Mulai dari Ayat-Ayat Cinta, Fitna, dan April MOP

Mulai dari Ayat-Ayat Cinta, Fitna, dan April MOP

 

aprilmop.jpg

Sedang asyik ku jamah keypad handphoneku, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk. Ternyata dari salah seorang kawan yang meminta tolong di download-kan film Ayat-Ayat Cinta dan FITNA yang saat ini sedang marak dibicarakan dan disaksikan orang.

 

Ku balas saja, “Insya Allah kalau gak lupa. Kalau lupa diingetin.” Kata-kata yang retoris sebenarnya yang menunjukkan bahwa aku ini ogah-ogahan download film-film itu. Bukan karena tidak tertarik dengan film itu dan tidak mau membantu teman, tetapi karena saat ini tidak ada waktu untuk download. Waktuku habis disibukkan dengan aktivitas baca buku (ceile sok belajar) untuk persiapan menghadapi ujian mid semester yang datang begitu cepat.

 

Sempat juga aku berdiskusi dengan beberapa kawan di basecamp Wisma Becak. Salah seorang kawan ada yang mengatakan bahwa dia pernah mendengar Film FITNA ini sebagai sebuah reaksi atas Film Ayat-Ayat Cinta. Film ayat-ayat cinta secara tersirat ingin sekali menampakkan bahwa Islam itu bisa sebegitu romantisnya. Islam itu tidak seperti pandangan barat selama ini bahwa Islam itu agama radikal, agama kekerasan yang senangnya membunuh, bom bunuh diri, dll.

 

Untuk menunjukkan sisi kebrutalan Islam, maka salah seorang politikus Belanda membuat film tandingan yang menurut saya itu adalah film dokumenter. Film itu diberinya nama FITNA. FITNA ini ingin menyampaikan pesan kepada seluruh dunia akan bahaya Islam. Jika Islam berkuasa, maka yang ada adalah pembantaian, perang, dsb. Islam itu agama yang sadis. Sosok Islam seperti itulah yang ditonjolkan dalam film FITNA tersebut. Tidak ada sisi-sisi keromantisan dalam Islam. Jadi, sebagai reaksi atas boomingnya film ayat-ayat cinta, maka dibuatlah film FITNA.

 

Kawan-kawan yang lain nampak sekali khidmat mendengarkan penjelasan itu. Saya coba melontarkan asumsi ketengah-tengah diskusi. Saya berasumsi jangan-jangan penayangan film FITNA ini terkait dengan April MOP yang sebentar lagi akan datang. Menurut saya, apa yang disajikan oleh FITNA itu adalah sebuah kebohongan, walaupun memang ada beberapa perbuatan yang benar dilakukan oleh sebagian umat Islam yang meneriakkan slogan jihad. Tetapi itu tidak dapat merepresentasikan Islam secara keseluruhan.

 

April MOP membolehkan kita semua untuk berbohong pada hari itu. Pada hari itu sikap berbohong dianggap sebagai sikap yang bisa ditolerir. Jadi ketika ada orang bodoh pada hari itu, orang yang dibohongin tidak diperkenankan untuk marah.

 

Pembahasannya tidak sampai sini saja. Karena April MOP sendiri sangat kontroversial. Ada beberapa versi mengenai sejarah April MOP. Ada juga perbedaan pendapat mengenai April MOP. Ada yang sepakat dengannya, ada yang mengatakan bahwa kita sebagai umat Islam tidak layak untuk memperingati April MOP juga karena kebiasaan itu merupakan peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi, seperti yang dipostingkan disini.

 

Terlepas dari kontroversi April MOP tersebut, saya berasumsi jangan-jangan apa yang dilakukan si pembuat film FITNA itu sebagai bentuk ekspresi dia menyambut kedatangan April MOP. Dia bebas berbohong dengan menampilkan film mengenai ISLAM yang sebenarnya ISLAM sendiri tidak seperti.

Ayat-ayat cinta, Fitna, April MOP. Ketiganya itu tema-tema yang sedang hot-hotnya di dunia weblog. Ketiganya berjalan secara bergiliran.

 

Bagaimana menurut Anda?

 

 

 

 

 

 

 

14 Tanggapan to this post.

  1. Kalau G.W melakukan – membuat film Fitna dalam merayakan April mop saia kira itu berlebihan

    disamping tujuan April mop itu sendiri adalah sekedar untuk have Fun dan jokes ringan.

    Tetapi jika G.W membuat film tersebut dengan tujuan April Mop artinya si G.W sama sekali tidak paham dalam semuanya

    dari membedakan antara Arab dengan Islam, timteng dengan Islam hingga memahami esensi tujuan April Mop itu sendiri …

    Balas

  2. Namanya juga berasumsi. hehehe…

    Menurut saya, G.W terlalu cepat mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena yang dia temui. Padahal ketika kita berargumen dengan hanya mengandalkan fenomena, maka itu tidak lebih kuat dari sarang laba-laba.

    Balas

  3. [...] Banyak Dibaca Kontroversi Pemblokiran Situs Porno – Kemungkinan Akibat yang MunculMulai dari Ayat-Ayat Cinta, Fitna, dan April MOPKalau Kasir Bank Lagi Gak Ada KerjaanLezatnya ‘Ayat-Ayat Cinta’ Tak Selezat Hakikat [...]

    Balas

  4. Posted by inal on April 1, 2008 at 11:00 am

    KEPEP kmu orang!! banyak bacot lla .

    Balas

  5. Posted by danummurik on April 1, 2008 at 11:05 am

    “Salah seorang kawan ada yang mengatakan bahwa dia pernah mendengar Film FITNA ini sebagai sebuah reaksi atas Film Ayat-Ayat Cinta”. Ah masa iya???

    Balas

  6. khan baru katanya.

    Balas

  7. Posted by hazare on April 1, 2008 at 7:37 pm

    komentar bagus

    Balas

  8. hmm FITNA itu tidak lebih dari filem dokumenter kacangan hasil kompilasi dari berbagai media..
    ndak perlu ditanggapi serius…

    semua tahu kalo kualitas filem itu tidak lebih dari film2 Sabun lainnya…

    Balas

  9. Posted by smpm35 on April 2, 2008 at 3:35 am

    Kayaknya ga mungkin banget deh kalo fil FITNA dibikin sebagi film tandingan AYAT-AYAT CINTA. Apa mungkin si Wilder Gila itu tau kalo ada fil AAC yang mungkin bahasanya aja dia nggak ngerti.
    Dan ga mungkin pula dikaitkan dengan April MOP. Fitna itu film SERIUS yang ingin mempora-porandakan ISLAM. Lakukan sesuatu. Jika tak bisa dengan tindakan, lakukanlah dengan ucapan, jika tidak, lakukanlah didalam hati saja.

    Balas

  10. Posted by rijalabdullah on April 2, 2008 at 6:24 am

    Menurut saya Film Ayat-ayat Cinta itu tidak bisa kita katakan sebagai mewakili Islam, kok ada adegan-adegan yang tidak Islami. Sedangkan Film Fitna itu kan yang namanya salah satu dari strategi orang kafir untuk menjelek2an Islam. Tapi seperti pernah saya ungkapkan bahwa siapa menebar angin akan menuai badai. Sedangkan dalam masalah April Mop ini saya ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda Islam yang sempai membaca tulisan ini, bahwa ada suatu hadist nabi yang maksudnya bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum itu. Jadi kalau anda ikut merayakan April Mop yang notabene adalah hari peringatan pembantaian kaum Muslimin oleh tentara Salib di Spanyol 1 April 1487 berarti anda senang bila saudara anda disembelih oleh orang lain. Mungkin ada yang kurang pada diri anda yakni otaknya.

    Balas

  11. Masalah april mop, saya lebih senang untuk mengkritisi bukan dari sudut pandang 1 agama saja. Saya lebih senang untuk memandangnya dari sudut pandang yang mengandung sifat-sifat keuniversalan agama. Bukankah seluruh ajaran agama yang ada di dunia melarang sikap berbohong. walaupun ada sebagian agama yang memperbolehkan berbohong ketika keadaan memang terdesak.

    ya mungkin itu yang dilakukan oleh tentara Salib di Spanyol (kalau memang sejarah itu benar). Mereka membohongi karena mereka terdesak. Satu-satunya cara agar mereka menang ya dengan berbohong.

    Hanya Tuhan yang tau.

    Balas

  12. Jujur saja, saya rasa tiga tiganya tidak ada hubungannya

    Balas

  13. Iya gpp, lebih baik jujur daripada berapril mop.

    Balas

  14. Posted by jana on Juni 8, 2008 at 8:07 pm

    SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”
    Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *

    1. Catatan Pengantar
    Fenomena sukses film “Ayat-ayat Cinta”, arahan Hanung Brahmantyo ini adalah
    menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya
    Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup
    pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton
    karena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya
    “sekedar ingin tahu”, karena penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan
    hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan
    Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.
    Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik
    novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”,
    “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo”, tetapi ada pula yang
    serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di
    Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh
    Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja
    pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai
    seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa
    kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan “secara sambil
    lari” dalam film ini.
    2. Sekilas Film “Ayat-ayat Cinta”
    Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang
    tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang
    diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:
    Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame
    Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia
    yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen
    Koptik, digambarkan mengagumi Al-Qur’an, karena ayat-ayatnya yang
    dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah
    menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengutarakan perasaan
    hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.
    Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal
    Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di
    Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta
    itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang
    petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu
    disiksa “ayahnya”, dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang
    menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara,
    karena tuduhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat
    itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara
    Jerman. Pendekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.
    Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir
    melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka.
    Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di
    bawah tekanan Bahadur, “ayah”nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah
    kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi
    seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin
    yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil”-nya, dan dia
    ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria
    berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia
    menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul,
    demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.
    Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya.
    Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia
    terbaring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia “membagi cinta”
    dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah
    satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas
    restunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan
    pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk erat Aisha, ketika wanita
    keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan
    antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa
    menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan
    adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara
    kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras “menjaga hati”. Sementara
    Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil
    tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit.
    “Ajarilah aku shalat”, ucap Maria kepada Fahri, “karena aku ingin shalat
    bersama kalian”. Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan
    terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu
    mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.
    3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir – Selayang Pandang
    Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak
    awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul
    Petrus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil
    Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu
    Kekristenan berkembang pesat di “Negeri Firaun” itu.
    Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja
    Ortodoks Syria, yang sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa
    Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria
    (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan
    inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai
    bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai
    memakai bahasa Arab, berdampingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik
    adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam
    aksara Yunani.
    Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks
    Koptik, masih dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya
    Kristen mula-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shalawat)[4],
    Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [5] membaca
    Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-
    yang paralel dengan Tilawat al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa
    menyaksikan seorang pemuda yang komat-kamit membaca Kitab di tangannya
    sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata
    bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda
    Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah
    Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika
    mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke
    kampus.
    Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir
    sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan.
    Idiom-idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama
    atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang
    Kristen biasanya diawali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah
    berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum
    Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena Allah
    dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi,
    misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.
    4. Resensi atas Novel dan Film “Ayat-ayat Cinta”
    Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi
    sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi
    Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang
    kadang-kadang kurang tepat disampaikan dalam film ini:
    4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya
    Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme
    Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: “bisyur’ah” (cepat!),
    tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih “Egypt” nuansanya, bila ia berkata
    dengan penekanan: “Yala, yala, bisyur’ah, Ya Maria!”, misalnya. Begitu juga,
    sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya
    terlalu calm dan “melankolis”. Ketika ia mengucapkan “Afwan” (terima kasih
    kembali), menjawab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga
    yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya:
    “Musyakirin awi’ala ashir Manggo” (Terima kasih banyak atas juice mangga)
    [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: “Afwan Ya Habibi!”.
    Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut,
    tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai
    penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting
    untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus ‘Arabi?,
    diucapkan dalam dialek terlalu “Saudi Arabia”: Qomus ‘Arabi? Saya kira ini
    salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal Indonesia, karena ketika belajar
    bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih
    “fushah” (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak
    mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat,
    dan sebagainya.
    Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran:
    “Khalash! Khalash!” (sudah, sudah!), lebih “Mesir” lagi kalau diucapkan:
    “Khalash, khalash ba’ah!”. Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan
    kara “La, la, la” (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk
    bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan “ahlan”, biasanya diucapkan
    berkali-kali: “Ahlan, ahlan, ahlan…” Yang lebih mengganjal lagi, dalam
    salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur
    dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat
    mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat
    dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya:
    Ana uhibuka, Ana uhibuki.
    Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa
    secara utuh mengikuti dan membayangkan “suasana Mesir”. Mulai rumah-rumah
    warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan
    kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan
    warung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan
    yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi
    siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka).
    Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil
    ditonjolkan dengan baik, sehingga ber-”suasana Indonesia dan India”,
    ketimbang ber-”suasana Mesir”, dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada
    umumnya.
    4.2. Tradisi Kristen Koptik
    Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di
    Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya,
    penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayatnya
    di-”tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci
    dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah
    (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari
    ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus
    Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.
    Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga
    Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya;
    Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal
    orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan,
    sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan rumusan Basmalah:
    Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang),
    sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi
    wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan
    Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).
    Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria
    terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada
    Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik
    diperjelas: “Ajarilah aku shalat secara Islam!”. Mengapa? Sebab kata
    “shalat” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat
    Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif
    Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.
    Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal waktu-waktu shalat yang tujuh kali
    sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan “shalat jam
    ketiga” (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus,
    Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu
    Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq
    al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.
    Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai
    dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan
    Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar
    dengan salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk
    waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna
    teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam)
    sebagai berikut:
    1. “Salat jam pertama” (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi
    waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari
    antara orang mati (Mrk.16:2).
    2. “Salat jam ketiga” (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi,
    yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis.
    2:15).
    3. “Salat jam keenam” (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang,
    yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).
    4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah), kira-kira jam 3
    petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);
    5. “Salat Terbenamnya Matahari” (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan
    jasad Kristus (Mrk.15:42).
    6. “Salat waktu tidur” (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh
    Kristus; dan;
    7. “Salat Tengah Malam” (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah
    jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya
    (Why. 3:3)[9].
    Salat Tujuh waktu (As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya
    dengan Islam. Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang
    dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi
    (waktu-waktu) salat” (Shalat al-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam
    sebuah dokumen gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul
    yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]
    5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
    Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil
    karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa,
    melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan
    keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural,
    sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang
    selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.
    Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela
    Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi
    terkadang “kelewat batas”. Misalnya, dalam Bab 33: “Nyanyian dari Surga”
    (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria
    bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika
    terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rahmat), Bunda Kristus itu,
    menampakkan diri begitu anggun dan luar biasa. “Dia (Allah) mendengar haru
    biru tangismu”, kata Bunda Maria, “Apa maumu?”. “Aku ingin masuk surga.
    Bolehkah?”, tanya Maria sambil menangis.
    “Boleh”, jawab Bunda Maria. “Memang surga diperuntukkan untuk semua
    hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya”. “Apa kuncinya?”, tanya Maria.
    “Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
    tidak mengetahuinya?”, tegas Bunda Maria. “Aku tidak mengikuti ajarannya”,
    kata Maria. “Itu salahmu!”, kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa
    jalan. ke surga itu harus lewat Islam.
    “Maria, dengarlah baik-baik!”, kata Bunda Kristus kepadanya. “Nabi Muhammad
    sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, “Barangsiapa berwudhu dengan baik
    lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan
    ‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
    saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan
    dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia
    suka.” Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan melaksanakan
    shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah “ending” novel dakwah ini.
    6. Catatan Reflektif
    Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja.
    Setiap orang bebas untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa
    surga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan
    tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi
    pernahkah anda berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas
    juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh
    paling suci dalam Kekristenan setelah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa
    jalan ke surga harus melalui Muhammad.
    Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan
    Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali
    melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam “lisan Nabi Muhammad” untuk mengajar
    keyakinan itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-demo
    ketika “Ayat-ayat Cinta” meminjam “mulut suci Bunda Maria” untuk dakwah
    agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya,
    mengapa harus mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa
    mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah,
    “berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya” karena publikasi
    novel dan film itu?”
    Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga
    fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di
    negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki “lbunda Dunia” ini. Misalnya,
    tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan
    gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah
    Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks
    Koptik sebagai simbol persatuan nasianal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga,
    kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad
    (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan
    selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen,
    juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara
    mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia
    akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab
    sendiri” [11].
    Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran
    film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda
    menyambut film “ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk,
    (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena
    sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan
    gembira bila anda bergembira.
    *) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies
    (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo,
    Mesir.
    7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta
    Hal. 400 – HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
    Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan
    mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.
    “Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat
    sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan.
    Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan
    berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau
    baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru
    tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang
    diperuntukkan bagi semua hambaNya: Tapi kau harus tahu kuncinya?’ Apa itu
    kuncinya?
    ‘Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
    tidak mengetahuinya?’ Aku tidak mengikuti ajarannya.’ Itulah salahmu.’
    Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh
    ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya
    datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau
    sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk
    memberitahukan padamu.
    Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung
    menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon
    agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku
    ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan
    melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah
    aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lamanya. Aku terus menangis
    sambil menyebut-nyebut nama Allah.
    ———————————
    [1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa.
    Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).
    [2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis,
    yang sangat popuJer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari
    Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang
    Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam.
    Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus),
    Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab
    Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi
    nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih
    banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun
    Islam
    [3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo:
    Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and
    Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing
    House, 1995), him. 126.
    [4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya:
    As-Sab’u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah,
    2001).
    [5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO’ A/-A/om (Oar al-Jilli
    ath-Thaba’ah,2001).
    [6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa
    penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi
    keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir
    pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang
    ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan
    (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun
    qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
    [7] Kata “musyakirin awi ala …” (Terima kasih banyak atas…) adalah
    dialek khas Mesir, kata “awi” asalnya dari: “qawwi” (besar), dalam bahasa
    Arab klasik: “Syukran ‘ala… ” (terima kasih atas…), atau “Alfu syukran
    ‘ala …” (beribu terima kasih atas…)
    [8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan
    ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk
    mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
    [9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik
    ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah
    Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity
    (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah
    catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja:
    Orthodoks Koptik: “These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce,
    Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer…” (hlm. 128).
    Mengenai Gereja Orthodoks Syria, “…keep usual hours from Matins to
    Compline, with they describe as the ‘protection prayer’ (Suttara) before
    retiring” (hlm. 124). Sedangkan Gereja Maronit di Lebanon: “Seven in
    number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours,
    Verpers and Compline” (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu
    ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.),
    Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar
    al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
    [10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta’alim ar Rusul (Cairo:
    Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm.
    171-172.
    [11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, “Ramadhan di Cairo”, di Surabaya
    Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di http://www.iscs.id
    (Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara – Lt.4, Awal April
    200

    Balas

Respond to this post