Dua Prinsip Umum dalam Menganalisa Konflik HMI dan Polisi
Tidak ada asap jika tidak ada api. Begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan konflik yang terjadi antara mahasiswa dan oknum polisi di Makassar sana. Selama 1 minggu ini, hampir seluruh televisi dan surat kabar memberitakan konflik yang terjadi disana.
Gaya pemberitaan masing-masing media itu pun berbeda-beda. Ada yang cenderung mendiskreditkan salah satu pihak, ada yang cenderung netral. Semua itu tentu berangkat dari kepentingan apa yang mereka bawa.
Tulisan ini bukan hendak menghakimi salah satu pihak sebagai pihak yang paling benar, melainkan hanya sekedar mengungkapkan keluh kesah yang selama ini ada.
Baru-baru ini di jejaring sosial facebook, ramai orang memperbincangkan konflik HMI dan Polisi. Dengan gaya komentarnya masing-masing, mereka mengungkapkan kekesalan kepada salah satu pihak.
Bagiku, komentar-komentar seperti itu bukanlah komentar yang konstruktif. Mengapa begitu banyak orang yang termakan provokasi semacam ini?
Di Facebook, terdapat group yang menyatakan dukungan terhadap pembubaran HMI. Iseng aku ikut menjadi anggota dari group tersebut. Kecewa betul saat aku harus melihat kenyataan bahwa banyak diantara orang yang berkomentar, melontarkan komentar-komentar kasar, jorok, menghina, mencaci.
Sungguh sikap standar ganda. Disatu sisi mereka menyuarakan pembubaran HMI karena telah melakukan perusakan, tetapi disisi lain, komentar mereka pun sebetulnya komentar yang mengarah pada hal-hal yang tidak konstruktif. Dari sini saja sudah bisa kita lihat kapasitas intelektual dari anggota-anggota group yang berkomentar disana.
Iseng-iseng aku mengajak pembuat group tersebut untuk dialog berdua. Tetapi pembuat group malah mengatakan bahwa diskusi denganku merupakan perbuatan yang membuang-buang waktu, tak ada gunanya.
Tiba-tiba ada seorang blogger dari malang yang mengajak dialog. Beliau mempertanyakan mengapa HMI berdemo sambil memblokir jalan dan merusak fasilitas umum. Katanya HMI membela rakyat kecil, tetapi kok malah membuat susah rakyat kecil?
Sebisa mungkin aku menjawab pertanyaan kawanku tadi dengan jawaban yang santun dan ilmiah. Karena itulah harapanku saat ikut gabung dengan group tersebut. Aku ingin mengajak semua anggota group berkomentar dengan santun dan ilmiah.
Menurutku, harus ada argumen ilmiah yang ditampilkan, sehingga diskusi yang berjalan tidak terkesan debat kusir yang ndak ada juntrungannya. Kebanyakan argumen yang diajukan oleh para penghujat HMI hanya sebatas argumen-argumen yang sentimentil.
Soal pemblokiran jalan dan perusakan fasilitas umum yang baru-baru ini terjadi, setidaknya aku menggunakan dua prinsip umum, yaitu prinsip kausalitas dan prinsip kepentingan umum dapat dikorbankan sementara waktu.
Prinsip kausalitas, berbicara bahwa setiap perbuatan pasti memiliki sebab musababnya. Kalau dalam bahasa arab, prinsip kausalitas ini sering disebut Tasalsul.
Heran aku melihat masyarakat saat ini yang melakukan penilaian terhadap konflik yang terjadi di Makassar. Mereka hanya melihat dan melakukan penilaian terhadap perbuatan yang sebetulnya itu akibat. Mereka lupa akan sebabnya. Mereka seolah-olah enggan menganalisa mengapa suatu perbuatan itu terjadi?
Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui sebab mengapa perusakan fasilitas umum itu terjadi.
Prinsip yang kedua yaitu soal kepentingan umum yang dikorbankan sementara waktu. Menurut prinsip ini, kepentingan umum dapat dikorbankan sementara waktu untuk kepentingan pribadi yang mendesak dan penting.
Banyak contoh untuk soal ini. Ambillah contoh saat presiden atan pejabat hendak melewati suatu jalan, maka polisi biasa memblokir jalan untuk sementara waktu. Memberikan kesempatan bagi presiden atau pejabat melalui jalan tersebut dengan lancar.
Sama dengan aksi mahasiswa. Kepentingan umum dapat dikorbankan sementara waktu untuk mendahulukan kepentingan mahasiswa yang sedang aksi.
Pemblokiran jalan, bukanlah suatu ritual wajib dalam setiap aksi yang dilakukan. Pemblokiran jalan hanyalah salah satu sarana bagi peserta aksi untuk melakukan tekanan yang lebih besar kepada sasaran aksi.
Jadi, marilah kita lebih arif dan bijak dala memandang persoalan. Jangan melulu kita melihat akibatnya, tetapi carilah apa yang menyebabkan perbuatan itu dilakukan.













Silahkan Anda berhujah apa saja untuk membela tindakan anarkis HMI, bila anarkisme polisi dibalas dengan anarkis lagi apa bedanya HMI dan Polisi dalam hal ini. Sudah banyak partai/organisai memakai nama Islam tapi tidak islami dan hanya mencoreng Islam saja.
Wajar jika banyak masyarakat menjadi tidak simpati terhadap mahasiswa, khususnya HMI akibat hal ini.
Silakan Anda berkomentar seperti apapun, toh hujjah saya tidak Anda bantah.
Sudah banyak penghujat HMI saat ini yang saya bungkam. Maaf, argumen mereka sama sekali tidak ilmiah dan kuat.
tindakan anarkis HMI? Ah saya ragu Anda paham soal kata “anarkis”. paling-paling Anda mengartikan anarkis itu kekerasan. Mohon maaf, anarkis itu bukan kekerasan bung.
memang sulit jika bicara dgn orang yg di otaknya beku……Ingat jika anda menggunakan simbol Islam, Nabi Muhammad tidak mengajarkan spt itu, membela sesuatu dgn kekerasan….sory itu gak islami kafirin sih yo i….
belalah sesuatu dgn cara yang santun bukan cuma kata tapi prakteknya di lapangan
Tak perlu Anda mengatakan orang lain otaknya bekulah, atau apapun. Biarkan semua dialog ini tetap berada dalam lingkup ilmiah dan santun. Tak perlu ada pendiskreditan seseorang atau salah satu pihak.
HMI memahami Islam, bahwa Islam akan senantiasa melawan terhadap orang-orang yang berusaha menindas. Ndak perlu Anda mengatakan kami kafir atau apapun. Karena biarlah Tuhan yang menghakimi diantara kita. Bahwa pada realitasnya, HMI adalah organisasi mahasiswa Islam. Kami memiliki pemahaman terhadap Islam.
Semoga kesantunan pun bisa Anda tunjukkan disini. Tidak dengan berargumentum ad hominem ria…
saya seorang kader yang sedih melihat rumahqu dihujat dan dihina secara membabi buta oleh orang2 yang tidak mengerti tentang hmi………
hmi didirkan dengan niat luhur para founding father HMI dengan mission “terbinanya insan akademis pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT”
karena nila setitik maka rusak susu sebelanga,hanya karena satu kasus maka secara membabi buta anda dapat mengjugde HMI secara buruk.
HMI turut mewarnai sejarah indonesia…
mari kita merefleksikan kejadian ini dengan framing yang berbeda jangan seperti apa yang ditampilkan oleh media.
saya rasa ada settingan dalam kasus ini.
walaupun tidak dipungkiri bahwa perbuatan anarkis yang dilakukan teman2 makassar tidak dapat dibenarkan.
dan seandaunya teman2 makassar dapat menanggapi secara elegan pasti opini publik takkan seperti sekarang justru masyarakat akan berbalik simpatik kepada hmi.
Menurut pendapat saya, HMI Makassar telah gagal memberikan contoh berdemonsrasi yang baik, saya akui memimpin sebuah demonstrasi dengan masa yang banyak memang susah, dan ternyata kesusahan itu dialami oleh massa HMI di Makassar, marilah sama2 Introspeksi, bukankah sangat kerdil sekali jika HMI makassar sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan bukan
.
Oh iya, janganlah kita salahkan sudut pandang masyarakat dong, apalagi media. tentu saja masyarakat melihat perilaku rusuh HMI sbg suatu contoh yg negatif dan tentu yg dilihat malah yg negatif (mari sedikit mengerti konseling
), trus kenapa polisi tidak disalahkan? karena masyarakat sudah terbiasa dengan salahnya polisi, nah saya inginnya sangat jelas, saya sangat respect dengan kesatuan macam HMI dll, tapi HMI Makassar sudah menodai sikap respect itu, HMI tidak jauh berbeda dengan orang yg tidak berpendidikan yang rusuh, mau juga gitu disamakan dengan polisi2 itu? tidak bukan??? saya juga tidak.
Yg saya sayangkan tingkat kepercayaan masyarakat dengan demonstrasi mahasiswa menjadi rendah, apa sebabnya? udah tahu kan?
HMI makassar dimata masyarakat justru dilihat sebagai pendemo yg polos loh mas, apalagi saat kita denger HMI itu justru menyalahkan sudut pandang masyarakat, hilang sudah respect kita, monggo silahkan dijawab
Mengapa tidak boleh menyalahkan sudut pandang masyarakat sedangkan masyarakat diperbolehkan menyalahkan sikap HMI?
Kekerasan memang merugikan orang lain. Tetapi, semut yang diinjak akan menggigit. Orang yang dipukul tentu tidak akan mengeluarkan kata-kata untuk menceramahi si pemukul. Tetapi secara manusiawi, ia akan balas memukul.
sama dengan kejadian yang terjadi di makassar. sayangnya, masyarakat awam hanya menyoroti demonstrasi HMI saja yang sebetulnya itu merupakan akibat dari suatu sebab. Apa sebabnya? Itulah yang jarang sekali diperbincangkan oleh masyarakat pada umumnya.
Kekerasan boleh saja dilakukan, saat menghadapi situasi yang mengharuskan kita melakukan itu. Saya pikir itu prinsip umum juga. Hanya saja, memang, kekerasan pun masih ada batasnya.
Kebencian kita kepada suatu kelompok atau kaum, jangan sampai kemudian kita tidak bersikap adil terhadapnya. Itulah pesan Al-Qur’an yang saya pahami.
Memang dalam ini, kawan-kawan HMI Makassar emosional dan tidak terkontrol sehingga merusak fasilitas-fasilitas yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan polisi.
Tetapi sekali lagi, mari kita bersikap adil dan bijak dalam memandang persoalan ini.
Jika masyarakat tidak respect terhadap HMI, maka masyarakat mana yang dimaksud? Toh dari awal berdirinya HMI sampai sekarang, ada saja masyarakat yang tidak senang dengan eksistensi HMI. Mulai dari PKI sampai orang-orang berjenggot dan bercelana cingkrang.
Oke, saya suka pada bagian jangan sampai kebencian membuat kita tidak adil.
Kalo berdebat mengenai mengapa masyarakat tidak bisa disalahkan, tentu akan sangat panjang. Intinya masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang tidak tahu menahu/awam (saya tahu mas Ressay tahu maksud saya), marilah kita bercermin situasi di depan awam, bukan masyarakat yang pro HMI dan Kontra, apa yang akan mereka pikirkan saat tiba2 mendengar nama HMI di tivi saat ini? sangat bijak sekali jika HMI memperhitungkan bagian ini, ini masalah sudut pandang kepercayaan dari masyarakat awam, cobalah kita beranalisa masihkan ada kepercayaan dai si Awam? sementara si awam itulah yang mengisi mayoritas masyarakat sebuah negara.
Apa dampaknya? jika HMI sangat cermat dalam masalah ini, bukankah HMI akan menjadi tangan rakyat yang mendapat banyak kepercayaan? menjadi wakil ‘pengkoar’ rakyar yg sebenernya, disaat kita lihat bapak2 kebanggaan kita kian payah bekerja di DPR?
Yuk mari sama2 introspeksi, sungguh saya sakit hati HMI banyak dipanggil sebagai tong kosong berbunyi nyaring bagi banyak awam, tapi saya tidak membelanya karena saya tidak melihat sikap introspeksi itu pada HMI Makassar.
Semut diinjak juga akan menggigit, ah benar juga yah, ini kalo diterapkan manusia namanya pembalasan bukan? yah manusiawi sekali emang.
Masyarakat awam saat ini, tengah dikendalikan oleh satu sistem besar yang bernama media. Bahkan termasuk blog ini, menjadi salah satu ideological aparatus yang menyebarkan berbagai macam sudut pandang. Hingga pada akhirnya masyarakat awam kebingungan dan kemudian memilih sudut pandang yang paling sederhana. Bisa jadi sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang yang salah.
Makanya, bagi kami, ukuran kebenaran bukanlah dari seberapa banyak orang yang membenci kami. Bisa jadi yang banyak itu adalah orang-orang yang membenci kebenaran, orang-orang yang tidak bersyukur sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an.
HMI memang menjadi kepanjangan rakyat dalam menyuarakan aspirasi mereka. Tetapi HMI pun tetap berpegang pada kebenaran. Ada dua hal, Kebenaran dan pembelaan terhadap mustadh’afin (kaum tertindas).
HMI marah, adalah suatu hal yang wajar. Tetapi apa penyebab kemarahan HMI? Hanya sedikit orang yang mau bersusah payah untuk menganalisa ini. Kebanyakan, mereka asyik melihat dan mempersoalkan “akibat” seraya melontarkan caci maki dan hujatan kepada HMI. Bahkan diantara mereka yang menuntut pembubaran HMI (kayak PKI aja).
Bahwa penyebab dari kemarahan HMI adanya penyerangan sekretariat HMI Makassar dan pemukulan beberapa kader HMI. Bahkan kabar terakhir, bendera dan simbol HMI dibuang di selokan.
Adapun kemarahan HMI lepas kontrol, itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Dan itu tidak dapat dibenarkan. Tapi bukan berarti kemudian kita menghakimi HMI secara sepihak. karena perbuatan itu, harus dicari penyebabnya. Itulah yang dipelajari dalam kriminologi. Jadi bukan hanya sekedar menghukum orang yang melakukan suatu perbuatan, tetapi harus dicari tau penyebabnya. Bisa jadi, ada alasan pembenar dan alasan pemaaf.
Mari kita bijak dalam memandang setiap persoalan.
Nah inilah yg saya tunggu, bicara kebenaran memang hal yang paling sulit, masalahnya semua orang biasa menyebut pendapatnya benar, jika ingin terlihat bijak menganggap sbg pendapat terbaik, umumnya jika tidak ingin disalahkan mereka akan sembunyi di balik konteks, jadinya saya langsung bisa memastikan pendapat anda akan anda nilai benar.
Oke, sistem besar bernama media, apa itu? tivi? portal berita? blog? mereka yang mengendalikan? seberapapun niat mereka mengendalikan opini rakyat, tak semudah itu kita menuduh dan tak semudah itu mereka melakukan, saya tahu media yg tidak independen memang terkadang membuat berita yg timpang, dan itu logis bukan? sebaliknya saya ‘tahu-nya’ HMI itu kesatuan yg independen, dan tentunnya tidak menerima donatur dari seniornya yg sekarang di kepartaian bukan, semoga memang begitu ya.
Jika memang anda bisa, silahkan tulis di blog anda, betapa Media itu mengendalikan awam, serta bukti2nya. ini sebagai bukti nyata anda membawa kebenaran secara individu.
Yap terimakasih telah telah menerima bahwa HMI Makassar melakukan khilaf, silahkan sampaikan kepada massa mereka, tentunya tidak penting bukan, jika hanya sampaikan kpd saya, agar suatu hari HMI Makassar tidak rusuh lagi jika demo, Sukses buat HMI.
Masing-masing orang mengklaim pendapatnya yang paling benar, tetapi sedikit saja yang dapat dikategorikan pendapat yang obyektif dan ilmiah. Klaim kebenaran itu mudah, tetapi membuktikan pendapatnya itu menjadi pendapat yang kuat, itulah yang susah.
Adapun soal media, tidak semua media memiliki kepentingan penyebaran ideologi tertentu. Ada juga media yang menyajikan fakta-fakta yang kemudian dikembalikan pada audience untuk melakukan analisis. Contoh riil betapa masyarakat dengan mudahnya mengikuti trend media saat ini yang hanya menyoroti sebuah aksi yang dalam hal ini merupakan akibat dari tindakan represif aparat.
Sedangkan soal keindependensian HMI, nampaknya memang Anda belum paham betul soal independensi HMI. Untuk tafsir independensi HMI, bisa dibaca di http://hmifapetipb.wordpress.com/tafsir-tujuan/
Bahwa HMI menerima dana dari donatur yang dalam hal ini ialah alumni HMI, bukanlah hal yang haram. HMI bebas menerima dana darimanapun. Hanya saja, HMI tetap berpegang teguh pada keindependensiannya. Bukan berarti saat HMI itu independen, maka HMI tidak menerima uang darimanapun. saya pikir tidak seperti itu.
HMI Makassar dalam hal ini memang salah karena telah merusak fasilitas umum. Tetapi mari kita bijak juga dalam memandang persoalan ini, alasan mengapa mereka melakukan itu? Apa yang jadi penyebabnya. Sekali lagi, itulah yang sering kali terlewatkan oleh sebagian masyarakat.
Jika HMI aksi atau apapun sedang melakukan aksi dan tiba-tiba diserang oleh kelompok lain, maka tak ada jalan lain selain membalas setiap serangan yang dilakukan.
wah mas ressay harus banyak belajar dari mas triuth ni biar mendadak bijak.
maksudnya gimana mas?
Memang betul segala peristiwa tidak akan terlepas dari hukum kausalitas. Tapi dibenarkankah tindakan anggota HMI yg merusak fasilitas umum itu?
Marah adlah hal wajar dan manusiawi, tp apakah harus berlebihan seperti itu?
Dengan label Islam, berarti citra Islam juga dipertaruhkan.
Bagi saya sudah jelas HMI yang terkenal kalem selama ini telah berhasil diprovokasi untuk berbuat demikian.
jangan salah tafsir yah, saya tidak sedang membela polisi.
Baik, jadi kita sama-sama sudah sepakat bahwa tindakan kawan-kawan HMI Makassar itu pasti punya sebab. Tetapi persoalannya, hanya sedikit mau yang menganalisa sebabnya. Mereka hanya berkutat pada akibatnya yaitu tindakan kawan-kawan HMI Makassar.
Bahwa HMI marah pun adalah hal yang sangat manusiawi.
Adapun yang Anda persoalkan adalah citra Islam, bukan Islamnya sendiri. Bagi saya pribadi, saya tidak tertarik untuk memperbincangkan citra Islam, karena citra itu berkaitan dengan fenomenologis.
Alangkah baiknya kita memandang segala sesuatu secara epistemologis, bukan secara fenomenologis.
Jika ada orang Islam yang menjual ganja, tidak lantas kemudian kita menilai Islam hanya dengan menilai orang Islam tersebut. Sangat tidak bijak.
sama dengan HMI. Jangan nilai HMI hanya dari personal saja, tetapi nilailah HMI dari ideologis, aturan dasarnya…
si ressay ini anjingnya para intelektual kafir, jadi tidak usah berbantahan dengan manusia yang terlaknat seperti dia, dan jangan perkataan dari dia dijadikan sebagai sumber informasi, mengambil info dari ressay ini hanya sesat dan menyesatkan.
hehehe…kocak banget…
mas irwan….kalau buat koment yang lebih ilmiah aja. Hujatan-hujatan seperti yang anda lontarkan tidaklah beralasan. kalau tak tahu masalah (tidak punya pengetahuan akan suatu hal) bukankah kita sebaiknya disuruh diam saja. demikianlah yang saya pahami dlam slah stu ayat Al-Qur’an.
lebih ilmiah aja koment ya bung!!!
apa otoritas saudara menghakimi seseorang kafir???
apakah anda mempunyai bukti garansi bahwa anda lebih mulia dari manusia lainnya???
ternyata ada anjing bilang anjing hhaha
Biar HMI dijadikan tumbal sekalipun, tetap semangat membela HMI… Lho ko’ HMI yang di bela… … YAKUSA !
Salam mas Yasir..
Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammad Wa Aali Muhammad
Aku ndak bela HMI kok. hehehe…
salam kenal mas.
Allahumma shalli ‘ala (Sayyidina) Muhammad wa Aali (Sayyidina) Muhammad.
ada free MYOB…….?hehehe
Imam Ali Bin Abi Thalib pernah berkata: “Penindas dan Orang-orang tertindas yang tidak melawan, sama-sama menggunting keadilan” kasus HmI Makassar sedang ada dalam konteks tersebut. HmI Makassar hanyalah korban penindasan dari aparat keamanan.
saya bingung, ketika aparat menindas rakyat maka secara gampang dikatakan itu adalah oknum, tapi jika sebuah organisasi non pemerintahan yang bersalah maka secara serta merta mengalami over generalisasi.
Lawan….! Pantang Hina…!
saya dah liat artikelnya… kurang bisa menjelaskan knp mahasiswa berdemo harus dengan anarki dan memblokir jalan…. anda mau sprti presiden yg membolkir jalan? wkwkwkwkwkwkwkwk…..
klo polis anrkis dan hmi juga anarkis trus yg membedakan keduanya apa? sama2 orang barbar.. bikin malu kampung halaman…
saya malu disini… mahasisa yg kuliah dimakassar sulit bersaing untuk mendapat kerja krna udah di cap jelek….
mahasiswa di jogja contohnya.. klo demo mereka itu nga ada yg anarkis… paling teatrikal atau yg berseni gitu.. nga anarkis gitu sambil memblokir jalan… anda nga kasian dengan orang2 yg kena macet ???
klo dah jelek yg jelek trus…
jika anda menganggap sesuatu itu jelek maka tolong jgn ditiru… sprti :
Banyak contoh untuk soal ini. Ambillah contoh saat presiden atan pejabat hendak melewati suatu jalan, maka polisi biasa memblokir jalan untuk sementara waktu. Memberikan kesempatan bagi presiden atau pejabat melalui jalan tersebut dengan lancar.
ini namanya mahasiswa yg berintelektual ??? wkwkwkwkwkwkwkwk…..
niru hal2 yg jelek ??? menghalalkan segala cara demi mendapat apa yg diinginkannya??? dasar calon2 perusak bangsa…. bagaikan anak kecil menangis dengan suara lantang sambil guling2 di tanah demi mendaptkan apa yg diingikannya…. whahahahahahahaha…. lucu2….
Terima kasih atas tanggapannya…
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,salam Hitam Hijau
buat mas ressay, semoga kita selalu dalam lindungan Allah swt, tetap dijalanNYA,sampai yaumil akhir, amien.
ada beberapa yg mau didiskusikan mengenai tulisan mas ressay antara lain :
1. mengenai Prinsip yang kedua yaitu soal kepentingan umum yang dikorbankan sementara waktu.
ingatkah kita tentang perkataan nabi mengenai iman yang terendah adalah membuang halangan/kerikil dijalan ?
bagi seorang kader muslim (HMI) iman seseorang yg terendah adalah membuang rintangan dijalan, bagaimana dengan memblokir jalan??? Insya Allah mas ressay mengerti jawabannya.
2. Rasul pernah mengingatkan, tidak ada niat baik, dan tujuan baik dijalankan dengan jalan yg buruk. bahasa kerennya gak ada robinhood dalam islam.
konsekuensinya….???
itu saja masukannya,
salam hitam hijau
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Wa’alaikumsalam,
1. justru aneh Anda menggunakan dalil agama untuk justifikasi, padahal dalil yang ANda gunakan tidak tepat untuk diterapkan pada persoalan ini.
Untuk hal-hal tertentu, tempat umum bisa menjadi tempat yang diisolasi.
2. Betul sekali.
salam hijau hitam merah.
klo kalian mau tahu beberapa kader hmi di makassar adalah orang yang rusak sebut saja salah satunya ashary alias kama cappi,,, diantara polisi dan para pelaku kejahatan siapa yang tidak mngenalnya dia bisa disebut rajanya pelaku curanmor kelas kakap dan residivis keluar masuk lp hampir 5 kali ,preman peliharaan pejabat,yg juga ketua germak,ia notabene pernah kuliah s1 stiem bungaya lalu melanjutkan s2 hukum di universitas 45,
dialah yang memprovokasi polisi wktu hmi demo di depan 45 dengan menggunakan senjata tajam badik waktu berdemo. lihat lebih lengkap profilnya http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=42757
betul, memang ada beberapa kader HMI yang rusak, dan ada yang baik.
YAKIN USAHA SAMPAI
APAPUN CERITANYA HmI yang terbaik di negeri ini
YAKIN USAHA SAMPAI
Bahagia HmI