Beranda > Tulisanku > Sahabat Nabi Merubah Sunnah Nabi Saw

Sahabat Nabi Merubah Sunnah Nabi Saw

Sahabat Nabi Merubah Sunnah Nabi

Melanjutkan tulisan terdahulu dan menindaklanjuti permintaan Mbak Hilda, aku coba postingkan beberapa hadits yang aku dapatkan. Aku sengaja tidak memberikan penjelasan, biar para pembaca sendiri yang menafsirkannya. Aku hanya akan mempostingkan beberapa hadits riwayat Bukhari mengenai perilaku beberapa orang yang diklaim sebagai sahabat Nabi, ternyata mengubah sunnah Nabinya sendiri.

Hadits-hadits di bawah ini aku kutip dari The Translation of the Meanings of Sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII karya Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina Al-Munawwara.

Berawal dari hadits berikut:

Hadits No. 578

Narated ’Abdullah: The Prophet said, ”I am your predecessor at the Lake-Fount.” ‘Abdullah added: The Prophet said, “I am your predecessor at the Lake-Fount, and some of you will be brought in front of me till I will see them and then they will be taken away from me and I will say, ‘O Lor, my companions!’ It will be said, ‘You do not know what they did after you have left.’

Hadits No. 585

Narated Abu Hazim from Sahl bin Sa’d: The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will dring from itu kautsar and whoever will drink from itu, he will never be thirsty. They will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said, “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, “I bear witness that I heard Abu Sa’id Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: “I will say: There are of me (i.e. my followers). It will be said, “You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left.” I will say, “Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.”

Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, “O Lord (those are) my companions!” It will be said, “You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”

***

Berangkat dari hadits di atas, muncul pertanyaan, “Apakah benar sahabat Nabi itu merubah sunnah-sunnah Nabi? Apakah benar sahabat telah melakukan perubahan dalam agama Islam? Lalu perubahan seperti apa yang tercantum dalam riwayat sejarah?”

Berikut ini beberapa riwayat yang aku dapatkan, sekali lagi, aku tidak akan menambahkan penjelasanku. Silakan Anda semua untuk menafsirkannya.

***

Sebelumnya, aku kutipkan riwayat yang menceritakan kepada kita perihal penyaksian sahabat Nabi bahwa mereka telah mengubah Sunnah Rasulullah sampai dengan shalat.

Hadits No. 507

Narrated Ghallan: Anas said, ”I do not (now-a-days) things as it were (practiced) at the time of the Prophet.” Somebody said, “The Prayer (Is as It was).” Anas said, “Have you not done in the prayer what you have done?

Narrated Az-Zuhri that he visited Anas bin Malik at Damascus and foun him weeping and asked him why he was weeping. He replied, “I do not know anything which I used to know during the life-time of Allah’s Apostle except this prayer which is being lost (not offered as It should be).

Hadits No. 488

Narrated Al-Musaiyab: I met Al-Bara’ bin ‘Azib and said (to him). “May you live prosperously! You enjoyed the company of the Prophet and gave him the Pledge of allegiance (of Hudaibiya) under the Tree.” On that, Al-Bara’ said, “O my nephew! You do not know what we have done after him (i.e. his death).”

***

Selanjutnya, aku akan mengutipkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa ada beberapa sahabat yang mengubah ketentuan-ketentuan yang berlaku ketika Nabi Muhammad masih hidup.

Khalifah Utsman adalah orang yang pertama mengubah Sunnah Nabi Saw mengenai shalat:

Khalifah Utsman telah mengubah sunnah Nabi. Pada masa hidup Nabi, shalat di Mina dua raka’at Qasr, begitu juga khalifah Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsman pada awal pemerintahannya. Kemudian dia (’Utsman) melakukan empat rakaat di Mina tanpa Qasr.

Hadits No. 188

Narrated ’Abdullah (bin ’Umar): I offered the prayer with the Prophet, Abu Bakar and ’Umar at Mina and it was two Rak’at. ‘Utsman in the early days of his caliphate did the same, but later on the started praying the full prayer.

