Beranda > Tulisan Orang > Dhul-Hijjah: Bulan Penyempurnaan Agama Islam

Dhul-Hijjah: Bulan Penyempurnaan Agama Islam

Dhul-Hijjah: Bulan Penyempurnaan Agama Islam

Oleh: Teguh Sugiharto, SE

Namun umat Islam pada umumnya melupakan atau malahan tidak mengetahui bahwa dalam bulan Dhul-Hijjah juga terjadi peristiwa lain yang tidak kalah besar (untuk tidak mengatakan jauh lebih akbar) untuk diperingati. Yaitu pada tanggal 18 Dhul-Hijjah 10 Hijrah (Haji Wada’) turun ayat penyempurnaan agama dan keridhaan Allah SWT pada umat, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS 5: 3). Artinya pada hari tersebut selesailah tugas Rasulullah SAW menyampaikan risalah. Hanya sebagian kecil umat Islam yang dengan konsisten merayakan dan memperingati hari bersejarah ini dan menyebutnya sebagai hari raya Idhul Ghadir mengambil nama tempat turunnya ayat tersebut.

Tampak jelas dalam ayat di atas bahwa Islam disempurnakan oleh Allah SWT sebagai agama bagi manusia sampai dengan akhir zaman. Penyempurnaan agama Islam terjadi sesudah Allah SWT menganugerahkan sebuah nikmat (telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku). Nikmat menjadi kata kunci dalam memahami ayat di atas karena nikmat tersebut adalah nikmat tersebut adalah sesuatu yang menjadi sebab sempurnanya agama dan dengannya Allah SWT meridhai Islam sebagai agama bagi manusia.

Sebagai umat yang selalu diperintahkan Allah SWT agar menggunakan akalnya maka sudah sewajarnyalah kita berusaha mendalami dan mencari makna atau tafsir dari ayat ini. Ayat ini dapat menjadi modal awal perenungan dan pencarian sehingga kita juga akan memperoleh nikmat tersebut dan mendapat keridhaan Allah SWT. Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah nikmat apakah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam khazanah Hadist dan tinjauan sejarah agama. Namun artikel ini hanya akan mencari jawabannya dalam Al-Qur’an. Itupun hanya sekadar pemicu atau petunjuk ringkas saja yang semoga dapat mendorong kita semua kembali membuka dan mempelajari Al-Qur’an yang merupakan petunjuk Allah yang akan tetap terjaga kebenaran dan keotentikannya sampai akhir zaman. Jika belum mampu memahami bahasa Arab maka merenungkan terjemahnya pun telah mencukupi sambil terus mencari dari berbagai sumber khususnya dari para ulama dari berbagai ragam pemikiran agar didapatkan kesimpulan umum yang cukup memuaskan dahaga keberagamaan.

Ternyata nikmat dimaksud dipandang Allah SWT sebagai sesuatu hal yang sangat penting. Malahan sebagai kunci sempurna atau cacatnya keislaman seseorang. Allah SWT berulangkali menanyakan nikmat tersebut khususnya dalam surat Ar-Rahman. Dalam surat ini setelah Allah SWT terangkan tentang berbagai nikmat yang dikurniakan kepada manusia maka Allah SWT menanyakan tentang nikmat. Alhasil, nikmat yang ditanyakan adalah nikmat yang belum disebutkan dalam surat ini. Maka untuk mengetahui nikmat apakah yang dimaksud kita harus mencari jawabannya dalam berbagai surat lainnya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahman: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77). Silakan meneliti Al-Qur’an tentang hal ini!

Tentang pentingnya nikmat dimaksud secara jelas dapat kita temukan dalam banyak ayat khususnya QS 55: 39, “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” tetapi “kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang nikmat.” (QS 102: 8) Ternyata Allah SWT pada hari kiamat tidak akan menanyakan dosa yang telah kita buat namun Allah SWT hanya menanyakan: apakah manusia mensyukuri nikmat yang menjadi sebab disempurnakannya Islam. Jelas yang ditanyakan pastilah hal yang sangat besar. Tanpa mengakui dan membawa nikmat ini maka Islam yang dibawa seseorang pada hari kiamat akan dipandang sebagai Islam yang tidak sempurna (karena Islam dipandang sebagai sempurna setelah Allah menganugerahkan nikmat dimaksud) alias Islam yang cacat. Apakah Allah SWT yang Mahasempurna menerima Islam yang cacat? “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” (QS Al Mursalat: 15, 19, 24, 28, 34, 37, 40, 45, 47, 49). Mengerikan…! Yang Mahabesar yang menyatakan bahwa siapapun yang mendustakan nikmat tersebut akan mendapatkan kecelakaan yang besar.

Menurut Al-Qur’an, Allah SWT tidak akan menerima ke-Islam-an seseorang yang tidak mensyukuri nikmat dimaksud karena penolakan (atau ketidaktahuan) ini menjadi penanda bahwa sesungguhnya keislaman seseorang mengandungi cacat yang fatal. Seseorang tersebut akan termasuk dalam kategori mereka yang menyimpang dan dimurkai. Bukti akan hal ini dapat dijumpai dalam bacaan shalat. Namun sayangnya kebanyakan umat Islam lengah dan telah merasa cukup dengan apa yang dilakukannya sehingga tidak memperhatikan makna bacaan shalatnya. Bukankah dalam setiap shalat, kita senantiasa membaca Surat Al-Fatihah? Tidakkah di dalamnya terdapat ayat, ihdinash shiratal mustaqim (QS 1: 6), penggunaan kata ash-shirat menunjukkan bahwa kata tersebut adlah kita tunggal. Dengan demikian terjemah dari ayat ini seharusnya adalah “Tunjukilah kami satu-satunya jalan lurus.” Setiap hari minimal 17 kali kita memohon petunjuk, namun sudahkah kita mendengar dan merenungkan jawaban Allah SWT yang ternyata langsung diberikan seketika itu juga.

Allah SWT menjawab permohonan kita dengan menunjukkan satu-satunya jalan lurus. Jalan lurus yang akan mengantarkan kita kepada Allah SWT, kepada tujuan penciptaan manusia adalah “…jalan mereka yang Engkau anugerahi Nikmat kepada mereka” (QS 1: 7) “bukan jalan mereka yang dimurkai dan sesat.” Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nikmat yang dimaksud dalam QS 5: 3 yang disebut di awal artikel adalah bahwa manusia dapat termasuk ke dalam golongan mereka yang dianugerahi nikmat hanya dan hanya jika mengikuti dan taat kepada mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah “Siapakah mereka yang dianugerahi nikmat yang menjadi sebab sempurnanya agama tersebut?” Dan “Nikmat apakah yang dianugerahkan kepada mereka sehingga kita diperintahkan mengikuti mereka?”

Artikel ini tidak berpretensi untuk menjawab dua pertanyaan penting di atas. Pertanyaan yang jawabannya akan menghantarkan manusia pada keselamatan di hari kiamat nanti. Pembaca silakan mencari jawabannya dalam Al-Qur’an. Slogan kembali kepada Al-Qur’an dapat diwujudkan jika umat Islam kembali membuka dan mempelajari makna kandungannya secara kritis. Tujuan artikel ini hanya untuk mengingatkan kembali umat Islam tentang pentingnya menjadikan tanggal 18 Dhul-Hijjah sebagai salah satu hari raya minimal sebagai momentum umat Islam kembali mempelajari Al-Qur’an karena pada hari itu telah terjadi sebuah peristiwa dahsyat. Peristiwa penyempurnaan agama dan diridhainya Islam oleh Allah SWT. Bahkan penyembelihan Ismail as oleh Ibrahim as hanya merupakan satu bagian kecil dari kesempurnaan Islam.

Peristiwa penyembelihan tersebut haruslah dimaknai sebagai contoh pengorbanan seorang manusia dalam mencapai kesempurnaan penciptaannya. Dalam pencapaian tujuan hidupnya. Dewasa ini umat Islam bahkan tidak mau mengorbankan waktunya sekadar untuk mempelajari agamanya. Maukah anda mengorbankan waktu, tenaga, dan pemikiran mengkaji Al-Qur’an sekadar mencari jawaban atas dua pertanyaan di atas? Allah SWT tidak perintahkan kita menyembelih putera kita tercinta sebagaimana pernah diperintahkan kepada Ibrahim as? Akankah kita sanggup jika Allah SWT memerintahkan pertobatan dengan membunuh diri kita sebagaimana pernah Allah SWT perintahkan kepada umat Musa as? Allah SWT pun tak pernah menimpakan bala’ dan bencana (azab) sebagaimana ditimpakan kepada umat-umat terdahulu akibat penentangan mereka terhadap perintah-Nya.

Al-Qur’an pun telah mengingatkan bahwa masuk syurga itu tidak mudah, seperti tersebut dalam QS 2: 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) …” Umat terdahulu telah diuji dan disaring Allah SWT dengan malapetaka dan bencana. Sekarang masihkah kita tetap tidak mengambil pusing peringatan Allah SWT. Marilah kita mencari jalan menuju Allah SWT berdasarkan kartu nama yang telah diberikannya kepada umat manusia yaitu Al-Qur’an.

Akhir kata, mengingat pentingnya kejadian pada tanggal 18 Dhul-Hijjah 10 H (Haji Wada’) sudah sewajarnyalah kita semua memperingatinya demi mendapatkan petunjuk kebenaran. []

Teguh Sugiharto, SE

Sumber: ISLAT

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: