Wasiat di Bulan Dzulhijjah

Oleh: Yasser Arafat

Bulan ini adalah Bulan Zulhijah, yang mana pada bulan ini bagi Umat Islam yang mampu, menunaikan ibadah haji. Umat Islam yang berbeda bangsa, suku, bahasa, warnat kulit, dan latar belakang berkumpul di Masjidil Haram dengan menggunakan pakaian yang sama, tidak ada beda di antara mereka. Pakaian yang mereka pakai jemaah haji adalah pakaian ihram yaitu kain putih yang tidak dijahit. Pakaian yang mereka kenakan itu melambangkan penyucian hati dan menggambarkan kesejajaran di hadapan Allah Swt.

Ada sebuah tradisi yang masih hidup di daerah tempat tinggal saya. Jadi kalau ada orang yang mau berangkat haji, para tetangga berbondong-bondong menuju rumah orang itu untuk melepas kepergiannya ke tanah suci dan membekalinya. Mungkin tradisi itu sesuai dengan hadits Rasulullah, “Siapa yang membekali orang yang haji atau mengurus keluarganya, atau memberi buka puasa pada yang berpuasa, baginya pahala yang sama tanpa mengurangi pahala yang haji dan puasanya.”

Jadi bagi kita yang tidak mampu naik haji tidak usah bersedih, karena jika kita membekali orang yang haji, insya Allah kita akan mendapatkan pahala yang sama seperti apa yang didapatkan oleh orang yang pergi haji. Mungkin bedanya, orang yang pergi haji udah pernah mencium hajar aswad, sedangkan yang hanya memberi bekal orang haji tidak pernah mencium hajar aswad.

Ngomong-ngomong masalah haji, saya teringat dengan sebuah riwayat yang mengisahkan percakapan Imam Ali Zainal Abidin as (salah satu keturunan Rasulullah sawaw) dengan seseorang yang bernama Asy-Syibli. Alkisah, Imam Ali Zainal Abidin as bertanya kepada Asy-Syibli yang baru saja menunaikan ibadah haji, “Pernahkah kamu hai Syibli berkunjung ke Masjidil Haram, ke rumah Allah Al-Haram?” “Tentu Wahai Putra Rasulullah.” Jawab Syibli. Imam bertanya lagi, “Apakah engkau haramkan bagi dirimu untuk menjatuhkan kehormatan sesama kaum Muslimin dengan lidahmu, tanganmu, dan perbuatanmu?” Asy-Syibli menjawab, “Tidak duhai putra Rasulullah.” Imam lalu berkata, “Kalau begitu engkau belum masuk ke Masjidil Haram.”

Berdasarkan riwayat di atas kita mendapatkan sebuah pelajaran. Kalau kita berangkat haji lalu pulang lagi ke kampung halaman dengan keadaan masih senang mempergunjingkan, mengejek, menyakiti hati, dan menjatuhkan kehormatan sesama kaum Muslimin, maka sama saja kita tidak berhaji.

Itu sedikit pelajaran bagi kita semua bahwa ibadah haji yang kita lakukan bisa gugur hanya karena kita menjatuhkan kehormatan sesama kaum Muslimin. Selanjutnya saya ingin membahas sebuah peristiwa penting yang terjadi pada bulan Zulhijah ini. Hadits yang akan saya bahas disini adalah hadits yang panjang, jadi saya akan sampaikan ringkasannya saja.Pada tanggal 18 Zulhijah ketika Rasulullah sawaw pulang dari ibadah hajinya (haji ini dikenal dengan haji wada), beliau sampai pada persimpangan jalan di sebuah oase yang bernama Khum. Rasulullah menyuruh para sahabat yang mendahului pergi untuk disusul kembali lagi. Yang tertinggal diminta untuk mempercepat perjalanannya. Di tempat itu para sahabat berkumpul. Rasulullah menyuruh sahabatnya membangun mimbar yang terbuat dari tumpukan pelana kuda. Kemudian di atas mimbar tersebut beliau menyampaikan wasiat-wasiatnya. Setelah itu beliau memanggil Imam Ali k.w lalu melingkarkan serban di kepala Imam Ali sambil mengangkat tangannya. Rasulullah sawaw bersabda, “Man kuntu maulahu fa hadza Aliyun maulah. Siapa yang menerima aku sebagai pemimpinnya, hendaknya juga menerima Ali sebagai pemimpinnya.” Hadits ini kemudian di kenal dengan nama hadits Ghadir Khum.

Hadits ini mencapai derajat Mutawatir karena diriwayatkan oleh puluhan sahabat. Tetapi anehnya, banyak di antara kita yang tidak mengenal hadits tersebut bahkan ada sebagian umat Islam yang menganggap hadits ini adalah hadits dha’if. Salah satunya adalah Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Rasulullah sawaw telah berwasiat bahwa siapa yang menganggap Rasulullah sebagai pemimpinnya, maka anggap Ali sebagai pemimpinnya juga. Allah berfirman, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya ruku’. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”(QS. al-Maidah : 55-56)

Banyak Mufassir menuliskan dalam kitab mereka bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Tholib k.w ketika beliau memberi sedekah kepada pengemis saat beliau sedang ruku’. Salah satu dari banyak Mufassir itu adalah Jalaluddin as-Suyuti dalam kitabnya Ad-Durrul Mantsur.

Ada sebuah riwayat yang menyinggung masalah kepemimpinan Imam Ali k.w. Suatu ketika salah seorang sahabat mendatangi Nabi, dia ingin memprotes Nabi sawaw. Dia merasa keberatan untuk menjadikan Imam Ali k.w sebagai pemimpinnya. Dia bertanya kepada Nabi sawaw apakah perintah Rasulullah sawaw mengenai kepemimpinan Imam Ali k.w itu berdasarkan wahyu atau bukan? Lalu Rasulullah berkata bahwa apa yang beliau katakan itu berasal dari Allah. Dengan perasaan tidak percaya, sahabat itu meninggalkan Nabi sawaw dan dengan sombongnya dia berdoa, “Ya Allah jika benar apa yang dikatakan oleh Muhammad itu, timpakanlah azab padaku.” Belum sempat sahabat itu sampai pada untanya, sebuah batu jatuh dari langit dan menghantam sahabat itu lalu membelah tubuhnya menjadi dua bagian.

Allahu Akbar, begitulah azab yang diturunkan Allah kepada sahabat itu. Dia tidak mempercayai kepemimpinan Imam Ali k.w. Apakah kita semua ingin seperti sahabat Nabi itu? Apakah kita ingin Allah menurunkan azabnya kepada kita hanya karena kita tidak percaya pada kepemimpinan Imam Ali bin Abi Tholib k.w?“Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang yang berpegang teguh pada wilayah dan kepemimpinan Imam Ali bin Abi Tholib k.w”[]