Serangan Tentara AS ke Konsulat Iran

AS kembali menunjukkan absurditas keberadaannya di Irak. Kamis 11 Januari 2007, tentara pendudukan AS dengan menggunakan tiga pesawat helikopter, menyerang Konsulat Iran yang berada di kota Arbil, Irak utara. Tentara AS juga menangkap lima diplomat Iran serta menyita sejumlah dokumen dan komputer yang ada di gedung itu. Dalam keterangannya, militer AS mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan untuk membongkar intervensi Iran dalam mengacaukan keamanan di Irak. Tanpa memperlihatkan sedikitpun bukti, Militer AS mengklaim bahwa dokumen yang menunjukkan intervensi Iran itu telah ada di tangan mereka. Sementara itu dari Washington, Menlu AS Condoleezza Rice, mengaku bahwa pihaknya memang tengah mengincar para pejabat Iran yang disebutnya selalu mengganggu program-program AS dalam menegakkan keamanan di Irak.

Dari Teheran, Kementerian Luar Negeri Iran bereaksi keras dengan mengecam tindakan itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Mohamad Ali Hosseini, menyatakan bahwa tindakan AS itu merupakan pelanggaran sangat nyata terhadap konvensi internasional dan indikasi paling serius dari AS bahwa negara itu betul-betul mengabaikan kedaulatan pemerintahan Irak. Hosseini juga menambahkan bahwa tindakan ini diambil oleh Militer AS dalam rangka mengeruhkan persahabatan baik yang dijalin oleh pemerintah Irak dan Iran. Untuk itu, menurut Hosseini, Teheran tidak akan membiarkan kedua pihak terprovokasi gara-gara ulah kotor tentara AS tersebut.

Konvensi internasional memang menyebutkan bahwa aktivitas para diplomat di negara lain dilindungi oleh hukum. Karenanya, serangan AS terhadap gedung konsulat Iran di Arbil, Irak, tersebut jelas merupakan pelanggaran hukum yang tidak bisa dijustifikasi oleh hal apapun, termasuk kecurigaan bahwa di dalam gedung tersebut berlangsung aktivitas intervensi Iran untuk membuat Irak tidak aman. Apalagi setelah itu, Militer AS tidak mampu membuktikan klaim-klaimnya tersebut. Selain itu, serangan ke sebuah gedung milik negara lain tanpa berkonsultasi dulu dengan pemerintahan yang berkuasa adalah bentuk nyata sikap pengabaian AS terhadap kedaulatan pemerintah Irak.

Bagi Iran sendiri, ini bukanlah pertama kalinya kepentingan legal-diplomatik negara ini diganggu secara sewenang-wenang oleh AS. Sebelum ini juga sejumlah diplomat Iran ditahan oleh tentara AS di Baghdad. Padahal, para diplomat itu datang secara resmi ke Irak atas undangan Presiden Jalal Talabani. Protes keras pejabat Teheran dan reaksi cepat pejabat Baghdad berhasil menyelesaikan masalah tersebut. Karena bukan yang pertama kali, Iran tetap bersikap tenang dan tidak langsung terprovokasi, meskipun tetap saja menunjukkan sikap yang tegas. Sebagaimana yang dinyatakan Hosseini, Iran tidak akan membiarkan AS menjalankan agenda-agendanya di Irak, termasuk upaya memperkeruh hubungan antara Teheran dan Baghdad.

Sumber: IRIB Bahasa Indonesia