Baru saja tadi aku ngobrol dengan salah seorang kawan yang nampaknya dia seorang aktivis Islam jalanan. Sebutan yang aneh di telinga kita. Atau mungkin aneh di telingaku tetapi tidak tidak aneh di telinga Anda. Aktivis Islam Jalanan ini begitu terkenal di kota Solo. Tiap malam minggu mereka melakukan aksi sweaping terhadap para preman yang berkeliaran kampung sambil mabuk-mabukkan. Tidak jarang aksi adu jotos pun berlaku pada aksi sweaping yang mereka lakukan.
Menurut penuturan kawanku yang merupakan salah satu dari Aktivis Islam Jalanan tersebut bahwa sebenarnya mereka tidak ingin terjadi kekerasan. Awalnya mereka hanya sekedar mengingatkan untuk tidak mabuk-mabukkan apalagi mabuk-mabukkan di depan umum. Lebih baik mabuk di dalam rumah lalu kunci pintu rumah mereka. Tetapi sering kali nasehat tersebut dibalas dengan cacian bahkan sering kali yang mereka dapatkan adalah bogem mentah.
Ada dua pendapat seputar fenomena yang aku sebutkan diatas. Ada sebagian umat Islam yang memandang bahwa tindakan mereka itu merupakan tindakan yang melanggar hukum. Bahkan itu bisa memperburuk citra umat Islam di mata masyarakat. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan itu sebagai bentuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Lalu bagaimana pendapat Anda dengan adanya fenomena Aktivis Islam Jalanan ini?














Posted by hilda alexander on Juni 9, 2008 at 6:17 am
Speechless
Posted by ressay on Juni 9, 2008 at 6:32 am
Qo bs mbak?
Posted by hilda alexander on Juni 9, 2008 at 7:21 am
amar ma’ruf mahi munkar itu memang harus direpresentasikan dengan kekerasan ya? atau sweeping atau adu jotos? Kekerasan sudah jadi panglima ya…. sekarang yang mencuat adalah ‘kami’ bukan ‘kita’…. gimana Indonesia bisa jadi pengekspor teknologi kalau harus terus berkonflik (celakanya konflik horizontal yang terjadi)
musti belajar lagi mengenai PPKN, wawasan nusantara, atau kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara.
Tak ada cara yang lebih elegan?
Posted by ressay on Juni 9, 2008 at 8:42 am
Lalu untuk mengingatkan para pemabuk itu harus seperti apa mbak?
Posted by nindityo on Juni 10, 2008 at 5:02 am
mungkin lebih elegan jika lapor ke polsek setempat deh..
ato pos kampling setempat
Posted by ressay on Juni 10, 2008 at 5:13 am
Bagaimana jika Polisi sudah kongkalikong ama preman yang mabok2an itu?
Posted by nindityo on Juni 10, 2008 at 6:25 am
kalo ngomongin penegakan hukum ya musti polisi.
jika kita ambil jalan sendiri, bisa jadi keadaan menjadi tertib, tapi cuma sebatas karena takut.
saat kita salah, siapa yang akan ambil tindakan? mereka yang lebih kuat lagi.
saat yg lebih kuat salah, siapa yg ambil tindakan?
pada tatanan masyarakat, hukum yang musti dikedepankan.
Posted by ressay on Juni 10, 2008 at 8:16 am
Jadi, kalau ada pemabuk kita cukup melaporkanx ke polisi.
Posted by hilda alexander on Juni 13, 2008 at 6:21 am
di sinilah peran kita….. toh memberantas kemunkaran tidak melulu tugas polisi. Tapi mulainya jangan ‘memberantas’ kali ya, sebab, kalo sudah ‘memberantas’ itu berarti sudah terjadi kemungkaran. Kenapa kita tidak melakukan pencegahan. Musti ada sebab (motif) yang mendorong kenapa terjadi mabuk-mabukan atau banyak pemuda yang jadi pemabuk.
Apakah sudah ditelusuri, kenapa bisa terjadi para pemuda mabuk? apakah sistem pengawasan (kontrol) sosial berjalan sebagaimana mestinya? kenapa minuman keras bisa masuk ke daerah itu? dan kenapa bisa bebas diperjual belikan?
Persuasive approach, Bro…. para pemuda mabuk itu kan karena gak punya kerjaan. Gak punya kesibukan, gak punya sesuatu yang bisa dibanggakan…. kebanyakan mereka pengangguran kan? (maxud saya pemabuk di jalanan, beda lho sama pemabuk di kafe-kafe yang pastinya punya kocek lebih tebal)….
Posted by ressay on Juni 13, 2008 at 8:00 am
Okey, aku bisa nangkep. Berarti perlu ada pembinaan tho mbak?
Lalu bagaimana dengan para pemabuk yang memang dari kalangan genk preman? Pembinaan seperti apa yang bisa kita berikan kepada mereka sedangkan mereka saja sudah terorganisir?