Marwan, Gubernur Madinah merubah sunnah Nabi juga. Berikut riwayatnya:

Hadits No. 76

Narrated Abu Sa’id Al-Khudri: The prophet used to proceed to the Musalla on the days of ’Id-ul-Fitr and ’Id-ul-Adha; the first thing to begin with was the prayer and after that he would stand in front of the people and the people would keep sitting in their rows. Then he would preach to them, advise them and give them orders (i.e. khutba). And after that if he wished to send an army for an expedition, he would do so; or if he wanted to give and order he would do so, and then depart. The people followed this tradition till I went out with Marwan, The Governor of Medina, for the the prayer of ‘Id-ul-Adha or ‘Id-ul-Fitr. When we reached the Musalla, there was a pulpit made by Kathir bin As-Salt. Marwan wanted to get up on that pulpit before the prayer. I got hold of his clothes but he pulled them and ascended the pulpit and delivered the Khutba before the prayer. I said to him, “By Allah, you have changed (the Prophet’s tradition).” He replied, “O Abu Sa’id! Gone is that which you know.” I said, “By Allah! What I know is better than what I do not know.” Marwan said, “People do not sit to listen to our khutba after the prayer, so I delivered the Khutba before the prayer.”

Sahabat mengubah sunnah Nabi dengan mematuhi ketetapan Khalifah ‘Umar.

Hadits No. 342

Narrated Shaqiq bin Salama: I was with ’Abdullah and Abu Musa; the latter asked the former, ”O Abu Abdurrahman! What is your opinion if somebody becomes Junub and no water is available?” Abdullah replied, “Do not pray till water is found.” Abu Musa said, “What do you say about the statement of ‘Ammar (who was ordered by the Prophet to perform Tayammum). The Prophet said to him: Perform Tayammum and that would be sufficient.” ‘Abdullah replied, “Don’t you see that ‘Umar was not satisfied by ‘Ammar’s statement?” Abu Musa said, “Alright, leave ‘Ammar’s statement, but what will you say about this verse (of Tayammum)?” ‘Abdullah kept quiet and then said, “If we allowed it, then they would probably perform Tayammum even if water was available, if one of them found it (water) cold.”

The narrator added, “I said to Shaqiq.” Then did ‘Abdullah dislike to perform Tayammum because of this?” He replied, “Yes.”

Terakhir, aku kutipkan dari buku Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi Terbitan Pustaka Kautsar bahwa Khalifah Umar bin Khattab yang pertama kali melarang nikah mut’ah.

***

Sebenarnya masih banyak lagi. Tetapi aku cukupkan sekian dulu. Kalau ada yang mau nambahkan, aku persilakan.

  1. April 19, 2008 pukul 5:03 am

    Sangat kontroversial :mrgreen:

    *siap-siap nunggu angin ribut*

  2. April 19, 2008 pukul 5:05 am

    Emang knapa harus ada angin ribut? bukankah itu bukti otentik tercatat dalam shahih bukhari?

  3. hilda alexander
    April 21, 2008 pukul 4:56 am

    thanx Bro… karena postinganmu, aku kini berkubang buku (cieeee), mulai dari Syariati, hingga Qardhawi… mulai dari pagi hingga pagi (lagi)…

    Dan dari sebagian yang telah kubaca, aku telah menitikkan air mata, betapa Nabi SAW telah dikhianati….

  4. April 21, 2008 pukul 6:17 am

    Baru sebagian saja sudah menitikkin airmata? Bagaimana kalau baca semua? Pingsan kah?

  5. hilda alexander
    April 21, 2008 pukul 6:41 am

    Mungkin akan mendekonstruksi seluruhnya …..

  6. qiyamah
    April 23, 2008 pukul 10:26 am

    Abu hurairah yg paling parah..masuk islam aja bs dibilang baru,eh tahu2 dia sudah buat 6000hadits..tp sbagian besar dhaif..abu hurairah trmsk salahsatu org yg benci imam ali..pdhl rasul saww sudah memberitahu ttg keutamaan imam ali..abu hurairah,pendukung muawiyah la’natullah alaih disingkat la..muawiyah butuh pembenaran atas kekacauan yg dia buat trhdp umat islam,abu hurairah langsung bwt hadits baru atas perintah muawiyah la tersebut..

  7. April 26, 2008 pukul 2:03 pm

    Terakhir, aku kutipkan dari buku Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi Terbitan Pustaka Kautsar bahwa Khalifah Umar bin Khattab yang pertama kali melarang nikah mut’ah.

    Akhiran yang mantap :mrgreen:

  8. April 26, 2008 pukul 3:58 pm

    emang mantepnya dibagian mananya mas?

  9. April 26, 2008 pukul 5:09 pm

    Emang mantapnya knapa bang?

  10. ayoibni5
    April 29, 2008 pukul 10:41 am

    http://www.arrahmah.com/index.php/blog/detail/yang-tersisa-dari-karbala/

    Yang Tersisa Dari Karbala

    Senin 18 Feb, 11:27 AM

    Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syi’ah, mau tahu? baca selengkapnya…

    Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung, karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas.
    Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar,begitu juga kepada kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada sang Kakek haruslah lebih besar.

    Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Faji’atu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan pedang terhunus untuk melawan dan “kezhaliman bani Umayah”, Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti “tentara bani umayah” dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak. Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak zaman para imam.

    Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi Thalib : Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Ma’alimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal 127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad bin Nukman Al Mufid hal. 197, I’lamul Wara karangan Thabrasi hal 112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya : Abubakar bin Husain dan Umar.

    Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syi’ah adalah dibenci Allah.

    Begitu juga menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah, perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang “tercinta” yaitu Abu Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak?

    Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain untuk memberi nama anaknya sendiri?

    Sumber: Hakekat

    Berita Lainnya tentang: Hakekat Syi’ah ̶

  11. April 29, 2008 pukul 11:25 am

    Sudah saya baca tulisan-tulisan seperti itu. apalagi tulisan yang ada di hakekat.com.

    Satu tantangan saya bagi admin http://www.hakekat.com. Tolong buka ruang dialog seluas-luasnya agar para pembaca bisa berkomentar. Kalau apa yang mereka sampaikan itu suatu kebenaran, silakan buka ruang untuk berkomentar. Jangan ditutup rapat-rapat.

    Silakan Anda berkunjung ke http://www.jakfari.wordpress.com.

    Ajak debat admin weblog itu. Itu juga kalau Anda mampu. Sedangkan Anda berargumen di sini saja modalnya cuman copy paste. Berarti Anda belum mengkaji dari kitabnya secara langsung. Kata anak-anak HMI, “MENTAH…!!!”

  12. April 29, 2008 pukul 11:32 am

    oh ya lupa satu hal lagi. Ngomong-ngomong ini masalah sahabat Nabi yang merubah Sunnah Nabi. Jadi tolong, kalau mau diskusi, fokus pada tema yaw. Atau Anda gak mampu membantahnya?

  13. Mei 4, 2008 pukul 12:21 pm

    duh emang sulit ya Mendirikan Kebenaran yg Paling Benar..

  14. Dede Hermawan
    Oktober 11, 2008 pukul 7:57 am

    Tolong diterjemahin ke bahasa indonesia Mas.. biar kita-kita bisa faham dan bisa berdiskusi.. he..he. maklum.. orang kampung… kalau nggak salah.. pembahasan ini dibuka juga di faithfreedoom.. so.. terjemahin yah…

  15. Oktober 11, 2008 pukul 10:29 am

    Saya pikir mudah kok bahasa inggrisnya. Silakan dicoba untuk menerjemahkannya.

    • Maret 17, 2012 pukul 2:35 am

      mendin pakek bahasa aslinya “ARAB’ daripada lbahasa inggris…
      aku kok ragu kebenaranya…..
      jangan2 ini propaganda barat buat mecah ISLAM….
      agar g percaya pada hadits yg ada sekarang…..

  16. April 3, 2012 pukul 3:19 am

    HEBAT

  17. anas
    Agustus 8, 2012 pukul 5:21 am

    Cuman untuk kepentingan saafy-wahaby

  18. budi
    Maret 21, 2013 pukul 12:25 am

    Jadi Ali bin Abi Thalib r.a. itu sahabat nabi atau bukan sih ?

  19. budi
    Maret 2, 2014 pukul 7:24 am

    ah kasihan kamu syiah laknatullah

  20. April 22, 2014 pukul 6:47 pm

    My partner and I stumbled over here different web address and thought I might check things out.
    I like what I see so i am just following you. Look
    forward to looking over your web page for a second time.

  21. Juli 23, 2014 pukul 9:03 am

    Attractive portion of content. I just stumbled upon your web site and in accession capital to assert that
    I get in fact loved account your weblog posts. Any way I’ll be subscribing to your feeds or even I
    achievement you access consistently quickly.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 200 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: