Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Khalifah Islam yang Bernama Muawiyah Ternyata Murtad?

Khalifah Islam yang Bernama Muawiyah Ternyata Murtad?

Baru-baru ini ada seseorang yang nampaknya anggota atau mungkin simpatisan dari Hizbut Tahrir berkomentar di status facebookku. Berawal dari statusku tentang betapa banyaknya orang non muslim yang mencela Nabi Muhammad, orang sunni dan salafy yang mencela Ulama-ulama Syi’ah, orang Syi’ah yang mencela sahabat Nabi.

Ia berkomentar bahwa sunni, syi’ah, salafy, wahabi, dll itu pada zaman Nabi dulu tidak ada. Pada zaman Kekhilafahan Islam pun tidak ada. Semua itu muncul saat khilafah Islam sudah runtuh.

Perbincangan pun akhirnya mengarah pada pencelaan yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah kepada Sahabat Nabi. Menurutnya, syi’ah itu mengajarkan mencela sahabat Nabi. Menurutku, Syi’ah tidak mengajarkan mencela sahabat Nabi, hanya mengkritik sahabat Nabi dan menampilkan sejarah apa adanya. Adapun orang-orang syi’ah yang mencela sahabat Nabi, menurutku, itu hanya oknum saja.

Lalu ia mengutip pendapat Imam Malik soal mencela sahabat Nabi.

االامام مالك

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :

قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧ )

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Ia berargumen dengan pendapat Imam malik bahwa mencela sahabat Nabi itu termasuk orang-orang di luar Islam, dalam artian lain “MURTAD”.

Saya mengatakan bahwa Jika kita mengikuti pendapat imam malik, maka orang yang keluar dari islam adalah sahabat Nabi, karena mereka tidak hanya mencaci maki, tetapi saling bunuh membunuh diantara mereka.

Banyak sejarah yang menceritakan hal itu kepada kita semua, bahwa diantara sahabat Nabi tidak hanya terjadi saling mencela tetapi juga sampai pada saling bunuh membunuh. Misalnya perang shiffin, perang jamal, pembunuhan Utsman bin Affan.

Dan berbicara soal khilafah, saya pun mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai status Muawiyah bin Abu Sufyan. Apakah dia seorang yang diakui sebagai khalifah Islam? Sebetulnya saya sudah tau jawabannya, tetapi hanya ingin memastikan saja. Tetapi nampaknya dia tidak ingin menjawab pertanyaan saya tersebut.

FYI, Muawiyah bin Abu Sufyan diyakini oleh saudara-saudara kita dari Hizbut Tahrir sebagai khalifah Islam. Tetapi jika kita membaca lagi kitab2 sejarah, Muawiyah adalah salah satu khalifah yang telah mencela Ali bin Abi Thalib yang dalam hal ini merupakan seorang sahabat Nabi.

Dalam kitab Shahih Muslim Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 4/1870 no 2404 diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash

أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي

Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku”.

Riwayat Sunan Ibnu Majah
Dalam Sunan Ibnu Majah Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/45 no 121 terdapat hadis riwayat Sa’ad berikut

حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya”.

Hadis ini telah dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 98. Hadis di atas adalah bukti yang paling kuat kalau Muawiyah memang telah mencela Imam Ali. Al Hafiz Muhammad bin Abdul Hadis As Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah no 118 telah menunjukkan dengan kata-kata yang jelas dalam komentarnya tentang hadis ini ”bahwa Muawiyah telah mencaci Imam Ali bahkan memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali sebagaimana yang disebutkan oleh Muslim dan Tirmidzi”.

Jika kita mengikuti pendapat Imam Malik bahwa yang mencela sahabat Nabi itu maka termasuk di luar Islam atau murtad, maka sebetulnya Muawiyah yang notabene khalifah Islam itu sudah murtad. bukan begitu?

  1. Putri Malu
    Juli 14, 2010 pukul 6:24 am | #1

    Setuju Kang Yasser,
    silakan bahas dan tanggapi dengan ilmiah mengenai tulisan diatas:
    1. Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

    2. Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku”.
    (Dalam kitab Shahih Muslim Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 4/1870 no 2404 diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash)

    3.Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya”.
    (Dalam Sunan Ibnu Majah Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/45 no 121)

    tolong anda-anda yang tidak setuju tanggapi ulasan diatas, jika tidak punya kapasitas untuk mengulas silakan duduk manis saja.

  2. ali akbar
    Juli 19, 2010 pukul 4:12 pm | #2

    apa dan siapa yg menjadi latar belakang muawiyah mencela ? politik ? siapa yg bermain dibelakang itu?

    • Juli 19, 2010 pukul 6:25 pm | #3

      Itu tidak sedang dibahas pada postingan saya diatas. yang dibahas itu soal konsekuensi logis dr fatwa imam malik terhadap pencelaan yang dilakukan oleh Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib.

  3. 1syahadat
    Juli 27, 2010 pukul 5:52 am | #4

    Saudaraku,
    Saya mencoba mencari di kitab Imam Muslim, dan memang saya dapati hadith #5915. Disana tidak disebutkan bahwa Muawiyah memerintahkan Saad (untuk mencela Ali?), melainkan disebutkan “ketika Muawiyah menunjuk Saad sebagai gubernur”. Saat itu ia bertanya “apa yg menghalangimu untuk mencela Abu Turab (Ali)?” entah apa latar belakang pertanyaan tsb, kemudian Saad menjawab seperti yg Anda tulis. Jadi dari hadith ini tidak disebutkan bahwa Muawiyah mencela Ali ra.
    Tapi saya memang mendapati ada beberapa hadith (sekitar 8 hadith dalam kitab Al Nawawi) yg jelas-jelas menyatakan bahwa Muawiyah mencela Ali ra dalam momen-momen yg berbeda, dan akan sangat baik jika dalam kesempatan ini dibahas derajat hadith-hadith tsb. Mudah-mudahan ada penulis yg paham ilmu hadith untuk ikut memberikan pandangannya. Atau mungkin ada yg bisa memberikan informasi dimana perkara ini pernah dibahas lebih lengkap (buku, website, dsb)? Sejauh ini, dari pihak sunni sepertinya cenderung menahan diri (untuk berkomentar ttg topik ini), mungkin untuk menghindar dari prasangka buruk thd Muawiyah yg dipandang sebagai salah satu sahabat. Sementara dari pihak syiah biasanya menganggap pihak sunni takut hal ini akan menjadi awal dari runtuhnya keabsahan sejarah kekhalifahan Ummayah – bahkan mungkin hingga Abasiyah. Bagaimanapun, menurut saya catatan gelap/samar-samar dalam sejarah Islam ini sebaiknya memang diluruskan.

    • Juli 27, 2010 pukul 9:07 am | #5

      Pada riwayat ibnu majah jelas kok muawiyah mencela Ali bin Abi Thalib.

      soal riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi, silakan saja dikutipkan disini lalu Anda berikan penilaian soal derajat riwayat tersebut.

      • 1syahadat
        Juli 27, 2010 pukul 9:58 am | #6

        Anda betul Pak. Salah satu hadith yg ada di kitab Al Nawawi itu memang diambil dari Ibnu Majah.
        Utk membahas derajat hadith, saya tidak punya kapasitasnya. Mudah-mudahan ada saudara yg lain yg ikut memberikan pendapatnya.

        • Juli 27, 2010 pukul 5:51 pm | #7

          Setidaknya ada dua langkah yang perlu dilakukan.
          1. Mencari pendapat para ahli hadits soal derajat hadits tersebut.
          2. Menganalisa pendapat2 tersebut.

  4. Juli 29, 2010 pukul 12:12 pm | #8

    pembahasannya berat

  5. Juli 30, 2010 pukul 8:18 am | #9

    Sahabat adalah sebuah generasi manusia, sama dengan generasi-generasi manusia lainnya. Ada yang bertakwa dan sangat luar biasa, ada yang sedang-sedang saja, ada juga yang munafik (Q al-Munafiqun). Ada yang berakhlak, ada juga yang kurang berakhlak (misalnya kasus meninggalkan Nabi saat khubah jumat, QS al-Jumuah). Ada yang berilmu tinggi, ada juga yang tidak. Islam adalah Allah dan Rasul-Nya. Apa pun dan bagaimana pun kondisi serta perilaku sahabat beliau, yang kita jadikan acuan adalah Allah dan Rasul-Nya, tidak yang lain… Dan kita hanya mengikuti sahabat-sahabat beliau yang setia dan taat kepada beliau saja. Dari merekalah kita menerima Islam seperti yang diajarkan Allah dan Nabi-Nya… Senoga demikian….

  6. Santri Awam
    Juli 31, 2010 pukul 1:22 am | #10

    Kita tidak perlu susah-susah mencari hadist yg menerangkan bahwa Muawiyah pernah mencela Ali. Sudah jelas bahwa Muawiyah adalah seteru politik dari Ali bin Abi Thalib sampai terjadi perang Jamal. Sebutan Abu Turab (bapak tanah) yang ditujukan kepada Ali oleh Muawiyah itu sendiri adalah sebuah penghinaan.

    • Juli 31, 2010 pukul 3:17 pm | #11

      sepanjang yang saya ketahui sebutan abu turab itu dari Rasulullah.

  7. Jjihad Ali
    Agustus 10, 2010 pukul 6:27 pm | #12

    Muawiyah ini sebenarnya paling lengkap , sebagai Tulaqa anak tulaqa saja sudah memalukan ditambah lagi mati kafir , dan kena laknat ….. , sumpek tuh Muawiyah

  8. Javad Al-Kadzim
    Agustus 13, 2010 pukul 8:42 am | #13

    Banyak dari kalangan ulama besar kalian Ahlusunah meriwayatkan dari Nabi Saw, dengan sabdanya, “Barangsiapa mencintai Ali, ia adalah orang mukmin dan barangsiapa membencinya, ia adalah orang munafik.” Hadis semacam ini banyak diriwayatkan oleh para ahli hadis besar dari kalangan Ahlussunnah, seperti Jalaluddin As-Suyuti dalam Ad-Durr Al-Mantsur, Al-Tsa’labi dalam kitab Tafsir-nya, Allamah Al-Hamdani dalam Mawaddatu Al-Qurba, Ahmad bin Hanbal dalam Musnad, Ibnu Hajar dalam Shawa’iq, Al-Khawarizmi dalam Manaqib, Allamah Ibnu Maghazili dalam Manaqib, Hafizh al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah, Ibnu Abi Al-Hadid dalam Syarh Nahjul Balaghah, Thabrani dalam Aushath, Muhibb Thabari dalam Dzakha’irul Uqbah, An-Nasa’i dalam Khashais, Allamah Al-Kanji Asy-Syafi’i dalam kitab Kifayatut Thalib, Muhammad bin Thalhah dalam Mathalibu al-Su’al, Sabath al-Jauzi dalam Tadzkiratul Khawash, Ibnu al-Shabagh al-Maliki dalam Fushul Al-Muhimmah, dan lain-lainnya.

  9. September 22, 2010 pukul 1:48 pm | #14

    Ucapan imam malik adalah kaidah umum. Namun penerapannya memakai kriteria2 inklusi dan eksklusi, jd gak bisa diterapkan serampangan. Sama dgn kalimat: barangsiapa menghalalkan yg diharamkan Allah maka dia kafir.

    Mengenai hukum mencela para sahabat nabi maka sudah diperinci dan dibahas scr lengkap oleh para ulama sunni seperti ibnu taimiyah, dll. Jd tidak semuanya kafir, trgantung bnyk faktor.

    Muawiyah tidak menuduh ali telah kafir atau musyrik. Seandainya muawiyah punya bnyk kesalahan namun kebaikannya jg sangat bnyk. Dan bnyk hadits2 tentang pengampunan bg org2 yg bnyk dosa. Maka muawiyah pantas menjadi bagian dr mereka.

    • September 24, 2010 pukul 5:11 pm | #15

      Ucapan imam malik adalah kaidah umum. Namun penerapannya memakai kriteria2 inklusi dan eksklusi, jd gak bisa diterapkan serampangan. Sama dgn kalimat: barangsiapa menghalalkan yg diharamkan Allah maka dia kafir.

      Gimana tuh penjelasannya?

      Mengenai hukum mencela para sahabat nabi maka sudah diperinci dan dibahas scr lengkap oleh para ulama sunni seperti ibnu taimiyah, dll. Jd tidak semuanya kafir, trgantung bnyk faktor.

      Jelas kok, siapa yang mencela sahabat Nabi itu katanya bukan termasuk golongan Islam. Maka siapapun, termasuk sahabat Nabi jika mereka mencela sahabat Nabi, mereka termasuk golongan di luar Islam.

      Muawiyah tidak menuduh ali telah kafir atau musyrik. Seandainya muawiyah punya bnyk kesalahan namun kebaikannya jg sangat bnyk. Dan bnyk hadits2 tentang pengampunan bg org2 yg bnyk dosa. Maka muawiyah pantas menjadi bagian dr mereka.

      Muawiyah mencela Ali. Jelas kok dalilnya diatas.

      Urusan ampunan dosa, itu urusan Allah. bukan urusan saya dan Anda. Urusan saya dan Anda adalah menampilkan sejarah apa adanya. Kalau memang Muawiyah itu murtad, ya katakan saja murtad.

  10. fahmi
    Oktober 9, 2010 pukul 6:03 am | #16

    sesungguh nya ke 4 sahabat nabi tu …ABU BAKAR,UMAR, USTMAN, dan ALI adalah sahabat rasullulah yg djamin kan syurga oleh rasulullah…,orang syi’ah membenci ABU BAKAR, UMAR, dan USTMAN syia’h sllu mengagungkan ali…

    • Oktober 10, 2010 pukul 2:24 pm | #17

      oh begitu yah? Jadi pasti masuk surga walaupun menyimpang dari ajaran Islam?

      mengagungkan Ali dalam posisinya kok.

  11. GALANG
    November 5, 2010 pukul 7:46 am | #18

    betul, akan tetapi tidak menjurus pada pengkultusan…

  12. GALANG
    November 5, 2010 pukul 7:48 am | #19

    ressay :
    oh begitu yah? Jadi pasti masuk surga walaupun menyimpang dari ajaran Islam?
    mengagungkan Ali dalam posisinya kok.

    betul dslam posisinya, akan tetapi tidak terjerumus dalam pengkultusan…

  13. Desember 24, 2010 pukul 1:21 pm | #20

    Maaf kalau komentar saya salah, soalnya saya masih awam dalam hal agama Islam. Saya ingin mengomentari soal sahabat dengan kapasitas ilmu saya yg sangat bodoh ini. Sederhana begini. Islam memiliki dua dalil yang sangat jelas : Dalil Naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) dan Aqli. Menurut saya, kedua dalil itu tidak boleh saling bertabrakan atau kontradiksi. Keduanya, harus sejalan, seiring dan tidak boleh saling bertentangan. Dalil naqli itu, baru benar. Apabila tidak bertentangan dengan dalil Aqli. Begitu juga sebaliknya. Selain itu juga, Sunnah tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an. Sunnah atu hadits, harus tunduk kepada Al-Qur’an. Jadi, kalau ada hadits yang bertentangan dengan qur’an dan dalil aqli. Otomatis hadits itu lemah. Jadi, dari teori yang sederhana ini, kita sudah bisa menilai hadits itu lemah atau tidak. Hadits itu berbau politis atau tidak. Begitu juga dalm menilia sahabat nabi. Kita harus fair dan jujur. Artinya, kita harus mengesampingkan “titel sahabat” nabi itu. Kita harus menilai jati dirinya secara fair. Kalau dia salah dan bertentangan dengan qur’an dan hadits serta dalil aqli. Maka, kita harus berani dan berjiwa besar, untuk menyatakn sahabat itu salah. Jangan sampai fanatik buta dan kacamata kuda. Kalau memang ia mau disebut sahabat nabi. Maka perilakunya harus seperti nabi alias ia harus menyontek akhlak nabi. Jangan sampai berkata begini : Memang sih, dia salah.Tapi kan dia sahabat nabi. Salah, ya salah. Kalu prilakunya salah, jangan disandingkan dengan nama Rasulullah. Rasul berlepas diri, dari kesalahan sahabat (yg sedang melakukan kesalahan). Mulai saat ini, kita jangan sampai menjadi korban dari sejarah. Sejarah itu harus di ungkap dengan detail, investigasi yg komplit dan berjibaku ria. Kita harus fair di dalam mengungkap kebenaran. Memang terasa pahit kedengarannya (terutama oleh mereka yang selam ini mengagungkan sahabat yg menjadi bahan kritikan). GUNAKAN DAN BERDAYAKN AKAL KITA SE OPTIMAL MUNGKIN. KITA HARUS BANYAK MEMBACA BERBAGI LITERATUR TENTANG SEJARAH ISLAM. UTAMANYA SEJARAH YANG SANGAT KRUSIAL, SEPERTI SOAL SAHABAT NABI. Itu saja komentar saya. Saya mohon maaf kalau ada komentar yang salah atu menyakitkan.

  14. Ibnu
    Januari 15, 2011 pukul 12:21 pm | #21

    Masya Allah, lihatlah para penganut Syiah mengkafirkan para sahabat yang mulia dengan darah dingin. Mereka pun menafsirkan ayat-ayat pada surah Alfatihah dengan: orang yang diberi nikmat adalah Ali bin Abi Thalib, orang yang dimurkai adalah Abu Bakar dan orang yang sesat adalah Umar bin Khatab radhiallahu anhum. Tahukah anda bahwa sebagian penganut agama Syiah meyakini malaikat Jibril berkhianat atas penyampaian wahyu? Menurut persangkaan kotor mereka, wahyu seharusnya disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu dan bukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Innalillahi wa inna ilahi roji’un.
    Syiah membentuk diri sebagai agama baru. Syiah bukanlah Islam, dan Islam berlepas diri dari Syiah. Maka larilah kalian dari fitnah Syiah ini sebagaimana larinya domba dari serigala.

    • Januari 25, 2011 pukul 2:47 pm | #22

      masya Allah, masih saja ada orang dungu.

      Kesimpulan Muawiyah murtad itu berangkat dari keyakinan Ahlulsunnah bahwa mencela sahabat Nabi itu bukan termasuk golongan di luar Islam. Dan fakta sejarah, Muawiyah melaknat Ali bin Abi Thalib yang merupakan sahabat Nabi. Maka dari itu, Muawiyah termasuk golongan di luar Islam.

      Hanya orang dungu saja yang memiliki pemahaman bahwa syi’ah itu meyakini malaikat Jibril berkhianat atas penyampaian wahyu. Hanya orang kampung yang dungu, yang jauh dari informasi, yang meyakini bahwa Syi’ah itu bukan termasuk Islam.

      Maka, larilah dari orang dungu semacam Ibnu Lahm ini. Larilah dari pemecah belah umat Islam.

  15. Januari 19, 2011 pukul 1:47 am | #23

    ah. pemaknaan itu terlampau kasar. menghina yang dimaksud di situ tentu menghina agamanya. bukan menghina pribadinya.

    • Januari 25, 2011 pukul 2:50 pm | #24

      ah terlampau mengada-ada pemahaman Anda ini.

  16. Januari 24, 2011 pukul 8:42 am | #25

    ribuuut teruuuss…teruuus ribuuut!

    soklah berbeda, sing jelas muawiyah ma ali adalah sahabat rosul. yg namanya sahabat pasti ada gulet2 dikitlag biar dunia seru…seru buat diadu domba buat org2 yg terlalu mengkyltuskan salahsatunya doang dan mencampakkan yg lainnya…

    gimana mo akur lah wong sama2 ngaku dah muslim turunan aja pd ribuuut…
    tah masih buanyak tah org islam KTP yg nyungsep gak tau ttg islam ma nabi-nabinya. komoh nabianya aja gak peduli bagaimana dgn sahabat nabinya…

    maluu atuh sama setan yg lagi cengengesan menyaksikan kita bertengkar…biarlah yg lalu kita jadikan pelajaran. saatnya kita bangkit dan nyatakan bersama tuk saling berlomba-lomba dalam kebenaran dan kebaikan, okeh coiiii????

  17. khayru
    Mei 17, 2011 pukul 3:18 am | #26

    klo pndpt imam malik ini d jdikn dalil utk mmvonis,tntu syiah yg akn bnyk yg d sbut murtad,apakh anda stuju dg pndpt imam malik ini?imam malik hny sbgian dr imam suni dan tdk ma’sum,beliau bs sj kliru,bl anda ingin mmprovokasi kaum suni dg mngemukakan pndpt imam malik ini anda sia-sia,krn tdk smw klmpok suni mngikuti imam malik.tp anda jgn khwtir,pst da org suni yg trpengruh baik yg mngikuti kmauan anda atwpun blik mnghujat anda krn trsingguh “k’suni-an’y”d usik,itulh org-org yg brpikirn smpit,selamat ya…..

    • Mei 19, 2011 pukul 8:54 am | #27

      nah, saya tanya. Apa ada imam sunni yang lain yang membantah pendapat imam malik? silakan….

      saya hanya ingin menyampaikan konsekuensi logis dari pendapat imam malik. jadi ga usah berasumsi yang gak2.

      • Ahmad sittah
        Juli 6, 2011 pukul 5:10 am | #28

        insyaAllah ressay ini termasuk yang ta’at menjalankan sholat, zakat, puasa dan insyaAllah sudah berhaji, jadi kalau sudah ta’at buat apa kita ribut2 ….
        ane 1 thn pelajari tatacara ibadah2 dlm islam…sungguh menyejukukkan dan manfa’at yang ane rasakan….. ketika ane belajar sejarah islam…upstt…kebisingan dan panasnya sejarah yang ternyata dikompor2in oleh pengikutnya….hampir ane kembali murtad….. tapi Alhamdulillah ane sempet tersadar kalo islam memiliki kitab suci Alqur’an, ane terbawa ke QS At Tahrim (66: 8)

        mohon ma’af sodara ku se islam…. ane bersukur telah bergabung terhadap agama islam…. bersatulah wahai muslimin dan muslimat….
        Wassalam

  18. rahmat dani
    Juni 10, 2011 pukul 2:17 am | #29

    sesungguhnya yg berhak menentukan murtad adalha Allah SWT..
    jgn lah krn hal ini kita umat islam menjadi bercerai berai…
    marilah introspeksi diri masing2…
    gak perlu saling mencela & menyalahkan…
    yg penting kita tetap 1 kaidah…
    tetap berpegang kepada Al-Qur’an & Hadits, tetap 1 syahadat, tetap sama rukun islam & rukun iman…

  19. Oktober 19, 2011 pukul 1:49 pm | #30

    Iniala Prkataan Langsung dr Sahabat Ali tentang Mu’awiyah, Ali tidak menuduh Muawiyah sebagai kafir.
    Dari Abdullah bin Ja’far Al Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun bin Muslim dari Mas’adah bin Ziyad, dari Ja’far, dari ayahnya, bahwa Ali tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi Ali hanya mengatakan: mereka adalah saudara kami yang membangkang. Qurbul Isnad, dari Wasa’ilu As Syi’ah jilid 15 hal 69 – 87.
    ne udh Jelaas,tdk prlu dibahas panjang lebar.trmksh.

    • November 4, 2011 pukul 11:42 pm | #31

      Saya juga tidak menuduh. Saya hanya membuat silogisme dari pernyataan yang dibuat oleh seorang ulama sunni. Kalau memang mencaci sahabat Nabi itu lalu membuat seseorang menjadi murtad, maka Muawiyah yang mencaci Ali pun murtad. Karena Ali itu sahabat Nabi. Jadi, Muawiyah mencaci Ali (sahabat Nabi) = MURTAD.

  20. Abu Abdirrahman
    Februari 15, 2012 pukul 4:00 am | #32

    Wah ini webnya Kleb Syiah to. Kok ada ya yang mau gabung dengan orang2 yang suka berdusta/taqiyah.

    • Februari 15, 2012 pukul 7:58 am | #33

      Bukan. Ini weblog pribadi. Gini aja g paham.
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Comment pages
1 2 2374
  1. Maret 29, 2011 pukul 7:15 am | #1

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.