawar’ masalah kewajiban shalat 5 waktu yang dipermasalahkan, sebenarnya tidak perlu dibikin susah. Haditsnya sudah shahih dan kita sudah menerima dengan sepenuh keyakinan.

Kita tidak mungkin mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW orang bodoh karena mau disuruh-suruh. Siapa yang menafsirkan bahwa nabi Muhammad SAW disuruh-suruh? Beliau sendiri tidak merasa disuruh-suruh oleh Musa.

Hanya para orientalis dan dan para zindiq saja yang kemudian memelintir kenyataan menjadi mimpi siang bolong seolahnabi Muhammad SAW jadi bodoh karena mau disuruh-suruh oleh nabi Musa.

Kalau kita mengerti ilmu bayan, balaghahdan ilmu bahasa arab, tidak semua kata perintah berarti menyuruh sebagaimanatuan memerintah kepada jongosnya. Misalnyaucapan kita kepadaAllah SWT di dalam surat Al-Fatihah: Ihdinashshirathal mustaqim, yang artinya adalah berilah kami petunjuk jalan yang lurus. Kata ihdina adalah fi’il amr yang berfungsi perintah.

Laluapakah kita dengan itu kita boleh mengambil kesimpuan bahwa kita ini adalah tuandanAllah (na’uzubillah) adalah jongos, lalu Dia kita suruh-suruh, hanya lantaran kita memerintahkan sesuatu kepada Allah?

Kalau pertanyaanya kenapa tidak ada kisah itu di dalam Al-Quran, jawabnya itu adalah urusan Allah. Apakah sebuah keimanan harus ditulis dulu di dalam Al-Quran baru kita mau percaya? Apa yang kurang dari hadits nabawi? Atau jangan-jangan kita sudah terpedaya oleh pemikiran-pemikiran paham ingkarussunnah?

Apa salahnya kisah itu dituliskan di dalam hadits nabawi? Apakah kalau sebuah kisah hanya ditulis di dalam hadits nabi, lantas kita boleh begitu saja main vonis bahwa kisah itu palsu atau israiliyat? Apakah semua hadits itu israiliyat?

Nabi Musa Shahabat Nabi Muhammad SAW

Yang benar adalah bahwa nabi Musa adalah shahabat nabi Muhammad SAW. Beliau pernah punya pengalaman buruk dengan kaumnya yang yahudi itu. Makanya begitu mendengar umat nabi Muhammad SAW dibebani shalat 50 waktu, Musa memberi saran dan masukan, bukan perintah apalagi menjadikan nabi SAW sebagai orang bodoh yang disuruh-suruh. Tidak pernah nabi Musa main paksa kepada nabi Muhammad SAW.

Dan bagi Allah SWT tidak ada masalah kalau sengaja membuat nabi Muhammad SAW bolak-balik. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari kisah itu, semua biasa-biasa saja. Wajar kalau Allah SWT mengoreksi perintahnya sendiri. Sama sekali tidak menunjukkan ketidak-sepurnaan-Nya.

Yang perlu diherankan justrucara berpikir negatif para zindiq, yang dengan mudah memvonisnabi Muhammad SAW sebagai orang bodoh (naudzubillah). Ada ada saja celah yang mereka gunakan untuk melakukan penghinaan kepada agama ini.

Sayangnya, mereka yang bukan zindiq terkadangikut terbawa-bawa dengan pikiran jahat, lantaran pikiran-pikiran jahat itu memang diposting di internet. Mungkin cara berpikir para zindiq inilahyang justru perlu diinstall ulang.

Wallahu a’lam bishshawa, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

——————————-

Pertanyaannya adalah: Bagaimana menurut pendapat Anda mengenai hadits tersebut dan analisa dari Ust. Ahmad Sarwat, LC?

Monggo, ditunggu komentarnya.

20 Tanggapan to this post.

  1. Aubahanallah postingannya bagus banget, terima kasih atas renungannya

    Balas

  2. Posted by wahyu on Nopember 7, 2007 at 10:32 am

    Assalamu’alaikum

    Saya mau komen tentang hadist berkenaan tentang tawar menawar shalat 5 waktu.Di dalam Al-qur’an surat Al-isra ayat 1 terangkan bahwa Maha suci Allah SWT yg memperjalankan hambaNya ( Rasulullah SAW ) dari Masjidil Haram menuju Masjidil Al-aqsa dan memi’rajkan Rasulullah ke Sidratil Muntaha….disini berarti dapat di tafsirkan bahwa tak sedetikpun Rasulullah terpisah dari Allah SWT…sesuai pula dengan surat Al-hadid ayat 4 ”wahuamaakum ainamakuntum : Dia Allah beserta kamu dimana saja kamu berada”.jika kita merujuk pd Al-qur,an berarti hadist perjalanan bolak balik tawar menawar shalat 5 waktu sangat tidak sesuai dengan Al-qur’an.Maha Suci Allah SWT yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Al-qur’an tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya,,Al-qur’an adalah kabar yang Sadiq.

    Balas

  3. Posted by hanehasan on Nopember 7, 2007 at 1:09 pm

    Salam kenal,

    Saya pun sering membuka website eramuslim. Akan tetapi ada kerancuan muatan beritanya. Di sati sisi situs tsb mngedepankan persatuan, tapi di sisi lain ada hujatan terhadap mazhab syiah.
    Pernah saya membaca artikel yang berjudul Fenomena Iran dan Hizbullah. Pada awalnya saya tersenyum karena, namun akhirnya saya kecewa terhadap penulis artikel tsb. Pada awalnya si penulis memuji keberanian Iran dan Hizbullah karena keberaniannya menentang hegemoni AS dan Israel dan menncaci negara2 arab yg bekerja sama dg kaum imperialis tsb. Akan tetapi setelahnya, ia menafikan Iran dan Hizbullah karena syiahnya.

    Balas

  4. Tentu saja analisa tersebut pasti akan tetap mengukuhkan hadis itu
    Karena ada dalam kitab hadis shahih
    Itu masalahnya
    Seaneh apapun hadisnya jika shahih ya harus percaya
    Menurut saya pendapat Ustad itu wajar dan sesuai dengan kerangka pemikirannya

    Balas

  5. Posted by untung on Nopember 8, 2007 at 8:31 am

    perkara itu memang selalu menjadi pertanyaan saya, ditambah lagi masalah jumlah rokaat nya kenapa subuh 2 rekaat bukan 3 ato 4 ato 5 demikian juga dengan dhuhur asar maghrib isak, mohon penjelasan

    Balas

  6. Saya kutip dari blog saya… meski temanya agak beda tapi ada yg terkait…
    …..
    Kembali kepada kisah Isra-Miraj, ketika Rasul SAW bertemu dengan para Nabi AS di pintu2 langit, para Nabi AS mengucapkan salam kepada Rasul SAW dan umatnya serta mendoakan umatnya. Bahkan, Nabi Musa AS sangat ‘concern’ terhadap umat Muhammad SAW sehingga ketika diperintahkan shalat wajib, mula2 50 kali sehari semalam, Nabi Musa AS-lah yang menganjurkan Nabi SAW untuk minta ‘diskon’ kepada Allah mengingat umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yg secara fisik lemah. Kita tahu terjadi drama bolak-balik hingga akhirnya menjadi 5 waktu saja.

    Sebagian orang menganggap kisah ini ‘aneh’ dan tidak masuk akal, masa perintah Allah SWT kok diminta korting seperti itu…? Namun, bagi kita kaum beriman hal ini bukanlah hal aneh. Selain karena hadisnya sangat kuat (mutafaq alaih), juga sebenarnya mengandung hikmah yg banyak. Di antaranya:
    1. Bahwa Allah sangat kasih kepada umatnya
    2. Tingginya kedudukan Nabi SAW
    3. Tingginya nilai ibadah shalat yg 5 waktu, namun setara dengan 50 waktu.
    4. (Ini yg terkait pembahasan kita). Para Nabi (dalam hal ini Musa AS), meski di alam barzakh tetaplah memikirkan nasib kaum beriman. Bahkan mereka memberi manfaat kepada kaum yang hidup. Bukankah, kita shalat menjadi lima waktu, di antaranya adalah karena wasilah (perantara, media) Nabi Musa AS?

    Wallahu a’lam

    Balas

  7. Posted by wahyu on Nopember 22, 2007 at 4:58 am

    Kita bertukar pikiran lagi nih

    Memang perkara Sholat ini kita perlu berguru kepada Guru yg Mursyid.Tapi sebelum itu kita wajib mengerti dan memahami arti syahadat.Tidak syah sholat seseorang yg belum mengerti hakikat syahadat,belum tahu ilmu sudah bekerja pula,niscaya pastilah salah jalan.Tidak sempurna pula sholat seseorang jika wudhunya belum beres.Pengertian wudhu berarti suci lahir bathin.Sholat pun lahir bathin .Bagaimanakah Sholat yg sesungguhnya itu? Jawabnya ada di Al-qur’an…Sesungguhnya sholat itu mencegah dari pada perbuatan keji dan munkar…bagaimana dengan kebanyakan dari umat islam dewasa ini yg saling menghujat,saling mencaci bahkan lebih saling bunuh????perlu kita pertanyakan shalat mereka,,
    Saya kira inilah sholat orang2 yang tercantum dalam surat Al-ma’un ayat 4-5.”Celakalah orang yang sholat.Yaitu orang yg lalai dalam sholatnya”

    Balas

  8. @Wahyu….
    Aduh… kenapa Akhi mempersulit dalam beragama?
    1. Shalat menjadi wajib ketika kita muslim, yg. penting rukun & syaratnya tahu… Sudah lakukan… Sedang mengenai cara mencapai Khusyu’ memang dengan mursyid yg salih akan lebih baik..
    2. Syarat sah solat itu simpel saja, seperti dalam buku2 fikih.
    3. Pemahaman terhadap syahadat, pada dasarnya sederhana, yaitu:
    - mengakui Allah sebagai satu2nya Tuhan & Muhamad adalah Rasululllah…
    Sudah begitu saja… Siapa saja baca syahadat dengan lisan dan dibenarkan oleh hati…
    Dia adalah muslim,,,, dan berkewajiban shalat….
    4. Begitu juga masalah wudlu….
    5. Namun benar bahwa pemahaman terhadap Syahadat, shalat, wudlu,dll adalah bertingkat sesuai dengan keimanan dan hidayah dari Allah….

    Wallahu a’lam….

    Balas

  9. Posted by tappil rambe on Nopember 27, 2007 at 2:12 pm

    salut buat sebuah pendapat yang konsisten pada sebuah nilai. islam adalah agama yang bisa dirasionalkan sejauh tidak meninggalkan subtansinya kepada persoalan aqidah manusia. thank kamu telah mencoba memberikan pencerahan terhadap pmikiran kaum muda islam

    Balas

  10. bagaimana dengan kita…..?
    5 waktu itu sebenarnya kurang atau lebih sih, ringan atau berat kah?
    Allah maha mengetahui ciptaannya, dirikanlah sholat sesuai tuntunan Rasulullah.

    Balas

  11. Posted by wahyu on Desember 1, 2007 at 10:22 am

    saudaraku Abu,,
    bukan maksud Saya mempersulit agama,tetapi Saya hanya ingin menyampaikan bahwa mengerjakan sesuatu itu kita perlu tahu ilmunya…bukankah Nabi pernah bersabda”tuntutlah ilmu sampai ke liiang kubur”…jadi kita wajib menuntut ilmu itu,,,baik ilmu kehidupan maupun ilmu tentang kematian…Walaupun liang lahat kita mungkin saja berbeda ataupun sama,,Saya hanya ingin sedikit menyampaikan tentang Hakikat yang tersurat di Al-qur’an…
    Afwan jika Saya dianggap mempersulit,,,,manisnya gula memang takkan dapat digambarkan dengan kata kata

    Balas

  12. Posted by wahyu on Desember 2, 2007 at 7:55 am

    Saudara Abu Afkar,,
    Maaf jika Saya dianggap telah mempersulit dalam agama…tapi Saya tidak berani menganggap mudah dalam beragama,,,Nabi bersabda”tuntutlah ilmu mulai dalam kandungan sampai keliang lahat”..Ini berarti menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu terlebih lagi ilmu agama…Di alam Ruh, Allah SWT telah mengambil kesaksian kepada jiwa kita,,,”alastubirabbikum qolubalasyahidna”….jiwa kita di alam ruh sudah bertemu denganNya,,di alam dunia ini kita wajib bertemu denganNya ( syahadat kamalul yaqin),jika tidak kenal denganNya didunia ini,apalagi di akhirat,paling sesat jalan….
    jadi kita perlu Ilmu untuk keselamatn kita,bukan hanya didunia,tapi juga diakhirat…
    Jika benar ilmunya maka benar amalnya,,insyaallah didalam liang lahat kita tercegah dari perbuatan Munkar,liang lahat menjadi taman surga,menebarkan wangi surga bukan aroma busuk jurang neraka,,perkara agama bukan hal yang mudah.tetapi jika kita niat karena Allah SWT insyaallah kita akan ditunjuki jalan menujuNya..amien

    Balas

  13. Posted by luthfis on Desember 6, 2007 at 2:02 pm

    kalau tidak salah kata beberapa ustadz dari mazhab Ahlulbayt hadits itu shahih, tapi tetap saja saya bingung????

    Balas

  14. Ustadz Ahmad Sarwat terlalu memutlakan para Muhaddits. Walaupun mereka memiliki kemampuan sebagi spesialis ilmu hadis, namun bagaimanapun mereka hanyalah manusia biasa yang tidak maksum dan tidak terlepas dari keyakinan ideologi dan orientasi politik tertentu. Pada akhirnya hanya AlQuranlah yang merupakan otoritas tunggal yang mutlak.

    Dalam kaitan dengan hadis Bukhori dan Muslim mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj khususnya cerita tawar-menawar penetapan jumlah waktu shalat dari 50 menjadi 5 waktu, maka hendaknya isi hadis tsb dikembalikan kepada AlQuran yang mengajarkan kepada manusia tentang sifat2-Nya yang wajib dan mustahil dinisbahkan kepada-Nya.

    Saya menggaris bawahi pendapat Ustadz Ahmad Sarwat yang mengatakan bahwa “wajar bagi Allah untuk mengoreksi pendapat-Nya sendiri…” Saya kira pendapat ini sangat bertentangan dengan sifat kemahasempurnaan-Nya, sekalipun yang mengoreksi diri-Nya sendiri. Apalagi yang mengoreksi Nabi Musa as. (versi hadis tsb).

    Balas

  15. Posted by coang on April 19, 2008 at 4:45 pm

    Yang baik adalah, rasul diperintahkan 50 rakaat sehatri semalam dengan mewajibkan 17 rakaat.
    Mengenai tawar menawar sangat disayangkan adanya pendapat demikian,,sesungguhnya Rasul dengan penuh keimanan serta ketaaatan kepada allah telah menerima petintah shalat tersebut tanpa embel2 tawar menawar..kisah tersebut kita sangsikan dikarenakan
    1. allah adalah atasan bagi rasul,jadi tidak mungkin ,rasul harus menolak perintah shalat tersebut, apalagi tawar menawar.
    2. logika tawar menawar sangat rancu..shalat adalah sebaik baiknya perbuatan…Kenapa harus ditawar…
    3. dengan hadist tersebut, maka akan membuat kaum orientalis menghina agama ini..karena ternyata rasul meng”iyakan” perkataan Nabi Musa..sedangkan kita tau bagaimana derajat rasulullah dibandingkan dengan nabi musa..

    jadi urusan hadist ini perlu diteliti kembali

    Balas

  16. betul, sepakat.

    tapi nanti kalau meneliti kembali hadits ini malah dikira orientalis.

    Balas

  17. salam,

    jazakallah akhii atas pencerahannya ini

    wassalaam,

    Balas

  18. Posted by toniadq on September 5, 2008 at 5:02 am

    Coy…. Allah itu senang dengan mengisahkan sesuatu.
    kalau ente kagak percaya kisah tawar menawar sholat, apa ente kagak baca Al Quran wahai orang2 syiah? Atau Al Quran kalian berbeda?
    Di saat Allah akan menciptakan Adam, Allah berdiskusi dengan malaikat dan kemudian para malaikat memberikan tanggapan untuk apa Allah menciptakan manusia yang suka berbuat kerusakan? baca itu surat Al Baqarah dan di surah2 lainnya.
    Kalau untuk urusan yang seperti itu saja Allah berdiskusi, kenapa tidak mungkin untuk urusan sholat? berpikir coy, semuanya itu ada ibrohnya..
    jangan cuma pake akal sama nafsu, agama itu kadang mesti disertai iman yang tulus dan total, kagak selalu pake akal coy…..

    Balas

  19. Posted by yulhendri Ibrahim on September 5, 2008 at 7:54 am

    Assalamu’alaikum wr wb,
    wah bagus nih buat media diskusi dan belajar bersama.

    @ wahyu
    mangenai ayat Al Quran yang mengatakan Alloh bersama kamu dimana saja kamu berada,

    namun di ayat lain dikatakan Alloh besemayam di Arsy,
    lho???kok bertentangan,
    dibilang bertentangan tapi ada ayat yang mengatakan “kalaulah Al Quran itu buatan manusia, tentulah kalian akan menemukan banyak pertentangan didalamnaya”
    banyaknya pertentangan dalam ayat ayat injil membuktikan bahwa sudah banyak buatan manusia yang dimasukan.

    kembali kita pada kaidah beragama yang pernah kami diskusikan dengan sdr ressay. yaitu berdasarkan Al quran dan sunnah dan seperti apa yang dipahami sahabat sahabt nabi dan ulama yang mengikuti meraka dengan baik, ada ayat yang berbunyi kurang lebih “orang orang yang pertama tama masuk islam dari kaum ansor dan muhajirin Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah, bagi mereka disediakan sorga yang mengalir sungai sungai dibawahnya dan bagi orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga kita akan dimasukan Allah dalam orang orang yang mengikuti mereka dengan baik.

    kembali pada ayat yang berbunyi Allah berada dimana saja kamu berada, menurut pemahaman Rasulullah dan sahabatnya adalah Allah berada diamana saja kamu berada dengan ilmunya bukan dengan dzatNya.

    dan Allah bersemayam di Arsy dipahami oleh nabi dan sahabatnya yaitu dzat Allah memang bersemayam diarsy, buktyinya ada riwayat yang mengatakan Nabi bertanya pada seorang perempuan budak pengembala kambing “diaman Allah” budak menjawab “diatas langit” dan rasulullah membenarkan.
    jadi kesimpulannya kita tidak boleh menafsirkan Al Quran dan hadist senak kita sendiri, emangnya kita ini siapa, ahmad Sarwat lc juga tidak berani menafsirkan sendiri hadist dan Al quran,

    Nah inilah yang dilakukan oleh JIL mereka membebaskan siapa saja menafsirkan Al Quran dan Hadits, walaupun mereka bodoh dan inilah jalan yang ditempuh barat untuk melemahkan dan menghancurkan islam.

