Beranda > Tulisan Orang > SOCRATES, Al HUSAIN DAN KESYAHIDAN

SOCRATES, Al HUSAIN DAN KESYAHIDAN

SOCRATES, Al HUSAIN DAN KESYAHIDAN

Muhammad Ashar

(Ketua I DPD IJABI Makasar, Ketua Ijabi Intelectual Community/IIC)

Thomas carlyle pernah berujar bahwa “history of the world is the biography of the great man”. Bagi Carlyle “The Great Man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”1). Teori Great Individuals sangatlah pantas disematkan pada Socrates dan Al Husain as. Keduanya perlambang wajah kebenaran dan pengorbanan.

Musim Semi 339 SM, Socrates di vonis mati oleh penguasa Athena. Mereka menuduh Socrates ingkar kepada dewa-dewa, memperkenalkan agama baru dan merusak jiwa kaum muda. Socrates berkesempatan meninggalkan keyakinannya dan mengikuti keyakinan yang lebih ngetop. Namun Sang Bijak ini lebih memilih mempertahankan keyakinannya. Di bawah ancaman kematian socrates menghadapinya dengan ketenangan.

Socrates dengan tenangnya berkata kepada para muridnya “sepanjang masih bisa bernafas dan berpikir, diriku tidak akan pernah berhenti mengamalkan filsafat, mendesakkanya padamu dan menjelaskan kebenaran  bagi setiap orang yang kutemui…..jadi entah…..membebaskanku atau tidak, kalian pasti tahu bahwa sikapku tidak akan berubah. Bahkan, tidak juga seandainya aku harus menjalani seribu kematian” .2)

Ketegaran dan keberanian luar biasa di tunjukkan Socrates demi mempertahankan keyakinan meski dengan mengorbankan hidupnya. Sang Bijak inipun meneguk racun untuk menjemput kematiannya yang agung.

Kematiannya merupakan momentum terpenting kebangkitan filsafat. Pasca kematiannya terjadi perubahan besar dalam peradaban Yunani dan Sang Bijak inipun meninggalkan warisan bagi para pengikutnya yang cemerlang. Sebuah ajaran kebenaran nan agung yang pengaruhnya masih terasa hingga kini. Demikianlah Socrates, Sang filsuf Agung.

Karbala, 10 Muharram 61 H,Sang manusia agung cucu terkasih Rasulullah Saww, putra Ali, menyongsong kematiannya yang Agung. Seperti pendahulunya, Socrates,Al Husain as diperhadapkan pada sebuah pilihan tetap memegang teguh ajaran Kakeknya dan menolak Baiat atau menerima baiat. Menolak baiat adalah kematian sementara menerimanya adalah “kehidupan”. Namun Sang Mujahid Agung ini berkata “Aku tetap akan meneruskan langkahku Sebab bagi seorang pemuda mati itu bukan Sesuatu yang memalukan, apabila kebenaran menjadi niatnya dan berjuang sebagai seorang muslim Kalau aku tetap hidup, aku tak akan pernah menyesal Dan kalau aku mati, aku tidak menderita Cukuplah untuk disebut dengan kehinaan Bila engkau tetap hidup tapi dihinakan

Al Husainpun menerjang dengan gagah berani musuh-musuh kebenaran dan wahyu. Pedang, panah, tombak dan ribuan prajurit tak membuatnya takut apalagi gentar. Karbala menjadi saksi bisu kisah Manusia Agung ini. Ia mengukir narasi agung kebenaran melalui tinta darah. Pengorbanan yang tiada tara, dirinya dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya turut serta dalam khafilah kesyahidan.

Dengan manisnya Murthada Muthahhari menceritakan dialog Al-Husain as dengan sahabat-sahabatnya, “Wahai sahabat-sahabatku!Wahai Ahlulbaytku!aku sudah kehabisan kata dan waktu untuk berterima kasih kepada kalian semua! Namun, ketahuilah, mereka hanya menginginkanku, mereka hanya berurusan denganku tidak dengan yang lain. Jika kalian sudah berbaiat kepadaku, maka aku cabut baiat itu. Kalian semua bebas. Sesiapa yang hendak pergi, pergilah. Kalian bisa membawa serta keluargaku dan anak-anakku!” Abu Fadlh Abbas ra Salah satu sahabat setia al Husain as berkata “Janganlah berkata demikian! Bangaimana bisa kami meninggalkan anda sendirian! Nyawa kami tidak banyak, namun kami akan mengorbankannya! Seandainya Allah Swt memberi seribu nyawa kepada kami, kami tetap akan mati bersama anda”. Al Husain pun bersabda “Sahabat-sahabatku, hari ini akan kuungkap satu rahasia kepada kalian semua, bahwa kita akan mati besok dan tidak ada yang tersisa besok”.

Mendengar ucapan Imam Husain as semua sahabatnya mengucapkan rasa syukur atas karunia agung itu. Namun tiba-tiba,Qasim, putra Imam Hasan as berusia 13 tahun, yang anak-anak itu bertanya seraya memperlihatkan kekwatirannya “Wahai pamanku, apakah besok aku akan mendapatkan kesempatan menjemput syahadah?” Al Husain:”Putra Saudaraku, sayangku!Aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimanakah mati itu menurutmu?” Qasim dengan gagahnya menjawab “Kematian adalah lebih manis dari madu. Aku takut jika tidak bisa merasakan kematian bersamamu”. Al Husain dengan kasih sayangnya yang teramat agung berkata”putraku, besok kamu juga akan mendapat kanunia syahadah, tapi sebelumnya kamu akan merasakan sakit yang tak pernah terwakilkan kata-kata”.3)

Pasca kesyahidan beliau, timbullah pemberontakan besar yang hasilnya adalah kembalinya ajaran Kakek beliau yang murni. Andai tak ada syahadah maka Islam yang murni telah hilang ditelan bumi. Dialah Al Husain as pelindung agama Rasulullah saw dengan darahnya.

Socrates dan Al Husain as beserta sahabatnya adalah orang-orang yang menjadikan kematian sebagai alat perlawanan. Keagungnya akan tetap hidup, menjadi inspirasi bagi manusia-manusia agung berikutnya. Mereka menjemput kematian. Kematian tidak mendatangi mereka. Mereka lebih terhormat dari maut itu sendiri. Keagungannya membuat maut tak berdaya. Mereka adalah The Great Individuals, mereka “ always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”.

Referensi

1). Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial, Rosda, 1999, hal 167

2). Alain de Botton, The Consolations of Philosophy, Teraju, 2003, hal 4

3). Muthada Muthahhari, Stop Anarkisme, Al Huda, 2006, hal 119

Muhammad Ashar

Ketua IJABI Intellectual Community Makassar

Ketua I PD IJABI Makassar

Sumber: Jalal Center

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: