ADA APA DENGAN CITRA?

Ibarat membuka kotak pandora, film Ekskul telah menebarkan aroma kekecewaan amat mendalam bagi insan perfilman Indonesia. Bukan cuma masalah tema dan musik film yang dinilai tak orisinal, Ekskul kemudian sampai merembet ke soal hukum. Ada yang harus dibenahi.

“Pengembalian Piala Citra hanya simbol. Kami tak ingin menyakiti pihak mana pun,” kata sutradara Nia diNata mewakili kelompok Masyarakat Film Indonesia dalam acara Topik Minggu Ini SCTV, Rabu (10/1) malam. Selain Nia datang pula Hari Dagoe, Riri Riza, Abduh Azis, Nicholas Saputra, Ria Irawan, dan Garin Nugroho selaku tokoh perfilman Indonesia.

Sementara pihak Ekskul diwakili Elsa Syarif dan Shanker R.S. Sedangkan pihak Lembaga Sensor Film diwakili Titi Said (Ketua LSF) yang ditemani Djamalu Abidi.

Tuduhan yang dialamatkan ke Ekskul terbilang cukup serius. Film garapan Indika Entertainment yang disutradarai Nayato Fio Nuola, itu adalah plagiator dan ironisnya dianugerahi penghargaan kelewat istimewa. Menurut Masyarakat Film Indonesia (MFI), Ekskul tak pantas diganjar Citra karena kurang memberikan contoh yang baik bagi bangsa Indonesia.

“Ekskul termasuk film yang salah urus penjurian,” kata Riri. Abduh Azis menambahkan, Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) ternyata tidak siap menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia perfilman. “Kami sangat menghargai Piala Citra, tapi sekarang tercoreng,” ungkap Abduh.

Komunitas ini meminta Panitia Festival Film Indinesia 2006 menyampaikan secara terbuka pertanggungjawaban atas penilaian dan penetapan Ekskul sebagai peraih Piala Citra. Para sineas muda ini menilai penyelenggaraan FFI oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tidak transparan, baik dari sisi pelaksanaan sampai pendanaan.

Mereka juga mendesak penyelenggaraan FFI dihentikan sementara. Bila tuntutan ini tak dipenuhi, mereka mengancam memboikot FFI yang akan datang. “Buat kami ini adalah puncak dari sistem kebijakan perfilman Indonesia. Harus ada perubahan struktural dari sistem lembaga film,” tambah Riri.

Elsa mengaku siap membantu perjuangan MFI untuk merevisi UU Perfilman, tapi kuasa hukum Ekskul ini tak suka dengan cara mereka yang dianggap sangat menyudutkan Ekskul sebagai sebuah karya seni. Menurut dia pihak tertentu telah memvonis Ekskul adalah karya jiplakan, padahal soal ini sedang diselidiki. “Kalau mereka punya bukti, tunjukkan bukti itu,” tegas Elsa.

Demikian halnya pendapat Shanker. Dia mengatakan, cara yang mereka tempuh dengan mengembalikan Piala Citra telah menyakiti juri Festival Film Indonesia 2006 yang notabene adalah para senior di dunia perfilman Indonesia [baca: Puluhan Insan Film Mengembalikan Piala Citra].

Garin coba menawarkan jalan tengah. Dia tak ambil pusing siapa pun yang menang dalam FFI 2006. Menurut Garin yang menang tidak salah selama belum ada vonis hukum. Tapi dia mengingatkan hasil penjurian sebenarnya bisa diperdebatkan. FFI sebagai sebuah lembaga juga tak berfungsi maksimal.

“Payung hukumnya yang harus diubah,” tegas Garin. Yang ada sekarang, menurut dia, hanya mempresentasikan pihak-pihak tertentu saja, tidak mewakili secara keseluruhan [baca: Kontroversi Ekskul, Titik Tolak Perbaikan Film Indonesia].

Tapi merevisi suatu UU bukan soal gampang. “Memerlukan waktu panjang,” kata Titi. Dan, arah ke sana kini sedang dalam proses. Titi juga mengingatkan, selama ini LSF tak hanya menyensor film layar lebar, tapi semua produk hiburan juga disortir.

Sumber: Liputan 6