Tidak Mencontoh Allah dengan Menjauhi Filsafat

Tidak Mencontoh Allah dengan Menjauhi Filsafat

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel mengenai kritik atas axiologi Filsafat. Tulisan itu dimuat di website salah satu organisasi eksternal mahasiswa Islam yang biasa meneriakkan slogan tegaknya khilafah, ideologi Islam. Tulisan yang ditulis oleh Sdr. Umbara ini sedikit memancing saya untuk sekedar mereviewnya di sini.

Tulisan Umbara tersebut berisi kritikannya Filsafat. Menurutnya, dari filsafat inilah lahir Demokrasi, Sekularisme, HAM, dll yang mana pemikiran-pemikiran itu harus dijauhi karena itu adalah pemikiran kufur.

Sesaat setelah membaca tulisan tersebut, saya coba bertanya kepada Ust. Ahmad Samantho. Saya meminta beliau untuk menanggapi artikel tersebut. Alhamdulillah beliau menyanggupinya dan esok harinya saya mendapati artikel tanggapan dari beliau sudah terpampang di weblognya. Menurut beliau, bahwa para ulama dan para hukama/filosof Muslim mau mempelajari filsafat Yunani-Persia, Mesir, India dan China itu tak lain adalah karena terinspirasi oleh ajaran al-Qur’an (Kalam dan perintah Allah SWT) dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Betapa banyak ayat al-Qur’an (lebih dari 800 ayat) yang memerintahkan kita untuk banyak berfikir, menggunakan akal sehat dan merenungkan segala fenomena kejadian alam, masyarakat manusia, dan sejarahnya, untuk menemukan hakikat kebenaran dan kekokohan iman terhadap Tuhan Allah SWT dan memahami alam semesta sebagai sarana beribadah kepada-Nya.

Hal senada juga dilontarkan oleh Ust. Muhsin Labib dalam tulisannya yang berjudul Tuhan Berfilsafat (dengan ditambahkan tanda ?). Secara tersirat bahwa beliau ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa Filsafat itu justru digunakan oleh Allah. Di dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman, ada argumentasi-argumentasi yang bersifat ontologis, kosmologis yang kesemuanya itu adalah bagian dari filsafat.

Haqiqie Suluh bercerita mengenai perjalanan alam pikir dia hingga akhirnya dia menemukan bahwa dirinya harus berfilsafat, karena banyak manfaat yang di dapat dari berfilsafat.

Kalau saya pribadi boleh berpendapat, sebenarnya si penulis di Gema Pembebasan itu mengalami dualisme sikap. Di satu sisi dia berpendapat bahwa filsafat itu adalah pemikiran kufur yang harus kita hindari. Itu terbukti dari kalimat penutupnya, “Semoga kita terlindungi dari segala pemikiran kufur tersebut.” Karena Demokrasi, HAM, Sekularisme (menurutnya) lahir dari pola pikir filsafat.

Tetapi di sisi lain ketika berargumentasi dengan Al-Qur’an untuk membantah Filsafat tersebut, sebenarnya tanpa disadari dia telah menggunakan filsafat. Dalam Epistemologi Islam, Al-Qur’an dan Hadits adalah dua hal yang dapat membantu manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Biasanya dikenal dengan mazhab Skriptualisme. Sedangkan Epistemologi itu bagian dari Filsafat.

Epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia.

 

Ada juga yang berpendapat bahwa Epsitemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.

Jadi, Penulis di Gema Pembebasan itu menginginkan agar umat Islam itu menjauhi filsafat. Sedangkan Allah sendiri itu berfilsafat. Artinya Penulis tersebut ingin membawa umat Islam agar tidak seperti Allah.

 

 

 

4 Tanggapan to this post.

  1. Saya sedikit bingung dengan judulnya: “Tidak Mencontoh Allah…”. Memangnya kita bisa ya?

    Soalnya sejak kecil yang diajarkan kepada saya adalah untuk mencontoh Rasulullah SAW dalam mematuhi perintah Allah SWT…
    ———————————

    Mencontoh Allah? Bisa kok menurut saya. Allah Berfilsafat, kita juga bisa berfilsafat.

    Balas

  2. Posted by Habib on Maret 26, 2008 at 1:43 pm

    Maaf, saya salah menuliskan maksud saya pada comment sebelumnya. Yang saya pertanyakan, apakah kita diperintahkan untuk mencontoh Allah SWT? Setahu saya kita hanya diperintahkan untuk mencontoh Rasulullah SAW…

    Dalam shalat kita mencontoh Rasulullah, dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari juga demikian dan itu mungkin dapat kita lakukan mengingat beliau juga adalah manusia. Sedangkan Allah SWT sendiri adalah Dzat Yang Maha Agung yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana kita bisa mencontoh-Nya…

    Mohon pencerahan
    ———————-

    Bukankah dengan mencontoh Rasulullah berarti kita telah mencontoh Allah? Rasulullah, menurut saya, itu adalah manifestasi dari sifat-sifat Keilahian.

    Judul tulisan ini kalau boleh dijabarkan itu menjadi, “Allah saja berfilsafat dalam berargumen kepada manusia, knapa kita tidak? Kalau kita tidak berfilsafat ketika kita berargumen dengan manusia, berarti kita tidak seperti Allah yang ternyata berfilsafat.”

    Balas

  3. Wah saya disebut sebut… kok gak ada track back ya ke postingan saya… salam kenal

    Balas

  4. Salam kenal juga. Seingat saya sudah kok.

    Balas

Respond to this post