HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWI MELANDASI KELUARNYA FATWA SYALTUTH TENTANG SYI’AH

Perlu anda ketahui, hasil dialog yang ditulis dalam kitab Muraja’at (Dalam versi Indonesia berjudul “Dialog Sunni Syi’ah”) telah mendorong dikeluarkanya Fatwa resmi dari Majelis Universitas al Azhar, yang ditandatangani oleh rektor Universitas Al Azhar Syekh Muhammad Syalthut berikut kami petrikan pernyataannya.

KANTOR PUSAT UNIERSITAS al AZHAR
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Teks dari Fatwa yang dikeluarkan oelh yang mulia Syaikh al-Akbar
Kepala Universitas al Azhar,

TENTANG KEBOLEHAN MENGIKUTI SYI’AH IMAMIYAH

Yang Mulia ditanya :
Sebagian percaya bahwa seorang Muslim untuk beramal ibadah dan bermuamalah dengan benar, adalah penting untuk mengikuti satu dari empat Mahzab terkenal (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sedangkan Syi’ah Imamiyyah tidaklah termasuk dari empat Mahzab tersebut ataupun Syi’ah Zaydiyah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti Mazhab Syi’ah Imamiyyah Itsna Asy’ariyyah misalnya ?

Yang Mulia Menjawab :
1). Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti Mazhab tertentu. sebaliknya, Kami katakan : setiap muslim mempunyai hak untuk mengikuti salahsatu dari mazhab yang disampaikan secara benar dan fatwa-fatwanya telah disusun dalam kitab-kitabnya. Dan setiap orang yang mengikuti mazhab tersebut bisa berpindah ke mazhab lain, dan tidaj ada kesalahan pada dirinya untuk melakukan demikian.

2) Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai syi’ah imamiyah Itsna Asy’ariyyah (yakni Syi’ah Imamiyah Dua belas Imam) adalah sebuah mazhab yang secara agama sah untuk diikuti dalam hal ibadah sebagaimana mazhab sunni lainya

Kaum Muslim harus mengetahui hal ini dan seyogyanya mencegah diri dari prasangka tidak adil kepada mazhab tertentu apapun, karena agama Allah dan hukum suci-Nya (syari’ah) tidak pernah dibatasi oleh mazhab tertentu. para mujtahid mereka (mujtahidun) diakuio oleh Allah Yang Maha Kuasa, dan dibolehkan bago orang yang “bukan al-Mujtahid” untuk mengikuti mereka dan mengamalkan ajaran mereka entah dalam ibadah maupun muamalah

Tertanda,

Mahmud Syaltut

Fatwa tersebut dilansir pada tgl 6 juli 1956 dari dewan Universitas Al azhar, dan selanjutnya dikirimkan ke berbagai mediam masa ditimur tengah diantaranya Asy Sya’ab (mesir) edisi 7 juli 1959 dan surat kabar al Kifah (lebanon) edisi 8 juli 1959.

Mahmud syaltut kemudian menjalin kerjasama dengan ayatullah Muhammad Khalisi dan Ayatullah Muhammad Hussein Kasyif al Ghita. Yang diwujudkan dengan diterbitkanya Wasa’il as Syi’ah dan majma’ al bayan untuk kemudian dijadikan bahwan pembelajaran tentang syi’ah di Al azhar.

HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWWI MELANDASI TERBENTUKNYA LEMBAGA PENDEKATAN ANTAR MAZHAB
Hasil Dialog pendekatan antara Sunni dan syi’ah berlanjut dengan didirikanya DAR TAQRIB aL MADZHAHIB, yang kemudian ketuanya diserahkan kepada Muhammad Taqi Qummi. Lembaga ini menjadi forum bagi ulama Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Syi’ah Imamiyah dan syi’ah zaidiyah. Mereka duduk disana membicarakan pencapaian sastra (yang wahabbi bid’ahkan); sufisme (yang wahabbi bid’ahkan), dan yurisprudensi, dalam suasana yang penuh semangat persaudaraan, rasa kasih sayang, cinta dan kesetiakawanan.

DAR TAQRIB al MADZAHIB terus membesar dan Namanyapun berganti menjadi Majma’ Al-Taqrib Bainal-Mazahib Al-Islamiyah pada tanggal 15 Agustus 1995 saat konfrensi di Teheran, lalu semakin banyak ulama ahlu sunnah yang terlibat disana (sayangnya wahabbi tidak mau terlibat dan nanti akan kita lihat bagaimana pengkhianatan dilapangan)

Pada saat pergantian Nama tersebut hadir perwakilan sunni dan syi’ah dari berbagai penjuru dunia (kecuali wahabbi yang tetap sibuk mengkafirkan sebagian ulama sunni dan Syi’ah dan yang hadir dalam konfrensi ini termasuk yang di sesatkan wahabbi).

Perubahan DAR TAQRIB al MADZHAHIB menjadi MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH terjadi dalam tajuk KONFRENSI PERSATUAN ISLAM, hadir disana :

Mufti Besar Suriah ; anggota teras Parlemen Lebanon dan salah seorang Ketua Partai Islam Al-Jamaah Al-Islamiyah Al-Lubnaniyah, Dr. Fathi Yakan ; Dr. Mustafa Ar-Rafii, pemikir Islam terkenal Timur Tengah asal Lebanon ; Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Al-Hakim, Pimpinan Tertinggi Masyarakat Syi’ah Irak ; Ayatullah Ja’far Subhani , pemikir dan penulis sangat produktif, yang buku-bukunya banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ; Dr. Muhammad Al-Ashi, Imam Jum’at Masjid Washington AS ; Dr Muhammad Faruq An-Nabhan, Ketua Lembaga Darul-Hadits Al-Hasaniyah, yang didirikan Raja Maroko, Hasan Al-Tsani ; Maulana Maulawi Ishak, Pemimpin Tertinggi Penganut Mazhab Sunni di Iran, yang sekaligus sebagai Wakil Presiden Rafsanjani dalam urusan kaum Sunni Iran ; Dr. Abdul-Wahab Sirrul-Khatam, Ketua Jurusan Falsafah Universitas Khartoum, Sudan ; Maulana Bir Ashif Jailani, Ketua Jam’iyyah Persatuan Islam Pakistan ; Dr. Jamal al-Hammad, pemikir Islam asal Mesir yang sekarang mukim di London ; Sekjen Petsatuan Da’wah dan lrsyad Guinea ; Kamil Al-Dhaif, Ketua Partai Jamaah Islamiyah India ; Timbalan Ketua Partai Islam Malaysia, Ustaz Datuk Hadi Awang ; dan banyak lagi. Hadir dari Indonesia antara lain Prof. Ali Hasymi, Ketua Majlis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh.

PERNYATAAN ULAMA-ULAMA SUNNI DALAM KONFRENSI MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH TERSEBUT

Allamah Sayyid Murtadha al-Askari, pemikir terkemuka dan ahli sejarah Islam terkenal : “Dunia Islam sekarang ini sedang menghadapi tekanan dan intimidasi dari lawan, yang belum pernah dialaminya sepanjang sejarahnya yang panjang. Dahulu, peperangan kita dengan musuh lebih banyak bersifat fisik. Tapi sekarang, mencakup seluruh aspek kehidupan. Musuh bermaksud menghancurkan kita dari akar-akamya. Maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali bersatu menghadapi mereka. Persatuan dalam semua bidang. Termasuk dalam bidang fiqh.”

Ayatullah Syekh Ja’far Subhani, Guru Besar Hauzah Ilmiah Qum, dan pemikir besar yang sangat produktif : “Republik Islam Iran telah mengerahkan segenap kemampuannya, dan selalu siap mengupayakan terwujudnya persatuan kaum Muslimin. Maka adalah kewajiban kita semua, terutama kaum ulama dan pemikir Islam, mendukung usaha yang sangat mulia ini. Kini, kesempatan untuk itu lebih terbuka ketimbang masa-masa sebelumnya.”

Dr. Fathi Yakan, anggota Parlemen Lebanon dan Ketua Partai Al-Jamaah Al-Islamiyah Al-Lubnaniyah : “Kita patut bersyukur kepada Allah atas usaha yang sungguh-sungguh, yang telah ditunjukkan Republik Islam Iran untuk mewujudkan persatuan umat Islam seluruh dunia. Sekalipun untuk itu Iran harus menanggung resiko yang amat berat dari kekuatan-kekuatan kafir yang dikepalai Amerika. Maka untuk merealisir cita-cita persatuan ini, kita harus menyatukan pandangan kita pada empat pokok, yang merupakan pilar-pilar utama persatuan. Yaitu kesepakatan mengenai batasan persatuan itu sendiri. Hal-hal yang dapat mengantar pada persatuan, unsur-unsur persatuan, dan hal-hal yang dapat merusak persatuan.”

Syekh Maulawi Ishak Madani, ulama terkemuka golongan Sunni-Iran dan penasehat Presiden Rafsanjani dalam urusan kaum Sunni : “Adalah kewajiban seluruh kaum Muslimin taat pada Pemerintahan Islam. Karena itu ulama dan seluruh penganut mazhab Sunnah, bahu membahu bersama ulama dan masyarakat Syi’ah berjuang, membela, dan menegakkan kebesaran Islam.”

Maulana Biir Ashif Jailani, ulama terkenal dan Ketua Jam’iyyah Persatuan Islam Pakistan : ” Masalah persatuan Islam merupakan masalah yang paling mendasar bagi dunia Islam dewasa ini. Kita tidak boleh menganggapnya ringan. Karena keberadaan dan kemusnahan kita saat ini justeru terletak pada masalah yang amat urgen ini. Dalam hal ini, kita patut berbangga dan sekaligus mencontoh wujud persatuan yang telah ditunjukkan oleh kaum Muslimin Iran, terutama antara golongan Syi’ah dan Sunnahnya, sekalipun usaha memecah belah oleh musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti.”

Dr. Mustafa Ali, anggota teras Partai Islam PAS Malaysia : “Pada dasarnya semua kelompok Islam sepakat pada masalah-masalah yang prinsipil. Kalau toh ada perbedaan, hanya terletak pada masalah-masalah yang sekunder. Karena itu, kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang sifatnya juz’i ini. Menjadikan masalah-masalah yang sekunder sebagai persoalan prinsip, inilah yang membuat umat Islam pecah.”

IMPLEMENTASI MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH DALAM MASALAH SOLIDARITAS PALESTINA.

MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH telah membentuk semacam tim ad hoc DALAM KONFRENSI SOLIDARITAS PALESTINA, dan pada tanggal 16 April 2006, disaat HAMAS tengah diembargo ISRAEL mereka berkumpul di Teheran, membicarakan bagaimana mensuport perjuangan Rakyat Paletina, hadir disana Dr Hidayat Nurwahid (dari Ikhwanul Muslimin Indonesia/PKS), hadir juga ketua Umum PBNU KH Hazim Muzadi. Sesampai ditanah air PKS dan NU menyerukan gerakan pengumpulan uang untuk rakyat palestina. Dan uang tersebut diselundupkan oleh tim khusus ke Palestina, Iran mengirimkan satuan khususnya Pasdaran untuk menyelundupkan senjata bagi pejuang INTIFADAH/ HAMAS.

ALLAHUAKBAR !!! ALLAHUAKBAR !!! ALLAHUAKBAR
MOSLUM MANY VESKH STRAN SOYUDUNYAITEBS

Lihatlah dalam krisis lebanon saat Israel merengsek kesana, seluruh ulama ahlu sunnah mengeluarkan fatwa DUKUNG HIZBULLAH kecuali Paderi Salafy/Wahabbi yang berteriak JANGAN DUKUNG HIZBULLAH paginya parlemen Israel bertepuk tangan sambil berdiri dan mengucapkan terimakasih atas pernyataan ulama-ulama wahabbi.

Beberapa jam kemudian agen salafy/wahabbi pro israel ini membuka tema-tema diskusi tentang hizbullah yang kafir , tentang kesesatan Ikhwanul Muslimin, tentang kemu’tazilahaan hizbut tahrir.

Nah inilah sekedar bukti bagi anda bahwa di dunia maya ini bertebaran agaen-agen salafy-wahabbi yang hendak merusak persatuan umat Islam (sunni dan syi’ah) namun kita tidak takut, ALLAH bersama kita.