Beranda > Tanggapan > Hadits Madinatul Ilmu Palsu? (Eramuslim)

Hadits Madinatul Ilmu Palsu? (Eramuslim)

Seseorang bertanya kepada Ahmad Sarwat di rubrik “Ustadz Menjawab”, mengenai kedudukan hadits Madinatul Ilmi.

Rasulullah bersabda, “Ana madinatul ilmu wa ‘Aliyyun Babuha. Aku adalah Kota ilmu dan Ali pintunya.”

Ahmad Sarwat memaparkan pendapatnya mengenai hadits Madinatul Ilmi tersebut. Bisa Anda baca disini.

Dalam jawabannya itu, Ahmad Sarwat memaparkan beberapa pendapat perihal kedudukan hadits tersebut. Ada yang mengatakan hadits itu shahih. Menurutnya, hanya ada satu ulama hadits saja yang menyatakan bahwa hadits madinatul ilmu itu shahih.

Menurutnya, kebanyakan pakar hadits menganggap hadits madinatul ilmu sebagai hadits lemah (maudhu’).

Saya ingin mengajak pembaca melihat dari dekat sikap para ulama hadis Sunni tentang hadis tersebut.

Hadits Madinatul ilmi telah diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi saw, di bawah ini akan saya sebutkan nama-mana mereka berikut para perawi hadis mereka:

1. Imam Ali bin Abi Thalib k.w

Hadis riwayat beliau telah diriwayatkan oleh banyak ulama’ Ahlusunnah, di antaranya: Suwaid ibn Said Al Hadatsani. Imam Ahmad ibn Hambal, Abbad ibn YA’qub Ar Rawajani, Imam At Turmudzi, Abu Bakr Al Baghundi, Muhammad ibn Al Mudzaffar Al Wasithi, Ibnu Syaadzaan Al Harbi, Al Hakim Abu Abdillah AnNisaburi, Ibnu Murdawaih, Abu Nu’aim Al Ishbahani, Abu Ghalib Muhammad ibn Ahmad ibn Sahl (Ibnu Busyrân), Ibnu Maghzili Al Wasiithi, Ahmad ibn Muhammad Al Ashimi, Ibnu Al Atsir, Ibnu Najjar Al Baghdadi, Sibth Ibn Jawzi, Muhammad ibn Yusuf Al Kinji, Muhibbuddin Ath Thabari Asy Syafi’i, Syihabbudin Ahmad. Jalaluddin As Suyuthi, Nuruddin As Samhudi, Ibnu Hajar Al Makki Asy Syafi’i, Ali Al Muttaqi Al Hindi, Ibrahim Al Washshabi Al Yamani, Syeikh ibn Abdullah Al Idrus Al Yamani, Ahmad Al Makki Asy Syafi’i.

2. Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Hadits dari beliau diriwayatkan oleh Al Qanduzi Al Hanafi.

3. Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib

Hadis dari beliau telah diriwayatkan oleh: Ibnu Mardawaih Al Isbahani, Ibnu Busyran Al Wasithi, Ibnu AL Maghazili, Al Ashimi, Ibnu Najjar Al Baghdadi, Dan Al Qandizi Al Hanafi

4. Ibnu Abbas

Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh: Yahya ibn Main, Ibnu Fahd Al Baghdadi, Abu Al Abbas Al Asham, Ibnu Numair Al Qanthuri, Ibnu Jarir Ath Thabari, Abu AL Qasim Ath Thabarani, Abu Syeikh Al Isbahani, Al Hakim An Nisaburi, Ibnu Murdawaih Al Isbahani, Al Baihaqi, Al Khathib Al Baghdadi, Ibnu Abdil Barr Al Qurthubi, Ibnu Al Maghazili, Abu Ali Al Baihaqi, Ahmad ibn Muhammad Al ‘Ashimi, Akhthab Al Khawarizmi Al Makki, Ibnu Al Atsir, Al Kinji Asy Syafi’i, Al Hamawaini, Jamaluddin Az Zarandi, Ibnu Hajar Al Asqallani, As Suyuthi, As Samhudi, Al Muttaqi Al Hindi, Al Munnawi, dan puluhan lainnya..

5. Jabir bin Abdullah al-Anshari

Hadits darinya diriwayatkan oleh: Abdur Razzaq Ash Shan’ani, Al Bazzar, Ath Thabarani, Al Qaffal Al Syasyi, Ibnu As Saqqa Al Wasithi, Al Hakim An Nisaburi, Abu AL Hasan Al Aththar Asy Syafi’i, Al Khathib Al Baghdadi, Ibnu Maghazili, Syirawaih Ad Dailami, Syahr Daar Ad Dailami, Ibnu ‘Asakir Ad Dimasyqi, Al Kinji Asy Syafi’i, Ali Al Hamdani, Ibnu Al Jazari Asy Syafi’i, Ibnu Hajar AL Asqallani, As Suyuthi, As Samhudi, Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki, Al Muttaqi Al Hindi, Al Munnawi, dan banyak selain mereka.

6. Abdullah ibn Mas’ud

Hadis darinya diriwayatkan oleh: Sayyid Ali Al Hamdani, Syeikh Sulaiman Al Qanduzi Al Hanafi.7.

7. Hudzaifah ibn Yaman

Hadis darinya diriwayatkan oleh Ibnu Al Maghazli dan kemudian dikutip oleh Al Qanduzi.

8. Abdullah ibn Umar

Hadis darinya diriwayatkan oleh: Ath Thabarani, Al Hakim, Ibnu Hajar Al Makki, Syeikh Al Idrus Al Yamani, Mirza Muhammad Al badkhisyani, Syeikh Muhammad Ash Shabban, Maulawi Muhammad Mubin Al Laknawi, Maulawi Tsanaullah Pani Pati, Maulawi Waliullah Al Laknawi, Al Qanduzi

9. Anas ibn Malik

Hadis darinya telah diriwayatkan oleh: Sayyid Ali Al Hamdani, Syeikh Sulaiman Al Qanduzi Al Hanafi.

10. Amr ibn Al ‘Aash

Hadis darinya telah diriwayatkan oleh Akhthab Al Khawarizmi Al Makki.

Hadits Madinatul ilmu ini juga telah diriwayatkan oleh banyak kalangan tabi’in. Berikut nama-nama mereka: Imam Ali Zainal Abidin ibn Husain as, Imam Muhammad ibn Ali Al Baqir as, Al Ashbugh ibn Nubatah Al Handhali Al Kufi, Jarir Adh Dhabbi, Al Harits ibn Abdillah Al Hamdani Al Kufi, Sa’ad ibn Tharif Al Handhali Al Kufi, Said ibn Jubair Al Asadi Al Kufi, Salamah ibn Kuhail Al Hadhrami Al Kufi, Sulaiman ibn Muhran Al Kufi (yang dikenal dengan nama Al A’masy), ‘Ashim ibn Dhmarah As Saluli Al Kufi, Abdullah ibn Utsman ibn Khutsaim Al Qari Al Makki, Abdurrahman ibn Utsman At Tamimi al Madani, Abdurrahman ibn Usailah Al Muradi Abu Abdillah Ash Shanabaji, Muijahid ibn Jabr Abu Al Hajjaj Al Makhzumi Al Makki.

Hadis ini telah disahihkan oleh puluhan ulama Ahlusunnah yang berkompeten dalam penilaian hadis Nabi saw., di antara mereka adalah: Al-Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Ma’in (W.233 H) sebagaimana disebutkan oleh al-Khatib, Abu al-Hajjaj dan Ibnu Hajar dan lain-lain, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari (W.310 H) sebagaimana dalam kitab Tahdzibul Atsar, Abu Abdillah al-Hakim (W.405 H), Al-Hafidz Abu Muhammad al-Hasan al-Samarqandi (W.491 H) dalam kitab Bahr al-Asamid, Majduddin al-Fairuz Abadi (W.816 H) dalam al-Naqdu al-Shahih, Jalaluddin al-Suyuthi (W.911 H) dalam Mam’i al-Jawami’, Sayyid Muhammad al-Bukhari, seperti dalam kitab Tadzkirat al-Abrar, Al-Amir Muhammad al-Yamani al-Shan’aa’i (W.1182 H) dalam kitabnya al-Raudhah al-Nadiyyah, Al-Maulawi Hasanuzzaman, Abu Salim Muhammad bin Thalhal al-Quraisyi (W. 652 H.}, Abu al-Mudhaffar Yusuf bin Qazawaghli (W.654 H), Al-Hafidz Shalahuddin al-Ala’i (W.761 H), Syamsuddin Muhammad al-Jazari (W.833 H), Syamsuddin Muhammad al-Sakhawi (W.902 H), Fadlullah bin Ruzbahan al-Syirazi, Al-Muttaqi al-Hindi (W.975 H), Mirza Muhammad al Badkhisyani, Mirza Muhammad Shadrul Alam, Tsama’ullah Pani Pati al Handi, Al Mawlawi Hasannuz Zamaan.

Selain mereka yang menegaskan kesahihan hadis ini, banyak para ulama yang menggolongkannya sebagai hadis hasan secara mutlak, atau pada sebagai jalur-jalurnya, -dan di antara mereka adalah adalah para ulama yang telah saya sebut sebelum,nya hal tersebut terjadi karena pada awal mula ia menggolongkannya hasan kemudian terbukti bahwa ia sahih atau karena pada sebagai jalurnya ia hasan dan pada sebagian lainhya sahih, seperti yang dinyatakan Al Kunji).

Selain mereka yang menegaskan kesahihan hadis ini, banyak para ulama yang menggolongkannya sebagai hadis hasan secara mutlak, atau pada sebagai jalur-jalurnya, -dan di antara mereka adalah adalah para ulama yang telah saya sebut sebelum,nya hal tersebut terjadi karena pada awal mula ia menggolongkannya hasan kemudian terbukti bahwa ia sahih atau karena pada sebagai jalurnya ia hasan dan pada sebagian lainhya sahih, seperti yang dinyatakan Al Kunji).

Di bawah ini akan saya sebutkan nama-nama sebagian mereka: At Turmudzi, sebagai dinayatakan Adbul Haq Ad Dahlawi dalam kitab Al Lama’ât-nya, Al Kunji Asy Syafi’i. Tentang hadis riwayat Ibnu Abbas ia berkata, “Hadis hasan ’âlin (tinggi, pendek sanadnya), Shalahuddin Al Ala’i, Badruddin Az Zarkasyi, seperti disebutkan Al Munnawi dan Syeikh Hasanuz Zaman, Majduddin Asy Syirazi dalam kitab Naqd ash Shahih, Ibnu Hajar Al Asqallani dalam Fatawa-nya dana dalam jawaban beliau tentang stasus beberapa hadis kitab Mashabih As Sunnah karya Al Baghawi, As Sakhawi dalam kitab Al Maqâshid Al Hasanah ketika mengomentari hadis Ibnu Abbas, Jalauddin As Suyuthi dalam Tarikh Al Khulâfâ’ dan buku-bukunya yang lain, As Samhudi. Ia menyebut pensahihan Al Hakim dan keterangan Al ‘Ala’i dan Ibnu Hajar sebagai hadis hasan kemudian ia diam tidak berkomentar apapun tentangnya. Jadi dapat dipastikan bahwa paling tidak ia menyakininya sebagai hadis hasan, Muhammad ibn Yusuf Asy Syami Al Shalihi dalam Subul Al Huda wa Ar Rasyaad, Abu Hasan Ali ibn Arrâq dalam Tanzîh asy Syari’ah, Ibnu Hajar Al Haitami Al makki dalam Shawâiq, Al Minah Al Makkiyah dan Tathhir al Janân, Muhammad ibn Thahir al Tanti dalam Tadzkirah Al Maudhu’ât, Mulla Ali Al Qâri dalam A Mirqât, Al Munnawi dalam Faidh Al Qadîr, Muhammad Al Hijazi Asy Sya’rani, Abdul Haq Ad Dahlawi dalam Al Lama’ât, Al Azizi dalam As Sirâj Al Munîr, Ali ibn Ali Asy Syibramulisi dalam Taisîr Al Mathâlib As Saniyyah, Az Zarqâni dalam syarah Al Mawâhib Al Ladduniyah, Al Shabban dalam Is’âf Ar Raghibîn, Asy Syawkani dalam Al Fawâid Al Majmû’ah, Hasan ibn Ali Al Muhaddis dalam Tafrîj Al Ahbâb.

Catatan: Pensahihan Ibnu Ma’in terhadap hadis ini menjadi pijakan bagi para ulama dalam menilai hadis tersebut dikarenakan Ibnu Ma’in adalah tokoh sentral dalam al jarh wa at ta’dîl. Pensahihan Ibnu Ma’in dapat Anda baca dalam kitan Tahdzîb al Kamâl, Tahdzîb at Tahdzîb, ketika menyebut biodata Abdus Salâm ibn Shalih al Harawi, dan Jam’u al Jawâmi’, Faidh al Qadîr, al Fawâid al Majmû’ah, dll. Adapun kepiawaian Ibnu Ma’in dalam memilah hadis, dan ketokohannya dalam bidang al jarh wa at ta’dîl dan ia adalah rujukan andalan dalam menilai kualitas perawi dan hadis maka Anda saya persilahkan merujuk biotada Ibnu Ma’in dalam buku rijal manapun, seperti Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/156, Wafayât al A’yân,6/139, Siyar A’lâm an Nubalâ’,11/71. Yang mengherankan ialah bahwa Ibnu Taimiah sendiri mengakui bahwa Ibnu Ma’in adalah rujukan andalan dalam memilah hadis sahih dari hadis palsu. Antara lain Ibnu Taimiah berkata memuji, “Dan tiada bagi seorang bagi mereka keahlian dan pengetahuan tentang sanad seperti yang dimiliki para imam hadis seperti Syu’bah, Yahya ibn Sa’îd al Qaththân, Abdurahman ibn Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn Madîni, Yahnay ibn Ma’in, Ishaq, Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali, al Bukhari, Muslim, Abu Daud, an Nasa’i, Abu Hatim ar Râzi, Abu Zar’ah ar Râzi, Abu Abdillah ibn Mandah, ad Darulquthni dan semisal mereka dari para imam, penelit, penguasa dan penghafal hadis… .”

Silakan Anda nilai sendiri.

sumber:

http://www.ibnutaymiah.wordpress.com

http://www.jakfari.wordpress.com

  1. Oren
    Agustus 7, 2008 pukul 7:00 am

    di EM menyebutkan sumber hadist itu salah satunya dari HR, Bukhari: yang jadi pertanyaan Bukhari kan dah di stempel Shaih….! kenapa kok masih ada yang daif?
    cape deh….!

  2. Agustus 16, 2008 pukul 12:18 am

    Waktu saya masih kecil dulu sebelum informasi tentang syiah menyebar ke dunia akibat dari revolusi informasi era 70 an, saya diberi tahu bahwa hadis shahih Buchori – Muslim itu adalah kita kedua pegangan umat Islam setelah al-Qur’an. Setiap hadis yang diriwayatkan di dalam kitab shahih itu tidak ada yang tidak benar, dan tidak bisa ditolak.

    Tetapi setelah adanya informasi-informasi di dlam dua kitab shahih itu mendukung keutamaan-keutamaan ahlilbait seperti ‘Ali adalah pintu ilmu Rasulullah saaw’ dan peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pemimpin di Ghadir Qum, dan sebagainya, kok sekarang hadis-hadis ini dianggap dhaif dan diragukan.

    Padahal predikat Shahih Buchori Muslim sudah disandang ratusan tahun. Logika macam apa ini? Kalo menurut pendapat saya logika semacam ini adalah logika pemutar balikan fakta yang tidak berdasar pasa sebuah kebenaran, namun kejumudan dan fanatisme buta dan cenderung menyesatkan orang awam.

  3. Agustus 17, 2008 pukul 7:04 pm

    Assalamu alaikum wr wb. Nice blog.
    Bukannya yang benar ‘madinatul ilmi’, bukan ‘madinatul ilmu’?
    wassalamu alaikum wr wb

  4. Joe
    Agustus 18, 2008 pukul 9:13 am

    Ya perbedaan itu sangat wajar. Anda dapat dari http://www.ibnutaymiah.wordpress.com &
    http://www.jakfari.wordpress.com dan itu adalah “kapasitas” ilmu anda. Sementara menurut Ust A. Sarwat ada 3 pendapat sesuai yg beliau tulis berdasarkan kitab yg beliau pelajari. Masing2 ulama kan tdk tinggal di satu tempat yg sama dg lingkungan yg sama dan pengenalan thd tokoh perawi hadits juga tdk sama. Ada yg lebih mengenal si A sbg org yg amanah shg dia berijtihad bahwa hadits tsb shahih
    sementara yg lain kurang mengenal shg mendhaifkannya dg dasar perawi majhul/ tidak dikenal.

    Btw, anda sudah belajar ilmu hadits atau sekedar riwayat Mas Google? Krn secara ilmu hadits (jgn tanya drmn tp belajar ilmu hadits aja dr pakar hadits!) jalur periwayatan anda lebih lemah drpd Ust Ahmad Sarwat. Krn Ust A. Sarway bisa menyebutkan kitabnya sementara anda hanya menyebutkan satu alamat di internet! yg anda belajar dr sana dalam 1 arah (bukan interaksi lsg). Dan celakanya anda mengambil dr situs YANG SANGAT TIDAK BERADAB. Menjelek2an ulama atas nama kebenaran adalah BUKAN AJARAN ISLAM! Anda tentu ingat tatkala Sy. Ali bin Abi Thalib mengurungkan niatnya membunuh kafirun saat berperang krn si kafir (yg belakangan masuk Islam) meludahi wajah mulianya? Mengapa? Krn Sy Ali bin Abi Thalib kuatir jihadnya tercampur dg nafsu amarah inginmembunuh krn wajahnya diludahi, bukan krn ingin menegakkan kalimat Allah.

    Sekarang bandingkan dg sumber yg anda tulis. Apa bedanya?

    Semakin lama tulisan anda semakin provokatif, apalagi kl membaca dr awal rasanya sudah puluhan org mencoba membukakan mata anda tapi anda tetap bergeming. Silakan jalankan ajaran anda sesuai keyakinan, tapi jangan menjelekan pihak yg berseberangan dg anda.!

    Secara personal tumbuh curiga dr hati saya apa sebenarnya ada kompensasi atas situs dan tulisan yg anda buat?

  5. Agustus 18, 2008 pukul 10:05 am

    Waduh, lagi-lagi berlaku argumentum ad hominem.

  6. September 12, 2008 pukul 11:19 am

    salam!Hadits tentang madinstul ‘ilim seluruh jumhur ulama’ dan perawi hadits sepakat kalo itu hadits shahih bahkan bukan hanya shahih tapi MUTAWATIR MURSAL dan seluruh ulama’ Alazhar yang terdahulu sampai sekarang sepakat kalo hadits tersebut Mutawatir mursal.jadi menurut hemat hamba hanya orang2 yang mempunyai hati kotor lagi penuh karat yang mengatakan itu hadits dhaif!

  7. Ivan de Awam
    Oktober 8, 2008 pukul 5:55 pm

    Subhanallah…

    ko jadi rame begini….
    saya yakin masing masing kuat dengan dalil nya dan pendirian nya, jadi malu nih kalo umat jadi pada ribut gini… apalagi komen komen nya banyak yang sangat membuka wawasan tapi amat banyak juga yg hanya pelampiasan emosi… punten sy mah orang awam yg baru belajar… tp yg sy tau kayaknya gak ada tuh ulama di dunia ini yg seratus persen BENAR.. karena kebenaaran hanya Milik ALLAH SWT….. sy sih ngikut aja mana yg cocok dgn hati nurani sy dan jangan putus doa supaya minta dibimbing ALLAH SWT agar gak terjerumus ke jalan yg sesat.. Wallahu ‘alam bisawab.. wass, Ivan-bdg

  8. Iwan
    Maret 3, 2009 pukul 4:05 am

    Wah2….

    Gini nih kalo pada ngaku “paling”…..

    Uda,balik aja ke tuntunan baginda muhammad SAW…..

    Masalah para sahabat,biarin jadi masalah mereka…

    Toh kita jg ga pernah liat mereka berantem, kita kn cuma denger dari si fulan dan fulanah….

    Sapa tau merekalah yang saling berantem, trus bawa2 sahabat baginda muhammad SAW…

    Yang penting kan ikut aturan pokok aja..taat beribadah dan jadi rahmat buat seluruh alam…

    Itu jauh lebih baik daripada bergelar ustadz ato syekh tapi bikin umat bingung ato malah tersesat…

  9. Kamal
    April 9, 2009 pukul 7:32 pm

    Salam bwt smuax,mas iwan saya rasa anda masih terlalu fanatik,gak mw dberi kebenaran.emg bener gak smua ustadz bener,tp tentu hal itu bs kita ketahui,jika argumenx rasional dan dtrma hati.
    masalah semua hal kita kemblkn ke rasulullah saww itu bener,tp ketika rasul sudah tiada tentu kita mengambìl dr org yg plg tw rasul yakni ahlulbayt beliau.kemudian masalah kt umat bersatu sy setuju,tp bkn brarti kt tidak meluruskan masalah internal kt didalam islam.hal ini kan bertujuan mencari kebenaran yg hakiki.(dahulukan islam diatas madzhab)
    Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ali muhammad

  10. Ibnu Kamil
    April 26, 2009 pukul 6:58 pm

    Assalamu’alaykum…

    Saya pengen ngasih pendapat nich….

    yang saya tahu syi’ah itu pada awalnya adalah gerakan politik yang mendukung Ali bin Abi Tholib ra (ketika ali menjabat sebagai Kholifah) yang pada waktu itu politik didunia Islam terpecah menjadi tiga yaitu pihak Ali, Pihak Mu’awiyyah, dan pihak Aisyah. pada waktu itu aqidah syiah masih lurus, mereka hanya mengagumi sosok Ali bin Abi Tholib ra, namun pada masa belakangan berubah menjadi menghormati kemudian berubah lagi menjadi me-nabi-kan Ali, ada lagi salah satu sekte dari Syi’ah yang sampai-sampai men-tuhan-kan Ali …

    maka dari itu banyak ulama yang berpendapat bahwa Syi’ah telah keluar dari jama’ah Muslim… lebih jelas lagi silahkan lihat di Hakekat.com

    semoga anda mempunyai filter (Aqidah yang benar) dan iman yang kuat…

  11. April 27, 2009 pukul 2:26 am

    Terima kasih atas komentarnya. Kalau berbicara syiah, banyak sumber yang berisi analisa awal kemunculan syiah dan smuanya berbeda.

    Itulah yang kemudian akan kita dapati jika membicarakan syiah.

    Sikap yang bijak, lihatlah apa yang menjadi pemikiran dan pendapatnya.

    Silakan buka juga

    http://satriasyiah.wordpress.com

    http://jakfari.wordpress.com

  12. bob
    Desember 6, 2009 pukul 7:21 am

    yah namanya juga sarwat……asal nguap ajah…..
    maksud ulama dia itu sih ulama wahaby dan nashibi…memang betul bnyk yg menolak…hadits ini

  13. Januari 13, 2011 pukul 8:45 pm

    No coment, belum punya referensi yang valid.

  14. Januari 13, 2011 pukul 8:49 pm

    Assalaamu’alaikum. Salaam kenal broter

    • Januari 25, 2011 pukul 2:44 pm

      salam kenal juga mas.

  15. Agustus 30, 2014 pukul 8:28 am

    I’ll immediately grasp your rss feed as I can not find your e-mail subscription hyperlink or newsletter service.

    Do you’ve any? Please allow me understand so that
    I may just subscribe. Thanks.

  1. Agustus 18, 2008 pukul 1:01 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: