Kiat-kiat Pemasaran Dakwah
Prof.DR. KH Jalaluddin Rakhmat, M.Sc

161.jpg(Majalah Tempo, 5 November 2006)

Setiap kali pulang haji atau umrah, aku singgah di toko kitab Al-Ma’mun di Jeddah. Seorang haji mendekati aku dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang pimpinan pesantren di Banten. Aku yakin ia memang kiyai; karena seperti biasa ia dikawal beberapa orang santrinya. Karena aku merasa terhormat dikenal kiyai, aku hadiahkan kepadanya kitab Washiyat al-Nabi. Sambil tersenyum dan berterimakasih, ia berkata: “Kitab ini memang penting bagi mubalig sebagai bahan utama tablig. Tapi itu dulu. Untuk menjadi mubalig kontemporer buku ini sama sekali tidak ada gunanya. Kini kiyai tidak perlu bisa baca kitab kuning. Pesantren harus mengganti pelajaran kitab kuning dengan pelajaran akting, termasuk pelajaran bernyanyi dan menari”

Kiyai Banten itu benar. Advanced capitalism telah membawa ruang tablig dari masjid dan majlis taklim ke pasar. Agama telah berubah dari hubungan sakral dengan Yang Mahakasih menjadi hubungan produsen dengan konsumen. Agama bukan lagi nilai-nilai agung yang mencerahkan secara ruhaniah. Agama hanyalah salah satu komoditas yang dijual-belikan di pasar kapitalis. Menurut Fredric Jameson, advanced capitalism telah mereduksi semua tindakan manusia menjadi sejenis bentuk konsumsi. Inilah komodifikasi agama.

Sebagai komoditas yang dijual bebas di pasar kapitalis, agama harus dikemas untuk memenuhi selera pasar. Mubalig, sebagai produsen komoditas Islam, harus memenuhi Empat P dalam pemasaran, a.k.a marketing mix. Anda mau menjadi mubalig popular? Anda mau menjadi kiyai yang dikejar oleh jutaan umat? Inilah saran ahli pemasaran.

P pertama adalah product. Rancang pesan dakwah Anda untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. Apa yang dibutuhkan oleh bangsa yang tidak henti-hentinya dirundung kemalangan? Apa yang diinginkan rakyat yang menanggung beban kehidupan yang makin lama makin berat? Jawabannya: pelipur lara. Karena itu, jangan mempersiapkan dakwah dengan membaca kitab kuning. Rujuklah buku-buku humor. Kumpulkan cerita-cerita yang ringan dan lucu. Kalau tidak sempat, kreatiflah. Anda ciptakan dongeng-dongeng. Jadikanlah imaginasi Anda sebagai sumber bahan dakwah Anda.

Tentu saja Anda juga harus memperhatikan packaging, pengemasan. Setelah pesan dakwah yang sederhana sudah Anda definisikan, rencanakan teknik membungkus barang yang menarik perhatian. Yang unik dari pemasaran dakwah ialah kenyataan bahwa produsen, yakni mubalig, bisa sekaligus juga produk. Maka mubalig perlu dibungkus dengan sejumlah aksesori. Kostum yang khas, prop yang istimewa, jingle yang “bergairah”. Ketika berdakwah, Anda harus memusatkan perhatian pada upaya menyenangkan konsumen, menghibur mereka. Jika dakwah Anda disebut infotainment, perbesarlah proporsi hiburan di atas informasi, tainment di atas info.

P kedua adalah pricing. Dalam dakwah kontemporer, ini namanya memasang tarif. Anda harus punya berbagai manajer- manajer pemasaran, manajer produksi, dan manajer keuangan. Tugas manajer yang terakhir tidak boleh mencampuri apalagi mengaudit penerimaan Anda. Ia terutama sekali harus melakukan nego dengan pihak pengguna berkenaan dengan tarif Anda. Jangan pikirkan apakah menetapkan tarif untuk dakwah dibenarkan Al-Quran dan hadis. Aku kan sudah bilang: Rujukan Anda bukan lagi Al-Quran dan hadis. Rujukan Anda yang utama sekarang ini –khusus untuk tarif- adalah hasil rating para pemirsa televisi. Sebagai catatan tambahan, makin tinggi tarif Anda makin bermutu dakwah Anda, dan makin banyak penggemar Anda. Aneh tapi nyata.

P ketiga adalah promotion. Anda harus mengeluarkan biaya khusus untuk advertising, sales promotion, personal selling, publicity dan metode-metode lainnya untuk mempopularkan produk Anda. Yang sangat penting dalam promosi ialah membangun citra, branding. Supaya tidak terbentuk citra bahwa Anda mubalig karbitan yang tidak mengerti agama, kisahkan bahwa Anda memperoleh ilmu laduni karena berjumpa dengan Rasulullah dalam mimpi.

P yang terakhir adalah placement. Ini masalah distribusi produk. Anda harus bisa sampai kepada sasaran dakwah. Tidak ada tempat penjualan dakwah Anda yang lebih efektif dari media massa . Jalin kerjasama yang baik dengan media massa , terutama televisi. Kalau dahulu Anda berkata di depan jemaah tidak mau berdakwah di televisi, usahakan sekarang agar semua dakwah Anda disiarkan televisi.

Selamat berdakwah. Semoga sukses.

Sumber: Jalal Center