Tahukah Yusuf Qaradhawi?

Oleh: Yasser Arafat

 

Suatu saat saya pernah membaca sebuah liputan berita yang ada di web eramuslim.com mengenai catatan dari Konferensi Pendekatan Antar Mazhab Sunni-Syi’ah di Qatar. Saya sungguh terkejut membaca tulisan tersebut. Saya coba singkirkan rasa terkejut saya itu, tetapi ternyata saya tidak mampu melakukannya setelah membaca beberapa pernyataan Yusuf Qaradhawi. Setelah membaca pernyataan tersebut, muncul di dalam benak saya beberapa pertanyaan. Tahukah Yusuf Qaradhawi mengenai keyakinan syi’ah? Apa landasan argumen orang-orang syi’ah meyakini hal tersebut? Apa Maksud dari pernyataan Yusuf Qaradhawi tersebut?

 

Di dalam liputan berita itu dikatakan bahwa Qaradhawi kembali meminta agar kelompok Syiah menyampaikan sikap secara terus terang dan jelas dalam masalah terkait penghinaan sejumlah sahabat Rasulullah saw. Karena menurut Qaradhawi, tak mungkin terjadi pendekatan antara Syiah dan Sunni, jika keyakinan Syiah masih terus menerus mencela para sahabat radhiallahu anhum. Qaradhawi juga meyinggung tentang proyek pensyi’ahan secara terorganisir yang terjadi di sejumlah lokasi yang dihuni orang-orang Sunni.

 

Terkait dengan pencelaan kaum Syiah terhadap sejumlah sahabat yang dimuliakan oleh kaum Sunni, Qaradhawi mengatakan, sulit terwujud pendekatan bila kaum Syiah masih tetap melanjutkan penghinaan terhadap sejumlah sahabat Rasulullah saw. “Tidak mungkin ada pendekatan antara orang yang mengatakan Umar radhiallahu anhu dengan orang yang mengatakan Umar la’anahullahu. Atau antara orang yang mengatakan Aisyah radhiallahu anha dengan orang yang mencaci dan menghinanya dengan tuduhan yang sangat keji…”

Qaradhawi melanjutkan, hendaknya kelompok Syiah juga menghentikan upaya pensyi’ahan yang dilakukan di sejumlah kelompok Sunni. Ia mengatakan tidak sependapat dengan jawaban Syaikh Taskhery yang menyebut bahwa upaya pensyi’ahan itu dilakukan secara individu tidak terorganisir. “Pensyi’ahan adalah program yang terorganisir dan juga dibiayai serta mempunyai program aksi sendiri, ” kata Qaradhawi.

Saya dulu sangat simpatik sekali terhadap Yusuf Qaradhawi ini. Beberapa pernyataannya yang terdahulu sekali begitu menggoda saya untuk menerima rayuannya. Tetapi apa yang saya pikirkan selama ini mengenai beliau ternyata tidak sepenuhnya benar. Akhir-akhir ini Yusuf Qaradhawi mengeluarkan statement-statement yang kontroversial, yang menurut saya tidak seharusnya pernyataan itu terlontar dari mulut seorang ulama besar seperti Yusuf Qaradhawi ini.

Seperti bukan seperti seorang ulama dan intelektual saja, Yusuf Qaradhawi meminta agar Syi’ah menghentikan penghinaan terhadap beberapa orang yang dianggapnya sebagai sahabat Nabi tanpa meneliti apa yang melatarbelakangi orang-orang syi’ah melakukannya.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Syi’ah tidak menghina sahabat Nabi. Syi’ah hanya berusaha menunjukkan betapa rendahnya moral para pengikut Nabi sepeninggal Nabi. Syi’ah hanya berusaha menunjukkan betapa agama Muhammadi ini telah diotak-atik sesuai hawa nafsu para penguasa saat itu. Syi’ah hanya menyampaikan sejarah mengenai penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh pengikut Rasulullah pada saat Rasulullah masih hidup maupun ketika Rasulullah telah wafat. Dan sejarah tersebut tercantum di dalam kitab Ahlulsunnah dan syi’ah.

