Sunnah-Syiah dalam Konferensi Persatuan Islam di Doha

Sebuah konferensi untuk pendekatan antarmazhab Islam dimulai di Doha, Qatar, Sabtu 20 Januari, dihadiri oleh lebih dari 200 ulama dan cendikiawan Muslim dari 44 negara. Para tokoh yang hadir antara lain Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI) Ekmeledin Ihsan Oglu, Ketua Forum Dunia untuk Pendekatan Antarmazhab dan Pemikiran Islam Ayatulah Ali Tashkiri, dan ulama ternama asal Qatar, Dr. Yusuf Qaradhawi. Konferensi yang berlangsung sampai tiga hari itu dimotori oleh Fakultas Syariah dan Studi Islam Universitas Qatar bekerjasama dengan Universitas al-Azhar, Mesir, dan Forum Dunia untuk Pendekatan Antarmazhab dan Pemikiran Islam. 

Menurut Dekan Fakultas Syariah Qatar, Aisha al-Mannai, konferensi itu bertujuan mempromosikan dialog antarmazhab dan pemikiran Islam, terutama dalam konteks isu konflik Sunnah dan Syiah di Irak. Dia mengatakan, “Ide ini bukan untuk mengubah keyakinan masing-masing, melainkan untuk membuka dialog antarmazhab dan pemikiran umat Islam, karena semuanya percaya ajaran prinsipal Islam.”

Seperti diketahui, isu Sunnah-Syiah belakangan kian merebak seiring dengan kian merebaknya isu konflik partisan di Irak. Dan patut diingat, isu itu merebak tak lain karena sejak terjang AS dan Inggris untuk mengadu-domba umat Islam di Timteng. Dalam konteks ini, mereka beraksi bukan hanya di Irak, tetapi juga negara-negara Arab lainnya, terutama Libanon.

Dalam kasus Libanon, menyulut isu pertikaian Sunnah-Syiah adalah obsesi AS dan Israel setelah keduanya gagal mengganyang Libanon dengan kekuatan politik, militer, dan ekonomi akibat perlawanan para pejuang Islam Hizbullah. Kebencian AS terhadap Hizbullah mendorong AS untuk menebar kesan bahwa Hizbullah yang Syiah adalah kekuatan yang mengancam negara-negara Sunni di Timteng. Krisis Libanon dicitrakan AS sebagai konflik partisan, terutama Sunni-Syiah.Dalam kasus Irak, skenario serupa sedang dilangsungkan AS dan para sekutu Baratnya. Serangan-serangan teror terjadi di sana-sini. Karena para pelakunya yang misterius, Barat tinggal menyebut teror itu sebagai konfrontasi antara Sunnah dan Syiah. Parahnya, Irak juga dikesankan sebagai negara yang sudah menjadi ajang konflik kepentingan antarnegara berpengaruh di Timteng.

Tetapi banyak tokoh Irak sendiri mengendus teror-teror itu sebagai konspirasi pasukan pendudukan untuk bercokol di Irak, menjadi polisi di Timteng, dan menjarah kekayaan bangsa-bangsa Arab dan Muslim di kawasan ini. Ini ada fakta yang harus disadari oleh para tokoh Dunia Islam. Umat Islam juga jangan sertamerta menelan mentah-mentah berita-berita yang lazim ditebarkan Barat bahwa teror-teror di Irak itu adalah perang antara Sunnah dan Syiah.

Umat Islam mesti mengingat bahwa sebelum pasukan AS dan sekutunya menduduki Irak, konflik Sunnah-Syiah tidak pernah terjadi dalam sejarah Irak. Sebaliknya, bangsa Irak adalah bangsa yang toleran karena berperadaban tinggi. Lebih dari itu, mereka bahkan meyakini realitas yang pernah ditegaskan oleh Rektor al-Azhar Sheikh Mohammad Tantawi belum lama ini bahwa Sunnah dan Syiah dua umat Islam yang saling bersaudara; perbedaan antara keduanya hanya berkisar pada masalah furu’ sehingga faktor pemersatu jauh lebih besar daripada faktor pemisah antara keduanya. Berpijak pada realitas ini, jelas bahwa kekerasan di Irak bukan konflik Sunnah dan Syiah, melainkan konspirasi Barat untuk menghancurkan umat dan dunia Islam. Karena itu pelakunya selalu saja misterius.

Sumber: IRIB Bahasa Indonesia