    @Hanehasan
    mengenai Ajakan persatuan kaum muslimin, tapi dilain sisi menhujat (mungkin bermaksud meluruskan) mahzab syiah,
    ajakan untuk bersatu pada kaum muslimin adalah ajakan bersatu dalam kebenaran bukan bersatu dalam suatu yang tidak benar. tidaklah mungkin bersatu yang benar dengan yang tidak benar.

    @T Mulya
    Kaum liberal memang meniupkan keraguan keraguan pada hadist hadist sohih, tidak itu saja mereka juga meragukan Al Quran, hadist shohih adalah wahyu dari Alloh tapi dengan lisan nabi, ada ayat yang mengatakan ” bukanlah apa yang diucapkan Muhammah itu berdasarkan hawa nafsunya tapi wahyu yang diwahyukan kepadanya, ada hadits yang berbunyi “aku diberikan dua hal yaitu Al Quran dan Al hikmah”

    Nah kalau kita tidak memakai hadits nabi sebagai tuntunan berati kita ingkar pada salah satu wahyu Allah, kalau kita hanya pakai Al Quran saja, trus dari mana kita belajar shalat??? dalam al Quran tidak ada tuntunan shalat?????

    Maaf sebesar besarnya bukan bermaksud menggurui, jhanya sekedar sharing apa yang pernah sy dengar.
    bila ada salah mohon dikoreksi

    salam

    Balas

  20. @toniadq
    coy, kok tau kesenangan Allah? dah diskusi dengan Allah yach?

    Allah berdiskusi dalam penciptaan Adam? Surat apa ayat brapa yach?

    @yulhendri Ibrahim
    Allah bersemayam di Arsy. Apakah Arsy itu makhluk? tentunya jika Arsy itu makhluk, maka Arsy ada setelah adanya Tuhan. Nah, sebelum Arsy itu belum ada, dimanakah Tuhan?

    Mengenai Surat At-Taubah tersebut, Disana Tersurat bahwa assabiquuna al awwaluun itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi
    1. sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

    2. Ittabi’uu hum bi ahsanin : dan juga pengikut mereka yang baik , sehingga tidak semua kaum muhajirin dan anshar.

    3. Natijahnya : Orang-orang yang Allah Ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaummuhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik.

    4. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…, untuk mengetahui siapa saja mereka itu kita haruslah melihat dalam ayat-quran yang lain…atau riwayat2 yang shahih.

    Menurut Kesepahaman Ahlussunnah dan Syiah org-orang yang pertama kali masuk Islam dalam riwayat al-gadhir jilid 3, hal220-230 dan dalam “احقاقالحق” jilid 3 hal 114-120 adalah Imam Ali as (pria) dan Khadijah as (wanita), dalam tafsir qurtubi jilid 5 halaman 3070 yang dinaql oleh mustadrak hakim, bahwa Imam Ali (as) lelaki yang pertama berislam.

    Bersatu dengan yang benar? benar menurut siapa?

    Anda mengatakan, “Nah kalau kita tidak memakai hadits nabi sebagai tuntunan berati kita ingkar pada salah satu wahyu Allah, kalau kita hanya pakai Al Quran saja, trus dari mana kita belajar shalat??? dalam al Quran tidak ada tuntunan shalat?????”

    Justru pertanyaan itu harus Anda ajukan kepada Umar bin Khattab ketika ia mengatakan “Rasulullah sedang sakit keras. ditengah-tengah kita ada Kitab Allah. Cukuplah Kitab Allah menjadi pedoman.” Knapa Umar sampai berbicara seperti itu? Padahal Nabi sudah memerintahkan sesuatu? Mengapa Umar tidak melaksanakan perintah di dalam surat An-Nisa ayat 59?

    Balas

Respond to this post