Fatwa Anti Syiah Para Ekstrimis Wahabi

Para ekstrimis Wahabi kembali berbuat fatal menyangkut kerukunan umat Islam Sunni dan Syi’ah. Tak kurang dari 38 ulama Wahabi Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menghalalkan darah kaum Syiah. Fatwa ngawur ini tak urung dikecam bukan hanya oleh kaum Syiah, tetapi juga oleh para ulama dan tokoh Sunni di berbagai negara. Kecaman itu dinyatakan antara lain oleh Menteri Wakaf Mesir, Mohammad Hamdi, Ketua Komite Pendekatan Antar-Mazhab, Sheikh Mahmoud Asyur, Dirjen Persatuan Ulama Muslim, Dr. Salim al-Uwa, ulama tersohor Qatar Sheikh Yusuf Qaradhawi, dan Mahmud Osman, wakil Sunni di Parlemen Irak. Mereka kompak meneriakkan satu kata: “Fatwa itu batil!

Fatwa para ekstrimis Wahabi Saudi itu lebih merupakan respon bagi konspirasi AS dan Rezim Zionis Israel untuk memanggang negara-negara Timteng dengan konflik partisan. Washington dan Tel Aviv sudah lama mencari-cari cara yang ampuh untuk membuyarkan perhatian dan kewaspadaan umat Islam Timteng terhadap bahaya infitrasi militer AS di kawasan ini dan keberadaan senjata nuklir Israel.

Ketika cara-cara militer AS dan Israel kandas di Irak, Libanon, dan Palestina, kedua kekuatan antagonik itu lantas menempuh cara-cara lama, yaitu berusaha menyulut konflik antara kaum Sunnah dan Syiah. Upaya konspiratif ini dapat ditengarai antara lain dari merebaknya isu “Bulan Sabit Syi’ah”. Dalam isu ini disebutkan bahwa sebuah kekuatan Syiah sedang terbentuk di Timteng dalam formasi bulan sabit yang membentang mulai dari Iran kemudian melintas di Irak dan Suriah dan berujung di Libanon.

Isu ini mengesankan bahwa kaum Syiah akan menjelma sebagai monster untuk kaum Sunni. Dengan isu ini, negara-negara fanatik Sunni dan Wahabi semisal Arab Saudi diharapkan terlibat dalam sentimen kemazhaban, dan kemudian kewaspadaan mereka terhadap bahaya AS dan Israel memudar. Padahal, isu Bulan Sabit Syiah jelas mengada-ada dan tak beralasan. Seandainya pun isu itu faktual, maka itu adalah dinamika yang berbahaya bukan untuk kaum Sunni, melainkan untuk kekuatan-kekuatan Barat yang selama ini dominan di Timteng.

Kaum Syiah Iran, Irak, Suriah, maupun Libanon, tak pernah memiliki masa lalu konflik dengan kaum Sunni. Isu konflik Sunnah-Syiah di Irak yang merebak sejak negara ini diduduki AS bukanlah ukuran. Sebab, seperti dipastikan oleh banyak tokoh Irak sendiri, dalam konflik itu ada pihak ketiga, yaitu pasukan dan para agen intelijen asing serta jama’ah takfiriah yang mengatasnamakan Sunni atau Syiah dalam berbagai aksi teror.

Jama’ah takfiriah adalah stigma untuk segelintir Muslim yang tergabung dalam kelompok ekstrimis yang mengkafirkan Muslim lainnya yang tidak sepaham dengan mereka. Ekstrimis ini kebanyakan berasal dari aliran Wahabi, aliran yang para ekstrimisnya kini mengeluarkan fatwa yang menghalalkan darah kaum syiah.

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.