Beranda > Tulisan Orang > Memahami “Konflik Sektarian” di Irak

Memahami “Konflik Sektarian” di Irak

Memahami “Konflik Sektarian” di Irak

Oleh: Irman Abdurrahman

Irak adalah negeri duka dan derita. Laporan Misi Asistensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Irak mencatat bahwa, selama 2006 saja, 34.542 warga sipil Irak tewas akibat pemboman, penembakan, atau eksekusi gelap dari berbagai kelompok bersenjata yang bergetayangan bak malaikat maut. Jika di rata-rata, maka hampir 96 warga sipil Irak meregang nyawa setiap harinya. Sebuah catatan yang tampaknya melebihi catatan kekejaman Saddam Hussein selama berkuasa.Sejak peristiwa pemboman Haram Imam Hasan Askari di Samarra pada Februari 2006, berbagai kekerasan yang mengikutinya hingga kini sering dikait-kaitkan dengan “konflik sektarian” Sunni-Syiah. Setiap jatuhnya korban di salah satu pihak, meskipun para pelakunya tidak pernah diketahui secara pasti, niscaya tuduhan mengarah kepada pihak yang lain. Dalam upaya memahami “konflik sektarian” di Irak, tampaknya ada tiga hal yang mestididudukkan secara proporsional.

Konflik tanpa Preseden Historis

Hal pertama yang mesti diingat adalah bahwa warga Sunni dan Syiah di Irak selama berabad-abad hidup berdampingan tanpa ada gesekan yang berarti. Tidak pernah ada preseden bahwa Muslim Irak, baik Sunni maupun Syiah, pernah berkubang dalam pertumpahan darah terkecuali sejak invasi Amerika, dan secara lebih khusus setelah peristiwa pemboman di Samarra. Bahkan, hingga Baghdad jatuh ke tangan pasukan Amerika pada April 2003, ulama Sunni seperti, Syekh Ahmad Kubaisi, dan ulama Syiah, seperti Muqtada al-Shadr, masih sama-sama mengusung slogan “maku al-farq”, ‘tidak ada beda’ antara Sunni dan Syiah. Pada periode antara April 2003- Februari 2006, tak jarang, kedua kelompok mazhab ini mengadakan unjuk rasa bersama menentang pendudukan, dan bahkan salat berjamaah (lihat laporan pandangan mata penulis independen Nir Rosen, Anatomy of a Civil War, dalam Boston Review, 27/11/2006).

Dapat ditegaskan bahwa tidak pernah ada “fatwa perang” yang keluar dari para ulama Syiah dan Sunni. Satu-satunya deklarasi perang justru keluar dari mulut seorang Yordan, Abu Musab al-Zarqawi, pentolan al-Qaidah di Irak, pada September 2005. Tentu saja, deklarasi perang ini ditujukan al-Zarqawi terhadap Syiah. Asosiasi Ulama Muslim (Hay`at Ulamâ`u al-Muslimûn), organisasi ulama Sunni Irak, pun langsung mengecam deklarasi al-Zarqawi tersebut.

Faktor Pemicu Eksternal

Jelaslah bahwa ada kesenjangan antara retorika otoritas keagamaan dengan realitas yang dihadapi umatnya. Kesenjangan ini lahir dari faktor-faktor pemicu eksternal, yang berada di luar kendali para ulama, baik Sunni maupun Syiah.

Pertama, masuknya milisi partikelir al-Qaidah dari luar Irak dengan dalih melawan pasukan pendudukan. Mereka, yang kerap mengklaim sebagai “kelompok perlawanan Sunni”, berhasil memanfaatkan kekhawatiran kaum Sunni terhadap euforia berlebihan kaum Syiah pasca kejatuhan Saddam. Mereka mempropagandakan Syiah sebagai pengambil keuntungan dari invasi Amerika sehingga menjadi kerikil yang harus disingkirkan (lihat surat Ayman al-Zawahiri kepada Abu Musab al-Zarqawi dalam the Weekly Standard, 12/10/2005). Selain itu, bersama barisan sakit hati loyalis Partai Baath, mereka mengeksploitasi eksekusi mati para mantan elit partai itu sebagai upaya balas dendam Syiah terhadap Sunni.Akibatnya, bukan hanya kalangan awam, para ulama Sunni Irak sendiri pun kini sulit memisahkan diri mereka dengan al-Qaidah yang anti-mazhab dan Baath yang sekuler. Apalagi, di tengah suasana yang serba tidak menentu, penyederhanaan al-Qaidah dan Baath sebagai Sunni menjadi sesuatu yang niscaya terjadi.

Kedua, keberadaan pasukan pendudukan yang kerap melakukan aktivitas dengan mengatasnamakan kepentingan salah satu kelompok, atau melancarkan operasi rahasia untuk kemudian melemparkan tuduhan kepada salah satu kelompok. Dalam sebuah wawancara dengan harian Italia, La Repubblica, Muqtada al-Shadr membantah orang-orang yang menyebut-nyebut namanya saat eksekusi Saddam sebagai para pengikutnya. Ia pun mengakui bahwa Brigade al-Mahdi yang dipimpinnya telah disusupi banyak unsur intelijen (lihat La Repubblica, 19/01/2007).

Keberadaan militer Amerika di Irak sebenarnya menjadi kontraproduktif lebih karena menghadirkan hambatan besar bagi kelompok-kelompok di Irak untuk saling berkompromi. Sebab, kepentingan Amerika kerap dipaksakan menjadi agenda utama dalam setiap kompromi di antara mereka.

Keterlibatan Iran

Satu persoalan lainnya berkaitan dengan tuduhan Washington tentang keterlibatan Iran dalam “konflik sektarian” di Irak. Tuduhan serius, yang juga terlontar secara implisit dari Syekh Yusuf Qaradhawi ketika berkunjung ke Indonesia ini, mesti diberi beberapa catatan.

Pertama, kaum Syiah di Irak tidaklah terikat dengan otoritas marja’iyah Syiah di Iran, apalagi dengan otoritas wilayah (kepemimpinan politik). Salah satu sebabnya adalah banyak marja’ Syiah di Irak yang tidak sejalan dengan ijitihad politik “wilayat al-faqih” Imam Khomeini. Terlebih lagi, anatomi kultural Syiah di Irak amatlah berbeda dengan Syiah di Iran. Namun dalam konteks ini sekalipun, marja’ mayoritas kaum Syiah di kedua negara tersebut, Ayatullah Ali Khamenei dan Ayatullah Ali Sistani, dalam banyak kesempatan telah menandaskan bahwa segala tindakan yang memicu konflik Sunni-Syiah adalah ilegal.

Kedua, sejauh ini tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Teheran terlibat dalam konflik di Irak, terkecuali retorika politik para petinggi Gedung Putih. Retorika ini kerap dibantah para komandan militer Amerika sendiri. Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Peter Pace, yang dikutip reporter Washington Post, Bill Brubaker, menyatakan bahwa tidak ada bukti keterlibatan Iran di Irak, baik itu dalam hal memasok persenjataan maupun personel militer, ke Irak (lihat WP, 14/03/2006). Bantahan lain juga datang dari juru bicara militer Amerika di Irak, Mayjen William Caldwell, bahwa pihaknya tidak menemukan bukti adanya operasi yang dapat dikaitkan dengan Iran di Irak (lihat Reuters, 14/08/2006).

Cui Bono?

Paling tidak terdapat dua alasan mengapa persoalan “konflik sektarian” ini menjadi penting bagi Amerika Serikat. Pertama, geliat Iran, di bawah Ahmadinejad, yang proaktif menjalin hubungan dengan komunitas Sunni di antaranya mendanai pemerintahan Hamas di Palestina (lihat Iran biggest donor to Palestinians dalam aljazeera.com, 16/01/2007) dan mengintensifkan kerja sama dengan Arab Saudi terlihat semakin mengkhawatirkan Amerika. Maka, propaganda “konflik sektarian yang dipantik Iran” merupakan senjata ampuh untuk semakin menyudutkan negara berpenduduk mayoritas Syiah ini. Setelah menjadi pariah dalam pergaulan internasional melalui “sanksi prematur” DK-PBB atas program pengayaan uranium negara tersebut, Iran kini berpeluang dialienasi dari komunitas dunia Islam.

Kedua, seperti yang diungkap Kamil Mahdi, pakar ekonomi Timur Tengah, kekacauan dan instabilitas Irak saat ini amat kondusif bagi agenda Amerika untuk mendorong privatisasi ladang-ladang minyak negara tersebut. Draf rahasia undang-undang perminyakan, yang diantaranya mendorong kontrak-kontrak jangka panjang dengan korporasi-korporasi Amerika, mulai dibahas pemerintahan Bush, dan tampaknya akan disahkan ketika kapasitas regulasi parlemen Irak begitu terbatas (lihat Kamil Mahdi, Iraq will never accept this sellout to the oil corporations, dalam aljazeera.com, 22/01/2007).

Penutup

Penarikan bertahap pasukan Amerika dari Irak adalah solusi utama bagi terciptanya rekonsiliasi di Irak. Peran pasukan perdamaian PBB, terutama dari negara-negara Muslim non-Timur Tengah, sudah selayaknya didorong untuk menggantikan pasukan pendudukan. Sayangnya, solusi ini bagaikan menggantang asap ketika George W. Bush bersikeras menambah jumlah personel militer Amerika di Irak hingga 20 ribu. Sayangnya pula, sikap kepala batu Bush secara implisit didukung negara-negara Arab.[]

Penulis: Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Sumber: ISLAT

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: