Memotret Figur Saddam

sadam-husein-2.jpgKontroversi dan pro kontra eksekusi mantan presiden diktator Irak Saddam Hossein kian terdengar nyaring di dalam dan di luar negeri. Dalam Irak sendiri, masyarakat Kurdi dan Syiah yang tertindas di era Saddam menyambut gembira kematian Saddam di tiang gantungan. Ketua Dewan Tinggi Revolusi Islam Irak Sayid Abdul Aziz al-Hakim yang juga memimpin Aliansi Irak Bersatu mendeklarasikan kematian Saddam sebagai akhir era despotisme di Irak.

Dalam khutbah solat Idul Adha di distrik Jadariyah, Baghdad, Al-Hakim mengucapkan selamat kepada keluarga korban kebengisan Saddam. Dia mengatakan, “Kepada seluruh rakyat merdeka di dunia dan rakyat Irak yang besar, terutama keluarga korban yang dibunuh Saddam, kami ucapkan selamat atas eksekusi Saddam.” Al-Hakim kemudian mengecam sikap sebagian negara Arab yang menyesalkan eksekusi Saddam. Di pihak Syiah lainnya, kelompok militan Moqtada Sadr melontarkan kecaman lebih keras. Penasehat Moqtada Sadr menyatakan, “Simpati kepada Saddam tak ubahnya dengan ikut andil dalam berbagai aksi kejahatan Saddam terhadap rakyat Irak.”

Di dunia Arab, pernyataan simpati untuk Saddam memang cukup ramai. Pernyataan simpati itu bisa sedikit dimengerti jika hanya dilihat dari satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya yang jauh lebih substansial untuk sosok Saddam. Aspek pertama sangatlah bias, karena memandang Saddam sebagai figur Arab dan Sunni yang berani berhadapan dengan AS dan Barat. Ini bias karena mengedepankan pan Arabisme dan semangat partisan kesunnian. Apalagi jika aspek ini mengabaikan masa lalu Saddam yang pernah bersekutu dengan Barat dalam berbagai aksi kejahatan.

Sedangkan pada aspek kedua, Saddam akan terlihat sebagai monster yang sangat menyeramkan dan haus darah. Betapa tidak, selama berkuasa seperempat abad, jutaan nyawa melayang akibat ulah dan ambisinya. Korbannya bukannya bangsa Iran dan Kuwait, tetapi juga rakyat Irak sendiri, terutama suku Kurdi di wilayah utara yang mayoritas Sunni dan warga Arab Syiah di wilayah selatan.

Dari aspek ini, jelas naif jika dosa-dosa Saddam itu harus diapologi hanya karena pada masa-masa akhir kekuasaannya dia terlibat konfrontasi dengan Barat atau pernah menembakkan rudalnya ke Israel. Lagi pula, Saddam berhadapan dengan Barat bukan karena dia memiliki jiwa negarawan atau pan-Arabisme, melainkan karena dia telah menganeksasi Kuwait dan membunuhi warga Syiah yang juga Arab. Dia menembak Israel hanya karena dia oportunis dan saat itu memerlukan simpati dan dukungan bangsa-bangsa Arab.

Pada kesimpulannya, Saddam tetap lebih identik dengan kekejaman dan agresi. Konfrontasi dengan Barat, apalagi pemicunya adalah kesalahan Saddam sendiri, bukan alasan untuk mengaburkan potret Saddam sebagai makhluk berdarah dingin dan haus darah.

Sumber: IRIB Bahasa Indonesia