Beranda > Tulisan Orang > Pahlawan Arab dan Islam: Sayyid Hasan Nasrullah atau Saddam?

Pahlawan Arab dan Islam: Sayyid Hasan Nasrullah atau Saddam?

Pahlawan Arab dan Islam: Sayyid Hasan Nasrullah atau Saddam?

Dunia Islam dan Arab baru saja merayakan kemenangan Hizbullah yang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nasrullah. Dalam perang 33 hari Hizbullah mampu menghadapi Israel yang dibantu oleh Amerika dan sebagian negara-negara Eropa. Kemenangan itu membuat Sayyid Hasan Nasrullah menjadi terkenal di seluruh dunia. Olmert sendiri harus terpaksa mengakui bahwa orang paling berani di tahun 2006 adalah Sayyid Hasan Nasrullah.

Tiba-tiba dunia dikejutkan dengan keputusan hukuman mati Saddam Husein. Banyak yang pro dan kontra dengan penggantungan Saddam. Libia secara resmi melakukan acara berkabung selama tiga hari dan membandingkan Saddam Husein dengan Umar Mukhtar yang mati di tiang gantungan. Husein Mubarak presiden Mesir dalam wawancaranya dengan salah satu media Israel mengatakan: “Tidak seorang pun yang akan melupakan cara penggantungan Saddam. Mereka telah mensyahidkannya” . Oleh New York Times dilaporkan di Yordania diadakan upacara berkabung yang diikuti secara besar-besaran yang diikuti oleh sekitar 14 partai oposisi. Partai oposisi yang sebenarnya bentukan kerajaan Yordania sendiri. Hasan Fattah salah satu kolumnis New York Times melaporkan bahwa sepekan setelah hukuman mati Saddam, terjadi perang antar kelompok-kelompok yang ada di Irak. Sementara al-Maliki sendiri membantah itu dengan pernyataanya bahwa setelah hukuman mati Saddam, Irak lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Ali Nafi, wakil presiden Sudan, menyatakan bahwa: “Saddam Husein mencintai Irak dan rakyat Irak”. Salah satu perwakilan Al-Jazirah di Mesir pergi ke salah satu kota kecil bernama Ezzat Saddam (kemuliaan Saddam). Di sana dia mengadakan upacara berkabung. Gambar yang ditampilkan diusahakan sedemikian rupa bahwa yang ikut dalam prosesi itu adalah masyarakat Mesir. Sebagian lain memadankan Saddam dengan al-Hallaj sang tokoh sufi. Bahkan ada juga yang menyerunya dengan sebutan “Ya Ahlat Takwa wal Maghfirah!” Dan banyak ungkapan lain yang memuji Saddam.

Sebulan sebelum Saddam dijatuhi hukuman mati, semua dunia, tidak terkecuali dunia Arab, menganggap Saddam sebagai pembunuh berdarah dingin. Tangannya dilumuri dengan darah orang-orang Syi’ah, Sunni dan Kurdi di Irak. Ia juga dikenal sebagai agresor yang menyerang Iran dan Kuwait. Tanpa belas kasihan rakyat Irak sendiri dibunuh dengan senjata kimia, apalagi yang dilakukannya terhadap rakyat Iran dalam peperangan delapan tahun. Betapa banyak ulama Islam Sunni dan Syi’ah yang dibunuh olehnya. Syahid Muhammad Baqir Shadr ulama paling terkemuka Syi’ah dan menjadi tokoh cendekiawan dunia Islam dibunuh beserta adik perempuannya.

Semua ini berubah setelah Saddam digantung. Alasannya karena dia digantung di hari Idul Qurban. Padahal semua tahu bahwa peradilan di bawah bentukan dan tekanan Amerika. Sejam sebelum digantung, Saddam masih di tangan Amerika. Pada akhir prosesi penggantungan Saddam, ada helikopter di atas yang menanti jasadnya untuk langsung diterbangkan ke Tikrit kota kelahirannya.

Tempat penggantungan Saddam memang sengaja dipilih tempat digantungnya Syahid Muhammad Baqir Shadr. Sehingga ketika rekaman itu ada suara-suara yang menyebutkan kata Baqir Shadr. Masih jelas dalam ingatan bagaimana ketika Syahid Shadr diseret menghadap Saddam listrik seluruh kota dipadamkan. Dengan wajah berlumuran darah Syahid Shadr dibawa menghadap Saddam. Ketika sudah berhadapan, Saddam bertanya: “Siapakah Anda?” Syahid Shadr menjawab: “Shadr” Saddam lantas bergumam: “Rajulun”. Sebuah ungkapan pada seorang tokoh kharismatik. Tokoh yang membuatnya takut akan keruntuhan tahtanya. Pada waktu itu juga, pihak keamanan menyiapkan penggilingan. Itu disiapkan bagi mereka yang melakukan protes atas pembunuhan Syahid Shadr.

Sebagian suara rekaman terdengar yel-yel untuk Muqtada Shadr yang ayahnya juga dibunuh di tempat yang sama. Harian ar-Riyadh memanfaatkan rekaman itu dengan mengatakan bahwa Muqtadha Shadr ada di lokasi penggantungan Saddam. Bahkan tidak cukup itu saja, Aziz al-Hakim pun dituduh hadir pada acara itu.

Lebih dari itu, dalam prosesi itu ketika kamera mengarah ke tempat lain terdengar suara syahadat walaupun tidak keras. Orang-orang menyangka yang mengucapkan itu adalah Saddam Husein, padahal belum terbukti. Karena suara tersebut tidak disertai dengan gambar ucapan yang keluar dari bibir Saddam. Hamas juga diberitakan tidak setuju dengan hukuman mati Saddam Husein, namun segera Ismail Haniah memberikan klarifikasi bahwa kabar itu tidak benar.

Semua skenario ini dibuat sedemikian rupa untuk membuat pahlawan baru menandingi popularitas Sayyid Hasan Nasrullah. Barat tidak senang dengan prestasi yang diraih oleh Hizbullah dengan tokoh sentralnya Sayyid Hasan Nasrullah. Kecintaan akan Sayyid Hasan Nasrullah akan menjadi ancaman terhadap eksistensi Israel. Usaha Olmert yang mengakui secara langsung bahwa Israel memiliki senjata nuklir adalah upaya untuk mengembalikan citra kekuatan tak terkalahkan Israel. Inggris juga berusaha sedemikian rupa untuk mendongkrak kembali image bahwa Israel masih merupakan kekuatan tak tertandingi di kawasan, namun tidak berhasil.

Saddam sekuel baru, pasca hukuman mati, dimunculkan sebagai hero. Seorang hero yang oleh perawatnya digambarkan sebagai seorang paling humanis dan agamis. Disebutkan bagaimana ia tidak bicara bila tidak perlu, tidak pernah marah dan mencaci siapapun, murah senyum, tidak pendendam (karena tidak pernah menyebutkan nama musuhnya), memberi makan burung dari sisa rotinya dan lain-lain. Di sisi lain Saddam juga melakukan salat lima waktunya dengan teratur, membaca al-Quran dan tidak lupa berpuasa di bulan Ramadhan. Tentu saja kondisi ini membuat dia harus mengomentari hukuman mati Saddam seperti ini: “Ini pengalaman hidup yang menyakitkan dan menyedihkan”. Namun, hero aspal ini, memiliki latar belakang hitam dan kelam. Ia menghabisi semua lawan-lawan politiknya dengan kejam bahkan anaknya sendiri.

Bandingkan itu semua dengan Sayyid Hasan Nasrullah!

Satu-satunya kesalahan Sayyid Hasan Nasrullah karena ia bermazhab Syi’ah. Syi’ah yang, setelah kemenangan revolusi Iran, menjadi sumber inspirasi kesadaran kaum muslimin di seluruh dunia menghadapi hegemoni Barat. Hal itulah yang membuat negara-negara Arab tidak mensuportnya dalam perang 33 hari menghadapi Israel. Bahkan lebih dari itu, ulama Wahhabi mengatakan bahwa perang yang dilakukan oleh Hizbullah tidak diakui sebagai jihad atas nama agama.

Saddam sekuel baru tidak hanya untuk menandingi popularitas Sayyid Hasan Nasrullah, tapi juga ikut andil bagi terbentuknya sebuah koalisi baru. Koalisi yang diciptakan oleh Israel, Amerika, inggris dan sebagian negara-negara Arab yang bergantung pada kekuatan Barat untuk menghadapi Syi’ah. Alasannya sederhana, karena hukuman mati dilakukan di hari Idul Qurban dan pemerintah yang Syi’ah. Negara-negara Arab digiring sedemikian rupa untuk melihat fenomena Syi’ah sebagai ancaman. Hukuman mati Saddam merupakan upaya balas dendam mereka, selain Iran yang oleh Barat dicitrakan sedemikian rupa bakal membuat senjata nuklir dengan program damai nuklirnya. Syi’ah Iran dan Irak akan mengancam Ahli Sunah yang ada di negara-negara Arab. Padahal semua tahu, Saddam yang Sunni itulah yang sempat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dengan menyerang Iran yang Syi’ah dan Kuwait yang Sunni. Sebagian negara-negara Arab sedang berusaha keras untuk menunjukkan bahwa pilihan mereka kali ini dalam rangka menghadapi musuh Islam. Mereka lupa dan lalai bahwa sikap mereka yang lemah di hadapan Israel selama ini membuat simpati kaum muslimin menjadi pudar.

Pada perayaan hari Idul Ghadir kemarin (hari pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai pemimpin kaum muslimin pengganti Nabi), Sayyid Ali Khamane’i mengatakan bahwa kaum Syi’ah bangga menjadi pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, namun itu tidak berarti kaum Syi’ah akan bertikai dengan saudaranya Ahli Sunah. Saudara Ahli Sunah yang tidak menerima kejadian pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as tetap bisa hidup berdampingan dengan saudaranya Syi’ah. Oleh beliau, mengutip pendapat Syahid Muthahhari bahwa peristiwa al-Ghadir yang dikumpulkan oleh Allamah Amini dari berbagai sumber; Syi’ah dan Sunni, bisa menjadi perekat Syi’ah dan Ahli Sunah. Beliau kembali menegaskan bahwa seorang muslim haram hukumnya melakukan aktivitas yang dapat menjurus pada perselisihan Syi’ah dan Sunni.[]

Ditulis dari berbagai sumber.

Sumber: ISLAT

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: