Selalu akan ada jalan yang lebih baik

Oleh: Budhi Sulistiyowarno

Seorang anak yang buta matanya terlihat duduk di anak tangga sebuah gedung dan didepannya tersedia sebuah mangkok plastik yang agak lusuh serta kertas putih yang bertuliskan, “Saya buta mohon bantuannya”. Dalam mangkok plastik tersebut terlihat beberapa uang logam yang terkumpul dari orang-orang yang lewat didepan anak tersebut.

Pada suatu waktu terlihat seorang lelaki yang berjalan didepan anak buta tersebut berhenti dan merogoh beberapa keping uang logam dari kantong celananya dan memasukkannya kedalam mangkok plastik yang ada didepannya. Setelah memberikan uang logamnya lelaki tersebut mengambil kertas didepan anak buta tersebut dan membaliknya serta menuliskan beberapa kata. Selesai menulis kemudian lelaki tersebut meletakkan kembali kertas tersebut sehingga orang-orang yang lalu lalang akan dapat melihat tulisan baru yang dibuat lelaki tersebut.

Segera setelah itu terlihat dengan cepat isi mangkok plastik didepan anak buta tersebut menjadi bertambah dengan semakin banyaknya orang yang memberikan sumbangannya, bahkan sampai menjadi penuh yang sebelumnya belum pernah dialaminya mendapatkan mangkok plastiknya penuh dengan uang logam.

Sorenya lelaki yang telah merubah tulisan didepan anak buta tersebut kembali lagi untuk melihat perkembangannya. Anak buta tersebut segera mengenalinya dan bertanya, “Apakah bapak yang telah merubah tulisan didepan saya ini, pagi tadi? Apa sebenarnya yang bapak tulis?”

Lelaki tersebut berkata, “Saya hanya menuliskan yang sebenarnya sebagaimana pada tulisan awalnya, hanya saja tulisannya saya buat dengan cara yang berbeda.” Apa yang ditulis lelaki tersebut adalah, “Hari ini sangat indah, tetapi saya tidak dapat melihatnya.”

Tentu saja kalimat ini tidak berbeda maknanya dengan apa yang ditulisnya pertama yang intinya memberitahukan bahwa anak lelaki tersebut buta matanya. Akan tetapi pada tulisan yang pertama hanya memohon sumbangan uang melalui mangkuk plastik. Sedangkan pada tulisan kedua bercerita bagaimana setiap orang dapat menikmati keindahan hari itu yang tidak diperoleh anak tersebut oleh karena dia buta.

Jadi kalau pada tulisan pertama hanya memberitahukan keadaan si anak yang buta sehingga perlu bantuan, namun pada tulisan kedua menceritakan betapa beruntungnya mereka yang tidak buta sehingga dapat menikmati hari yang demikian indah yang mustahil dinikmati oleh orang yang buta.

Dari ilustrasi cerita diatas, apakah kita akan terkejut mengetahui bahwa tulisan kedua ternyata jauh lebih efektif dibanding yang pertama walaupun secara maknawi maksudnya sama?

Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari cerita diatas adalah, ketika usaha atau apapun aktifitas yang sedang kita lakukan mengalami kegagalan atau kurang sukses maka sebab utamanya kemungkinan besar ada pada diri kita dalam arti pada cara kita mengelola usaha tersebut bukan pada orang lain atau faktor eksternal lainnya. Kita perlu berpikir dan berpikir lagi untuk menciptakan cara-cara baru dalam melaksanakan satu usaha yang sama dan kegagalan harus menjadi semacam sarana atau mesin pembangkit dalam menciptakan cara-cara baru tersebut.

Sering ketika mengalami kegagalan kita cenderung menimpakan penyebabnya pada faktor-faktor diluar diri kita dan yang lebih parah kalau dalih agama (baca nasib) juga menjadi salah satu faktor yang dijadikan justifikasi. Tanpa sadar kita telah terjebak dalam determinisme yang berujung pada sikap fatalistik, bahwa Tuhan adalah perantara bagi gagalnya kita dalam melakukan sesuatu. Kita sering lebih fatal lagi menisbahkan kesalahan kita kepada Sang Esa tersebut tanpa kita sadari.

Negara kita saat ini dilanda semacam ‘kemiskinan berjamaah’ atau lebih tepatnya “kemiskinan struktural berjamaah” tetapi sebahagian orang malahan menyalahkan orang-orang miskin dengan tuduhan malas dan lain sebagainya. Kita terjebak dengan mem-blaming the victim. Masalah kita saat ini adalah masalah bersama akibat dari dosa bersama sehingga untuk menanggulanginya juga perlu usaha bersama dengan pemikiran yang komprehensif untuk mencari cara-cara baru.

Dalam pandangan dunia tauhid nasib bukanlah sesuatu yang deterministik dan agama Islam juga bukan sarana “onani spiritual”- an sich. Islam adalah agama yang bertumpu pada konsep keadilan dan manusia adalah makhluk yang secara deterministik memiliki ikhtiar, sehingga manusia selayaknya berperan sebagai co-creator. Sebagai ajaran kebenaran agama islam juga berarti agama realitas yang membebaskan manusia untuk dapat mencapai kesempurnaan hakikinya. Sebagai agama realitas tentunya agama islam juga adalah agama yang rasional, namun sayang kebanyakan pengikutnya saat ini bukannya memahaminya secara rasional tapi lebih cenderung merasionalkan agama.

Dari ulasan singkat ini mungkin kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, sudah islamkah kita? Kalau kita menyadari dan berusaha menjawab pertanyaan tersebut, maka insya Allah kita akan menyadari tugas utama kita sebagai co-creator Allah di bumi-Nya untuk menciptakan kreativitas dan menemukan cara-cara baru yang lebih tepat dalam rangka melanjutkan misi kenabian, sehingga kita mampu melakukan rekayasa sosial untuk keluar dari berbagai kesulitan kita dan melangkah menuju terwujudnya masyarakat madani.[]

*Pembina Yayasan Al-Wahdah Solo