Beranda > Tulisan Orang > Berbaktilah Pada Ayah Bundamu…

Berbaktilah Pada Ayah Bundamu…

Berbaktilah Pada Ayah Bundamu…

Oleh: Ar Budi Prasetyo

Saudaraku, Ayah dan Ibu adalah kata yang terindah yang terucap oleh bibir manusia dan panggilan yang paling indah adalah ayahku…ibuku, ia adalah kata yang penuh dengan harapan dan cinta, kata manis dan indah yang datang dari kedalaman lubuk hati. Ayah-ibu adalah penghibur dalam sedih, harapan dalam susah dan sandaran tatkala lemah, mereka adalah sumber cinta, kebaikan, simpati, dan maaf.

Dalam selimut sepi digelarnya malam, ayah-ibu tak pernah bosan menceritakan kebaikan anak-anaknya kepada Tuhan, kendati sang anak setiap hari menorehkan luka yang amat dalam, dengarkan rintihan munajatnya:

Ya Ghaffar, Ya Rahim

Kau letakkan di rahim kami

Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih sayang kami

Kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami

Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami

Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran rezeki yang kau lewatkan pada kami

Tuhanku,

Kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu

Kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu

Hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami

Tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berdzikir kepada-Mu

Tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu

Tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Berilah kami kesempatan untuk seirng menghadap-Mu

Dan memohon kepada-Mu seusai shalat kami untuk kebahagiaan anak-anak kami

Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu

Mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak kami

Izinkan kami membasahi tempat sujud kami dengan airmata penyesalan akan kelalaian kami.

Dan berbaktilah pada ayah-bundamu

Islam menempatkan keridhoan ayah-ibu sebagai keridhan Tuhan. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman, “Yang pertama-tama dituliskan oleh Allah di Lauh al-Mahfuzth adalah Aku adalah Allah yang tiada Tuhan selain Aku, barang siapa mendapat ridha dari orang tuanya, maka akupun ridha kepadanya dan barang siaa dibenci orang tuanya, maka akupun membencinya.”

Dalam berbagai kesempatan Rasulullah Sawaw memerintahkan manusia mencintai dan berbakti kepada kedua orang tuanya, “Jadilah engkau orang yang berbakti kepada kedua orang tua, niscaya tempatmu adalah surga, barang siapa menjadi orang yang diridhoi oleh kedua orang tuanya maka dia memiliki dua pintu terbuka menuju surga, jika engkau menghardik dan buruk perangaimu, maka pastilah neraka menjadi tempatmu.”

Tengoklah keriput tulang pipi ayah, bahu yang kekar legam terbakar matahari, ia adalah gambaran perjuangan cinta untuk anak-anaknya, sementara ibu melewati rintangan demi rintangan dari waktu ke waktu, mempertaruhkan nyawa bersaput luka dan derita demi kasih untuk putra-putrinya, Imam Ali Zainal Abidin ra (cucu kesayangan Rasulullah Sawaw) berkata, “Adapun hak ibumu adalah hendaknya engkau ketahui bahwa dialah yang mengandungmu, saat tidak ada seorang laki-lakipun yang hamil, yang memberikan buah hatinya (kasih sayang) kepadamu yang tidak bisa diberikan oleh orang lain, yang mencurahkan seluruh waktunya untuk mendampingimu, yang memberikan makan dan minum kepadamu tanpa peduli dirinya sendiri lapar, yang mengenakan pakaianmu, yang berkorban dan melindungimu, yang kurang tidur karena menjagamu agar engkau tetap hangat sekalipun dirinya sendiri kedinginan, engkau pasti tidak akan bisa mensyukurinya kecuali dengan pertolongan Allah SWT, hendaknya engkau mengetahui bahwa keduanya adalah asal perwujudanmu, karena sesungguhnya tanpa dia engkau pasti tidak akan ada, karena itu, betapapun engkau melihat hal-hal yang snagat mengagumkan pada dirimu, ketahuilah bahwa dialah yang menjadi asal muasal kenikmatan yang engkau miliki itu.”

Cintailah dia dengan mendahulukan akhlak di atas fiqih

Dalam lapangan dakwah, sering didapatkan seorang (oknum) anak yang katanya telah mendapatkan “hidayah” yang ditandai dengan rajin ta’lim, berbusana “takwa”, ikut dna aktif di organisasi (mahasiswa/kemasyarakatan/partai) keislaman, sering berlaku kurang pada tempatnya kepada kedua orang tuanya, lantara mereka belum mendapatkan “pencerahan” (dengan ukuran mereka tentunya), orang tua dianggap masih lekat dengan “bid’ah” (tanpa pernah orang ta diberi kesempatan untuk mengajukan argumentasinya), dan ratusan alasan yang pada intinya menuduh cara hidup kedua orang tuanya belum Islami.

Kasus yang sering menimbulkan konflik dengan orang tua, adalah pernikahan, peringatan kematian, pengajian rutin di malam jumat. Dimana pihak anak yang baru saja mendapat informasi langsung menghukumi orang tuanya demikian-demikian, tanpa orang tua diberikan kesempatan menjelaskan mengapa beliau melaksanakan hal itu. Bahkan snag anak mengeluarkan ribuan dalil dengan tidak ma’ruf, sehingga menorehkan luka di hati orang tua. Boleh jadi masalah peringatan tersebut masuk dalam wilayah ikhtilaf, yang para ulama mazhab memiliki pandangan yang berbeda, sedang pengetahuan kita barus memahami sebagian saja. Imam Ali bin Abi Thalib kw mengatakan, “Berlemah lembutlah terhadpa mereka mereka, karena kekafiran seseorang terletak pada amarahmu…” Maksudnya ketika kebaikan tersebut disampaikan dengan meninggalkan akhlak maka justru bukan kebaikan yang diperoleh melainkan mereka menolak kebaikan, karena yang menyampaikannya pun juga tidak baik.

Sungguh, sikap itu sangat ditentang keras oleh Islam!!! Bahkan kepada orang tua yang berlainan agamapun, Islam memerintahkan untuk berbakti dan menyayanginya. Imam Ali ar-Ridho (Cucu Rasulullah Sawaw) pernah kedatangan seorang laki-laki (islam) yang berbeda keyakinan dengan kedua orang tuanya, dan ia bertanya sikap apa yang harus diambil kepada kedua orang tuanya, “Ya putra Rasulullah, Apakah saya harus mendoakan kedua orang tua saya, jika keduanya tidka mengetahui kebenaran?” Imam Ali Ar-Ridho menjawab, “Berdoalah bagi keduanya dan bersedekahlah untuk keduanya, sekalipun ketika masih hidup mereka berdua tidk mengetahui kebenaran, sebab rasulullah bersbada, “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan membawa rahmat bukan kutukan.”

Agama ini diturunkan untuk menyempurnakan akhlak manusia, menyeru pada kebaikan dengan lemah lembut, barang kali dengan kelemahlembutan ruang batin kesadaran orang tua kita tersentuh, bukan dnegan ribuan dalil, tapi kita tunjukkan manifestasi dari dalil itu sendiri. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya agama ini kokoh maka masukkanlah ke dalamnya dengan lemah lembut, dan jangan engkau membuat hamba-hamba Allah membenci ibadah kepada Allah, hingga engkau jadi bagaikan penunggang yang terputus, yang tidak ada jarak yang ia tempuh dan tidak menyiksa tungganggannya.”

Dalam sejarah diceritakan Zakaria Ibn Ibrahim adalah seorang muallaf, dimana sebelumnya ai beragama Nasrani. Taktala ia memeluk Islam ia belum menceritakan kepada ibunya (orang tua satu-satunya). Hingga tiba musim haji, dan ia berkeinginan datang ke Baitulharam, dengan alasan tertentu ia meminta ijin kepada ibunya. Singkat cerita ia pun diijinkan dan berangkatlah dia. Di sana ia bertemu dengan Imam Ja’far ash-Shadiq (Cucu Rasulullah) dan ia bercerita tentang masa lalunya dan kondisi keluarganya, serta meminta nasehat kepada Imam. “Ya Imam, ibuku beragama Nasrani, ibuku buta aku tinggal bersama mereka, apakah yang harus aku lakukan demi menjaga agamaku?” tanya Zakaria ibn Ibrahim. Lalu Imam berkata, “Perhatikanlah ibumu dna berbaktilah kepadanya.” Setelah mendengar nasehat tersebut Zakaria ibn Ibrahim pulang. Sesampai di rumah ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ia telah memeluk Islam, sang ibu terdiam. Namun semenjak hari itu ada perubahan besar yang dirasakan oleh ibunya, Zakaria bersikap sangat ramah, lemah lembut dan kasih terhadap ibunya, serta mengabdi kepadanya melebihi hari-hari sebelumnya, dan ibunya pun tak tahan melihat kebaikan putranya, hingga akhirnya ia berbicara pada Zakaria, “Wahai putraku, sungguh engkau belum pernah berbuat kepadaku seperti ketika engkau masih memeluk agama Nasrani, ini tampak sejak engkau meninggalkan agama ini dan memeluk Islam, Hai anakku, agamamu adalah sebaik-baik agama, jelaskanlah kepadaku agama itu.” Pinta ibunya, maka Zakaria pun menjelaskan agamanya, sehingga akhirnya ibunya memeluk agama Islam.

Ilustrasi di atas menganjurkan kepada mukminin untuk mendahulukan akhlak di atas fiqh, karena akhlak adalah perwujudan dari pemahaman fiqh dan akhlak adalah ukuran keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adlah orang yang paling baik akhlaknya, orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong dan takabur. “ Sebetulnya di dlam fiqh terdapat satu prinsip yang mengaitkan fiqih dengan akhlak yakni Maqashid al-Syari’at, dimana ia tidak boleh melanggar al-Mashalih al-dharurriyyah, karena sempitnya ruang ini, kami hanya menggambarkan dengan ilustrasi sederhana di atas.

Ijinkan aku wahai ayah dan bundaku…

Berdakwah (dan berjihad) adlaah salah satu kegiatan yang menjadi salah tugas insan muslim, dengannya agama rahmat ini disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Namun agama ini mengajarkan demi memenuhi panggilan Tuhannya tidak meninggalkan ijin kedua orangtuanya, pernah datang seorang laki-laki Yaman untuk menemui Rasul Saw, untuk ikut berperang bersama beliau. Nabi berkata padanya, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, dan mintalah izin kepada mereka berdua, kalau mereka mengizinkanmu, maka ikutlah berjuang, kalau tidak maka berbaktilah engkau kepada keduanya, sebab yang demikian itu lebih baik daripada kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah sesudah Tauhid.”

Menghadapi hal semacam ini Rasulullah mengajarkan pada Ahlulbaytnya untuk mendoakan mereka yang mempunyai keinginan ikut berjihad akan tetapi karena halangan yang lebih penting sehingga mereka menangguhkannya, Imam Ali Zainal Abidin menuliskan doa tersebut dalam Shahifah Sajjadiyah, “…Ya Allah jika ada seorang muslim yang urusan Islam merisaukannya, gabungan kaum musyrikin mendukakannya, kemudian ia hendak berperang atau berniat jihad tetapi kelemahan menahannya, kemiskinan menundanya, kemalangan menghambatnya atau sesuatu mencegahnya bukan karena kehendaknya, tulislah namanya di antara para abidin, pastikan baginya pahala mujahidin, masukkan dia dalam barisan Syuhada dan shalihin…”

Shalat Bakti

Kita tidak dapat mengganti kasih sayang yang telah diberikan kepada putra-putranya, terlalu besar jika dihitung pengorbanan mereka. Rasulullah kepada keluarganya mengajarkan sebuah shalat yang dihadiahkan kepada kedua orang tua, shalat tersebut lazim disebut sebagai shalat bakti. Dalam wasa’il juz 2 hlm. 445, disebutkan shalat bakti dilakukan di malam hari, sebanyak dua rakaat, pada rakaat pertama sesudah membaca Al-Fatehah membaca doa berikut Rabbighfirli waliwalidayyah walill mu’minia yauma yafumul khisab (Ya Rabbi, ampunilah aku, kedua orang tuaku dna orang-orang mukminin di hari dihisabnya amalam setiap orang). Doa ini di baca 10 kali, pada rakaat kedua setelah al-Fatehah bacalah: Rabbighfirli waliwalidayya waliman dakhala bayti mu’mina walil mukminina wal mukminati (Ya Rabbi ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang mukmin yang masuk di rumahku dan ampunilah orang-orang mukmin laki-laki dan wanita). Bacalah sebanyak 10 kali. Usai salam bacalah Rabbirkhamhuma kama rabbayani shaghira (Rabbi kasihanilah keduanya sebagaimana belas kasihan mereka saat memelihara aku mas akecil). Di baca 10 kali.

Namun bila kita tak berkesempatan melakukan shalat bakti, Rasulullah dan Ahlulbaytnya mengajarkan doa pendek yang dibaca di akhir sujud shalat fardu, Ya Lathif irkham ‘abdakadha’if warghfirli wali walidayya (wahai yang Maha Bijak rahmati hambamu yang lemah ini dna ampuni dosa-dosa kedua orang tuaku).

Namun apabila kita diberikan kesempatan yang luas di ujung malam, ada baiknya didoakan kedua orang tua kita, dengan doa yang diajarkan Rasulullah dan Ahlulbaytnya

Allahumma ya Allah…

Limpahkanlah shalawat atas Muhammad, hamba-Mu dna rasul-Mu serta keluarganya dengan sebaik-baiknya shalawat, rahmat, keberkahan dan kedamaian-Mu.

Demikian pula untuk kedua orang tuaku, dengan kemuliaan dan kasih sayang-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.

Allahumma ya Allah…

Ilhamkanlah kepadaku sesempurna pengetahuanku tentang segala sesuatu yang wajb kulakukan bagi kedua orang tuaku, kemudian berikanlah taufik kepadaku agar mampu melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Dan jadikan aku bersikap amat takut kepada keduanya seperti ketakutanku pada penguasa yang amat kejam, dan berlaku kasih sayang pada keduanya seperti kasih syaang seorang ibu yang amat penyantun. Dan jadikanlah ketaatan dna kebaikanku pada mereka leih nikmat bagiku daripada tidur lelapnya mata yang amat mengantuk, dna lebih menyejukkan dadaku, daripad aair dingin bagi yang snagat dahaga, sehingga ku utamakan keinginan mereka di atas keinginanku, dna kudahulukan kepuasan mereka sebelum kepuasanku, dna kuperbanyak dalam pandanganku, kebaikan mereka padaku, meski sebenarnya hanya sedikit dan kuperkecil dalam angan-anganku kebaikanku pada mereka meski sebenarnya banyak.

Ya Allah…

Rendahkanlah suaraku bagi mereka, perindahlah ucapanku di dpean mereka, lunakkanlah watakku terhadap mereka dan lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah…

Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya atas, didikan mereka kepadaku dan pahala yang besar atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku. Peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku di masa kecilku.

Ya Allah…

Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan, atau kesusahan yang mereka derita karena aku, atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku, jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka, meningginya kedudukan mereka dan bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah. Sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan berilipat ganda.

Ya Allah, bila maghfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku, izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku. Tapi jika maghfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku, maka izinkanlah aku memberi syafa’at untuk mereka…, sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu di tempat kediaman yang dinaungi kemuliaan-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki karunia Maha Agung serta Anugerah yang tak berakhir, dan Engkaulah Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih…[]

Penulis adalah Pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) klaten dan Aktivis Komunitas Kaki Lima Asyuro

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: