Pintu Pertama Menuju Kecintaan Pada Allah

Ummul Mukminin ‘Aisyah menceritakan kepada kita saat-saat terakhir Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Panggilkan Kekasihku.” Orang-orang memanggil Abu Bakar. Beliau hanya memandang kepadanya dan meletakkan kepalanya. Beliau berkata, “Panggilkan kekasihku.” Orang-orang memanggil Umar. Beliau hanya memandang dan meletakkan kepalanya lagi. Beliau berkata, “Panggillah kekasihku.” Orang-orang memanggil Ali. Ketika Nabi melihat Ali, beliau memasukkan Ali ke dalam pakaiannya. Tidak henti-hentinya Rasulullah memeluk Ali sampai ia menghembuskan nafas terakhir dan tangan beliau berada di atas tangannya. (Tarikh Ibnu Asakir, Al-Thabari)

Pernah suatu saat, secara terbuka, Nabi Saw mengumumkan bahwa Ali adalah orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah. “Besok akan kuserahkan bendera kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepadanya,” Kata Rasulullah pada perang Khaibar. Bendera itu kemudian diserahkannya kepada Ali. (Shahih Bukhari).

Anas bin Malik, khadam Rasulullah bercerita: Nabi Saw mendapat hadiah daging burung. Beliau berdoa, Ya Allah, datangkanlah orang yang paling Engkau cintai supaya ia makan burung ini bersamaku.” Kemudian datanglah Ali. Aku tolak dia. Ia dating lagi, dan kutolak lagi. Ali masuk pada kali ketiga atau keempat. Nabi Saw berkata kepadanya, “Apa yang menahanmu untuk datang padaku?” Ali menjawab, “Demi Yang Mengutusmu dengan hak sebagai Nabi, aku mengetuk pintu tiga kali, tapi Anas selalu menolaknya.” (Sunan Turmudzi)

Perjalanan menuju kecintaan kepada Allah harus dimulai dengan mencintai Rasulullah Saw, orang yang paling dicintai Allah. Tapi, sebelum memasuki kecintaan kepada Rasulullah, kita harus mencintai orang yang paling dicintai Rasulullah. Bukankah Nabi pernah berkata, “Cintailah Allah atas nikmat-Nya padamu. Cintailah aku karena kecintaan kepada Allah. Dan cintailah Ahlulbaytku (keluargaku) karena kecintaanku.” Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “Katakanlah (olehmu Muhammad) aku tidak meminta upah dari kalian kecuali kecintaan kepada keluargaku.”

Pintu pertama untuk mencintai Allah adalah mencintai Ahlulbayt (keluarga) Nabi. Tidak perlu disebutkan bahwa Nabi tentu saja adalah orang yang paling mencintai Allah. Ia pembawa risalah. Seluruh hidupnya adalah bagian tak terpisahkan dari Firman Allah. Untuk memasuki kota Nubuwwah, kita harus memasuki pintunya. Dan pintu itu adalah kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib kw. Rasulullah berkata, “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” Rasulullah juga pernah bersabda, “Tidak mencintaimu, hai Ali, kecuali orang mukmin. Dan tidak membencimu kecuali orang munafik.”

Tidak mengherankan kalau kecintaan kepada Ahlulbayt telah mempersatukan kaum muslimin, apapun mazhabnya. Al-Zamakhsyari, musafir pengikut mazhab Mu’tazilah menggubah puisi:

Sudah banyak kebimbangan dan ikhtilaf

Semua menyatakan mazhabnya yang paling benar

Kupegang teguh kalimat “La Ilaha Illallah”

Dan kecintaan kepada Ahmad (Muhammad) dan Ali

Beruntung Anjing karena mencintai Ashabul Kahfi

Mana mungkin aku celaka

Karena mencintai keluarga Nabi

Imam syafi’i juga melukiskan kecintaannya kepada keluarga Nabi dengan puisi:

Wahai Ahlulbayt Nabi

Kecintaan kepadamu

Allah wajibkan atas kami

Dalam Al-Qur’an yang diturunkan

Cukuplah tanda kebesaranmu

Tidak sah shalat tanpa shalawat kepadamu

Kecintaan kepada Ali secara khusus dan kecintaan kepada Ahlulbayt secara umum adalah basis utama untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena seluruh alam semesta ini sebetulnya bergerak menuju Allah uuntuk meraih kecintaan-Nya, maka Allah mewajibkan kecintaan kepada Ali kepada semuanya.

Mazhab Ahlulbayt memilih perjalanan mereka ke kota ilmu Rasulullah dan seterusnya ke istana kecintaan Tuhan, melalui pintu kecintaan kepada Ali. Mengapa? Karena Ali dan Ahlulbaytnya menunjukkan cara mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan seluruh perilakunya. Dari Ali, kemudian dari para Imam Ahlulbayt, kita belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah gemintang yang memberikan keamanan pada penduduk bumi. (Mustadrak Al-Hakim). Mereka adalah perahu Nuh, siapa yang menumpang di atasnya selamat, siapa yang meninggalkannya tenggelem. (Mustadrak Al-Hakim). Mereka adalah salah satu di antara al-Tsaqalain (dua pusaka peninggalan Nabi) setelah Al-Qur’an, siapa yang berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya.” (Shahih Muslim).