Beranda > Tulisan Orang > Kurban Kolektif

Kurban Kolektif

Kurban Kolektif

Oleh: Abu Muhammad

Sebentar lagi, kaum Muslimin akan memperingati hari raya Kurban, ‘Idul Adha. Pada musim-musim ketika kambing dan sapi ramai diperdagangkan, pada saat yang sama ramai juga beredar hadits-hadits tentang keutamaan berkurban. Sebagian mubaligh menyampaikan bahwa binatang ternak yang kita kurbankan akan membantu kita dalam menyeberangi shirath di hari akhir nanti.

Terlepas dari makna batiniah ibadah kurban, saya ingin menyoroti isu tentang kurban kolektif. Selama ini yang kita pahami, satu ekor kambing hanya boleh diniatkan untuk menjadi kurban satu orang saja. Sementara satu ekor sapi bias dikeroyok oleh tujuh orang. Apakah memang demikian? Sebagian sahabat menyampaikan kepada saya bahwa keharusan satu ekor kambing untuk satu orang kadang-kadang membuat kurban hanya dibatasi kepada yang mampu saja. Apakah seekor kambing, seperti halnya sapi, tidak bias dikeroyok untuk dikurbankan sama-sama? Sekiranya kita hanya mampu menyumbang Rp. 50.000,- tidak bisakah uang itu kita gunakan untuk beribada?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya ingin mengutip hadits yang diriwayatkan dalam Nayl al-Awthar, kitab yang sering menjadi rujukan saudara-saudara kita di Persatuan Islam (PERSIS) dan Muhammadiyah. Dalam kitab itu, pada juz ke 6 hlm. 122, Bab Nabi berkurban untuk Umatnya, terdapat hadits nomor 2098 dan 2099 dengan bunyi sebagai berikut:

(2098) Dari Jabir, berkata: Aku shalat bersama Rasulullah Saw pada hari Idul Adha. Usai shalat, Nabi dating dengan membawa seekor kambing dan menyembelihnya seraya berkata: Bismillahi wallahu Akbar. Allahumma hadza ‘anni wa ‘an man lam yudhahhi min ummati. Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, (kurban) ini dariku dan dari siapa pun yang tidak (mampu) berkurban di antara ummatku. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, Sunan Abu Dawud, dan Turmudzi.

(2099) Dan dari Ali bin Husain dari Abi Rafi’ dari Rasulullah Saw bahwa Nabi ketika berkurban membeli dua ekor kambing yang gemuk, sehat, dan putih bersih. Setelah shalat dan berkhutbah, seekor kambing itu didatangkan kepada Nabi dan Nabi berdiri di Mushallanya kemudian menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri. Kemudian berkata: Allahumma hadza ‘an ummati jami’an man syahida laka bil tauhid wa syahida li bil balagh. Ya Allah, (kurban) ini dari semua umatku yang bersaksi kepada-Mu dengan keesaan dan yang bersaksi kepadaku terhadap apa yang aku sampaikan. Kemudian didatangkan kambing yang kedua, lalu Nabi menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri dan berkata: Hadza ‘an Muhammad wa Ali Muhammad, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga. Dengan kedua kurban itu dikenyangkanlah seluruh yang miskin dan Nabi memakannya bersama keluarganya sebagian dari daging kurbannya…..Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Menarik untuk mencermati kedua hadits di atas, bahwa sebetulnya kurban kolektif bukan saja dibolehkan, tetapi pernah dicontohkan Nabi Saw. Meski dalam keterangan akan hadits yang pertama Imam Ahmad mengatakannya sebagai hadits dha’if, tetapi hadits yang kedua diriwayatkan beliau sebagai hadits yang sampai pada derajat hasan. Imam Ahmad meriwayatkan kedua hadits ini dalam Musnadnya 8:3. Sunan Abu Dawud memuatnya pada kitab Al-Adhahi, bab “Yang dikurbankan atas nama jama’ah” sedangkan Imam Turmudzi dalam Sunan-nya bagian Al-Adhahi, bab 22 hadits nomor 1521.

Dalam lanjutan keterangan yang tercantum pada kitab Nayl al-Awthar, disebutkan bahwa dua hadits ini menunjukkan dalil dibolehkannya seseorang untuk berkurban atas dirinya dan atas keluarganya, kerabatnya, dan menyerikatkan mereka dalam pahalanya. Demikian dikatakan jumhur para ulama. (Nayl al-Awthar,k juz 6, hlm. 123). Nayl al-Awthar juga memuat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya pada Al-Adhahi:19 dari Anas bahwa Rasulullah Saw diriwayatkan berkata: Allahumma taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa’an ummati Muhammad, Ya Allah, terimalah dari Muhammad, dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.

Masih dalam Nayl al-Awthar juga disebutkan bahwa Ibnu Majah dan Turmudzi meriwayatkan hadits dari Abu Ayub tentang seseorang yang menyembelih kambingnya pada masa Nabi Saw atas nama dirinya dan keluarganya. Abu Hurairah juga diriwayatkan menyampaikan hadits ini dalam keterangan yang disampaikan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim.

Meskipun setelah memuat hadits-hadits di atas Nayl Al-Awthar masuk pada pembahasan apakah berkurban itu wajib atau sunnah, cukup bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa hadits tentang kebolehan menyembelih seekor kambing dengan niat lebih dari satu orang diriwayatkan oleh hampir semua ahli hadits. Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Imam Ahmad meriwayatkan tentang ini dalam berbagai redaksinya. Hanya Imam Ahmad yang memberi keterangan dha’if, itupun pada hadits yang pertama. Sedangkan para ulama pengumpul hadits yang lainnya tidak memberikan keterangan tentang kedha’ifannya. Bahkan, Imam Ahmad pun menilai hadits yang kedua –dalam konteks redaksional yang sama– sebagai hadits hasan. Kemungkinan hadits yang pertama masuk dalam kategori dha’if oleh Imam Ahmad ditinjau dari sisi sanad. Wallahu a’lam.

Bila enam ahli hadits dan satu Imam Ahmad meriwayatkan hadits tentang menyembelih kolektif dengan keterangan hadits hasan, maka tidak ada lagi kekhawatiran bagi kita untuk mulai membiasakan diri berpartisipasi dalam berkurban sejauh kemampuan yang kita miliki. Tentu bila kita mampu berkurban seekor kambing, maka itu baik untuk kita lakukan. Sama baiknya bila kita baru bias menyumbang sebagian dari harga seekor kambing itu. Sebaliknya, kurban kolektif bias jadi buruk bila dilakukan oleh orang yang bisa berkurban seekor penuh. Dengan dalil-dalil di atas kita ingin bersama-sama mengajak masyarakat untuk melakukan kurban sebatas kemampuan yang kita miliki. Saya kira Tuhan tidak pernah akan kebingungan untuk “membagi” pahala kurban itu di antara kita.

Lalu bagaimana dengan distribusi daging kurbannya? Sesuai hadits Nabi di atas, daging kurban itu kemudian diberikan sebagai makanan bagi fakir miskin, dan Nabi beserta keluarganya juga memakan sebagian dari kambing itu. Saya kira, kita cukup dewasa untuk bisa membagi distribusi kurban kolektif itu, atau –lebih baik lagi– kita relakan semua untuk mengenyangkan mereka yang kelaparan di sekitar kita. Selamat menyambut Idul Adha dengan kurban kolektif! []

Sumber: Lembaran Dakwah Pintu Ilmu

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: