Cinta dan Pengorbanan
Dulu aku pernah menulis mengenai Cinta dan Kesetiaan. Bahwa keduanya harus selalu beriringan. Tiada cinta jika tanpa kesetiaan. Tiada Kesetiaan jika tidak dilandasi rasa cinta. Tulisan itu terinspirasi dari film remaja “From Bandung With Love”
Kali ini, aku tergerak untuk sekedar berceloteh perihal pengalaman mengagumkan yang dialami oleh seorang kawan.
Atas dasar “klaim cinta”, kawanku yang baru memiliki kekasih hati nan jauh disana, rela menyisihkan uang tabungannya untuk pergi ke Balikpapan. Ia pergi dari Solo menuju Balikpapan dengan satu tujuan, bertemu dengan kekasih yang ia cintai, yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Bagiku, apa yang dilakukannya terlalu berlebihan. Tetapi wajar jika kemudian aku berpendapat seperti itu, karena aku berada di luar lingkaran cinta yang sedang menjerat tubuh kurusnya. Berbeda halnya jika kemudian yang berada di posisinya itu adalah aku. Bisa jadi aku akan melakukan hal yang sama.
Dengan bermodalkan uang yang sebetulnya bisa membeli handphone yang lebih canggih ketimbang handphonenya saat ini, ia membiarkan perasaan cintanya menggerakkan tubuhnya yang kurus untuk segera terbang ke Balikpapan.
Akhir cerita, kebahagiaan pun terpancar dari raut wajahnya sekembalinya ia dari perjuangan cintanya. Sekejap, sejumlah pengalaman mengagumkan yang baru saja ia alami pun ia lemparkan bertubi-tubi ke telingaku. Aku pun dibuat penasaran dengan cerita yang menurutku begitu heroik.
—
Cinta itu butuh pengorbanan.
Sudah selayaknya pengorbanan bukan hanya dilakukan ketika kita ingin mendapatkan cinta, tetapi pengorbanan itu harus berjalan beriringan dengan cinta.
Tiada cinta tanpa kesetiaan. Tiada kesetiaan tanpa pengorbanan.
Sudah siapkah kita untuk berkorban, minimal, untuk menjaga agar cinta yang telah kita miliki tetap selamanya terjaga?













saya selalu tak habis pikir dg kata2 sejenis ini :
Atas dasar “klaim cinta”, kawanku yang baru memiliki kekasih hati nan jauh disana, rela menyisihkan uang tabungannya untuk pergi ke Balikpapan. Ia pergi dari Solo menuju Balikpapan dengan satu tujuan, bertemu dengan kekasih yang ia cintai, yang belum pernah ia temui sebelumnya.
belum pernah bertemu.. koq bisa cinta hingga segitunya..
hmmm ga bermaksud mengecilkan cinta teman mu itu lho ya..
tp kalo lihat kejadian di sini lalu melihat daftar korban si pejahat itu di sini, bisakah belum pernah bertemu mengkaim bahwa perasaan itu cinta..?
ntah ya.. bingung saya.. karna cinta kadang membutakan mata hati..
walau saya masih tetap suka kata cinta itu WALAUPUN bukan KARENA
koreksi:”TIDAK cinta tanpa kesetiaan”. yang benar memang seperti itu ya? kayaknya kata ‘TIDAK’ itu lebih cocok diganti dengan kata ‘TIADA’.
Sep. Makasih atas koreksinya. Betul itu, seharusnya menggunakan kata ‘tiada’.
hahaha……..makasih mas yasser saya jadi agak gimana cerita saya dimasukkan ke blogberkelas nasional hahahaha…..kunjungi blog saya ya….tapibukanaku.wordpress.com
Weiz…pede banget. emang gw cerita tentang lo? hehehehe….
Kapan ke balikpapan lagi?
Berkorban ya berkorban. Tapi kalo gak punya modal ya sebaiknya jangan dipaksakan. Kalo jadi mahasiswa prioritas ya tetap kuliah. Cinta itu nomor dua.
Salam kenal ya..
kalau saja bisa memilih kapan cinta bisa datang dan saya bisa menebak akhirnya pasti saya pilih yang pas waktunya hehehe……
Gak ngert tuh apa arti cinta.
Banyak orang mendefinisikan tentang cinta.
yups…..bner buanget cinta itu perlu pngorbanan.tanpa pengorbanan cinta tak akan tumbuh hehehhe………
klw cerita cinta memang sulit
memang cinta itu butuh pengorbanan
dahulu rasulullah berkorban dengan harta, jiwa dan raga, untuk menegakan keagungan.
masih mending kita yang bercinta hanya merasakan korban perasaan.
cinta mang butuh pengorbanan tp knpa di saat kita berkorban demio orang laen,,,
kita sedih…?!!!
di saat nto jga bru kita dapat ngerasakan indah nya cinta,,,,,
dan knapa juga orang yang kita cinta mesti di rebut orang.,.,,.,
jdi emank bner kok cinta itu penuh demi pengorbanan……