Obroloan Seputar KBK

 

Oleh: Yasser Arafat*

 

Pada suatu hari berkumpul sekelompok muda-mudi yang memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berkumpul-kumpul sepulang sekolah. Mereka adalah Joni, Martin, Tia, dan Eka. Joni, Tia, dan Eka adalah keturunan asli jawa. Mereka hidup secara sederhana. Sedangkan Martin adalah anak blesteran yang kehidupannya mewah sekali sehingga apapun permintaannya bisa dipenuhi oleh orang tuanya, tentunya permintaannya itu hanya sebatas materi saja.

Hari itu hari sabtu. Hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh mereka berempat. Mereka menamakan hari itu sebagai hari bahagia, karena esok harinya adalah hari libur dimana mereka tidak berangkat ke sekolah. Ketika mereka asyik bersenda gurau, tiba-tiba Joni curhat sama teman-temannya.

“Aku lagi bete nih..!” kata Joni.

“Bete kenapa Jon, biasanya kamu setiap hari ceria..”tanya Tia yang memang sangat perhatian sekali kepada teman-temannya.

“Gimana gak bete…bentar lagi aku tuh mau Ujian Nasional (UNAS). Aku takut gak lulus.” Jawab Joni yang kebetulan kelas 3 SMA.

“Gak usah bete…kamu belajar aja…!” celetuk si Eka.

“Aku udah belajar, tetapi aku takut gak lulus. Dan yang bikin aku bete itu, masa kelulusanku hanya ditentukan oleh 3 mata pelajaran? lalu mana mata pelajaran yang lain?” Kesal Joni.

“Udahlah..gak usah permasalahkan itu, kalau aku sih mudah. Gak perlu itu takut-takut seperti kamu. Aku tinggal bilang ama my father untuk menyuap guru agar memberikan bocoran jawaban soal ujian. Toh para kepala sekolah dan guru itu sangat mengharapkan murid-muridnya banyak yang lulus agar sekolah yang dipimpinnya mendapatkan subsidi dana dari pemerintah. Tentunya segala macam cara akan dia lakukan.” Kata Martin dengan sombongnya.

“Kamu mah enak, anak orang kaya walaupun otak kamu biasa-biasa aja. Kamu gak usah belajar juga gak masalah karena kamu udah pasti lulus hanya karena duit.” Kesal Eka.

“Aku tuh benci banget ama sistem pendidikan Indonesia. Coba kamu bayangkan, tidak semua orang itu menguasai semua pelajaran. tetapi di sistem pendidikan Indonesia, semua siswa dipaksa untuk menguasai semua pelajaran. Coba aku ilustrasikan…! di Negara Hutan, ada sebuah sekolah hewan. Siswa-siswanya itu terdiri dari Kura-kura, burung, kelinci, dll. Suatu saat sekolah hewan itu melaksanakan ujian semester. Ujian  yang dilombakan di antaranya berenang, berlari, dan terbang. Ujian itu dilaksanakan untuk mengevaluasi pelajaran-pelajaran yang telah mereka pelajari. “

“Hari pertama ujian berlari. Kelinci mendapatkan giliran yang pertama. Dia berlari dengan sangat kencang. Dia mendapatkan nilai yang sangat sempurna. Tetapi ketika burung dan kura-kura berlari, mereka mendapatkan nilai yang sangat jelek, karena mereka tidak bisa lari sekencang kelinci.”

“Hari kedua ujian berenang. Kura-kura mendapatkan giliran pertama untuk meng-uji-kan kemahirannya dalam berenang. Dia mendapatkan nilai sempurna. Giliran kedua burung dan giliran ketiga kelinci. Mereka berdua ternyata tidak dapat berenang dengan baik, bahkan kelinci hampir saja nyawanya terancam karena hendak tenggelam.”

“Nah, seperti itulah ilustrasi sistem pendidikan di Indonesia ini. Jadi setiap anak di paksa untuk menguasai seluruh mata pelajaran. Padahal setiap anak itu tingkat kecerdasan dan kreatifitasnya berbeda-beda. Seorang anak tidak dapat dikatakan bodoh hanya karena dia tidak bisa menguasai pelajaran matematika, fisika, kimia, dll. Mungkin saja dia menguasai suatu bidang tertentu. Jadi ada seorang peneliti yang mengatakan bahwa ada 8 macam kecerdasan. Diantaranya kecerdasan matematik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan linguistic, kecerdasan musical, dll. Kecerdasan matematis contohnya penguasaan seseorang akan pelajaran eksak. Kecerdasan kinestetik contohnya seseorang yang mahir sekali dalam bidang olah raga atau tari. Bisa saja seorang anak tidak bisa mengerjakan soal-soal matematika, tetapi dia mahir sekali dalam memainkan alat musik. Atau seorang anak yang tidak bisa mengerjakan soal-soal fisika tetapi dia hebat sekali main bolanya. Anak-anak seperti itu gak bisa kita katakan sebagai anak yang bodoh, karena mereka mempunyai kecerdasan yang lain.”

“Dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia ini, tidak menutup kemungkinan banyak siswa yang stres karena tidak bisa menguasai suatu mata pelajaran sedangkan gurunya memaksakan dia untuk menguasai mata pelajaran itu, sama seperti kelinci yang hampir saja mati tenggelam karena dia tidak pandai berenang sedangkan dia di tuntut untuk bisa berenang oleh gurunya.” Kata Jono yang memang pengetahuannya luas.

“Iya juga yach, jadi kita sudah didzalimi oleh guru-guru egois yang memaksakan kita untuk menelan sesuatu yang tidak kita sukai bahkan bisa menjadi racun untuk diri kita sehingga mati.” Kata Tia dengan semangat yang penuh emosi.

“Memang kita telah terdzalimi. Padahal kalau kita hadapkan situasi ini kepada mereka yang berada di departemen pendidikan, niscaya mereka tidak akan mampu menguasai semua mata pelajaran itu.” Tantang Joni.

“Coba seandainya di Indonesia ini ada sebuah sekolah yang bisa memahami karakter dan bakat masing-masing siswanya, sehingga sekolah itu mampu memberikan peluang kepada para siswanya untuk menyalurkan bakat yang mereka punyai.” Khayal Eka

“Iya semoga aja kelak ada sekolah yang seperti itu. Semoga kelak di Indonesia ini bermunculan sekolah-sekolah yang berusaha menyalurkan keinginan dan bakat para siswanya, bukannya sekolah-sekolah yang berusaha memenuhi egoisme para guru, kepala sekolah dan pemerintah.” Kata Joni.

 

*Korban penerapan sistem KBK yang setengah-setengah di fakultas

 

kalau kamu mau tau sekolah yang menerapkan KBK dengan sangat apik, kunjungilah website: http://www.smuth.net