Imam Husein bin Ali Pewaris Para Nabi


Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Adama Shafwatillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Nuhin Nabiyillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Ibrahima Khalilillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Musa Kalimillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa ‘Isa ruhillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Muhammad Rasulillah…
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa ‘Aliyyin Waliyillah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Fathimata
wa Khadijah
Assalâmu ‘alaika ya wâritsa Hasanin Hujjatillah

Salam bagimu, Ya Aba ‘Abdillah. Salam bagimu, wahai putra Rasululillah. Salam bagimu wahai curahan kasih Ali dan Fatimah.

Inilah kami, sekian abad dari masamu, dalam tubuh ringkih yang penuh dosa, dengan lidah kelu yang tercemari dusta, dengan mata dan telinga, kaki dan tangan yang kami gunakan dalam nista…kami beranikan menyerumu meskipun besar rasa malu kami, kami kuatkan menyapamu betapapun kotor diri kami.

 

Duhai cucu Nabi, entah bagaimana, dalam hati ini selalu ada kerinduan kepadamu. Kami tidak tahu, dari mana datangnya, Tuhan senantiasa menggerakan hati kami untuk mengenangmu. Seolah ada ruang yang tersisa, di kedalaman sanubari, setelah seluruh maksiat dan dosa…

 

Seolah masih ada cahaya, yang menanti di akhir perjalanan, setelah seluruh salah dan nista…

 

Sebagaimana dahulu, ya Husein, bersimpuh di kaki bumi, manusia ciptaan Tuhan yang pertama. Setelah seluruh nikmat di surga, ia terhempas ke alam dunia. Hanya dengan satu pelanggaran, ia terasing hingga alam keabadian. Apa jadinya kami, ya Husein, bukan saja satu yang kami langgar, sejuta perintah Tuhan yang lainnya kami abaikan. Setelah dari Tuhan tercurah nikmat tak terhingga, dari kami naik maksiat dan dosa tak terkira. Apa jadinya kami, ya Husein…

 

Lalu Adam sang manusia pertama, dengan harapan yang tersisa, menengadah ke ‘Arasy yang mulia dan berkata, “Tuhanku, demi hak mereka yang namanya tertulis di samping keagungan-Mu, ampuni setiap salah dan dosaku. Maafkan kelalaian dan kekuranganku.” Tiba-tiba terdengar suara dari langit, “Siapa yang kaumaksud ya Adam? Nama-nama mana yang kau inginkan?” Dari bumi suara manusia pertama merintih pilu, “Demi hak Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein…” Adam menyebut namamu, duhai putra Nabi, Adam memanggilmu Ya Sayyidi…namamulah yang disandingkan di ‘Arasy tinggi, di samping Tuhan, kakekmu, kedua orangtua dan saudaramu. Ya Sayyidi, apa yang terjadi, setelah Adam memanggilmu? Dari atas langit terdengar suara, “Aku terima taubatmu. Ampunan dan kasih-Ku bagimu.” Menangislah Adam mendengar itu, air mata mengalir deras bahagia…Ya Husein, inilah kami, dengan beban yang kami pikul dari kekhilafan kami. Ingin kami angkat kepala kami. Ingin kami berteriak pada Tuhan kami, “Ya Allah! Demi hak mereka yang namanya tertulis di samping keagungan-Mu, ampuni setiap salah dan dosa kami.” Meski dari langit tak terdengar suara…kami tetap berteriak, “Ya Allah, demi hak Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein…” Kami memanggilmu Ya Sayyidi. Ingin setelah itu, kami rasakan ampunan Tuhan. Ingin setelah itu, kami basahi pipi kami dengan airmata penyesalan. Ya Husein, Ya Sayyidi…Adam bertaubat, dan ia sebut namamu. Kami memanggil-manggilmu, Ya Sayyidi…berkenanlah engkau menjadi syâfi’ kami.

 

Ya Sayyidi, Ya Huseinabna ‘Ali, setelah Adam bertaubat, barulah ia buka matanya. Ia palingkan wajahnya ke arah timur dan barat, menghadap utara dan selatan. Ia dapati dirinya sendirian, Ya Sayyidi. Padang pasir membentang di hadapannya. Ketakutan menguasainya. Lalu Tuhan kirimkan baginya malaikat, menemaninya hingga ‘Arafat. Tetapi, ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Seperti Adam, engkau dapati dirimu sendirian. Adam sendirian pada awal perjuangan, sementara engkau, Ya Sayyidi, pada akhir perjuanganmu. Di ujung pencarian, Adam dapatkan Hawa di sampingnya. Di ujung perjuanganmu, Ya Sayyidi, tidak tersisa seorang pun berdiri di sampingmu. Kecuali perempuan dan anak-yang menangis pilu. Ya Sayyidi, engkau warisi kesendirian Adam. Tetapi Adam berakhir dalam ketentraman Hawa. Ya Sayyidi, engkau warisi kesendirian Adam, di padang Karbala kau berdiri. Satu demi satu sahabat terdekatmu berangkat berjuang. Engkau lepas Ali Akbar yang tersayang. Engkau lihat Abal Fadhl menerjang. Kau kehilangan sanak dan saudara…dan berdiri sendirian, di akhir perjuangan. Sementara Adam, Ya Sayyidi, setelah ia memanggil namamu, ia sendirian, ia ketakutan, Tuhan tentramkan ia. Tuhan pertemukan ia kembali dengan Siti Hawa.

 

Kami tidak tahu kepada siapa kami harus berguru? Apakah kepada Adam, untuk memanggil namamu, hingga Tuhan kemudian menentramkan hati kami? Ataukah kepadamu, Ya Sayyidi, hingga satu demi satu, sanak saudara dihilangkan, kerabat ditiadakan…seperti engkau yang berjuang sendirian…Ya Sayyidi, salam kami bagimu.

 

Setelah Adam, Ya Sayyidi, musim berubah zaman berganti. Sunnah yang dibawa Adam dilupakan kembali. Manusia tersesat dan salah mengabdi. Mereka tertipu gemilang dunia yang penuh mimpi. Lalu datanglah pada mereka, Nuh sang nabi yang panjang usia. Tak henti-hentinya ia mengingatkan mereka, bahwa dunia hanyalah sementara. Tapi apa jawab kaumnya, Ya Sayyidi…mereka cemooh Nuh, mereka anggap dia sudah gila. Ia ingatkan kebaikan, mereka balas dengan keburukan. Hampir sepuluh abad ya Sayyidi, Nuh tak henti berbakti. Sembilanratus limapuluh tahun dihabiskan untuk membawa umat pada kebahagiaan. Tapi hanya sedikit yang mengerti. Hanya segelintir kecil yang peduli. Hingga tibalah pada mereka, azab yang dijanjikan Tuhan semesta. Nuh berdiri mengabarkan, akan banjir besar yang datang. Tapi kaumnya menertawakan. Nuh berdiri memancangkan, sebilah kayu dan sebongkah papan. Hingga jadilah bahtera yang perkasa, bersiap berlayar ke samudra. Ya Sayyidi, sebelum bahtera itu berlayar, Jibril turun dari langit. Kepada Nuh, ia berikan lima buah paku. Dengan itu, sempurnalah bahtera. Siaplah ia menuju laut lepas. Ya Sayyidi, tahukah engkau, ada nama yang tertulis pada setiap bongkah paku: Nama kakekmu, kedua orangtua dan saudaramu…serta namamu ya Sayyidi. Seolah setiap perjalanan kesucian, senantiasa harus diawali, dengan menyertakan lima nama yang suci. Ketika Adam hendak memulai kehidupan dunia, ia panggil namamu. Ketika Nuh hendak menyelamatkan manusia yang tersisa…ia pahat namamu. Maka ketika penduduk Nuh tertawa dan berkata, “Engkau buat perahu ini di gunung, hendak kemana kau berlayar, hai orangtua yang pikun dan gila…” Dari langit kemudian terdengar, halilintar menggelegar…bumi berguncang dan air keluar dengan deras. Dalam hitungan detik, daratan berubah lautan. Ya Sayyidi, semuanya binasa, termasuk putra Nuh yang celaka. Berlayarlah kafilah Nuh, menuju tempat yang dijanjikan. Berangkatlah kafilah Nuh, menuju tanah kebahagiaan…

 

Ya Sayyidi, betapa kami tak menangis pilu. Ketika kafilahmu berangkat, dari Madinah menuju Makkah, dari ‘Arafah menuju Kufah…dan engkau terhenti di Karbala. Ya Sayyidi, engkau warisi kafilah Nuh. Engkaulah pemimpin bahtera. Tetapi kepadamu tidak ada tempat yang dijanjikan. Kepadamu tidak ada tanah kebahagiaan. Di ujung samudra yang luas, Nuh dapati daratan. Di ujung padang Karbala ya Sayyidi, kau dapati pasukan. Bukan hanya sekelompok tentara. Ribuan orang yang berdiri, dengan pedang di tangan, panah yang terbentang, dan tombak yang dipancangkan, bersiap untuk membunuhmu, Ya Sayyidi. Di ujung Karbala yang kau dapati adalah kematian.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tak menangis pilu. Pada Nuh binasa putranya yang celaka karena tenggelam dalam kenikmatan dunia. Padamu ya Sayyidi, Ali Asghar yang masih kecil, yang masih suci dan tak berdosa, yang belum merasakan kenikmatan dunia, setelah tenggorokannya kering tak berdaya. Dan air susu tak mengalir di antara wanita. Ya Sayyidi…tahukah engkau kenikmatan yang kemudian diberikan kepadanya? Ia meregang di antara kedua tanganmu. Sebusur anak panah menembus lehernya yang suci. Satu-satunya kenikmatan dunia yang ia rasakan, setelah tertahan dari air dan kehausan…adalah manisnya kesyahidan.

 

Ya Sayyidi, ketika kafilah Nuh berlayar…Tuhan alirkan hujan. Ketika kafilahmu bergerak…mengalirlah airmata dan tangisan…

 

Lalu Ibrahim datang setelah itu. Ialah Nabi pembawa risalah. Ialah manusia yang dirundung gelisah. Mencari dan mencari, hingga ia temukan Tuhan yang sejati. Ia buktikan kecintaannya pada Tuhan, dengan memenuhi setiap ujian. Ketika ia hancurkan berhala kaumnya, bara api menantinya. Sebulan lamanya kaum Ibrahim mempersiapkan api tempat hukuman. Betapa panasnya api itu, sehingga burung yang terbang jauh di atasnya akan binasa. Diikatlah Ibrahim, didoronglah ia mendekati api. Ya Sayyidi, tahukah engkau…Mahabesar Tuhan yang Mahatinggi…api itu berubah dingin untuk Ibrahim. Ia sejuk dan damai. Tuhan utus seorang malaikat untuk menemani Ibrahim. Hingga ia tinggal di dalamnya dengan penuh kebahagiaan.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Ketika engkau bergerak untuk menghancurkan berhala umat yang baru. Kepadamu dihadapkan panas padang karbala yang membara. Tenda-tenda peristirahatanmu dibakar dengan api yang menyala. Engkau warisi kepasrahan Ibrahim. Engkau pasrahkan dirimu pada Tuhan semesta alam. Tetapi padang itu tidak berubah menjadi sejuk. Panasnya tidak menjadi dingin…dan engkau beserta sanak saudaramu, menderita kehausan tak terperi. Mukjizatmu Ya Sayyidi, bukan lagi dinginnya api. Anugerah Tuhan bagimu, wahai putra Ali, bukan lagi malaikat yang menemani. Bukan saja tidak ada yang menemani, tetapi kawan yang berangkat bersamamu pun, diambil juga darimu ya Sayyidi…

 

Ya Sayyidi, setelah Ibrahim diselamatkan, sebagian manusia kembali pada jalan Tuhan. Mulailah Ibrahim meniti ujian demi ujian. Atas perintah Tuhan, ia tinggalkan putra tersayang di samping rumah Tuhan dalam keadaan kehausan. Tetapi mukjizat terjadi lagi…air mengalir dengan deras, sehingga Ismail dan sang Ibu menjadi puas. Mereguk sekenyang-kenyangnya. Sehingga lembah yang kering berubah hijau. Negeri yang tandus menjadi makmur. Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Ketika engkau bawa keluargamu menuju Karbala…mereka menahan air darimu. Kafilahmu kehausan. Abal Fadhl berangkat dan ia sampai pada aliran sungai. Tak hendak ia meminum air itu, sebelum engkau meminumnya ya Sayyidi. Dalam perjuangan mempersembahkan air bagimu…ia rasakan manisnya kesyahidan.

 

Ya Sayyidi, Ibrahim sang Nabi masih diuji. Ia bertanya pada Tuhan, bagaimana menghidupkan orang yang mati. Tuhan beri dia jawaban. “Apakah engkau belum beriman Ya Ibrahim…” Ibrahim berkata, “Supaya hatiku menjadi tentram…” Ya Sayyidi, engkau warisi kegelisahan Ibrahim. Engkau saksikan kakekmu dikhianati, kedua orangtuamu disakiti, saudaramu dibenci…tentramkah hatimu ya Sayyidi…adakah jawaban Tuhan bagimu, duhai Putra Ali…

 

Engkaulah juga ya Sayyidi, yang mewarisi pengorbanan Ibrahim. Pada akhir ujian kecintaannya, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra tersayangnya. Ismail yang sangat dicintainya, harus berakhir di tangannya. Ketika belati yang tajam hendak menyentuh kulit Ismail, tangan Ibrahim tak lagi memegang putranya. Seekor kambing tergeletak di hadapannya.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Engkaulah dzabihatu âli Muhammad, engkaulah yang dikorbankan dari keluarga Muhammad. Keluarga Muhammad mewarisi keluarga Ibrahim. Muhammad adalah Ibrahim, dan engkau adalah Ismail. Ketika kafilahmu bergerak ke arah Karbala, kami menjerit, “Ya Allah, kafilah suci ini sudah menyatakan kepasrahan mereka. Ya Allah keluarga mulia ini, sudah menunjukkan kecintaan mereka.” Ya Sayyidi, kami menanti dan menanti, tapi tidak juga kurban itu diganti. Ketika Syimr La’natullah ‘alaihi berdiri di atas jasadmu yang suci…harapan itu masih ada pada kami…kapankah kurban itu akan diganti. Ketika pedang yang tajam itu pada akhirnya menyentuh kulitmu yang suci…tidak juga turun berita dari langit. Ketika leher yang sering diciumi nabi, pada akhirnya ditebas pedang si durjana…barulah kami tahu…Ya Sayyidi, engkaulah pengorbanan itu. Engkaulah puncak segala kecintaan, engkaulah pangkal segala kepasrahan…

 

Ya Sayyidi, pada Ibrahim manusia mencari berkah, mengais sisa dari kehidupannya yang penuh hikmah. Mereka mencontoh Ibrahim dengan berkurban setiap tahun. Tetapi padamu ya Sayyidi, sudah jelas ada berkah nabi yang suci…lehermu ya Sayyidi, adalah leher yang sering dikecup nabi. Tapi apa yang dilakukan umat pada masamu, berkah yang semestinya terpelihara, diabaikan begitu saja, bahkan dianiaya dan disiksa…ampuni kami ya Sayyidi…ampuni kami wahai putra ‘Ali…

 

Setelah Ibrahim engkau warisi Musa kalimillah. Ya Sayyidi, Musa adalah gembala yang dibesarkan di istana raja. Engkau dibesarkan dalam rumah wahyu yang sederhana. Hingga dewasa pada Musa diberikan setiap keinginan. Betapa sering kami dapati di rumahmu tidak tersedia makanan. Ketika Musa hendak berangkat, untuk mengingatkan Fir’aun yang sesat. Ke atas langit, tangan ia angkat, memohon dan bermunajat, “Ya Allah, luaskan hatiku, mudahkan urusanku…jadikan Harun saudaraku, pengiring dan kawanku, yang menyertaiku dalam tugas ini…”

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Ketika kafilahmu hendak berangkat, dalam setiap kesempatan, kau berkata pada keluarga dan kawanmu, “Yang akan kalian hadapi bukanlah kehidupan yang menyenangkan. Pada akhir perjalanan kita menanti ujian yang sangat berat. Aku tidak bisa memberikanmu kenikmatan dunia. Kembalilah kalian. Pergilah kalian di malam hari. Selamatkanlah diri dan keluarga kalian.” Jika Musa meminta Harun untuk menemani perjuangannya…ya Sayyidi, engkau malah ingin seorang diri, engkau perkenankan setiap mereka untuk meninggalkanmu, pada setiap peluang yang tersedia…tetapi beruntunglah mereka yang menjadi karib setiamu. Karena mereka berkata, “apa jadinya kami, jika kelak pada hari akhir nanti, kakekmu sang nabi bertanya mengapa kami meninggalkanmu. Apa jadinya kami, jika kami tinggalkan engkau seorang diri…”

 

Ya Sayyidi…apa jadinya kami semua ini. Yang hanya memperingatimu setahun sekali. Yang hanya mengenangmu pada saat-saat seperti ini. Apa jawab kami pada hari akhir nanti, jika kakekmu bertanya pada kami, “apakah kalian teruskan pengorbanan cucuku Husein?” Ya Sayyidi…apa jadinya kami…

 

Ya Sayyidi, Ya Huseinabna Ali…berat sungguh perjuangan Musa. Ia ingatkan kaumnya yang sudah buta. Ia datangkan mukjizat, musibah beruntun yang sangat berat, mulai kemarau panjang hingga penyakit yang dahsyat. Tetapi yang beriman di antara kaumnya diselamatkan. Bahkan laut dibelah, semata agar kaum Musa terpisah dari kejaran Fir’aun dan pasukannya.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Umat pada zamanmu sudah buta. Penyakit menguasai hati mereka. Dan engkau ingatkan mereka. Ketika di depan kafilahmu berdiri pasukan angkara murka, kami menanti…tapi Karbala tak dibelah. Satu-satunya yang kami lihat membelah ribuan pasukan itu, adalah putra dan sahabatmu Ya Sayyidi…Mereka berangkat ke tengah-tengah musuh, menebas pedang menghentak kuda, memporakporandakan mereka…tetapi hanya sesaat saja…dalam hitungan nafas, lautan pasukan yang terbelah itu menyatu kembali…

 

Ya Sayyidi, setelah Musa, datanglah Isa. Ialah putra yang dibesarkan dalam naungan Zakariyya. Ibunya perempuan suci yang mendapatkan jamuan surga. Ya Sayyidi, engkaulah pewaris kelahiran Isa. Sesaat setelah Isa dilahirkan, ibunya memeluknya dalam genggaman. Tak lama setelah kaumnya mempertanyakan, Isa yang masih bayi membuka mulutnya dengan ucapan, “Akulah hamba Tuhan, utusan Tuhan bagi kalian…” Ya Sayyidi, Isa kecil membawa berita, ialah utusan penerus Zakariyya. Rasul Tuhan yang harus ditaati, yang membimbing manusia pada Tuhan yang sejati.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Sesaat setelah engkau dilahirkan, Sayyidah Fatimah, bundamu yang suci, membawamu ke pangkuan kakekmu. Tetapi tahukah engkau, ya Sayyidi, berita yang turun dari langit. Seiring dengan kelahiranmu, Jibril turun membawa wahyu. Kabar langit itu tidak berkata, “Inilah putra hamba Tuhan.” Jibril tidak turun dengan berita, “Inilah utusan Tuhan bagi kalian…” Tidak, ya Sayyidi…tidak. Berita yang turun itu mencurahkan airmata…bahkan kakekmu yang suci pun, mengecup keningmu seraya berkata, “Baru saja, Jibril turun dengan sebuah berita duka…kelak cucuku Husein, akan syahid di Karbala…” Ya Sayyidi, bila Isa dilahirkan dengan sebuah berita gembira…maka kelahiranmu, ya Sayyidi, disambut cucuran airmata

 

Setelah Isa beranjak dewasa. Ia dakwahi kaumnya yang sudah lupa. Begitu indahnya ia berkhotbah, sehingga cinta dan kasih memayunginya pada setiap langkah. Ia dapati pengikut yang melimpah, sehingga penguasa pada zamannya resah. Karena itulah, Ya Sayyidi, pengkhianatan kemudian terjadi. Sahabat yang mestinya mendukung, berbalik menelikung. Ketika konspirasi pembunuhan terhadap Isa, terencana dengan sempurna. Tuhan gantikan ia dengan Yudea, Tuhan buat ia serupa.

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Tak henti-hentinya engkau berdakwah. Tutur katamu begitu indah. Perangai dan budimu uswatun hasanah. Tapi ya Sayyidi, padamu tiada pengikut yang melimpah, meskipun tetap penguasa pada zamanmu resah. Engkau warisi peristiwa pengkhianatan Isa. Bila Isa ditelikung satu orang. Seluruh penduduk Kufah menusukmu dari belakang. Ya Sayyidi, ketika konspirasi pembunuhanmu kemudian terjadi, ketika ribuan pasukan sudah berdiri…putra-putra yang serupa denganmu, dari tutur kata dan perilaku…Ali Akbar dan Ali Asghar, semuanya syahid di medan juang…

 

Ya Sayyidi, tibalah saatnya, kami harus bercerita padamu, tentang apa yang kau warisi dari kakekmu. Bukan saja rupamu yang persis Nabi, budimu pun tak perlu ditanyakan lagi. Melihat sosokmu, orang akan teringat sang Nabi. Matamu yang suci adalah mata nabi. Lidahmu yang suci adalah lidah nabi. Janggutmu yang basah dengan airmata adalah juga janggut nabi. Lehermu yang ditebas pedang durjana, adalah juga leher sang Nabi. Ya Sayyidi, ketika kakekmu dengan getir berjuang. Meskipun dicemooh, dilempar sampah dan dibuang. Beliau perlakukan mereka semua dengan kasih sayang. Beliau tebarkan di tengah-tengah mereka ketentraman. Beliau ubah bangsa yang jahiliah, menjadi bangsa yang cerah. Karena kakekmu, nikmat tercurah. Lalu apa yang diminta kakekmu, atas seluruh dakwah beliau itu…”La as’alukum ajran, illal mawwadata fil qurba…tidaklah aku meminta balasan, kecuali kecintaan kalian pada keluarga yang kutinggalkan…”

 

Ya Sayyidi, bahkan yang satu itu pun tidak bisa kami beri. Jangankan kami, manusia pada zamanmu pun tidak lagi memberi arti. Kecintaan pada keluarga nabi sudah berulangkali diganti. Dunia yang kami hadapi sekarang ini, Ya Sayyidi, adalah dunia yang sangat keji. Jika dahulu penguasa pada zamanmu, berniat memerintah dengan mengatasnamakan Islam. Kini penguasa pada zaman kami, bahkan takut mendengar kata “Islam”. Ya Sayyidi, kerabat kami pun tampaknya lebih kejam, bahkan dari musuh pada zamanmu. Yazid yang dilaknat saja, masih mempunyai hormat yang tersisa, pada Sayyidah Zainab dan tawanan yang teraniaya. Tapi kawan seagama di samping kami, bahkan menghabisi kami, kadang-kadang tanpa henti, hingga tak lagi tersisa, satu pun di antara anggota keluarga. Saudara kami di Afghanistan dibantai. Perempuan kami di Bosnia ditelantarkan. Anak-anak kecil kami di Palestina dikorbankan. Ya Sayyidi, bahkan kadang kami lupakan itu semua…Ya Sayyidi, apa jawab kami kelak di hadapan kakekmu…

 

Padahal dari kakekmulah engkau warisi perjuangan. Menegakkan yang benar, meski menelan sejuta pengkhianatan. Ya Sayyidi, engkau juga warisi akhir perjuangan itu. Ingatkah engkau, kala terakhir kakekmu yang suci, berbaring di kamarnya seorang diri. Tiba-tiba ia terbangun. Ia dapati bibirnya yang semula kering kini basah. Ia berkata, “Siapa yang memasukkan racun ke dalam tenggorokanku? Siapa yang menyuapkan sesendok air dalam mulutku?” Tidak ada di antara yang hadir waktu itu yang mengaku. Hingga sang Nabi geram dan berkata, “Keluar kalian dari kamarku, biarkan aku seorang diri…” Ya Sayyidi, seperti engkau ketahui, tak lama setelah itu, kakekmu menghembuskan nafas sucinya yang terakhir…tanpa pernah ia ketahui, siapa yang membuat bibir sucinya itu basah, siapa yang telah menyuapkan sesendok racun yang membuat sakitnya menjadi parah…

 

Ya Sayyidi, betapa kami tidak menangis pilu. Bila sang Nabi tak pernah menyaksikan, gerangan ulah siapa yang membawanya pada akhir kehidupan. Engkau ya Sayyidi, adalah pewaris kenabian. Engkau tahu tangan terakhir yang menyentuhmu. Engkau saksikan si durjana yang membunuhmu. Meskipun berulang kali, ketika durjana itu hendak memenggal lehermu yang suci, seolah pedang itu terangkat. Tangan terasa berat…hingga engkau berkata, “Hei Syimr, leher yang hendak engkau tebas itu…adalah leher yang sering dikecup nabi…” Setelah tubuhmu kemudian dibalikkan, sehingga si durjana tidak lagi engkau saksikan…matamu terkatup, bibirmu yang suci terbuka, lidahmu mulai melantunkan ayat-ayat mulia, bayangan perjumpaan dengan kakekmu, kedua orangtua, dan saudaramu, membentang di depan mata…jembatan itu kini tersedia. Bukti terakhir kecintaan keluarga Muhammad pada Tuhannya. Seiring desir angin menyertai kelebat pedang, hanya satu yang terucap…Allah. Seiring tetes darah suci yang pertama menyentuh bumi, hanya satu yang terucap…Allah. Seiring jeritan perempuan dan anak-anak yang tertawan, hanya satu yang terucap…Allah…

 

Ya Sayyidi, Ya Huseinabna Ali, salam kami bagimu. Terimalah ziarah kami. Kabulkan kecintaan kami, betapa pun kecil pengorbanan yang kami berikan. Bantulah kami untuk selalu mengenangmu dalam setiap keadaan. Topanglah kami untuk menjadikanmu senantiasa suri tauladan.

 

Ya Sayyidi, ruhmu yang suci kini mi’raj ke langit tinggi. Sampaikan salam kami pada syuhada yang berjuang bersamamu. Katakan pada mereka, betapa irinya hati kami. Ingin kami rebut tempat mereka. Ingin kami gugur di samping Sayyidus Syuhada…tapi tentunya berkah sebesar itu, tidak akan diberikan, pada kami yang hina dina. Katakan saja pada mereka, Ya Sayyidi…pada mereka yang kini memandang kami dari langit tinggi…di bumi ini, pada tempat yang terkecil sekalipun, pada sudut yang terpencil seperti apa pun…pada belahan bumi yang tertutup, pada malam hari yang menyelimuti…kami tetap tidak bisa bersembunyi. Kami tetap tidak tahu dengan apa kami tutup wajah kami…kami malu mengaku mencintaimu, Ya Sayyidi, tapi perjuangan kami tidak sebesar debu pun sama dengan mereka. Salam kami bagimu Ya Sayyidi, katakan pada mereka yang syahid bersamamu…”Saudaraku, sementara kalian tertawa di atas langit…di kegelapan malam pun, kami malu terhadapmu…kami malu terhadapmu…