Asyura di Nusantara

Oleh: Abu Zahra’

Adalah tak terbantahkan bahwa Syi’ah punya pengaruh besar di Indonesia. Selain bahwa sejarah masuknya Islam ke Indonesia diwamai ajaran Syi’ah yang dicerminkan dalam pendirian kerajaan Islam pertama di Indonesia, Pasai, hingga kini pun kultur Syi’ah masih kuat dalam masyarakat Islam Indonesia, terutama di kalangan Muslim tradisional. Ritual tahlil, maulid, haul, tawasul, ziarah kubur dan sebagainya yang mengakar luas dalam masyarakat Islam Indonesia, betapapun tak persis sama seperti yang dilakukan masyarakat Syi’ah, tetapi tidak dapat ditolak bahwa ia terpengaruh oleh tradisi keagamaan masyarakat Syi’ah, sehingga populer ucapan Gus Dur bahwa NU meskipun menganut ajaran Ahlu Sunnah wa Jama’ah tapi secara kultural adalah Syi’ah.

Di antara tradisi keagamaan yang meskipun tidak dapat dibilang sebagai tradisi Syi’ah mumi karena hampir semua ummat Islam menjunjungnya atau paling tidak pemah menaruh perhatian kepadanya yang hingga kini terus dilakukan masyarakat Islam Indonesia dengan sesuatu dan lain cara ialah peringatan wafat atau syahidnya cucu Nabi tercinta, Imam Husain Ibn Ali Ibn Abi Thalib di Karbala pada tahun 61 H, yang lazim disebut Asyura atau Karbala.

Di Jawa ada Bubur Suro. Di Aceh (Sumatra) ada Kanji atau Bubur Asyura. Di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatra Barat, ada upacara Hoyak Tabuik (Tabut) atau Hoyak Husain. Bahkan masyarakat Jawa dan juga masyarakat lainnya menyebut bulan Muharram dengan sebutan bulan Suro. (dari kata Asyura yang berarti hari kesepuluh bulan Muharram, hari terjadinya pembantaian terhadap Imam Husain)

Upacara Hoyak Tabuik atau mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala yang dilaksanakan masyarakat.Padang Pariaman di Sumatra Barat dan masyarakat Bengkulu yang dimulai dari hari pertama Muharram hingga hari kesepuluh memiliki kemiripan dengan yang dilakukan masyarakat Syi’ah, di berbagai negara. Bahkan istilah-istilah yang digunakan pun sama, seperti matam, panja, dan sebagainya.

Bubur Suro di Jawa atau Kanji Asyura di Sumatra yang dibuat dalam dua wama, merah dan putih, mempunyai makna darah dan kesucian. Merah melambangkan darah Imam Husain dan keluarganya yang tumpah di Karbala. Merah juga melambangkan keberanian pasukan Karbala melawan penguasa zalim. Sementara putih melambangkan kesucian diri dan perjuangan Imam Husain melawan kezaliman. Biasanya Bubur Suro atau Kanji Asyura ini diberikan kepada sanak keluarga, kerabat, fakir miskin, terutama anak-anak, atau bahkan dibawa ke masjid dan balai desa untuk disantap bersama sebagai lambang kasih sayang kepada keluarga Imam Husain yang menderita karena ditinggal pengayom-pengayom mereka.

Bubur suro dibuat dari bahan-bahan antara lain kacang polong, beras, jagung dan santan. Ada pula yang menaruh kelapa parut. sedangkan Kanji Asyura dibuat dari beras, santan, gula, kelapa, buah-buahan, pepaya, delima, pisang, dan ubi jalar.

Sementara itu Upacara Tabut di masyarakat Bengkulu dan Padang Pariaman digelar cukup semarak. Bahkan ada keyakinan pada sebagian masyarakat Padang Pariaman dan Bengkulu, jika tidak melakukan ritual ini mereka akan mendapat kualat.

Tidak ada catatan pasti kapan ritual ini mulai masuk ke kedua kota di sumatara itu. Sebagian mengkaitkannya dengan Syeikh Burhanuddin, pembawa Islam ke Minangkabau pada abad ke-16 M., yang kuburannya hingga kini banyak diziarahi orang. Tapi menurut sebagian ahli, ritual Tabut baru dimulai pada pertengahan abad ke-19, yaitu ketika sejumlah di tentara Inggris keturunan India yang bermazhab syi’ah menyelenggarakan uapacara Tabut saat Inggris berkuasa di Bengkulu, kemudian dari situ merambat ke Pariaman bahkan ke Pidie, Aceh. Para keturunan orang-orang India ini disebut kaum Sipai atau Sipahi (bahasa Persia/Urdu yang berarti laskar). Hoyak Tabuik dimulai dari tanggal 1 Muharram, yaitu dengan mengambillumpur dari sungai di tengah malam. Para pengambil lumpur harus berpakaian putih. Lumpur dikumpulkan ke dalam periuk yang ditutup kain putih, kemudian dibawa ke sebuah tempat yang disebut Daraga yang besamya 3×3 meter yang juga ditutup kain putih. Pengambilan lumpur melambangkan pengumpulan bagian-bagian tubuh Imam Husain yang terpotong. Daraga melambangkan makam suci Imam Husain, sedangkan kain putih adalah perlambang kesucian Imam Husain. Pada tangga15 Muharram mereka menebang batang pisang dengan pedang yang sangat tajam. Batang pisang itu harus tumbang sekali tebas.Penebangan batangpisang ini melambangkan kehebatan putra Imam Husain, Qasim, yang bertempur bersenjatakan pedang di tanah Karbala. Pada tanggal 7 Muharram, persis di tengah hari, panja atau potongan jari-jari Imam Husain yang sudah dibuat sebelumnya dibawa ke jalan-jalan dalam sebuah belanga bersama dengan Daraga. Biasanya orang menangis penuh kesedihan karena teringat tragedi Karbala yang mengenaskan. Pada hari kesembilan Muharram serban atau penutup kepala wama putih yang melambangkan serban Imam Husain diarak jalan-jalan untuk menunjukkan betapa hebatnya Imam Husain dalam membela Islam. Dan pada tanggal 10 Muharram ritual Tabuik mencapai puncaknya. Di pagi hari Tabut yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Daraga, Panja dan serban diarak keliling kota dalam suatu pawai besar yang disaksikan oleh ribuan bahkan puluhan ribu penonton yang datang dari berbagai penjuru. Orang-orang pun berkabung dan berteriak Hoyak Tabuik, Hoyak Husain. Sore hari menjelang matahari terbenam saat arak-arakan selesai, semua benda-benda di atas diarak ke laut kemudian dibuang di tengah laut, lalu mereka pulang sambil melantunkan Ali Bidaya… Ali Bidaya, Ya Ali, Ya Ali, dan Ya Husain.

Sumber: Yayasan Fatimah