Mengorek Masa Lalu AS dan Rezim Ba’ath Irak

Seperti ramai diberitakan, mantan diktator Irak Saddam Hossein sudah diadili dan divonis hukuman gantung. Dia divonis mati dalam satu kasus, yaitu pembunuhan 148 warga Syiah di desa Dujail. Bahwa di Irak terdapat kalangan minoritas yang menentang vonis mati Saddam, maka itu sama sekali tidak dapat mereduksi fakta-fakta yang sudah diketahui semua orang bahwa ketua rezim Ba’ath terguling itu adalah sosok berdarah dingin dan berlumur dosa kejahatan mahadahsyat.

Begitu pula, asumsi bahwa vonis itu adalah hasil dikte AS juga tidak mereduksi kelayakan Saddam untuk menerima hukuman mati, bahkan jika seandainya hukuman itu dapat dilakukan lebih dari sekali, seperti yang diangan-angankan rakyat Irak. Dan yang tak kalah pentingnya lagi, adanya dikte AS juga tidak dapat mereduksi dan apalagi mengubah fakta sejarah bahwa AS pernah mensponsori Saddam dan menjadi patronnya dalam berbagai aksi kejahatan.

Belum lama ini, fakta historis tersebut diungkap oleh Robert Scheer, kolumnis Harian San Fransisco Chronicle. Scheer menunjuk beberapa fakta, diantaranya kunjungan Donald Rumsfeld ke Baghdad selaku utusan Presiden AS Ronald Reagen Desember 1983 dan Maret 1984. Disebutkan bahwa dalam pertemuan dengan Saddam saat itu, Rumsfeld menjanjikan bantuan dana dan militer ke Irak besar-besaran jika Saddam melanjutkan invasi militernya terhadap Iran.

Saddampun menyambut tawaran tersebut dan sejak itu AS menggelontorkan dana milyaran USD plus senjata dan teknologi dwifungsi sipil dan militer ke Irak. Menurut laporan Majlis Senat pimpinan Senator Donald Regal tahun 1994, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasi pengiriman 14 jenis bahan kimia ke Irak agar dipakai Saddam untuk membuat senjata kimia. Menurut laporan lain yang dikemukakan oleh sebuah komisi Majlis Senat, AS mengirim 70 bahan ke Irak untuk pembuatan senjata kuman, termasuk virus Antrax. Sebagian diantara barang kiriman AS untuk Saddam itu terungkap dalam inspeksi tim PBB atas senjata biologi Irak.

Apa yang diungkap koran San Fransisco Chronicle itu baru mengungkap sebagian kecil relasi Saddam dengan AS dalam menebar kejahatan di Irak dan Iran. Tak sedikit pengamat yang memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam penyaluran bantuan dana, sarana, dan senjata kepada Saddam sebenarnya terlibat dalam kejahatan diktator besar ini terhadap rakyat Irak dan negara-negara lain, terutama Iran dan Kuwait.

Tetapi memang ironis, seperti disinggung tadi, kisah kejahatan Saddam di pengadilan diakhiri dengan kasus Dujail, kasus yang secara politis sepele dibanding dosa-dosa Saddam lainnya. Dengan menamatkan cerita kejahatan Saddam lewat kasus Dujail, AS dan negara-negara Barat lain yang pernah mendukung dan membesarkan Saddam memang bisa bernafas lega. Hanya saja, fakta sejarah tetap tak bisa dibungkam.