Maqam “Sahabat Rasul saww” adalah maqam yang tinggi, sehingga sudah sepantasnya kita selektif dan tidak gegabah memasukkan sembarang orang dalam maqam tersebut. Kalau pada awalnya taat, namun di saat lain menentang bahkan mengkhianati, apakah ini pantas dimasukkan pada maqam sahabat tersebut ?

Secara definisi “orang yang bergaul dengan Rasul saww” bisa saja disebut sahabat, namun secara hakikat belum tentu mereka dikatakan sahabat. Bila tindakan mereka tidak pantas terhadap Rasul saww bahkan mengkhianati Rasul saww, maka secara hakikat mereka bukan sahabat.

Berikut saya kutipkan dari kitab Tafsir dan kitab Tarikh ahlusunnah tentang hal tersebut:

1. Dalam [Q.S. At-Taubah 101], Allah berfirman :

“Dan di antara orang-orang badui di sekelilingmu, ada orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka. Kami akan siksa mereka dua kali kemudian mereka akan diberikan azab yang besar”.

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut ditujukan untuk beberapa sahabat Rasul saww yang munafik. Rasul saww tahu bahwa penduduk Madinah yang menggaulinya dan dilihatnya tiap pagi dan senja, ada orang-orang munafik. Beliau mengutip hadits Rasul saww :

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Jubair bin Muth’im, yang bercerita : “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : ‘Apakah betul yang dikatakan oleh mereka bahwa kami di Mekkah tidak mendapat bayaran ?’. Rasul menjawab: ‘Bayaranmu akan sampai kepadamu, walaupun kamu ada di lubang rubah’. Kemudian sambil mendekatkan kepala beliau ke telingaku, beliau saww bersabda : ‘Sesungguhnya di antara sahabat-sahabatku ada orang-orang munafik’.”

Ref. Ahlusunnah :

Tafsir Ibn Katsir, tentang (Q.S. At-Taubah 101).

2. Dalam [Q.S. Jumuah 11], Allah SWT mengecam para sahabat yang meninggalkan Rasul saww, yang sedang ber-khutbah jum’at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan.

Jabir bin Abdullah berkata :”Ketika Nabi SAW sedang berkhotbah jum’at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah Rasul saww, kecuali 12 orang, maka Rasul saww bersabda :’Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api’. Dan turunlah ayat tersebut.

Ref. Ahlusunnah :

Tafsir Ibn Katsir, tentang [Q.S. Jumu’ah 11].

3. Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar.

Ref. Ahlusunnah :

1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.

2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.

3. Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”. [Lihat Catatan Kaki no. 13].

1. Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”. [Lihat file Image]

2. Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Dan Allah murka kepada mereka yang lari dari perang dan menempatkan mereka dalam neraka jahanam, sebagaimana Firman-Nya pada [Q.S. Al-Anfaal 15-16].

Itu saja hanya dari Al-Qur’an, kalau Anda melihat kitab-kitab hadits, maka akan banyak anda temui riwayat-riwayat shohih (baik Ahlulsunnah maupun syi’ah) yang menceritakan kesalahan-kesalahan sahabat tersebut.

Sepanjang yang saya ketahui, syi’ah tidak mencaci dan menghina istri-istri Nabi. Syi’ah tidak mencela kedudukan isteri Nabi saww, sebaliknya justru syi’ah menghormati kedudukan isteri Nabi saww. Syi’ah hanya menyampaikan fakta secara apa adanya bahwa ada dua dari isteri Nabi saww yang melakukan penyimpangan dengan menyakiti Rasul saww dan mengingkari amanat Rasul saww.

Kalau memang menurut Yusuf Qaradhawi bahwa mengecam tindakan menyimpang dari beberapa istri Nabi merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh Islam, lalu mengapa Yusuf Qaradhawi membiarkan Allah (Tuhannya) mengecam beberapa istri Nabi?

 

Allah SWT mengecam Aisyah dan Hafsah, yang termaktub dalam [Q.S. At-Tahrim 3-5].

Riwayat yang dianggap mutawattir menyatakan bahwa asbabun nuzul ayat tersebut adalah sebagai berikut :

Biasanya Rasul saww setiap pagi minum madu di rumah Zainab (salah seorang isteri beliau). Aisyah dan Hafsah cemburu dan sepakat untuk menyindir Rasul saww. Sepulang dari sana, Rasul saww bertemu dengan Aisyah yang sedang bersama Hafsah, kemudian Aisyah dan Hafsah berkata : “Kau telah makan Maghafir” (maghafir adalah getah yang baunya busuk sekali, yang dihasilkan oleh pohon urfuth). Rasul saww menjawab : “Tidak, aku hanya minum madu di tempat Zainab”. Kemudian salah satu dari mereka berkata :”Jika demikian mungkin lebahnya telah mengisap pohon urfuth sehingga berbau maghafir”.

Ref. Ahlusunnah :

1. Tafsir Ibn Katsir, tentang ayat [Q.S. At-Tahrim 3-5].

2. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “Ibrahim dan isteri-isteri Nabi”.

Setelah itu, turunlah [Q.S. At-Tahrim 3-5], yang berisi kecaman Allah SWT atas tindakan Aisyah dan Hafsah.

Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Umar bin Khattab ketika ditanya oleh Ibn Abbas tentang siapa kedua isteri Rasul saww yang dikecam oleh Allah SWT dalam [Q.S. At-Tahrim] tersebut, maka Umar menjawab : “Keduanya adalah Hafsah dan Aisyah”.

Ref. Ahlusunnah :

Shohih Bukhori, jilid 3, bab “Peringatan pada isteri Nabi”

Kalau kita cermati baik-baik pernyataan Yusuf Qaradhai tersebut, akan kita jumpai keanehan di dalamnya. Mengapa Yusuf Qaradhawi hanya mengkritik syi’ah? Mengapa dia tidak mengkritik Jaringan Al-Qaedah dan beberapa oknum Ahlulsunnah yang mengatakan bahwa pendiri syi’ah adalah Abdullah bin Saba’, menganggap hari Asyura adalah hari suka cita bukannya duka cita, mengatakan bahwa Nabi bisa saja berbuat salah dan dosa. Mengapa yang terakhir ini tidak dikritisi? menurut saya anggapan bahwa Nabi bisa saja berbuat salah dan dosa merupakan bentuk penghinaan Islam yang begitu besar daripada hanya sekedar mengkritisi sikap beberapa orang yang diklaim sebagai sahabat Nabi. Lalu mengapa Yusuf Qaradhawi tidak melakukan kritikan mengenai hal itu? Mengapa Yusuf Qaradhawi lebih senang mengkritisi Syi’ah tanpa melihat penyimpangan (menurut syi’ah) yang dilakukan oleh orang-orang sunni?

Mengenai pensyi’ahan secara terorganisir, saya belum memahami betul apa maksud Yusuf Qaradhawi mengenai pensyi’ahan secara terorganisir.

Yang jelas menurut saya bahwa kita semua mempunyai hak untuk menyampaikan apa yang menurut kita benar. kebenaran memang satu, tetapi klaim-klaim terhadap kebenaran itu yang berbeda. Kebenaran yang kita klaim belum tentu sama dengan kebenaran yang diklaim oleh orang lain. kita berhak menyampaikan kebenaran tersebut tanpa harus memaksakannya kepada orang lain.

Saran saya kepada Yusuf Qaradhawi, belajarlah kepada orang-orang besar yang pernah ada di dunia ini. mereka mengeluarkan statement tidak hanya ceplas ceplos saja. pikirkanlah matang-matang dampak yang akan ditimbulkan dari pernyataan-pernyataan Anda. Terus terang saya merindukan Yusuf Qaradhawi yang dahulu, bukan yang sekarang.

wallahu a’lam bishawab.