Beranda > Tulisan Orang > KONFLIK SEKTARIAN DAN HEGEMONI POLITIK AS

KONFLIK SEKTARIAN DAN HEGEMONI POLITIK AS

KONFLIK SEKTARIAN DAN HEGEMONI POLITIK AS

M. Subhi-Ibrahim

Radar Banten, 27 Januari 2007

Tahukah Anda bahwa 34.452 orang tewas selama tahun 2006, atau sekitar 94 orang per hari di Irak? Demikian laporan yang diungkap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Secara akumulatif, korban warga sipil Irak sudah mencapai angka 655.000 orang sejak invasi dan pendudukan pasukan Amerika Serikat (AS) tahun 2003. AS sendiri kehilangan sekitar 3.000 tentaranya. Fakta yang merobek nurani kemanusiaan dan merupakan tragedi kemanusiaan di abad nalar ini.

Lalu perlu dicatat pula bahwa eksodus pengungsi Irak adalah yang terbesar sepanjang sejarah Timur Tengah. Menurut UNHCR, sekitar 1,7 juta orang menjadi pengungsi dalam negeri, sedangkan sekitar 2 juta orang lainya mengungsi ke Suriah, Jordania, Mesir, dan Lebanon. 3,7 juta pengungsi tersebut hidup terlunta-lunta dan sangat mengenaskan. Demikian juga 32 juta rakyat Irak yang belum mengungsi terus-menerus diselubungi oleh rasa takut yang luar biasa.

Anehnya fakta tersebut tidak juga membukakan mata kemanusiaan Bush. Info terbaru mengemukakan bahwa meskipun Kongres dan Senat AS, mayoritas masyarakat AS, beberapa tokoh Pentagon, para pemikir neo-con (William Bucley Jr, Francis Fukuyama, Richaed Perle, Andrew Sulivan, dan George Will), yang bersekutu dengan Bush, dan beberapa tokoh Iraq Study Group yang dibentuk Bush tidak setuju dengan rencana penambahan pasukan AS di Irak, namun Presiden AS George Walker Bush tetap memutuskan untuk mengirim 21.500 personel tambahan padahal sebelumnya telah bercokol 137.000 serdadu AS di Irak. Bush tidak tersentuh oleh duka dan lara ribuan keluarga tentara AS tewas di Irak.

REKAYASA POLITIK AS

Seiring waktu bergulir, kondisi Irak semakin runyam dan kacau. Kekacauan Irak saat ini tidak bisa dilepaskan dari politik komunal yang digelar AS yang mengakibatkan “berkembang-biaknya” kekerasan sektarian. Sebenarnya, banyak orang Arab yakin bahwa kekerasan sektarian di Irak adalah hasil racikan AS dan Inggris. Tampaknya AS menerapkan strategi baru, mengutip istilah Ghali Hassan, yakni “biarkan mereka saling membunuh” .Peledakan bom di Masjid ak-Askariyah (Februari 2006) dan eksekusi hukuman gantung Saddam Hussein yang dilakukan saat hari raya Idul Adha serta penyebaran rekaman proses eksekusi merupakan bagian dari skenario “biarkan mereka saling membunuh.”

Strategi “biarkan mereka saling membunuh” yang diterapkan AS terlihat sukses dan efektif membela rakyat Irak menjadi dua kelompok (Shiah dan Sunni) sekaligus menghadap-hadapkann ya dalam suatu medan perang saudara. Namun , AS tidak berhenti sampai di situ. AS berupaya mengekspor, mengglobalkan sentimen sektarian keluar geografi-politik Irak, terutama ke negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, yang mayoritas Sunni. AS mengekspos dalam corong-corong medianya bahwa telah terjadi genosida terhadap warga Sunni Irak. Jadi , AS berupaya melakukan globalisasi konflik sektarian dengan orientasi menanamkan kebencian pada Shiah.

Dengan globalisasi konflik sektarian itu, AS mencoba meraih beberapa keuntungan sekaligus. Pertama, bila negara-negara Timur Tengah terprovokasi dengan “jualan” konflik sektarian (solidaritas kesunnian) itu dan mau melibatkan diri dalam konflik di Irak, maka AS sukses satu langkah untuk membendung pengaruh . Sampai sekarang, ada tiga negara yang tampak mulai berreaksi: Arab Saudi, Jordania, dan mesir. Bahkan, awal Desember lalu, 30 ulama Arab Saudi menyerukan bersatu padu membantu kelompok Sunni Irak menghadapi serangan kelompok Shiah. Dan kabarnya, aliran dana pun mulai digelontorkan oleh negara-negara Teluk dan Arab Saudi.

Kedua , AS dapat membaca loyalitas para sekutunya di Timur Tengah. Sebelum isu sektarian merebak, sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, keciali Israel, tampak “berdiam diri” dan tidak melontarkan opini secara resmi “menolak atau mendukung” pendudukan AS terhadap Irak.

Ketiga , AS memecah peta soliditas kekuatan politik Islam internasional. AS masih yakin dengan tesis Samuel Huntington bahwa tantangan ideologis pasca Uni Soviet runtuh adalah Islam. Karena itu, dengan globalisasi konflik sektarian, AS bermimpi mampu menciptakan kutub konflik di dunia Islam. Hal ini dilakukan AS untuk mendukung dan menyokong agenda politik internasionalnya yang lain, seperti proyek AS menekan dan “menampar” dalam kasus nuklir. Jika globalisasi konflik Shiah-Sunni berhasil, maka AS berharap “yang Shiah” tidak lagi mendapatkan dukungan politis dari negara-negara muslim Sunni.

SIKAP KITA

Melihat situasi tersebut, tokoh-tokoh dan organisasi-organisa si Islam harus memberikan penjelasan sekaligus menempatkan isu ini secara proposional dan objektif dengan menyampaikan bahwa konflik sektarian di Irak adalah rekayasa politik AS dan umat tidak boleh terjebak dalam jurang konflik sektarian yang akan melemahkan umat Islam sendiri. Perpecahan umat Islam hanya akan mengokohkan hegemoni politik AS. Wa Allahu a’lam

Sumber: JALAL CENTER

Kategori:Tulisan Orang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: