Beranda > Tulisan Orang > MENGUJI KEJUJURAN SEORANG USTADZ

MENGUJI KEJUJURAN SEORANG USTADZ

sepah_pasdaran1101

Sepah Pasdaran

(Tanggapan atas “Israel dan Iran: Ada Apa?“)

Muhammad Ali Reza Sistani

Beberapa waktu yang lalu seorang Ustadz bernama Ahmad Sarwat melalui komunitas pengajiannya dan kemudian dilanjutkan di situsnya melakukan sebuah kritikan kepada Republik Islam Iran. Kritikan tersebut berkenaan dengan niat iran yang akan mengirimkan sejumlah pasukan mahasiswanya ke Palestina.

Setelah mencermati tulisan Ustadz tersebut, muatannya sangat tendensius dan lebih mewakili subyektifitas kedengkian yang membara pada mayoritas mazhab yang dianut oleh rakyat Republik Islam Iran, ketimbang memberikan analisa yang berimbang.

Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah tentunya beliau banyak menerima informasi tentang Iran jauh lebih lengkap ketimbang kita yang berada di Indonesia, namun sayang beliau melakukan ketidak jujuran dalam melihat fenomena Iran ini, mari kita lihat ketidak jujuran ustadz tersebut.

1. KEKUATAN MILITER POTENSIAL REPUBLIK ISLAM IRAN

Dalam kritiknya Ustadz Ahmad Sarwat menuliskan “Kenapa yang bergerak malah mahasiswa, bukan tentara terlatih?” Justru dari pertanyaan itu terjadi ketidak jujuran sang ustadz. Mengapa ? Sebagai orang yang pernah tinggal di Timur Tengah dan akrab dengan bacaan berita tentang timur tengah tentu Ustadz Ahmad Sarwat sangat memahami organisasi Kemiliteran Republik Islam Iran. Tentu Ustadz tersebut mengetahui bahwa Angkatan bersenjata Iran itu unik dan sangat berbeda dengan sistem organisasi militer yang ada di dunia.

Angkatan Bersenjata Iran berdiri diatas tiga pilar yaitu :

  1. Sepah (Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran).
  2. Pazdaran (Pengawal Revolusi Islam) yang terdiri dari pemuda, pelajar dan mahasiswa
  3. Basij (sukarelawan) terdiri dari kalangan orang tua,ulama.

Ketiga komponen itulah yang menyusun kekuatan angkatan bersenjata Republik Islam Iran.

Mengapa Republik Islam Iran menyusun Angkatan Bersenjatanya seperti itu?

Seperti diketahui umum bahwa Angkatan bersenjata memiliki potensi sebagai ancaman dari dalam pada sebuah tatanan pemerintahan atau eksistensi sebuah negara, Angkatan Bersenjata memiliki peluang melakukan insubordinasi yang kemudian dilanjutkan pada fait a coumplie yang berujung pada coup d etate, sehingga diperlukan kekuatan yang menjadi penyeimbang baik di bidang kecabangan maupun taktik serta strategi pertempuran.

Di Iran Komposisi penyeimbang Angkatan Perangnya adalah pazdaran dan basij. Di tubuh Pazdaran Darat terdapat unit infantry, kafaleri, arteleri, zeni seperti di unit Angkatan Bersenjata Iran (sepah), Demikian juga di Pazdaran laut dan Udaranya. Struktur organisasi dan kepangkatan di pazdaran hampir sama di sepah (angkatan bersenjata Iran). Ahmadinejad berasal dari tentara Mahasiswa unit Kavaleri lapis baja Pazdaran. Dengan demikian bila Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan merongrong ideologi Islam akan segera dihadapi kekuatan penyeimbangnya. Tentu sebagai kekuatan penyeimbang profesionalitasnya ditempuh melalui pendidikan militer profesional.

Dari uraian ini timbul pertanyaan mengapa Ustadz ahmad Sarwat tidak memaparkan komposisi Angkatan bersenjata Iran tersebut, malah membuat statemen yang menyembunyikan kebenaran yang beliau ketahui.

Kalau Ustadz Ahmad Sarwat meragukan profesionalisme tentara Mahasiswa Iran bagi kita adalah aneh mengapa beliau tidak jujur, tentu beliau sangat tahu atau pernah mendengar kiprah DANESYJAYAN MUSALMAN PIRUYE KHATH-E IMAM, Sebuah detasemen militer mahasiswa yang berhasil melakukan operasi kontraintelejen terbatas yang berhasil menggulung 5000 informan CIA dan MOSSAD yang berkeliaran di Republik Islam Iran yang akan membunuh tokoh-tokoh revolusi Islam Iran. Atau, ustadz Ahmad Sarwat tidak mau melupakan peristiwa Juni 1985, dimana Tentara Mahasiswa tersebut berhasil merebut 16 dokumen CIA dan MOSSAD yang berisi desain penghancuran Republik Islam Iran dari dalam. Atau, ustadz Ahmad Sarwat masih teringat peristiwa tanggal 24 Mei 1982, disaat Basij dan Pazdaran memukul mundur Garda Nasional Iraq yang bersenjata lengkap dan terlatih di semenanjung al Faw. Kalau kemudian Ustadz ahmad sarwat mengigau soal “…jelas-jelas terbukti bahwa ada hubungan gelap antara Iran dan Israel.Sangat patut dicurigai…” bukankah alamat tuduhan adanya hubungan gelap dengan Israel tersebut lebih tepat dialamatkan kepada Ahmad Sarwat?

Kalau kemudian Ustadz Ahmad Sarwat, Lc meragukan kekuatan mahasiswa Iran, akan lebih baik jika melakukan tinjauan dengan alat ukur yang oleh militer di istilahkan dengan KEKUATAN MILITER POTENSIAL. Tinjauan dengan variabel-variabel yang terdapat dalam Kekuatan Militer Potensial untuk menilai Pazdaran Mahasiswa jauh lebih baik ketimbang analisa “ngawur” yang hasilnya pun hanyalah pepesan kosong.

Sekedar mengingatkan pada Ustadz Ahmad Sarwat. Republik Indonesia ini pernah memiliki satuan Tentara Pelajar, Kiprah mereka dimasa revolusi patut diperhitungkan. Sekedar menyebut contoh Tentara Pelajar Republik Indonesia berhasil mempecundangi Belanda di Pertempuran Solo, Ambarawa, Semarang, Banyumas.

2. DOKTRIN MANUNGGAL

Masalah bantuan militer sangat terkait dengan penerimaan dari yang di bantu, Dalam militer dikenal dengan doktrin manunggal. Kemampuan unit perintis melakukan kontak-kontak dengan kekuatan yang akan dibantu menjadi tumpuan utama sebelum datangnya bantuan, jadi bantuan bukan hanya sekedar pertimbangan sederhana, apalagi ini menyangkut perbedaan ke mazhaban, yang di dunia Arab pernah terjadi perbedaan tajam.

Masalah ini bukan hanya menjadi masalah bagi Republik Islam Iran tetapi juga masalah bagi Hamas sendiri. Bila Hamas terlalu dekat dengan Republik Islam Iran tentu dukungan komunitas Arab akan mengalami perubahan, dan masalah geopolitik ini tentu menjadi pertimbangan strategis Hamas yang menuntut pemecahan yang cerdas, bukan asal bunyi. Ini yang tidak dijelaskan ustadz kita itu.

Dulu saya pernah membaca tulisan beliau saat dunia internasional meminta keterlibatan Iran di Iraq, di situs Era Muslim Ustadz Ahmad sarwat berteriak-teriak akan acaman Bulan sabit Syi’ah (seperti jargon Raja Abdullah II), jangan-jangan ketika Iran mengirimkan Angkatan bersenjatanya secara masif, Ustadz Ahmad sarwat akan berteriak PALESTINA AKAN DIKUASAI SYI’AH !!!, atau kalau kemudian Iran memencet tombol misilnya (seperti keinginan Ust Ahmad Sarwat) yang pada akhirnya menjadi pertempuran skala luas yang melibatkan berbagai negara, jangan-jangan Ahmad sarwat juga berteriak “ini gara-gara syi’ah menembakkan misilnya, lalu di pengajian Ahmad Sarwat berkhotbah Syi’ah Iran memicu aksi pemusnahan kalangan sunni dengan misil ke Israel, ini bukti hubungan gelap Iran Israel”

Tentu Ustadz Ahmad sarwat masih lekat ingatannya tentang beberapa peristiwa penjegalan Republik Islam Iran, sekedar mengingatkan saja. Pada saat terjadi genocide muslim bosnia, melalui konfrensi OIC (OKI) Republik Islam Iran yang (syi’ah) dan Malaysia (yang sunni) mengusulkan dibentuknya TENTARA ISLAM MULTINASIONAL untuk mengatasi masalah Bosnia, tapi usul itu justru ditentang keras oleh Arab saudi, Yordania dan Mesir, malah ide tersebut (oleh negara penolak) diteruskan pada sekutu dekatnya Amerika. Akibatnya Task Force on Terorism Research Commite pada tanggal 1/9/1992 merekomendasikan pada Konggres AS untuk mewaspadai Gerakan Republik Islam Iran yang akan menggunakan Bosnia sebagai batu loncatan Revolusi Islam ke Eropa. Kepada ketiga sekutunya, Amerika serikat menyampaikan peringatan bahaya penyebaran Syi’ah. Jadi, jika motivasinya adalah kedengkian, apapun yang diusulkan oleh Republik Islam Iran akan selalu tampak buruk dan disikapi buruk pula.

3. LOW INTENSITY OPERATIONS

Tentu Biro Politik Hamas (Khalid Mishal) bukanlah ustadz Ahmad Sarwat –yang dipenuhi kedengkian yang membakar rasionalisme berfikir sang Ustadz–, Biro politik Hamas memainkan taktik dan strategis yang bagus mereka bukanlah orang yang gila popularitas yang memblow up seluruh operasinya yang tentu saja membahayakan gerak mereka. Dalam kemiliteran dikenal dengan Istilah Operasi Intensitas Rendah Tertutup (Low Intensity Operations), Sebuah operasi yang bersifat tidak untuk dipublikasikan. Taktik ini pernah digunakan saat Hamas di embargo Israel, Iran menggunakan cara ini untuk menyelundupkan uang dan persenjataan ke Hamas lewat Hizbullah.

Low Intensity Operations ini bisa saja merubah tentara menjadi sekedar rakyat biasa untuk mengelabui lawan agar bisa masuk di garis belakang. Salah satu contohnya adalah saat TNI melakukan operasi infiltrasi ke malaysia dengan merubah unit komando (KKO) menjadi para pedagang kopra. Mengapa cara ini dipilih, majalah Angkasa pernah mengulas masalah ini.

Israel dan Amerika berkeras untuk dapat memprovokasi Iran terlibat dalam konstelasi masif, sehingga mengabsahkan globocop (Amerika serikat) melakukan invasi ke Iran, angkasa menyebutkan sayeret matkal berusaha membongkar longsongan misil yang ditembakkan Hizbullah untuk membuktikan pada dunia bahwa Republik Islam Iran terlibat disana, Tapi upaya itu gagal, karena Hizbullah telah mengganti seluruh jejak arsenal yang akan mengarah pada pembuktian keterlibatan Iran. Jadi dibutuhkan strategi yang cerdas untuk tidak terprovokasi pada terciptanya eskalasi yang lebih besar, dan ini sangat disadari Hamas dan Republik Islam Iran tetapi tidak disadari dan dipahami seorang ustadz yang bernama Ahmad Sarwat Lc.Jadi kalau Ustadz Ahmad Sarwat ingin membuat analisa bagaimana cara membantu sebuah negara yang berperang, jangan membuat analisa ala perang play station, yang pencet tombol sana pencet tombol sini.

Pertanyaanya adalah, mengapa Iran memilih taktik Low Intensity Operations? Nampaknya, kejadian masa lalu cukup menjadikan pelajaran. Disaat Republik Islam Iran masih berusia relatif muda, hampir seluruh negara Arab dan dunia mendukung program NSDD (National Securtity Decision Directive) sebuah proyek pemusnahan Republik Islam Iran yang dimotori oleh Amerika Serikat dan Israel. Allan Fridmen menyebutkan untuk memenuhi ambisi pemusnahan Republik Islam Iran sejumlah dana berhasil dikumpulkan:

Arab saudi menyumbang 30,9 M US$

Kuwait menyumbang 10 M US $

UEA menyumbang 10 M US $

Qatar, Bahrain, Oman, Yordan dikumpulkan sejumlah 40 M US $

Italia menyumbang 5 M US $

Amerika menyumbangkan 35 M US $

Israel sendiri dalam implementasinya merancang operasi tertutup yang dikenal dengan operasi staunch untuk memandulkan kekuatan militer Iran. Dari pengalaman itu, para perancang perang Iran tentu telah membuat taktik rancangan keterlibatan militer mereka tanpa harus memancing unsur luar untuk mengambil keuntungan untuk menyerang Iran.

DAN KEMANA-MANA IRAN MELAKUKAN SYI’AHISASI

Agak lucu juga membaca tulisan Ust Ahmad Sarwat Lc ini, disatu sisi ia sangat ketakutan terhadap mimpi yang diciptakannya sendiri tentang Syi’ahisasi. Tapi disisi lain memprovokasi Iran untuk terlibat dalam ekskalasi masif. Statemen ini bagi saya sangat kontradiktif.

Saran saya pada Ustadz Ahmad sarwat Lc, daripada “Mengigau” ketakutan terhadap proyek Syi’ahisasi kenapa Ustadz tidak memanfaatkan pengaruh anda untuk melobi kekuatan Arab Saudi misalnya. Sebagai ustadz yang jadi pengisi rubrik tanya jawab di Era Muslim dan Warna Islam tentu punya kekuatan lobi dengan para Syaikh di Saudi.

Mengapa harus Arab saudi, alasannya sebagai berikut :

  1. Tentu ustadz Ahmad Sarwat Lc akan merasa lebih tenang jika yang membantu Hamas dari kalangan Sunni Wahabbi, sehingga anda tidak perlu “blingsatan” rajin membuat “dosa” dengan menyebarkan Syahwat kedengkian tentang syi’ah dan Iran.
  2. Ahmad Sarwat Lc bisa menyarankan pada Saudi dengan taktik LOW INTENSITY OPERATIONS jika Saudi ketakutan pada kemarahan Tuannya Amerika serikat karena dinilai menyalahi kebijakan Politik Dua Pilar Amerika dan mengkhianati anzus treaty. Bagaimana caranya? Saudi itu kan punya AWACS (Airborne Warning and control System) diaktifkan saja diluar jangkauan israel, Dengan AWACS itu trajectory misil yang ditembakkan oleh Israel segera dapat dideteksi, bahkan ketika gyroscope missele diaktifkan AWACS bisa segera mendeteksi, dan saat itu di informasikan ke HAMAS sehingga Hamas bisa mencegat atau menghindari serangan itu. Atau lintasan Pesawat dan jumlah pesawat yang akan digunakan Israel dapat diteksi oleh AWACS dan segera di informasikan ke HAMAS, sehingga HAMAS bisa melakukan tindakan. Di timur tengah hanya Arab saudi yang bisa menyamai arsenal Israel. Ada baiknya Ust Ahmad Sarwat melobi Arab Saudi untuk menyelundupkan STINGER, TOW pada HAMAS agar bisa menghancurkan pesawat-pesawat Israel. Atau kalau mungkin arab saudi suruh menyelundupkan MLRS ke HAMAS. Atau kalau mungkin pesawat-pesawat Arab Saudi diminta mengudara tanpa harus melepaskan peluru cukup melakukan electronical weapon dengan melakukan jamming sehingga pesawat Israel bisa dibuat tak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya terbang. Atau minta saja Saudi menerbangkan Apachenya untuk melakukan overshoot pada pesawat -pesawat Israel. Bagimana ustadz, bukankah anda lebih tenang ketimbang mengharap Iran yang anda benci?
  3. Atau, Tentu Ustadz yang merangkap sebagai seorang jurnalis sangat tahu, bahwa, sebagaimana di ungkapkan oleh Dr Safar al Hawali, bahwa Usamah bin Laden memiliki kekuatan aktif satu divisi Mujahedeen yang dulu pernah ditawarkan pada Pemerintahan Saudi untuk melindungi kerajaan tersebut dari aneksasi tentara Saddam, tapi justru ditolak oleh kerajaan. Dan sekarang tentara usamah itulah yang aktif membunuhi dan menyembelih orang-orang syi’ah di Iraq. Apakah tidak lebih baik antum melobi mereka untuk memerangi Israel?


SIAPAKAH SEBENARNYA AHMAD SARWAT Lc ITU ?

Pernyataan ustadz Ahmad sarwat LC ini apakah merupakan provokasi untuk mewujudkan Timur Tengah Baru dengan menjerumuskan Iran pada eskalasi perang masif? Tentu masih memerlukan pengkajian lebih mendalam. Ustadz Ahmad Sarwat LC pasti sangat memahami skenario Timur tengah baru yang mengagendakan “memelihara perpecahan ketegangan etnik dan kemazhaban” dan tentu beliau juga sudah melihat sketsa Timur Tengah Baru yang di paparkan oleh Ralph Peters di jurnal Us Armed Forces edisi juli 2006.

Melihat style beliau tentu kita tidak akan menuduh beliau sebagai seorang katsa metsada yang bertugas memuluskan rencana timur tengah baru dengan membangun opini murahan… (bukan begitu ustadz…. halo… haloooo…)

penulis adalah Peminat intelejen dan kemiliteran. Aktif di Kajian Strategis Wirakartika Ekapaksi

  1. Januari 5, 2009 pukul 1:11 pm | #1

    @ ahmad sobarudin

    jangan menganggap / mengkafirkan seseorang. apalagi agama merupakan hak pribadi seseorang

    tetapi Sarwat seharusnya memikir terlebih dahulu mengingat dia adalah tokoh yang cukup didengar oleh masyarakat awam. dan pernyataanya harusnya mencerahkan

  2. Januari 5, 2009 pukul 3:30 pm | #2

    @tarzan kota

    betul, ndak perlu kita berbicara kafir atau tidak. Tetapi berbicara, benarkah yang disampaikan oleh seseorang itu?

  3. abu Rafif
    Januari 6, 2009 pukul 2:31 am | #3

    Tapi bagaimana jika sesuatu itu bisa membahayakan din Allah secara kseluruhan, seperti yang selalu digembar gemborkan ustadz ustadz pemerintah, apakah kita harus diam saja , apakah kita harus tetap berprasangka baik, sementara akibat dari apa yang diucapkan kita ketahui akan membuat kita jauh dari “kebenaran”, kerusakan, ukhuwah islamiyah hancur.
    contohnya seperti ulasan ustadz sarwat kan bahaya….ada indikasi asal ceplos, mengusung kepentingan kelompok ( sunni ), dogmatis, padahal yang membedakan makhluk yang manusia dan mahkluk binatang adalah dua duanya berotak tapi hanya manusia yang berakal. Bukannya islam melarang mengambil sesuatunya secara dogmatis, tetapi harus sesuai dengan akal dan itupun harus mendapat persetujuan dari yang menciptakan akal (Allah), karena kebenaran hanya milik Allah.

    Kalau ada orang mengaku islam, dia menyantap babi, shalat sesuka dia, maka jelas ini orang bukan orang yang berakidah islam.

    Contoh lagi ada seseorang yang selalu tanpa bukti2 konkret, ketika mendengar kata syiah, maka langsung dikepalanya bilang “kafir”, maka seperti yang Rosulallah SAW bilang ketika dari 2 orang yang sedang bertemu dan ada salah satu dari keduanya yg mengkafirkan maka salah satu dari keduanya “harus” ada yang kafir.

    Saya berpendapat Rosulallah SAW mengajarkan kita untuk mengetahui kriteria kriteria sampai dimana seseorang itu dikatakan berakidah Islam dan dalam batasan mana seseorang itu termasuk keluar dari islam atau kafir.
    Kan sudah jelas surat al kafirun itu, ketika kita kebingungan berdialog dengan seseorang maka batasannya lakum dinukum waliyaddin…

  4. Januari 6, 2009 pukul 2:44 am | #4

    Urusan sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan, aku pikir itu jadi hak Tuhan.

    Memang sah-sah saja sih ketika kita mengatakan seseorang itu sesat atau tidak. Tetapi jangan sampai kemudian kita berfallacy ad verecundiam, dengan mengatakan seseorang sesat menurut Al-Qur’an. Padahal sebetulnya sesat menurut Al-Qur’an yang kita pahami.

    Sama halnya dengan Ahmad Sarwat, ia dalam hal ini sesat pikir menurutku. Ia terlalu memperingkas permasalahan. Padahal permasalahan yang ia soroti merupakan permasalahan yang begitu kompleks.

  5. Januari 6, 2009 pukul 5:46 am | #5

    Tulisan2nya Ahmad Sarwat tanpa sadar telah menghancurkan dirinya sendiri karena secara tidak langsung dia telah melakukan propaganda2 murahan terhadap Iran khususnya Syiah (Imamiyah). Akhirnya banyak Sunni2 awam yg temakan tulisan2nya hingga mereka membenci Syiah (Imamiyah).

    Saya dengar dari seorang teman dari saudaranya, katanya Ahmad Sarwat kuliah di LIPIA buncit yg terkenal tempat sarang wahabi jahannam, ga tau bener apa ga..

  6. Januari 6, 2009 pukul 7:56 am | #6

    Coba antum buka web pribadi beliau:

    http://www.ustsarwat.com/

  7. masmpep
    Januari 6, 2009 pukul 1:51 pm | #7

    ini menarik kalau sudah kafir-kafiran, he-he-he. apalagi islam yang kaffah begitu luas definisi operasionalnya. ada banyak perspektif islam: ekonomi, pendidikan, politik, etika-moral. namun politiklah yang paling seksi.

    gaza hari-hari ini. ada PLO, otoritas palestina (presiden mahmoud abbas), hamas, fatah.

    irak. ada syiah dan sunni sebagai ideologi poltik, atau ideologi politik berbasis massa penganut syiah dan sunni (diperjelas sebelum diprotes, he-he-he). ada kurdi. iran, hampir mirip.

    yah. tak perlu disesali. ditonton aja. seru kali di saat resesi global hari ini berpikir soal2 ‘dunia arab’.

  8. Januari 6, 2009 pukul 5:06 pm | #8

    Semoga forum ini bukan ajang untuk kafir mengkafirkan.

  9. muhammad ali reza sistani
    Januari 7, 2009 pukul 1:40 am | #9

    maaf saya tidak menulis untukkepentingan kafir mengkafirkan, melainkan lebih pada analisa militer saja

  10. Januari 7, 2009 pukul 2:52 am | #10

    @ atas

    betul, dari awal ini bukan konflik agama kok, hanya saja banyak pihak yang terlalu emosional dan mengaiktkanya dengan permasalahan agama

  11. fateemah
    Januari 7, 2009 pukul 11:06 am | #11

    Two tumb for author,tambah pinter,tambah berani dan tambah bijak sana …yuuuuk semua belajar untuk membuka hati,membuka pikiran,jangan terus hidup di mangkuk sayur….dan tidak pernah mau tahu luasnya samudera…aneeeh deeeh haree geneee,ditengah banjir darah dan air mata sempat2 nya mengembangkan buruk sangka….kalo mau nyerang …mbok sana nyerang israel …dijamin kalo mati pasti masuk surga…dari pada menyerang yang sama2 bersyahadat….kerdil nian !!! dan memalukan !!!!

  12. Mikholai
    Januari 7, 2009 pukul 11:27 am | #12

    Bung Yasser…
    bagaimana kalau kita culik ustad itu, dan kita doktrin dia (agar kembali menuju jalan yang benar)???
    Kita kenalin sama keluarga nabi di ICC (punya link..??)
    Biar lebih sopan kalau berbicara

  13. Januari 7, 2009 pukul 11:54 am | #13

    @fateemah
    Semoga Allah memenangkan Hamas atas Zionis durjana.

    @Mikholai
    Ndak perlu. ngapain? yang ada kita ditangkep polisi. hehehe…

  14. Januari 8, 2009 pukul 3:28 pm | #14

    wah seru lagi nih …tidak ada suni dan syi’ah lagi kalau mau bersatu …yang ada adalah khilafah ala minhajinnubuwwah… gambarannya semua rela tinggalkan madzhabnya dan kembali mngikuti jejak nabi Muhammad dari sendiri menjadi banyak, dari tidak ada wilayah menjadi diberi wilyah, dari tidak berkuasa menjadi diberi kuasa, dan dari kekalahan menjadi kemenangan . dan mudah-mudahan tidak hanya teori belaka …

  15. Januari 8, 2009 pukul 4:54 pm | #15

    Tidak ada sunni tidak ada syiah, yang ada semua orang harus berpikiran seperti HTI yang hanya bisa koar-koar dan bermimpi. aneh..

  16. Denny
    Januari 12, 2009 pukul 10:57 am | #16

    dari awal ini bukan konflik agama kok, hanya saja banyak pihak yang terlalu emosional dan mengaiktkanya dengan permasalahan agama. Dari tulisan TARZAN-KOTA.

    Benarkah demikian? Tolong ada penjelasan, mungkin dari ressay. Kayaknya sih… meragukan tuh… pernyataannya itu?

  17. Januari 12, 2009 pukul 4:46 pm | #17

    Saya pikir, ini permasalahan Zionisme yang ingin menguasai tanah Palestina untuk diklaim menjadi bagian dari negara Zionis Israel.

    Zionis Israel tidak bukanlah representasi dari agama Yahudi. Karena pada kenyataannya, mereka telah serampangan menafsirkan agama Yahudi.

    Jadi, Konflik Zionis Israel dan Palestina, bukanlah konflik antar agama.

  18. bung mali
    Februari 1, 2009 pukul 9:41 am | #18

    wah wah…rupanya bung ressay ini tendensius sekali ya. kritikus paling ’sentimen’ terhadap ust Ahmad Sarwat.
    bung ressay ini mengecam ustadz tersebut karna beliau cenderung menilai bahwa syiah itu sesat.
    tapi, komentar/tanggapan bung ressay sendiri malah lebih parah euy.. contohnya?
    anda bilang “ahmad sarwat, go to hell. You are not a moslem.”
    hmmm…ngatain non-moslem pada sesama ya artinya mengkafirkan orang tersebut. walah pak..pak..kok ya ngga suka dibilang sesat, tapi sendirinya ngatain orang lain non-moslem, pake embel2 go to hell segala.. ck..ck…

  19. Februari 1, 2009 pukul 10:05 am | #19

    Saya ngatain? Waduh mungkin saya sudah terkena penyakit pikun.

  20. Wildan
    Maret 30, 2009 pukul 12:06 pm | #20

    Seru sekali komunitas Islam Zaman ini
    sampai banyak Masyarakat yang bingung mana yang benar
    karena masing-masing terlihat salahnya
    tidak santun dan cendrung emosi kekanak-kanakan.

    Terlihat kecendrungan haluan Politiknya, membenarkan dengan segala
    alasan, mencaci maki dengan kedok kesantunan.

    Melihat Tandanya
    Tentu Tuhan Tidak mentakdirkan pertolongannya untuk Zaman ini
    karena ketidak siapan calon Wakil Allah yang Maha Suci.
    Masih jauh dengan Islam awal.

    Syi’ah masih berat dengan komunitasnya dan tujuan politiknya.
    Memperjuangkan Islam dalam tanda kutip (Islam syi’ah).

    Islam main stream ketakutan melihat pergerakan syi’ah
    penuh perasangka dan kritik tajam.

    Semua mengaku the Original one from Nabi
    Padahal Facta nya berbeda
    Harusnya kalo dari sumber yang sama harusnya sama
    minimal dalam hal yang Dasar.

    siapa yang benar, siapa yang salah?
    tentu jawaban nya sulit yang memuaskan semua pihak.

    Jadi bagaimana ini ?

Comment pages
1 2 1452
  1. Belum ada trackback.