Pengadilan Kaki Tangan Saddam

Paska Eksekusi Saddam Hossein, untuk pertama kalinya mahkamah Irak Senin 8 Januari menggelar lagi sidang kasus al-Anfal, yaitu kasus pembunuhan massal suku Kurdi oleh rezim Saddam. Sidang ini menghadirkan sejumlah kroni Saddam yang didakwa sebagai para eksekutor kejahatan tersebut. Terdakwa utamanya adalah sepupu Saddam, Hassan al-Majid, yang tenar dengan julukan “Ali Kimia”.

Dia diseret ke mahkamah bersama lima orang lainnya yang juga didakwa sebagai para eksekutor kejahatan rezim Ba’ath Irak di berbagai kawasan Irak utara dari tahun 1987 hingga 1988. Dalam sidang sembilan hari setelah eksekusi Saddam itu, jaksa penuntut memutar rekaman suara Saddam ketika berdiskusi dengan Hassan al-Majid tentang operasi pembunuhan warga Kurdi dengan menggunakan senjata kimia.

Dalam rekaman itu terdengar suara Hassan al-Majid yang mengatakan, “Saya akan menyerang mereka dengan senjata kimia dan membunuh mereka semua.” Saddam pun kemudian menjawab: “Ya, itu efektif, terutama untuk mereka yang tidak segera menggunakan masker, seperti yang kita ketahui.”

Menurut data yang ada, operasi kejahatan dahsyat itu telah menewaskan lebih dari 180.000 warga Kurdi serta menghancurkan sekitar empat ribu desa Kurdi. Dalam kasus Anfal, al-Majid Cs didakwa telah melakukan pembasmian etnis, kejahatan perang, dan kejahatan anti kemanusiaan.

Di luar pengadilan, masyarakat Irak mengharapkan pengadilan berjalan cermat, dapat menguak seluruh dimensi kejahatan rezim Ba’ath pimpinan Saddam, dan menghasilkan vonis hukuman seadil-adilnya. Ini diharapkan terutama oleh warga Kurdi dan Syiah yang menjadi korban utama sehingga masa kekuasaan Saddam mereka pandang sebagai era yang gelap dan menyeramkan dalam sejarah modern Irak.

Kematian Saddam di tiang gantungan belum mengakhiri kisah rezim Ba’ath. Karena para kaki tangan Saddam masih diproses oleh pengadilan. Selain itu, dua orang terdekat Saddam, Barzan al-Tikriti dan Awad al-Bandar, yang juga divonis mati hingga kini masih belum dieksekusi.

Sebagian kalangan tadinya menduga berkas kejahatan rezim Ba’ath terhadap rakyat Irak dan negara-negara jirannya, terutama Iran dan Kuwait, akan ditutup. Tetapi dugaan itu meleset, sebab dimulainya lagi pengadilan kasus Anfal menunjukkan besarnya tekad para pejabat pengadilan Irak untuk menuntaskan semua kasus kejahatan rezim terguling yang berhaluan sosialis tersebut. Tekad ini agaknya masih menyala walaupun ada pihak-pihak asing, terutama AS, tidak menginginkan para eksponen Ba’ath diusut dalam semua kasus karena dapat menguak peranan mereka dalam berbagai kejahatan Saddam.

Sumber: IRIB Bahasa Indonesia