Beranda > Tulisan Orang > Agama dan Kekerasan

Agama dan Kekerasan

Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Jakarta – “Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama,” tulis Sam Harris, yang bersama Daniel Dennett dan Richard Dawkins dikenal sebagai the Unholy Trinity of Atheism.

“Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, tetapi -masih kata Harris dalam The End of Faith: Religion: Terror and the Future of Reason – “karena agama telah menjadi sumber kekerasan sekarang ini dan pada setiap zaman di masa yang lalu”.

Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih banyak bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan.

Alkisah, ada seorang Inggris yang sangat religius. Kalau bukan orang yang tekun ibadat, ia orang yang rajin ‘mencoba’ berbagai agama. Ia dibesarkan sebagai Anglikan, dididik sebagai Methodist, berpindah kepada Greek Orthodoxy karena perkawinan, dan dikawinkan kembali oleh seorang rabbi Yahudi.

Sebagai wartawan, ia mengembara secara geografis dan intelektual. Ia mengumpulkan setumpuk data tentang keterlibatan semua agama dalam berbagai peperangan dalam sejarah. Hasil pengembaraan ‘spiritualnya’ membuahkan buku: god (dengan huruf kecil) is not Great. Ia menuliskan namanya dengan setiap huruf pertamanya huruf besar: Christopher Hitchens. Ia membagi bab-bab dalam bukunya berdasarkan kontribusi setiap agama pada pembunuhan, peperangan, dan kekejaman. Seumur hidupnya, ia menjadi pendakwah ateis yang efektif, terutama terhadap orang-orang yang menjadi korban kekejaman agama.

Setelah Hitchens, Dan Baker menulis buku dengan judul yang ditulis dengan huruf kecil dan subjudul dengan huruf besar semua: godless, How an Evangelical Preacher Became One of America’s Leading Atheists. Jawab: Karena tindakan kekerasan umat beragama.

Ayaan Hirsi Ali untuk Islam sama dengan Hitch dan Dan Baker untuk Kristen. Ia lahir di Somalia, dari keluarga bangsawan Muslim. Waktu remaja, ia masuk sekolah muslimah yang berbahasa Inggris dan didanai Saudi. Guru-gurunya keluaran Saudi. Dengan semangat ia berpindah dari mazhab Syafii yang toleran kepada mazhab baru yang sangat keras. Hidup dengan aliran keras ini tidak membahagiakannya. Ia menyaksikan berbagai tindakan kekerasan, terutama kepada perempuan, atas nama agama.

Ia mengungsi ke negeri Belanda. Di sini, ia mendapat perlakuan yang tidak enak dari sesama Muslim. Setelah kecewa dengan peristiwa 11 September, setelah membaca Manifesto Atheis dari Herman Philipse, secara resmi ia meninggalkan Islam dan menyatakan diri Atheis.

Pada 2004, Ayaan, yang kini menjadi anggota Parlemen Belanda, menulis naskah dan menyediakan suara untuk film pendek Submission. Seorang aktris, berpakaian chador yang tembus pandang, mengisahkan penderitaan empat tokoh perempuan yang ditindas atas nama Islam.

Melalui chador yang transparan, penonton melihat tubuh telanjang yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Film ini tentu saja menimbulkan kemarahan hatta di negeri Belanda sekalipun. Produsernya, Theo van Gogh, dibunuh di jalan di Amsterdam. Di atas jenazahnya diselipkan surat dan pisau yang berisi ancaman kepada Ayaan. Ia ditunjuk Time sebagai 100 most influential people in the world. “This woman is a major hero of our time,” kata Richard Dawkins, anggota trinitas Atheis. Hirsi Ali menjadi dewi ateis sedunia.

Walhasil, kenapa orang menjadi atheis? Karena mereka menyaksikan atau mengalami sendiri tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Agamanya sendiri sebetulnya hanya menjadi kambing hitam. Bisa saja orang menyulut konflik karena motif-motif sekular –misalnya, ekonomi, politik, rasialisme – tetapi mereka menyelimuti nya dengan jubah agama.

Jika kita belajar sejarah, kita akan segera tahu bahwa konflik Palestina adalah konflik etnis (Yahudi yang terdiri dari 22,9 persen ateis, 21 persen sekular dan sisanya menganut agama Yahudi dan etnis Arab yang terdiri dari Islam dan Kristen); bahwa konflik di Irlandia Utara disebabkan karena masalah etnis-politis, setelah Inggris mendirikan Perkebunan Ulster tahun 1609; bahwa konflik bersenjata antara Pakistan dan India tentang Kashmir ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah kolonial Inggris, dan bukan karena anjuran Kitab Suci; bahwa perang Irak dan Iran dimulai dari perebutan wilayah, bukan karena perbedaan mazhab (terbukti setelah perang diketahui bahwa Syiah juga mayoritas di Irak).

Bagaimana dengan konflik Sunnah dan Syiah di berbagai tempat di Jawa Timur, termasuk Sampang? “Bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena perbedaan pendapatan,” kata petinggi NU masih dari daerah yang sama. Rois dan Tajul, kakak-beradik, dilantik sebagai pengurus Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia) pada 2007. Pada 2009, mereka terlibat konflik keluarga, antara lain karena masalah santri perempuan di pesantren Tajul.

Karena persoalan pendapatan, Rois meninggalkan paham Syiah dan beralih pendapat. Katanya, “Saya kembali ke Nahdhiyin, karena banyaknya penyimpangan dalam ajaran Syiah”. Pada pengujung 2011, Rois –menurut pengakuannya sendiri- membiarkan orang-orang yang sependapat dengan dia menghancurkan teritori dan massa pengikut saudaranya. Media melaporkan, “Roisul Hukama memimpin massa Ahli Sunnah untuk menyerang perkampungan dan pesantren Tajul Muluk, yang berpaham Syiah”. Para tokoh Islam, dengan pendapatan yang lebih besar, kemudian menabuh genderang perang. Atas nama agama!

Siapakah yang beruntung? Tidak satu pihak pun. Tidak Rois dan tidak Tajul. Siapakah yang menang? Kaum ateis. Mereka punya amunisi baru. Mereka akan menisbahkan tindakan kekerasan dan kekejian kepada agama. Tidak jadi soal apakah penyebab yang sebenarnya itu berasal dari masalah ekonomis, politis, ideologis, ethnis, atau sekedar pertikaian di antara keluarga miskin di kampung yang miskin!

*) Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia.

Sumber: Detik.com

  1. Januari 31, 2012 pukul 5:26 pm

    Sependapat dengan tulisan ini…., kekerasan hanya akan menimbulkan huru hara dan ketakutan bagi masyarakat

    salam kenal

    umaee :D

  2. Februari 13, 2012 pukul 6:28 am

    Saya semakin yakin akan KESESATAN syiah.
    Wajar saja kaum Muslimin semakin marah, karena agama mereka diselewengkan dari ajaran yang sebenarnya. Lebih baik syiah keluar saja dari agama Islam karena tidak mau mengikuti ajaran Islam secara menyeluruh.

    • Februari 13, 2012 pukul 7:26 am

      ​”̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ barang kali Anda yang sesat dan senang memecah belah umat Islam. Di Iraq sana sunni syi’ah akur, bahkan saling menikahi satu dengan yg lain. Eh ini ada orang dungu kayak ente yg malah seneng memecah belah sunni syi’ah. Dasar antek2 Zionis
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  3. sofie
    Februari 15, 2012 pukul 7:57 am

    kadang makin gerah lihat di berita2 kekerasan atas nama agama, konflik FPI dengan masyarakat dan yang terbaru bentrok MMI di Jogja karena aksi teatrikal anti kekerasan atas nama agama, kalaupun tindakan aksi teatrikal tersebut dinilai salah kan seharusnya bisa dibicarakan baik2 atau didiskusikan dan cari jalan keluarnya bersama, bukannya langsung main hajar aja. Jika MMI merasa tidak melakukan kekerasan seperti yang disindirkan yang dilakukan oleh seniman tersebut, maka MMI tidak perlu tersinggung dan malah harusnya mendukung bahwa mereka juga sependapat dengan seniman tersebut, tapi yang terjadi malah MMI membubarkan aksi tersebut dengan kekerasan, hal ini menunjukan bahwa MMI memang menyelesaikan masalah sepele seperti itu dengan kekerasan. Begitulah kalo otak udah didoktrin seperti itu, yang salah (versi mereka) harus diberantas dengan kekerasan.
    Dari hasil rekaman tersebut masyarakat bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah.

    • arif
      Maret 8, 2012 pukul 4:08 pm

      malah berita terbaru di jokja bentrok fpi dan fji sama2 teriak Allahuakbar saling lempar batu, saling ingin menyakiti lawannya. Wah pertanda apa ya? jika umat masih mengedepankan kekerasan tinggal tunggu waktu saja akan banyak umat islam yang masih awam akan lari dari islam. Kalau semuanya sama2 merasa berhak mengatasnamakan Tuhan demi kepentingannya, memang benar akhirnya paham atheis yang akan banyak pengikutnya. Ya saya sendiri tidak setuju dengan paham2 saudara2 saya yang mengedepankan kekerasan dalam bertindak dan gampang sekali menghalalkan darah manusia. Paham2 orang2 dari timur tengah yang keras jangan dijadikan acuan kita dalam beragama, terbukti mereka sendiri juga tidak pernah bisa bersatu dan perang antar sesamanya.

  4. Maret 3, 2012 pukul 10:55 am

    Seperti biasanya, tulisan Kang Jalal sangat bagus. Trims artikelnya, semoga menyadarkan kita semua tentang masih adanya kekerasan atas nama agama. Selamat dan sukses selalu untuk Anda.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

  5. Yanto
    Maret 12, 2012 pukul 4:25 pm

    betul sekali, saya terlahir dari keluarga Katholik, kmdn pindah ke Islam. Setelah 30 tahun memeluk Islam, naik haji, dan menghibahkan tanah untuk pesantren, saya dibuat berpikir dua kali. Trtm ketika istri ikut salah satu mashab radikal, dimana dia menyalahkan semua yang saya lakukan (sbg orang Islam). Dan syeh-nya datang kerumah, mengutuk saya, dan mengusir saya keluar rumah, ketika saya tidak mau di bai’at. Akhirnya saya bercerai. ANak saya tidak boleh bertemu dengan ibunya, katanya anak haram, krn salah ketika akad nikahnya dulu. Saya betul2 tidak tahu, saya sudah tua, khog jadi begini, gara2 mashab saja. Akhirnya saya jadi apatis untuk menjalankan syariat agama. Tidak tahu mana yang betul.

  6. Juli 14, 2013 pukul 7:06 pm

    If you happen to be a music lover and you want to make the songs becomes more
    interesting, you ought to have subwoofer to accomplish your speaker system.

    You just ought to connect the fishing line level cable in the subwoofer preamp output from the AV receiver.
    Some wireless systems have the ability to transmit
    full 1080p high-definition signals.

  7. heru juiansyah
    Agustus 10, 2013 pukul 1:57 pm

    mengetahu berita konplik suni dan syiah disampang memang diakui sangat menyedihkan
    tapi saya bersyukur buka agama islam biangkeladinya . kalau agama islam yang disalahkan pasti dikatakan peristiwa hanya rekarasa kalangan tertentu untuk meyudutkan umat islam.

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 206 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: