Beranda > News > Yusuf Qardawi: “Iran adalah bagian dari “Darul Islam”

Yusuf Qardawi: “Iran adalah bagian dari “Darul Islam”

Yusuf Qardawi: “Iran adalah bagian dari “Darul Islam”

Saya yakin bahwa umat Islam dan negara-negara Islam merupakan satu kesatuan utuh yang dalam istilah para faqih dinamakan dengan “Darul Islam”. Atas dasar ini, menjaga seluruh kepentingan umat Islam hukumnya wajib dan Iran adalah bagian dari “Darul Islam”.

Syekh Yusuf Qardawi, salah seorang ulama Ahlu Sunah dan Ketua Asosiasi Ulama Islam Internasional mengatakan:” Kita menentang segala bentuk kesewenang-wenangan negara-negara dunia, atas negara Islam ataupun bukan”.

Wawancara dan pernyataan penting Yusuf Qardawi ini dimuat di koran “Al-Arab” Kuwait, hari Selasa kemarin. Dalam menjawab pertanyaan Al-Arab yang menanyakan, apakah dengan memiliki reaktor nuklir, Iran merupakan ancaman dan berbahaya bagi negara-negara kawasan, beliau menjawab:” Apabila Iran merupakan ancaman dan berbahaya bagi negara-negara kawasan maka, presiden Iran tidak akan datang ke Konfrensi Kerjasama Teluk Persia (GCC)”.

Syekh Yusuf Qardawi menambahkan bahwa, justru kedatangan Ahmadinejad di Konfrensi Kerjasama Teluk Persia yang dalam akhir pidatonya mengusulkan kepada kepala negara-negara kawasan untuk mengalang persatuan dan Kerjasama negara-negara Teluk Persia. Oleh karena itu, kenapa Iran harus menjadi ancaman..? tandasnya.

Untuk kesekian kalinya Syekh Yusuf  Qardawi menegaskan dukugannya atas hak Iran untuk memiliki reaktor nuklir damai.

Dikatakannya, bahwa Iran berhak memiliki reaktor nuklir damai sebagaimana negara-negara lain juga berhak untuk memilikinya.

Kenapa Iran yang harus diberangus haknya..? apakah Iran adalah negara Islam..? Saat ini, Israel tidak hanya memperkuat bala tentaranya, bahkan Israel memiliki dan mengembangkan senjata-senjata pemusnah massal dan bom-bom atom, sementara tidak ada seorangpun yang memprotes bahkan berbicara satu kalimatpun mengenai masalah bom nuklir Israel. Lalu kenapa hanya kepada Iran kita harus memprotes..?

Dalam lanjutan wawancaranya beliau menegaskan bahwa: “mereka bertanya kepada saya dalam permasalahan reaktor nuklir bahwa Iran merupakan ancaman bagi negara-negara kawasan, sementara itu AS setiap saat memeras keringat untuk memperbesar masalah ini dan dijadikan alasan untuk menyerang Iran. Akan tetapi apa yang dikatakan dan dilakukan oleh AS adalah kesalahan dan  dalam hal ini saya mendukung Iran sepenuhnya”. Tandasnya.

Ketua Asosiasi Ulama Islam Internasional ini lebih tegas mengatakan bahwa, Iran yang Syiah tidak menjadi penghalang sama sekali atas dukungan saya terhadap hak Iran. Oleh karena itu, saya yakin bahwa musuh umat Islam, adalah musuh kita semua, apakah Suni ataupun Syiah. Oleh karena itu, menjaga keberlangsungan Islam dan menjaga persatuan atas rongrongan musuh-musuh Islam hukumnya adalah wajib, tegasnya lagi. [IM/MT] Al-ARAB

Kategori:News
  1. Desember 31, 2007 pukul 1:13 am | #1

    Tidak ada sistem di dunia yang sempurna, tapi Iran memang bisa jadi sistem alternatif thd sistem2 yang sudah ada. :D

  2. Muhammad R Siregar
    Januari 29, 2008 pukul 6:52 am | #2

    Mas Juanarto, saya justru melihat Iran satu-satunya Darul Islam yang konsisten dengan prinsip-prinsip ke-Islaman-nya.

    Saat ini negara-negara Islam atau paling tidak berpenduduk mayoritas Muslim lainnya justru tidak ada punya nyali dan harga diri dalam menghadapi Amerika Serikat dan kekuatan Barat. Semua justru bersembunyi (ber-taqiyyah?) dalam kerangka damai yang semu, semata-mata demi kepentingan sesaat masing-masing.

    Benar sekali yang al-Mukarram Yusuf Qardhawi kemukakan, Amerika Serikat ini berikut negara-negara Barat lainnya bersepakat menutup mata terhadap program nuklir untuk tujuan yang jelas-jelas tidak damai dari Israel dan masing-masing mereka. Permasalahan sebenarnya adalah, apa yang melegitimasi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk menguasai teknologi nuklir dan melarang negara lain untuk berbuat serupa, sedangkan jelas-jelas mereka adalah bangsa-bangsa barbar yang menyerang negara lain dengan dalih yang dibuat-buat? Bangsa mana yang begitu aktif melakukan agresi belakangan ini dan pada saat yang sama begitu aktifnya berpropaganda tentang “axis of evil” dan “most dangerous nation on Earth”?

    Pada saatnya nanti saya yakin kekuatan Islam akan diuji lebih keras lagi daripada yang kita alami belakangan ini. Mungkin ketika eskalasi kekerasan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya memuncak menjelang kejatuhan mereka sendiri, ketika sumber minyak semakin menipis dan tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menjajah negara-negara timur tengah yang notabene Islam? Bila itu terjadi, saya kuatir, negara Islam mana gerangan yang akan bereaksi secara konkrit selain Iran?

    Quo vadis Darul Islam?

  3. aroweli
    Februari 24, 2008 pukul 4:34 pm | #3

    langkah awal menuju kemenangan, RII, adalah sistem yang dapat dijadikan rujukan, salutt

  4. abuzahra
    Februari 25, 2008 pukul 5:18 am | #4

    Hampir satu tahun saya tidak mengunjungi blog ini, setelah sebelumnya rajin mengunjunginya sewaktu saya mendapat beasiswa sandwich Depag di Kairo, Mesir. Ketika saya membuka kembali blog ini di tanah air, yang pertama menarik perhatian saya adalah nama Yusuf al-Qardhawi. Bagi saya, kala mendengar nama ulama yang satu ini, ketika dikaitkan dengan Iran dan Syiah, maka yang timbul dalam benak saya adalah seorang alim Sunni yang moderat. Memang dalam satu dua hal beliau menunjukkan ketidak setujuannya dengan Syiah, namun secara umum beliau termasuk ulama Sunni yang lapang dadanya dalam menyikapi Syiah.
    Menyebut nama al-Qardhawi kaitannya dengan kasus nuklir Iran serta peranan negara ini di kawasan, saya tiba-tiba teringat nama alim moderat Mesir lainnya, yaitu Syekh Muhammad al-Ghazali (alm). Saya punya keyakinan, seandainya Syekh Muhammad al-Ghazali diberi sebuah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan kepada Syekh Yusuf al-Qardhawi menyangkut Syiah dan Iran, beliau akan memberi jawaban dan sikap yang sama dengan jawaban dan sikap Syekh al-Qardhawi. Dalam salah satu karyanya, kalau tidak salah Kayfa Nata’amal Ma’a al-Qur’an, terlihat sikap moderat Syekh Muhammad al-Ghazali.
    Satu atau dua dekade sebelum era al-Ghazali dan al-Qardhawi, sebuah nama besar dari kalangan ulama Sunni, yang juga berasal dari negeri para nabi, Mesir–tepatnya dari universitas Islam tertua yakni Al-Azhar, muncul dengan semangat ukhuwah dan persatuan umat yang amat kental. Beliau adalah Syekh Mahmud Syaltut.
    Dan sekali lagi saya berandai-andai; sekiranya para ulama Sunni mempunyai sikap dan kelapangan seperti tiga Syekh yang saya sebut di atas, tentu wacana tentang Sunni-Syiah lebih sering mengemuka dalam konteks dialog mazhab di bawah semangat ukhuwah dan persatuan umat. Dan di Indonesia, kita menunggu Quraish Shihab Quraish Shihab baru.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 189 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: