Berakhirnya Konferensi Persatuan Islam di Doha

Konferensi persatuan Islam yang berlangsung tiga hari di Doha, Qatar, berakhir Senin 22 Januari. Konferensi yang diikuti oleh 216 ulama dan cendikiawan Muslim Sunni dan Syiah dari 44 negara dunia ini merilis komunike yang menyerukan kepada para pemuka umat Islam bergerak untuk merapatkan barisan umat Islam dalam menghadapi tumpukan problema. Seruan ini mereka tegaskan sambil menyinggung kemelut Timteng yang diwarnai isu konflik antarmazhab di Irak dan Libanon serta upaya musuh-musuh Islam untuk membangkitkan perang saudara di sejumlah negara kawasan. 

Para ulama Sunni dan Syiah yang terlibat dalam Konferensi Doha sama-sama mengutuk kekerasan di Irak dan menilainya sebagai fenomena yang dapat membelokkan perhatian umat Islam dari musuh hakiki bangsa-bangsa Arab dan Islam. Mereka menegaskan bahwa membunuh Sunni maupun Syiah adalah kejahatan besar.

Dekan Fakultas Syariah Universitas Qatar, Dr Aisha al-Mannai, selaku Ketua Konferensi Doha, mengatakan,”Semua ulama mengutuk konflik sektarian Sunni dan Syiah dan menganggapnya sebagai ancaman bagi persatuan Irak dan gangguan yang dapat mengalihkan perhatian Umat Islam dari musuh mereka yang sebenarnya.”   Lebih jauh, Komunike Doha menyerukan reformasi kurikulum pendidikan demi mempromosikan dialog antar pemikiran Islam.

Seperti diketahui, rumor konflik Sunnah-Syiah berhembus kencang ketika perhatian umat tertuju kepada kerusuhan yang terus membara di Irak. Banyak media, terutama media Barat, menyebutkan bahwa di negeri 1001 Malam itu terjadi tindakan saling bunuh antara pengikut Sunnah dan Syiah, saling bakar mesjid, saling usir, dan lain sebagainya.

Namun, benarkah faktanya demikian? Di Irak sendiri ternyata banyak tokoh dari masing-masing pihak tak percaya pada rumor itu. Bahwa kekerasan memang marak dan banyak jatuh korban, baik Sunni dan Syiah, ini adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Tetapi masalahnya ialah siapa pelakunya. Tokoh Syiah dari kelompok Moqtada Sadr dalam wawancara dengan TV al-Arabiyah Senin malam 22 Januari, misalnya, membantah keras rumor bahwa Sunni dan Syiah saling bunuh. Dia menyatakan tentara AS pernah terekam video ketika mengenakan baju milisi Irak untuk melancarkan aksi-aksi teror yang dikesankan sebagai partisan.

Dalam berbagai kesempatan, para tokoh di Irak mengingatkan bahwa di Irak ada tiga pemain berbahaya, yaitu para agen dan pasukan asing pimpinan AS, para eks rezim Ba’ath, dan terakhir jama’ah takfiriah, yaitu segelintir ekstrimis Muslim yang menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka.

Dengan demikian, umat Islam tidak seharusnya percaya kepada laporan-laporan bahwa Sunni dan Syiah saling bunuh di Irak. Karena yang terjadi sesungguhnya ialah bahwa keduanya merupakan korban konspirasi musuh-musuh Islam untuk membangkitkan konfrontasi antara dua komunitas besar Sunnah dan Syiah.

Sumber: IRIB Bahasa Indonesia