Beranda > News > Pesan Hari Raya Natal, Idul Adha dan Tahun Baru 2007; Ayatullah Muhammad Hussein Fadhlullah

Pesan Hari Raya Natal, Idul Adha dan Tahun Baru 2007; Ayatullah Muhammad Hussein Fadhlullah

Pesan Hari Raya Natal, Idul Adha dan

Tahun Baru 2007

Ayatullah Muhammad Hussein

Fadhlullah

Pesan Hari Raya Bagi Ummat Manusia

(Diterjemahkan oleh Mustamin al-Mandary dari Surat Ayatullah Muhammad Hussein Fadhlullah, pemimpin spiritual kaum Syiah di Lebanon, pada tgl 26 Desember 2006, kepada tokoh dan penganut agama-agama di Lebanon)

Hari raya yang diperingati oleh kamu Muslimin maupun kaum Kristiani memiliki pijakan spiritual yang sama di mana keduanya merepresentasikan sebuah tanggung jawab bagi umat Muslim dan Kristiani serta tanggung jawab terhadap kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, nilai dari perayaan hari raya adalah nilai dari perayaan terhadap tercapainya komitmen tanggung jawab ini serta untuk memberikan rasa aman secara sosial, ekonomi dan politis bagi seluruh ummat.

Oleh karena itu, hari raya kaum Kristiani, Muslim serta agama-agama yang lain bukan hanya berbarengan secara kebetulan saja, seperti halnya bersamaannya tahun baru Masehi dan Idul Adha (pada tahun 2006 ini), tetapi semua hari raya itu memiliki esensi spiritual dan kebajikan yang sama sebagai pancaran dari pesan-pesan samawi.

Namun dalam konteks ini, kita sedang menyaksikan suatu tren yang menunjukkan kecenderungan perayaan yang bersifat materialistis, namun Islam dan Kristiani ingin agar hari raya itu menjadi salah satu capaian dalam perjalanan seseorang untuk mewujudkan tanggung jawabnya serta menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah dicapai dan apa yang hilang dari kehidupan yang telah lalu. Mari jadikan wujud material perayaan ini sebagai sebuah perjalanan spiritual di mana seseorang bisa merasakan kedamaian dalam melayani kemanusiaan dengan kapasitas terbaik yang dimilikinya.

Sebagai contoh, Idul Fitri adalah sebuah hari yang merepresentasikan konsep Islam tentang perayaan kemenangan dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, suatu rentang waktu tertentu yang disiapkan khusus untuk memperkuat ketekunan, kesabaran, serta memperkokoh rasa empati terhadap penderitaan dan dukacita orang lain. Demikian juga Hari Raya Idul Adha yang merupakan perwujudan keinginan untuk mengabadikan konsep pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dimana beliau bersedia mengorbankan putranya demi memenuhi perintah Allah. Demikianlah bahwa hari raya hari raya itu memiliki implikasi spiritual.

Hari kelahiran Kristus juga merupakan momen spiritual yang agung. Kristus telah menghabiskan masa hidupnya dengan melepaskan diri dari keterikatan terhadap materi. Beliau hanya memperhatikan kedamaian serta dimensi spiritualnya di dalam kehidupan manusia, juga keadilan dan nilai-nilai moral dan spiritual yang menyatukan manusia.

Hal ini juga berlaku di dalam perayaan hari-hari nasional yang kita yakini bahwa kita tidak mesti merayakannya hanya dengan demonstrasi saja. Hal pertama yang harus kita pelajari adalah bagaimana meningkatkan persatuan, keamanan, dan kedaulatan negara.

Nilai dari setiap hari raya terletak pada keterbukaannya terhadap inspirasi dan ide-ide manusia. Sayangnya, nilai ini telah direduksi sehingga hari raya itu hanya menjadi momen degradasi dan kehancuran moral.

Perayaan tahun baru hijriah atau tahun masehi adalah untuk melihat semua pencapaian dan kegagalan di tahun lalu. Hal ini ini menjadi dasar dalam perencanaan langkah di tahun depan agar kita bisa mengatasi semua kegagalan di masa lalu dan untuk memperoleh pencapaian lain dalam rangka menjadikan negeri kita sebagai panutan bagi negeri lain dan menjadikan negara kita sebagai teladan bagi negara lain.

Kita mengakui bahwa kita memerlukan materi, tetapi hal itu harus dirujukkan kepada kebutuhan spiritual dari perasaan manusia serta tanggung jawab kebangsaan. Diharapkan hal ini akan meningkatkan level perasaan setiap orang dalam rangka membangun hubungan yang harmonis di antara sesama.

Dalam hal saling berbagi ucapan selamat dan saling mengunjungi satu sama lain, hal itu akan memberikan kontribusi dalam membangun hubungan sosial dan politik yang kuat sehingga kita akan semakin kuat dalam melawan rencana arogan dan perangkap yang telah direncanakan (oleh pihak-pihak lain) terhadap kita. Musuh kita adalah arogansi internasional yang menindas kemanusiaan atau bahkan kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu kita melihat bahwa kekuatan arogan telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan hari raya ini sebagai hari kesedihan dengan memunculkan sektarianisme. Inilah yang sedang dilakukan oleh Amerika di wilayah ini sehingga wilayah kita akan tetap menjadi daerah darurat yang bisa mencegah kita berpikir tentang tantangan-tantangan utama yang sedang kita hadapi. Mereka memenjarakan kita dengan kondisi buruk di negeri kita, khususnya apa yang terjadi di Irak yang diinginkan oleh Amerika sebagai model kekerasan berdarah di dunia Islam dan wilayah Arab.

Kita ingin agar hari raya Islam dan Kristen menjadi momen dimana semua mazhab dan agama duduk bersama untuk menyatukan wilayah dan barisan kita dalam menghadapi Amerika dan pendudukan . Kita juga mengharapkan hari raya ini menjadi momen bagi kita untuk mencapai keamanan nasional seperti yang diajarkan oleh Kristus yang menyerukan Cinta dan ajaran Muhammad yang meyerukan kasih saying. Dua nilai ini mewakili harapan kita tentang kedamaian dunia, kedamaian bagi seluruh ummat manusia di dalam ikatan kerjasama dan persaudaraan seluruh bangsa.

Oleh karena itu, hari raya kaum Kristiani, Muslim serta agama-agama yang lain bukan hanya berbarengan secara kebetulan saja, seperti halnya bersamaannya tahun baru Masehi dan Idul Adha (pada tahun 2006 ini), tetapi semua hari raya itu memiliki esensi spiritual dan kebajikan yang sama sebagai pancaran dari pesan-pesan samawi.

Namun dalam konteks ini, kita sedang menyaksikan suatu tren yang menunjukkan kecenderungan perayaan yang bersifat materialistis, namun Islam dan Kristiani ingin agar hari raya itu menjadi salah satu capaian dalam perjalanan seseorang untuk mewujudkan tanggung jawabnya serta menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah dicapai dan apa yang hilang dari kehidupan yang telah lalu. Mari jadikan wujud material perayaan ini sebagai sebuah perjalanan spiritual di mana seseorang bisa merasakan kedamaian dalam melayani kemanusiaan dengan kapasitas terbaik yang dimilikinya.

Sebagai contoh, Idul Fitri adalah sebuah hari yang merepresentasikan konsep Islam tentang perayaan kemenangan dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, suatu rentang waktu tertentu yang disiapkan khusus untuk memperkuat ketekunan, kesabaran, serta memperkokoh rasa empati terhadap penderitaan dan dukacita orang lain. Demikian juga Hari Raya Idul Adha yang merupakan perwujudan keinginan untuk mengabadikan konsep pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dimana beliau bersedia mengorbankan putranya demi memenuhi perintah Allah. Demikianlah bahwa hari raya hari raya itu memiliki implikasi spiritual.

Hari kelahiran Kristus juga merupakan momen spiritual yang agung. Kristus telah menghabiskan masa hidupnya dengan melepaskan diri dari keterikatan terhadap materi. Beliau hanya memperhatikan kedamaian serta dimensi spiritualnya di dalam kehidupan manusia, juga keadilan dan nilai-nilai moral dan spiritual yang menyatukan manusia.

Hal ini juga berlaku di dalam perayaan hari-hari nasional yang kita yakini bahwa kita tidak mesti merayakannya hanya dengan demonstrasi saja. Hal pertama yang harus kita pelajari adalah bagaimana meningkatkan persatuan, keamanan, dan kedaulatan negara.

Nilai dari setiap hari raya terletak pada keterbukaannya terhadap inspirasi dan ide-ide manusia. Sayangnya, nilai ini telah direduksi sehingga hari raya itu hanya menjadi momen degradasi dan kehancuran moral.

Perayaan tahun baru hijriah atau tahun masehi adalah untuk melihat semua pencapaian dan kegagalan di tahun lalu. Hal ini ini menjadi dasar dalam perencanaan langkah di tahun depan agar kita bisa mengatasi semua kegagalan di masa lalu dan untuk memperoleh pencapaian lain dalam rangka menjadikan negeri kita sebagai panutan bagi negeri lain dan menjadikan negara kita sebagai teladan bagi negara lain.

Kita mengakui bahwa kita memerlukan materi, tetapi hal itu harus dirujukkan kepada kebutuhan spiritual dari perasaan manusia serta tanggung jawab kebangsaan. Diharapkan hal ini akan meningkatkan level perasaan setiap orang dalam rangka membangun hubungan yang harmonis di antara sesama.

Dalam hal saling berbagi ucapan selamat dan saling mengunjungi satu sama lain, hal itu akan memberikan kontribusi dalam membangun hubungan sosial dan politik yang kuat sehingga kita akan semakin kuat dalam melawan rencana arogan dan perangkap yang telah direncanakan (oleh pihak-pihak lain) terhadap kita. Musuh kita adalah arogansi internasional yang menindas kemanusiaan atau bahkan kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu kita melihat bahwa kekuatan arogan telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan hari raya ini sebagai hari kesedihan dengan memunculkan sektarianisme. Inilah yang sedang dilakukan oleh Amerika di wilayah ini sehingga wilayah kita akan tetap menjadi daerah darurat yang bisa mencegah kita berpikir tentang tantangan-tantangan utama yang sedang kita hadapi. Mereka memenjarakan kita dengan kondisi buruk di negeri kita, khususnya apa yang terjadi di Irak yang diinginkan oleh Amerika sebagai model kekerasan berdarah di dunia Islam dan wilayah Arab.

Kita ingin agar hari raya Islam dan Kristen menjadi momen dimana semua mazhab dan agama duduk bersama untuk menyatukan wilayah dan barisan kita dalam menghadapi Amerika dan pendudukan . Kita juga mengharapkan hari raya ini menjadi momen bagi kita untuk mencapai keamanan nasional seperti yang diajarkan oleh Kristus yang menyerukan Cinta dan ajaran Muhammad yang meyerukan kasih saying. Dua nilai ini mewakili harapan kita tentang kedamaian dunia, kedamaian bagi seluruh ummat manusia di dalam ikatan kerjasama dan persaudaraan seluruh bangsa.

Sumber: Jalal Center

Kategori:News
  1. Maret 25, 2010 pukul 10:17 am

    salam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: