Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Mengkritik Pendapat Habib Nouval Soal Nikah Mut’ah dan Shalat Jamak

Mengkritik Pendapat Habib Nouval Soal Nikah Mut’ah dan Shalat Jamak

Tulisan ini sengaja aku buat untuk sekedar mengkritisi pendapat Habib Nouval saat berceramah di Masjid Nurul Huda UNS. Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan beliau, tetapi hanya untuk sekedar mengkritisi saja dan memberikan pendapat yang berbeda dengan beliau. Semoga dengan adanya tulisan ini, aku tidak dituduh sebagai seorang yang sesat.

Ceramah beliau itu sebetulnya membedah kitab Riyadh Ash-Shalihin. Tetapi kemudian ditengah-tengah ceramah, terkadang beliau memberikan selingan-selingan materi tambahan yang sebetulnya ada di luar substansi kitab Riyadh Ash-Shalihin.

Ada beberapa hal yang ingin saya kritisi dari pendapat beliau yaitu soal nikah mut’ah dan shalat jamak tanpa ada halangan apapun.

Tibalah saatnya bliau bercerita soal pertemuannya dengan seorang wanita di bis yang cerita baru saja dikhianati oleh seorang lelaki yang mengajaknya nikah mut’ah. Wanita itu menuturkan dirinya dinikahi secara mut’ah dalam jangka waktu 6 bulan, tetapi setelah habis masa kontraknya, ia ditinggal pergi.

Habib Nouval kemudian berkata yang ngajak nikah mut’ah itu orang yang suka menjamak shalat juga?

Kalau sudah main jamak-jamak shalat pastilah orang sesat. Begitulah kata Habib Nouval, seingat saya.

Karena memang majlis ta’lim tersebut tidak sedang membahas soal nikah mut’ah, maka pembahasannya pun hanya sekilas saja. Beliau tidak menyinggung bahwa sebetulnya nikah mut’ah itu pernah dihalalkan oleh Nabi. Namun ada perbedaan pendapat di kalangan muslimin mengenai kehalalannya selepas Nabi meninggal.

Satu kelompok memandang bahwa Nikah Mut’ah sempat dihalalkan, hanya saja kemudian di haramkan kembali oleh Nabi. Kelompok lain memandang bahwa nikah mut’ah halal sampai saat ini.

Nikah mut’ah adalah ikatan tali pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita dengan mahar yang telah disepakati dalam akad, sampai pada batas waktu tertentu.

HUKUM NIKAH MUT’AH DALAM AL-QUR’AN

Allah berfirman, “…Maka istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (mas kawin) dengan sempurna…” (Q.S. An-Nisa: 24)

Al-Qurthubi, Al-Syaukani dan orang-orang yang sependapat dengan mereka mengatakan bahwa hampir semua ulama menafsirkan ayat tersebut dengan nikah mut’ah yang sudah ditetapkan sejak permulaan Islam. (Tafsir Qurthubi, juz 5, hlm. 130; Ma’a Al-Qur’an karangan Baquri, hlm. 167; Al-Ghadir, juz 6, saduran dari tafsir Syaukani, juz 1, hlm. 144).

Dalam Mustadrak Al-Hakim dan kitab-kitab yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas bersumpah bahwa Allah menurunkan ayat tersebut untuk pembatasan waktu dalam mut’ah. (Mustadrak Al-Hakim, juz 2, hlm. 305 berikut keterangan Al-Dzahabi yang terdapat di tepi kitab tersebut pada hlm. Yang sama).

Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Said bin Zubair, dan Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan menyisipkan tafsirnya dengan bacaan sebagai berikut: “Barangsiapa di antara kalian melakukan perkawinan dengan menggunakan batas waktu maka bayarlah maharnya.”

Al-Razi dan Al-Naisaburi setelah meriwayatkan bacaan tesrebut dari Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab berkata, bahwa seluruh sahabat tidak ada yang menyalahkan bacaan kedua sahabat itu sehingga dapat dikatakan bahwa bacaan tersebut telah disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. (Tafsir Al-Naisaburi yang terdapat di tepi kitab Tafsir Al-Thabari juz 5, hlm. 18 dan dalam Kitab Tafsir Al-Razi, juz 10, hlm. 51, cet. Th. 1357 H).

Berdasarkan ayat al-Qur’an di atas dan beberapa tafsirnya diketahui bahwa Islam telah mensyariatkan nikah mut’ah. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh oleh ayat al-Qur’an yang lain.

Untuk menjawab pernyataan seperti itu, cukuplah saya mengutip perkataan Al-Zamakhsyari dalam buku tafsirnya A-Kasysyaf “Kalau kalian bertanya kepadaku apakah ayat mut’ah sudah dihapus, maka akan kujawab ‘tidak’, karena seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah dapat disebut sebagai istrinya.” (Al-Kasysyaf juz 3, hlm. 177, cet. Beirut).Anehnya lagi, ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh (dihapus) oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wassalam. Tetapi pendapat kebanyakan sahabat dan pengikut Al-Zhahiri, Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa hadits tidak dapat menasakh Al-Qur’an. (Al-Mustashfa juz 1, hlm. 124).

SIAPA YANG MENGHARAMKAN NIKAH MUT’AH?

“Kita, para sahabat di zaman Nabi Sawaw dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan tepung sebagai mas kawinnya, kemudian Umar mengharamkannya karena ulah Amr bin Khuraits.” (Shahih Muslim, juz 4, hlm. 131, cet. Masykul Th. 1334 H).

Al-Hakam, Ibnu Juraij dan sesamanya meriwayatkan bahwa Imam Ali kw berkata, “kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang berzina kecuali orang-orang yang benar-benar celaka.”

Dalam riwayat lain Imam Ali berkata, “Kalau pendapatku tentang nikah mut’ah tidak kedahuluan Umar, aku akan perintahkan nikah mut’ah. Setelah itu, jika masih ada orang yang berzina dia memang benar-benar celaka.” (Tafsir Thabari, juz 5, hlm. 9) SANADNYA SHAHIH.

Umar adalah yang pertama kali melarang nikah mut’ah. (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Bab II, hlm. 158).

DALIL SHALAT JAMAK TANPA ADA HALANGAN APAPUN

yang selanjutnya, soal shalat jamak. Sekilas yang saya tangkap bahwa beliau menganggap orang yang shalat jamak tanpa ada halangan apapun itu adalah orang sesat.

Saya ingin menunjukkan kepada Anda semua bahwa pendapat beliau, menurut beberapa riwayat yang saya pahami, merupakan pendapat yang ngawur.

Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.

Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Jadi jika Habib Nouval berpendapat bahwa orang yang menjamak shalat tanpa ada halangan apapun itu adalah orang yang sesat, maka orang yang mengajarka kesesatan itu adalah Nabi Muhammad. Astaghfirullah…Naudzubillah…

SESAT
Saya sangat menghormati pendapat beliau. Saya hanya ingin mengkritisi menurut Islam yang saya pahami. Jadi jika saya harus mengatakan beliau itu sesat, maka saya tidak berani mengatakan “beliau sesat menurut Al-Qur’an dan Sunnah” melainkan saya akan mengatakan, “beliau sesat menurut Al-Qur’an dan Sunnah YANG SAYA PAHAMI”. Karena saya bukanlah orang yang diberikan otoritas untuk itu.

Namun sebetulnya Allah sendiri telah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl (16) : 125)

Saat Habib Nouval berucap kata “sesat” maka muncullah kekecewaan dalam diri saya. Karena menurut saya, bukan suatu sikap yang baik jika kita dengan mudahnya mengatakan orang lain sesat dan kitalah yang paling benar. Allah sendiri sudah menjamin bahwa hanya Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya.

Bahkan saya yakin Habib Nouval pun masih membaca surat Al-Fatihah ayat 6-7 setiap kali beliau shalat.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Kita setiap kali shalat saja masih memohon kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus, jadi mengapa kita terus saja merasa diri paling benar dan menganggap orang lain sebagai orang sesat. Naudzubillah…

  1. November 4, 2011 pukul 6:36 pm

    Bagaimana Anda membantah artikel ini. http://haulasyiah.wordpress.com/2009/04/11/fatawa-nikah-mut%E2%80%99ah-telah-dimansukh-dihapus-dari-syari%E2%80%99at-islam/.

    Kalo ngutip ayat jgn sepotong2. Ini yg lengkap
    Dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa:24)

  2. November 4, 2011 pukul 6:48 pm

    Jawab pertanyaan berikut:
    0. Pernakah Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk melakukan mut’ah???
    1. Pernakah Rasulullah melakukan mut’ah?
    2. Pernakah Sayyidah Fathimah di mut’ah atau minta di mut’ah???
    3. Pernakah Imam Ali melakukan mut’ah dan memerintahkan kaum muslimat ketika itu untuk melakukannya?
    4. Pernakah Imam Hasan dan Husein melakukan mut’ah???

    Ngutip dari http://haulasyiah.wordpress.com/2007/06/26/syiah-menghalalkan-zina/

    • November 4, 2011 pukul 11:52 pm

      Untuk apa pertanyaan itu diajukan? Mengapa Anda tidak bertanya, “Pernahkah sahabat Nabi melakukan mut’ah?” “Pernahkah Allah dan Nabi memperbolehkan mut’ah?”

      • Desember 9, 2011 pukul 5:10 am

        Bukankah Ali RA juga meriwayatkan kalau mut’ah ituh haram :

        Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far dari Abul Jauza’ dari Husein bin Alwan dari Amr bin Khalid dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Ali [Alaihissalam] bersabda: Rasulullah mengharamkan pada perang Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah.

        Bagaimana perawinya? Kita lihat bersama dari literatur syiah sendiri:
        Muhammad bin Yahya : dia adalah tsiqah, An Najasyi mengatakan dalam kitabnya [no 946] : guru mazhab kami di jamannya, dia adalah tsiqah [terpercaya]

        Abu Ja’far , Tsiqah [terpercaya] lihat Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

        Abul Jauza’, namanya adalah Munabbih bin Abdullah At Taimi , haditsnya Shahih lihat Al Mufid min Mu’jam Rijalil Hadits

        Husein bin Alwan, Tsiqah [terpercaya], lihat Faiqul Maqal, Khatimatul Mustadrak, dan Al Mufid min Mu’jam Rijalul Hadits.
        Amr bin Khalid Al Wasithi: Tsiqah, lihat Mu’jam Rijalil Hadits, Mustadrakat Ilmi Rijalil Hadits.

        Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, salah satu ahlul bait Nabi

        Lagipula nikah mut’ah ituh hanya melegalkan orang utk kawin cerai, alasan utama nikah mut’ah jaman Rasul kan karena waktu ituh dalam keadaan perang, darurat, oleh sebab ituh setelah perang khaibar Rasulullah melarangnya (lihat hadist diatas) karena dikhawatirkan orang tidak lagi menghargai kuatnya perjanjian pernikahan di mata Allah.

        Adapun apa yang diperbuat oleh orang-orang yang suka berselera dan suka mencerai isteri, adalah satu hal yang sama sekali tidak dibenarkan Allah dan Rasul-Nya. Seperti sabda Rasulullah s.a.w.:

        “Saya tidak suka kepada laki-laki yang suka kawin cerai dan perempuan yang suka kawin cerai.” (Riwayat Thabarani dan Daraquthni)

        Dan sabdanya pula:

        “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada laki-laki yang suka kawin cerai dan perempuan-perempuan yang suka kawin cerai.” (Riwayat Thabarani)

        • Desember 9, 2011 pukul 5:29 am

          Riwayat yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali kw berkata nikah mut’ah diharamkan pada saat perang khaibar, menurut para ahli hadits, tidak dapat dipegang lantaran matannya tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Bahwa pada saat perang khaibar saat itu, tidak ada wanita muslim yang bisa dinikahi. Yang ada hanyalah wanita Yahudi. Adapun hukum diperbolehkannya menikahi wanita ahli kitab itu pada masa setelah perang khaibar.

          Soal nikah mut’ah, sebetulnya kita harus membahasnya dari awal yakni apakah nikah mut’ah itu disyariatkan di Al-Qur’an atau tidak. Baru deh bicara hadits. Kalau Anda langsung berbicara soal hadits, maka itu loncat-loncat, gak runtut cara diskusinya.

          Jika memang Allah dan Nabi-Nya tidak suka dengan kawin cerai, mengapa nikah mut’ah dihalalkan? bukankah ini kontradiksi?

          kmudian Anda mengatakan bahwa nikah mut’ah dihalalkan pada saat darurat. Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa suatu hukum yang dibolehkannya itu lantaran keadaan darurat, maka selagi keadaan darurat itu masih dimungkinkan untuk terjadi kapan saja, maka hukum itu tdak mungkin diharamkan.

          Bukankah perang itu masih dimungkinkan pada masa sekarang? Maka nikah mut’ah pun masih halal. Saran saya perbaiki lagi cara berpikir Anda.

          • Desember 9, 2011 pukul 1:19 pm

            Sama seperti khamar yg pada awalnya di bolehkan lalu Allah mengharamkannya, begitu juga dengan nikah mut’ah, pada awalnya boleh lalu haram. Jika menurut anda selagi keadaan darurat itu masih dimungkinkan untuk terjadi kapan saja, maka hukum itu tdak mungkin diharamkan, apakah saat ini keadaan sedang darurat sehingga shiah menghalalkan nikah mut’ah ? tolong yg harus di perbaiki itu sebaiknya cara berpikir anda.

            Jika anda begitu mencintai ahlul bait, berikan fakta kepada saya kalau mereka pernah melakukan nikah mut’ah. Bukankah begitu cara kita menunjukkan bentuk kecintaan kita pada mereka ? melakukan apa yg mereka lakukan dan tidak melakukan yang mereka tidak pernah lakukan ?.

            Bukankah juga Rasulullah saw pernah melarang Ali untuk menikah lagi ketika fathimah ra mengadu ke Rasul bahwa suaminya ingin menikah lagi ?. Jika nikah mut’ah di bolehkan, mengapa Rasul melarangnya ?. Toh tidak akan ada masalah jika harus menikah hanya untuk beberapa hari saja bukan ?

            Nikah mut’ah itu hanya alasan saja untuk membenarkan perzinahan, menikah tanpa wali, untuk beberapa saat saja, suami tidak perlu menafkahi istrinya dan istrinya tidak berhak mendapatkan warisan, seorang wanita hanya dianggap barang sewaan saja. Naudzubillah min dzalik, sebegitu rendahnya kah kaum wanita dimata kaum shiah ?

            Semoga hal itu tidak pernah terjadi pada wanita2 di keluarga anda, jika hal itu terjadi, saya turut berduka cita. Islam begitu mengajarkan tingginya kedudukan seorang wanita lalu shiah merendahkannya begitu saja. Naudzubillah

            • Desember 9, 2011 pukul 1:42 pm

              Hehehe…logika hukum yang sangat aneh. Anda di awal mengatakan bahwa hukum nikah mut’ah itu diperbolehkan lantaran kondisi darurat. Eh sekarang Anda mengatakan bahwa hukum nikah mut’ah itu seperti khamar. Ini jelas logika hukum yang ngawur dan tampaknya memang Anda harus lebih giat lagi belajar hukum.

              Jika Anda katakan bahwa hukum nikah mut’ah itu diperbolehkan karena kondisi darurat, seharusnya Anda samakan hukum nikah mut’ah itu dengan hukum memakan daging babi dan meminum darah. Karena memakan daging babi dan meminum darah itu diperbolehkan lantaran karena kondisi darurat. Dan tidak ada kan hadits tentang memakan daging babi bangkai dan darah diharamkan setelah sebelumnya dihalalkan?

              Hehehe…bingung kan? Anda saat ini diantara dua pilihan.

              Pertama, Anda akan menganggap bahwa nikah mut’ah itu diperbolehkan karena kondisi darurat, maka konsekuensinya tidak logis jika nikah mut’ah diharamkan seterusnya sampai hari kiamat. Hal ini lantaran kondisi darurat yang menjadi penyebab diperbolehkannya nikah mut’ah masih dimungkinkan ada.

              Atau yang kedua, Anda akan menganggap bahwa nikah mut’ah diperbolehkan dalam segala kondisi, konsekuensinya hadits diharamkannya nikah mut’ah untuk selama-lamanya oleh Nabi itu menjadi logis. Tetapi tidak sampai di sini, akan muncul persoalan dari riwayat-riwayat pengharaman tersebut. Dan itu yang perlu ditelaah lagi.

              Jadi, bagaimanapun argumen Anda, saya siap membantahnya dengan dalil naqli dan aqli. Karena memang argumen yang mengatakan bahwa nikah mut’ah diharamkan itu adalah argumen yang lemah dan tidak memiliki dasar hujjah yang kuat.

              Tidak perlu juga saya sampaikan bukti bahwa Ahlulbayt melakukan nikah mut’ah. Cukuplah para sahabat Nabi yang katanya generasi terbaik dari umat ini pun melakukannya.

              Sampaikan saja riwayat yang mengatakan bahwa Imam Ali pingin menikah lagi dan Fathimah serta Nabi tidak ridho. Sampaikan saja, beserta sanadnya, biar kita kritisi. Apalagi jika Anda anggap riwayat itu bercerita bahwa Imam Ali ingin menikah mut’ah. Hehehe…sorry cuy…Anda salah lagi kali ini. Itu poligami, bukan nikah mut’ah. Makanya baca riwayatnya yang baik sebelum ngejeplak di sini.

              Jika Anda menganggap bahwa Nikah mut’ah itu hanya alasan saja untuk membenarkan perzinahan, maka sebetulnya Anda telah menganggap bahwa Allah dan Rasul-Nya telah membenarkan hal itu. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menghalalkan nikah mut’ah. Astaghfirulllah…tuduhan yang sangat keji. Bertaubatlah dari tuduhan bahwa Allah dan Rasul-Nya telah membenarkan perzinahan serta merendahkan martabat kaum wanita.

              Baca lagi riwayat-riwayat di dalam kitab Ahlussunnah. Bahkan ada sahabat Nabi yang nikah mut’ah dengan seorang wanita hanya dengan sehelai selimut saja. Apakah Anda akan menuduh sahabat Nabi itu telah merendahkan wanita? Ckckck…berpikirlah dengan bijak. Jangan bawa hawa nafsu di sini, tetapi bawalah nalar yang sehat serta ketundukan kepada syariat.

              • Desember 9, 2011 pukul 1:59 pm

                Ngawur ? apakah ngawur jika membandingkan hukum yg sama, yg pada awalnya dibolehkan kemudian diharamkan ? Maksud saya membandingkan dgn khamar ingin menunjukkan ke anda, ada hukum2 dalam islam yg pada awal islam di ajarkan Rasul itu dibolehkan karena kondisi yg tidak memungkinkan jika harus di larang saat itu juga. Lalu kemudia di haramkan oleh Allah kemudian setelah melihat kuatnya keimanan umat islam saat itu.

                Darurat karena saat itu dalam keadaan perang, apa menurut anda kita lagi perang saat ini sehingga shiah menghalalkannya ?

                Lagi pula mengapa tidak perlu anda memberikan bukti kalau ahlulbait pernah melakukan nikah mut’ah ? Apa karena tidak memang tidak ada ? Tolong berikan saja buktinya kalau memang anda mengaku pencinta mereka

                • Desember 9, 2011 pukul 2:18 pm

                  Menurut saya jelas itu ngawur. Karena kalau dibolehkannya nikah mut’ah itu karena kondisi darurat, tidak bisa disamakan dengan hukum khamar. Tetapi tepat jika disamakan dengan hukum memakan bangkai daging dan minum darah.

                  Tetapi anggapan bahwa nikah mut’ah itu karena kondisi darurat, perlu pembuktian yang lebih tekstual (obyektif) ketimbang sekedar tafsiran yang subyektif. Tidak ada nash baik Al-Qur’an maupun hadits yang mengatakan bahwa nikah mut’ah dibolehkan karena kondisi darurat. Silakan kalau ada, saya jadi penasaran.

                  Untuk apa Anda ingin bukti bahwa Ahlulbayt pernah melakukan nikah mut’ah? Kita tidak berbicara apakah ahlulbayt itu nikah mut’ah atau tidak. Tetapi kita bicara hukum. Tolong Anda jangan alihkan diskusi ini keluar konteks. Gak usahlah Anda muluk2 minta bukti bahwa Ahlulbayt itu pernah melakukan nikah mut’ah. Cukuplah para sahabat Nabi yang melakukan nikah mut’ah sebagai bukti bahwa nikah mut’ah itu halal. Kalau Ahlulbayt tidak pernah nikah mut’ah apa kemudian lantas Anda akan berkicau bahwa nikah mut’ah itu haram? Logika apa ini? ngawur kalau kayak gitu…

                  Jabir bin Abdillah berkata, “Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”

                  Itu cukup sebagai bukti bahwa nikah mut’ah itu halal dan pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi. Tidak perlu argumentasi Ahlulbayt. Cukuplah dengan argumentasi yang ringan jika itu bisa membuktikan. Kecuali jika belum cukup membuktikan, barulah gunakan argumentasi yang lebih berat lagi. Itulah cara berdiskusi yang baik.

                  • Desember 9, 2011 pukul 2:28 pm

                    hehehehe, disini adalah bukti kalau anda tidak bisa menunjukkan buktinya. Jika hukumnya dalam islam adalah halal. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali yang akan melaksanakannya karena hukum Allah diturunkan pertama kali kepada beliau. Tapi yang beliau lakukan adalah poligami bukan nikah mut’ah.

                    Ssudahlah, saya tidak mau berdebat lebih jauh lagi sebelum anda memberikan buktinya, untuk apa, percuma saja jika anda mengaku pencinta ahlul bait tapi melakukan apa yang ahlul bait sendiri tidak pernah melakukannya.

                    Lakum dinnukum walyadiin.

                    • Desember 9, 2011 pukul 2:52 pm

                      hehehe…logika ngawur Anda tampilkan kembali. Saran saya Anda belajar dulu tentang logika dan cara berpikir benar sehingga tidak terjebak pada fallacy.

                      Nikah mut’ah itu bukan perintah. Nikah mut’ah itu dibolehkan. Karena dibolehkan, tidak harus Nabi dan Ahlulbaytnya serta para sahabatnya melakukan. Namanya juga boleh, ya gak harus. Kecuali perintah, maka itu harus.

                      hehehe…teruslah berkilah dengan komentar2 yang gak jelas. Sekarang saya tanya, jika Ahlulbayt ternyata tidak pernah melakukan nikah mut’ah, apakah kemudian membuat hukum nikah mut’ah menjadi haram? Kalau iya, maka Anda harus menjawab pertanyaan saya yang berikutnya yakni, Apakah kemudian Anda hendak mengatakan para sahabat Nabi melakukan sesuatu yang haram karena saya sudah buktikan tadi bahwa sahabat Nabi justru melakukannya.

                      Premis I: Nikah mut’ah itu haram karena Ahlubayt tidak pernah melakukannya.
                      Premis II: Sahabat Nabi melakukan nikah mut’ah.
                      Kesimpulan: Jadi sahabat Nabi telah melakukan perbuatan yang haram.

                      Apakah itu silogisme yang hendak Anda susun? Kalau iya, maka bertaubatlah karena Anda telah menuduh sahabat Nabi melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah.

                      Hehehehe…sudahlah…berhentilah menggunakan cara berpikir yang ngawur.

                    • Desember 9, 2011 pukul 2:55 pm

                      Anda mengatakan, “percuma saja jika anda mengaku pencinta ahlul bait tapi melakukan apa yang ahlul bait sendiri tidak pernah melakukannya.”

                      Pertanyaanya, Apakah setiap yang dilakukan Nabi dan Ahlulbaytnya itu harus diikuti? Jika Nabi poligami, maka setiap wanita harus berpoligami? kalau setiap lelaki harus berpoligami, maka semua wanita yang single harus mau donk dipoligami? hehehe…itulah konsekuensinya jika kita merunut kengawuran Anda lebih jauh lagi. So, jangan lanjutkan kengawuran Anda dalam berpikir.

                    • Desember 9, 2011 pukul 3:10 pm

                      Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, ia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: Ada selimut seperti selimut. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam.

                      apa hadist ini yang anda maksud sahabat melakukan nya ? Kalau baca hadist jangan setengah2 dong….bisa menyesatkan orang lain itu, ini saya kutip hadist aslinya.

                      Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, ia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: Ada selimut seperti selimut. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi SAW sedang berpidato di antara pintu Ka’bah dan Hijir Ismail. Beliau bersabda: Wahai sekalian manusia, Aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang mempunyai istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari kiamat. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim (II/ 1024), Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud (II/ 226, 2072), Imam Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah (I/ 631), Imam al-Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Nasa’i (VI/ 1303), Imam al- Darimi dalam kitabnya Sunan al-Darimi (II/ 140) dan Imam Ibnu Syahin dalam kitabnya al- Nasikh wa al- Mansukh min al-Hadits hal 215).

                    • Desember 12, 2011 pukul 12:04 pm

                      hmm aneh banget, kenapa reply an saya yg terakhir ga di approve disini. Apa karena anda tidak bisa lagi membantah bahwa Allah dan Rasul Nya sudah mengharamkan nikah mut’ah ?. Jangan anda bilang itu hadist lemah karena anda sendiri yang mengakui hadist itu pada awalnya, hanya saja hadistnya anda potong.

                      Jangan karena menurutkan hawa nafsu anda menjadi seperti ahli kitab yang sudah di ancam oleh Allah dengan menyampaikan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain :

                      Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (QS. 2:174).

                      Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, ia berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: Ada selimut seperti selimut. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi SAW sedang berpidato di antara pintu Ka’bah dan Hijir Ismail. Beliau bersabda: Wahai sekalian manusia, Aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang mempunyai istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari kiamat.

                      (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim (II/ 1024), Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud (II/ 226, 2072), Imam Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah (I/ 631)

                    • Desember 12, 2011 pukul 1:18 pm

                      bukannya saya bermaksud menyembunyikan komentar Anda, melainkan komentar Anda secara otomatis masuk ke folder SPAM. Itu sudah saya tampilkan komentar Anda. Ada 3 komentar Anda yang tertahan di folder SPAM, tetapi karena isinya sama sehingga saya hanya menampilkannya satu saja.

                      Soal riwayat dari Saburah, saya menggunakan argumentasi dengan riwayat tersebut untuk menunjukkan bahwa hadits itu adalah hadits yang ada di kitab Ahlulsunnah. Selain itu, saya juga ingin menunjukkan kepada Anda bahwa para sahabat Nabi melakukannya, bahkan dengan sehelai selimut. Saya menggunakan riwayat itu dengan asumsi bahwa Anda adalah seorang Ahlussunnah dan mempercayai riwayat itu.

                      Komentar itu saya sajikan stelah Anda mengatkan bahwa nikah mut’ah merendahkan derajat wanita. Jika Anda katakan bahwa nikah mut’ah itu merendahkan derajat wanita, sedangkan para sahabat Nabi melakukannya bahkan dengan segenggam kurma dan ada juga yang sehelai selimut (dalam riwayat lain dua helai selimut berwarna merah), maka secara tdak langsung Anda telah menuduh para sahabat Nabi itu merendahkan derajat wanita.

                      Nah, lalu bagaimana posisi sikap saya terhadap riwayat dari Saburah tersebut?

                      Hadits dari Saburah mengenai hal ini berjumlah tujuh belas, Imam Muslim meriwayatkan dua belas darinya, Imam Ahmad meiwayatkan enam, Ibnu Majah meriwayatkan satu hadis. Dan di dalamnya terdapat banyak berbeda-beda dan ketidak akuran antara satu riwayat dengan lainnya.

                      Di antara kontradiksi yang ada di dalamnya ialah:

                      A. Dalam satu riwayat ia menyebutkan bahwa yang bermut’ah dengan wanita yang ditemui adalah ayahnya, sementara dalam riwayat lain adalah temannya.

                      B. Dalam sebuah riwayat ia menyebutkan bahwa bersama ayahnya adalah temannya dari suku bani Sulaim, sementara dalam riwayat lain adalah anak pamannya.

                      C. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa mahar yang diberikan kepada wanita itu adalah sehelai kain selimut, sementara dalam riwayat lainnya ia mengatakan dua selimut berwarna merah.

                      D. Sebagian riwayatnya mengatakan bahwa wanita itu memilih ayahnya karena ketampanan dan ayahnya masih muda sementara yang lain mengatakan karena selimut ayahnya masih baru.

                      E. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sempat bersama wanita itu selama tiga hari sebelum akhirnya dilarang Nabi saw. sementara yang lainnya mengatakan bahwa hanya semalam, dan keesokan harinya telah dilarang.

                      F. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sejak hari pertama kedatangan di kota Mekkah telah keluar mencari wanita yang mau dinikahi secara mut’ah, sementara yang lainnya mengatakan bahwa itu setelah lima belas hari, setelah Nabi saw. mendapat laporan bahwa wanita-wanita di Mekkah tidak mau kecuali nikah dengan jangka waktu, kemudian Nabi saw. mengizinkan dan Saburah pun keluar mencari wanita yang mau dinikahi.

                      Bahkan setahu saya saat itu merupakan fathu mekkah, bukan pada saat perjalanan haji seperti yang Anda kutip.

                      Sebetulnya sudah jelas dari diskusi kita selama ini.
                      1. Jika Anda katakan bahwa nikah mut’ah itu bersifat rukhsah, darurat, maka tidak logis jika kemudian Nabi mengharamkannya. Dan nikah mut’ah boleh dilakukan sampai hari kiamat nanti selama syarat daruratnya terpenuhi. Jadi untuk apa diharamkan oleh Nabi sampai hari kiamat?

                      2. Tidak tepat jika dikatakan nikah mut’ah itu merendahkan derajat kaum wanita. Karena jika seperti itu, maka Anda telah menuduh Nabi membolehkan sahabatnya untuk merendahkan derajat kaum wanita, meskipun sesaat.

                      3. Yang mengharamkan nikah mut’ah sebetulnya bukan Nabi Muhammad, melainkan Umar bin Khattab seperti perkataannya, “Ada dua bentuk mut’ah yang keduanya berlaku di sama Rasulullah saw., aku melarang keduannya dan menetepkan sanksi atas (yang melaksanakan) keduanya: haji tamattu’ dan nikah mut’ah.

                      Ucapan pengharaman ini begitu masyhur dari Umar dan dinukil banyak ulama dalam buku-buku mereka, di antaranya: Tafsir al-Razi.10,50, Al-Jashshash. Ahkam Alqur’an.2,152, Al-Qurthubi. Jami’ Ahkam Alqur’an.2,270, Ibnu Qayyim. Zaad al-Ma’ad.1,444 dan ia megatakan” dan telah tetap dari Umar…, Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah.1,182 dan 12,251 dan 252, Al-Sarakhsi al-Hanafi. Al-Mabsuuth, kitab al-Haj, bab Alqur’an dan ia mensahihkannya, Ibnu Qudamah. Al-Mughni.7,527, Ibnu Hazam. Al-Muhalla.7,107, Al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-Ummal.8,293 dan294, al-Thahawi. Syarh Ma’ani al-Akhbaar.374 dan Sunan al-Baihaqi.7,206.

                      Bagaiamana dapat kita benarkan riwayat-riwayat pengharamkan itu sementara kita membaca bahwa Jabir ibn Abdillah ra. berkata dengan tegas, “kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”

                      Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”

                      Jadi pada masa Abu Bakar, masih saja ada sahabat Nabi yang melakukan nikah mut’ah. Dan barulah pada zaman Umar, Umar melarangnya karena kasus penyimpangan yang dilakukan oleh Amr ibnu Huraits. Jika memang nikah mut’ah sudah diharamkan, lalu mengapa masih saja ada sahabat Nabi yang melakukan nikah mut’ah pada zaman Abu Bakar dan Umar?

                    • Desember 12, 2011 pukul 2:10 pm

                      apa hadist dari jabir itu shahih ? siapa perawinya ?

                    • Desember 12, 2011 pukul 3:31 pm

                      قال عطاء قدم جابر بن عبدالله معتمرا فجئناه في منزله فسأله القوم عن أشياء ثم ذكروا المتعة فقال نعم استمتعنا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وعمر

                      Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, kami melakukan mut’ah pada masa hidup Rasulullah SAW, masa hidup Abu Bakar dan masa hidup Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

  3. Maret 22, 2012 pukul 5:34 am

    Terlepas benar dan salah serta pro dan kontra nikah mutah

  4. seggaffo
    April 11, 2013 pukul 8:16 am

    Suatu pembolehan bisa dibatalkan jika lebih banyak negatif dibanding bagusnya, itulah yang Umar RA, putuskan. Ia membatalkan Mut’ah karena semakin kesini semakin jelas tidak baiknya. Dan Sayidina Ali RA pun tunduk akan keputusan itu.

  5. amna
    Juli 18, 2013 pukul 4:53 am

    saya telah membaca banyak artikel tentang nikah mut’ah dan saya menyimpulkan :

    manfaat nikah mut’ah :
    1. laki-laki dan perempuan dapat menyalurkan nafsu syahwatnya dengan mudah. Dalam pemikiran pelaku mut’ah bahwa mereka melakukan hubungan seksual yang halal tanpa harus dibebani dengan kewajiban suami istri (terutama bagi si laki-laki : dia tak punya kewajiban untuk memberi nafkah istri dan anak yang lahir dari nikah mut’ah tersebut).

    Mudharatnya :
    1. Anak yang lahir dari nikah mut’ah statusnya tidak jelas, memang identitas ayahnya jelas tapi ayahnya tidak punya kewajiban untuk merawat anak tersebut dan anak tersebut tidak punya hak untuk menjadi pewaris ayahnya. Jika anak itu perempuan siapa yang akan menjadi walinya saat ia menikah nanti? Dapat dikatakan bahwa secara hukum negara dan hukum agama status anak tersebut hampir sama dengan anak yang lahir di luar nikah.

    2. Nikah mut’ah hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, bisa sebulan, seminggu, atau sehari, tergantung kesepakatan kedua belah pihak dan tergantung kemampuan si laki-laki dalam membayar mahar, lalu apa bedanya nikah mut’ah dengan pelacuran?

    3. Bagi orang yang meyakini nikah mut’ah itu halal maka besar kemungkinan ia melakukannya berkali-kali dalam hidupnya, bahkan tidak tertutup kemungkinan orang yang sudah beristri pun masih melakukannya. Dalam ilmu medis bukan rahasia lagi bahwa berganti-ganti pasangan dapat menyebabkan penyakit kelamin, bukan hanya si pelaku saja yang akan terkena penyakit, namun ia juga akan menularkannya pada istri sahnya.

    Memang dalam islam diizinkan memiliki empat orang istri (ingat : diizinkan, bukan diwajibkan), namun hal ini tidak akan menyebabkan penyakit kelamin jika si suami hanya melakukan hubungan seksual dengan istri-istrinya saja. Artinya dia tidak berganti pasangan setiap bulannya tapi hanya melakukannya dengan empat orang istrinya tersebut seumur hidupnya. Penyakit kelamin itu hanya terjadi jika pasangan seksual berganti-ganti, artinya tiap bulan atau bahkan tiap minggu pasangannya berbeda-beda. Memang dalam pernikahan ada kemungkinan terjadinya perceraian dan si suami akan mencari istri baru setelah bercerai, namun proses pernikahan dan perceraian itu lebih rumit dibandingkan nikah mut’ah, jadi kecil kemungkinan ada pasangan yang bercerai setelah seminggu atau sebulan menikah.

    4. Bagaimana dengan nasib wanita yang dinikahi secara mut’ah? Akankah ada laki-laki yang bersedia menjadikannya istri yang sah jika laki-laki tersebut mengetahui bahwa si wanita sudah pernah atau bahkan sudah sering melakukan nikah mut’ah? Jika ada anak yang lahir dari nikah mut’ah tersebut, maka dia harus membesarkan anak tersebut sendirian Lalu bagaimana jika dia merasa tidak sanggup membesarkan anak tersebut? apakah anak tersebut akan berakhir di panti asuhan, atau diserahkan untuk diadopsi, atau mungkin justru diaborsi sebelum ia lahir?

    Gunakan akal sehat anda. Islam membawa keselamatan dan kebaikan bagi umatnya. Berpikirlah, nikah mut’ah itu lebih banyak manfaat atau mudharatnya?

    • Juli 18, 2013 pukul 4:59 am

      Hehehe harusnya kata2 Anda itu Anda sampaikan ke Nabi Muhammad. Kenapa dulu dia membolehkan nikah mut’ah yang ternyata banyak mudharatnya? Tanya ke sahabat Nabi yg melakukannya? Apa mereka gak mikir hak2 perempuan?
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

      • amna
        Juli 18, 2013 pukul 5:16 am

        Memang benar, nikah mut’ah ini pernah dibolehkan ketika awal Islam, tapi kemudian diharamkan, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim:

        “Yang benar dalam masalah nikah mut’ah ini adalah bahwa pernah dibolehkan dan kemudian diharamkan sebanyak dua kali; yakni dibolehkan sebelum perang Khaibar, tapi kemudian diharamkan ketika perang Khaibar. Kemudian dibolehkan selama tiga hari ketika fathu Makkah, atau hari perang Authas, kemudian setelah itu diharamkan untuk selamanya sampai hari kiamat”.

        Allah dan rasulnya tentu lebih mengetahui mengapa nikah mut’ah tersebut pernah dibolehkan, namun semua orang yang berakal tentunya dapat mengetahui mengapa nikah mut’ah diharamkan.

    • amna
      Juli 18, 2013 pukul 5:09 am

      Bagi saya, apapun kata orang, nikah mut’ah tetap haram

  6. sum
    Desember 15, 2013 pukul 5:11 am

    14 abad yg lalu sejarah Islam telah dan sedang berlamngsung jk hanya mengandalkan imam 12 secara membabi buta adalah hal yg keliru

Comment pages
  1. Maret 29, 2011 pukul 7:02 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 202 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: