Beranda > Tulisan Orang > HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWI MELANDASI KELUARNYA FATWA SYALTUTH TENTANG SYI’AH

HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWI MELANDASI KELUARNYA FATWA SYALTUTH TENTANG SYI’AH

HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWI MELANDASI KELUARNYA FATWA SYALTUTH TENTANG SYI’AH

Perlu anda ketahui, hasil dialog yang ditulis dalam kitab Muraja’at (Dalam versi Indonesia berjudul “Dialog Sunni Syi’ah”) telah mendorong dikeluarkanya Fatwa resmi dari Majelis Universitas al Azhar, yang ditandatangani oleh rektor Universitas Al Azhar Syekh Muhammad Syalthut berikut kami petrikan pernyataannya.

KANTOR PUSAT UNIERSITAS al AZHAR
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Teks dari Fatwa yang dikeluarkan oelh yang mulia Syaikh al-Akbar
Kepala Universitas al Azhar,

TENTANG KEBOLEHAN MENGIKUTI SYI’AH IMAMIYAH

Yang Mulia ditanya :
Sebagian percaya bahwa seorang Muslim untuk beramal ibadah dan bermuamalah dengan benar, adalah penting untuk mengikuti satu dari empat Mahzab terkenal (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sedangkan Syi’ah Imamiyyah tidaklah termasuk dari empat Mahzab tersebut ataupun Syi’ah Zaydiyah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti Mazhab Syi’ah Imamiyyah Itsna Asy’ariyyah misalnya ?

Yang Mulia Menjawab :
1). Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti Mazhab tertentu. sebaliknya, Kami katakan : setiap muslim mempunyai hak untuk mengikuti salahsatu dari mazhab yang disampaikan secara benar dan fatwa-fatwanya telah disusun dalam kitab-kitabnya. Dan setiap orang yang mengikuti mazhab tersebut bisa berpindah ke mazhab lain, dan tidaj ada kesalahan pada dirinya untuk melakukan demikian.

2) Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai syi’ah imamiyah Itsna Asy’ariyyah (yakni Syi’ah Imamiyah Dua belas Imam) adalah sebuah mazhab yang secara agama sah untuk diikuti dalam hal ibadah sebagaimana mazhab sunni lainya

Kaum Muslim harus mengetahui hal ini dan seyogyanya mencegah diri dari prasangka tidak adil kepada mazhab tertentu apapun, karena agama Allah dan hukum suci-Nya (syari’ah) tidak pernah dibatasi oleh mazhab tertentu. para mujtahid mereka (mujtahidun) diakuio oleh Allah Yang Maha Kuasa, dan dibolehkan bago orang yang “bukan al-Mujtahid” untuk mengikuti mereka dan mengamalkan ajaran mereka entah dalam ibadah maupun muamalah

Tertanda,

Mahmud Syaltut

Fatwa tersebut dilansir pada tgl 6 juli 1956 dari dewan Universitas Al azhar, dan selanjutnya dikirimkan ke berbagai mediam masa ditimur tengah diantaranya Asy Sya’ab (mesir) edisi 7 juli 1959 dan surat kabar al Kifah (lebanon) edisi 8 juli 1959.

Mahmud syaltut kemudian menjalin kerjasama dengan ayatullah Muhammad Khalisi dan Ayatullah Muhammad Hussein Kasyif al Ghita. Yang diwujudkan dengan diterbitkanya Wasa’il as Syi’ah dan majma’ al bayan untuk kemudian dijadikan bahwan pembelajaran tentang syi’ah di Al azhar.

HASIL DIALOG AYATULLAH SYAFRUDIN AL MUSAWWI MELANDASI TERBENTUKNYA LEMBAGA PENDEKATAN ANTAR MAZHAB
Hasil Dialog pendekatan antara Sunni dan syi’ah berlanjut dengan didirikanya DAR TAQRIB aL MADZHAHIB, yang kemudian ketuanya diserahkan kepada Muhammad Taqi Qummi. Lembaga ini menjadi forum bagi ulama Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Syi’ah Imamiyah dan syi’ah zaidiyah. Mereka duduk disana membicarakan pencapaian sastra (yang wahabbi bid’ahkan); sufisme (yang wahabbi bid’ahkan), dan yurisprudensi, dalam suasana yang penuh semangat persaudaraan, rasa kasih sayang, cinta dan kesetiakawanan.

DAR TAQRIB al MADZAHIB terus membesar dan Namanyapun berganti menjadi Majma’ Al-Taqrib Bainal-Mazahib Al-Islamiyah pada tanggal 15 Agustus 1995 saat konfrensi di Teheran, lalu semakin banyak ulama ahlu sunnah yang terlibat disana (sayangnya wahabbi tidak mau terlibat dan nanti akan kita lihat bagaimana pengkhianatan dilapangan)

Pada saat pergantian Nama tersebut hadir perwakilan sunni dan syi’ah dari berbagai penjuru dunia (kecuali wahabbi yang tetap sibuk mengkafirkan sebagian ulama sunni dan Syi’ah dan yang hadir dalam konfrensi ini termasuk yang di sesatkan wahabbi).

Perubahan DAR TAQRIB al MADZHAHIB menjadi MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH terjadi dalam tajuk KONFRENSI PERSATUAN ISLAM, hadir disana :

Mufti Besar Suriah ; anggota teras Parlemen Lebanon dan salah seorang Ketua Partai Islam Al-Jamaah Al-Islamiyah Al-Lubnaniyah, Dr. Fathi Yakan ; Dr. Mustafa Ar-Rafii, pemikir Islam terkenal Timur Tengah asal Lebanon ; Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Al-Hakim, Pimpinan Tertinggi Masyarakat Syi’ah Irak ; Ayatullah Ja’far Subhani , pemikir dan penulis sangat produktif, yang buku-bukunya banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ; Dr. Muhammad Al-Ashi, Imam Jum’at Masjid Washington AS ; Dr Muhammad Faruq An-Nabhan, Ketua Lembaga Darul-Hadits Al-Hasaniyah, yang didirikan Raja Maroko, Hasan Al-Tsani ; Maulana Maulawi Ishak, Pemimpin Tertinggi Penganut Mazhab Sunni di Iran, yang sekaligus sebagai Wakil Presiden Rafsanjani dalam urusan kaum Sunni Iran ; Dr. Abdul-Wahab Sirrul-Khatam, Ketua Jurusan Falsafah Universitas Khartoum, Sudan ; Maulana Bir Ashif Jailani, Ketua Jam’iyyah Persatuan Islam Pakistan ; Dr. Jamal al-Hammad, pemikir Islam asal Mesir yang sekarang mukim di London ; Sekjen Petsatuan Da’wah dan lrsyad Guinea ; Kamil Al-Dhaif, Ketua Partai Jamaah Islamiyah India ; Timbalan Ketua Partai Islam Malaysia, Ustaz Datuk Hadi Awang ; dan banyak lagi. Hadir dari Indonesia antara lain Prof. Ali Hasymi, Ketua Majlis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh.

PERNYATAAN ULAMA-ULAMA SUNNI DALAM KONFRENSI MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH TERSEBUT

Allamah Sayyid Murtadha al-Askari, pemikir terkemuka dan ahli sejarah Islam terkenal : “Dunia Islam sekarang ini sedang menghadapi tekanan dan intimidasi dari lawan, yang belum pernah dialaminya sepanjang sejarahnya yang panjang. Dahulu, peperangan kita dengan musuh lebih banyak bersifat fisik. Tapi sekarang, mencakup seluruh aspek kehidupan. Musuh bermaksud menghancurkan kita dari akar-akamya. Maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali bersatu menghadapi mereka. Persatuan dalam semua bidang. Termasuk dalam bidang fiqh.”

Ayatullah Syekh Ja’far Subhani, Guru Besar Hauzah Ilmiah Qum, dan pemikir besar yang sangat produktif : “Republik Islam Iran telah mengerahkan segenap kemampuannya, dan selalu siap mengupayakan terwujudnya persatuan kaum Muslimin. Maka adalah kewajiban kita semua, terutama kaum ulama dan pemikir Islam, mendukung usaha yang sangat mulia ini. Kini, kesempatan untuk itu lebih terbuka ketimbang masa-masa sebelumnya.”

Dr. Fathi Yakan, anggota Parlemen Lebanon dan Ketua Partai Al-Jamaah Al-Islamiyah Al-Lubnaniyah : “Kita patut bersyukur kepada Allah atas usaha yang sungguh-sungguh, yang telah ditunjukkan Republik Islam Iran untuk mewujudkan persatuan umat Islam seluruh dunia. Sekalipun untuk itu Iran harus menanggung resiko yang amat berat dari kekuatan-kekuatan kafir yang dikepalai Amerika. Maka untuk merealisir cita-cita persatuan ini, kita harus menyatukan pandangan kita pada empat pokok, yang merupakan pilar-pilar utama persatuan. Yaitu kesepakatan mengenai batasan persatuan itu sendiri. Hal-hal yang dapat mengantar pada persatuan, unsur-unsur persatuan, dan hal-hal yang dapat merusak persatuan.”

Syekh Maulawi Ishak Madani, ulama terkemuka golongan Sunni-Iran dan penasehat Presiden Rafsanjani dalam urusan kaum Sunni : “Adalah kewajiban seluruh kaum Muslimin taat pada Pemerintahan Islam. Karena itu ulama dan seluruh penganut mazhab Sunnah, bahu membahu bersama ulama dan masyarakat Syi’ah berjuang, membela, dan menegakkan kebesaran Islam.”

Maulana Biir Ashif Jailani, ulama terkenal dan Ketua Jam’iyyah Persatuan Islam Pakistan : ” Masalah persatuan Islam merupakan masalah yang paling mendasar bagi dunia Islam dewasa ini. Kita tidak boleh menganggapnya ringan. Karena keberadaan dan kemusnahan kita saat ini justeru terletak pada masalah yang amat urgen ini. Dalam hal ini, kita patut berbangga dan sekaligus mencontoh wujud persatuan yang telah ditunjukkan oleh kaum Muslimin Iran, terutama antara golongan Syi’ah dan Sunnahnya, sekalipun usaha memecah belah oleh musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti.”

Dr. Mustafa Ali, anggota teras Partai Islam PAS Malaysia : “Pada dasarnya semua kelompok Islam sepakat pada masalah-masalah yang prinsipil. Kalau toh ada perbedaan, hanya terletak pada masalah-masalah yang sekunder. Karena itu, kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang sifatnya juz’i ini. Menjadikan masalah-masalah yang sekunder sebagai persoalan prinsip, inilah yang membuat umat Islam pecah.”

IMPLEMENTASI MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH DALAM MASALAH SOLIDARITAS PALESTINA.

MAJMA’ AL TAQRIB BAINAL MAZAHIN AL ISLAMIYAH telah membentuk semacam tim ad hoc DALAM KONFRENSI SOLIDARITAS PALESTINA, dan pada tanggal 16 April 2006, disaat HAMAS tengah diembargo ISRAEL mereka berkumpul di Teheran, membicarakan bagaimana mensuport perjuangan Rakyat Paletina, hadir disana Dr Hidayat Nurwahid (dari Ikhwanul Muslimin Indonesia/PKS), hadir juga ketua Umum PBNU KH Hazim Muzadi. Sesampai ditanah air PKS dan NU menyerukan gerakan pengumpulan uang untuk rakyat palestina. Dan uang tersebut diselundupkan oleh tim khusus ke Palestina, Iran mengirimkan satuan khususnya Pasdaran untuk menyelundupkan senjata bagi pejuang INTIFADAH/ HAMAS.

ALLAHUAKBAR !!! ALLAHUAKBAR !!! ALLAHUAKBAR
MOSLUM MANY VESKH STRAN SOYUDUNYAITEBS

Lihatlah dalam krisis lebanon saat Israel merengsek kesana, seluruh ulama ahlu sunnah mengeluarkan fatwa DUKUNG HIZBULLAH kecuali Paderi Salafy/Wahabbi yang berteriak JANGAN DUKUNG HIZBULLAH paginya parlemen Israel bertepuk tangan sambil berdiri dan mengucapkan terimakasih atas pernyataan ulama-ulama wahabbi.

Beberapa jam kemudian agen salafy/wahabbi pro israel ini membuka tema-tema diskusi tentang hizbullah yang kafir , tentang kesesatan Ikhwanul Muslimin, tentang kemu’tazilahaan hizbut tahrir.

Nah inilah sekedar bukti bagi anda bahwa di dunia maya ini bertebaran agaen-agen salafy-wahabbi yang hendak merusak persatuan umat Islam (sunni dan syi’ah) namun kita tidak takut, ALLAH bersama kita.

Kategori:Tulisan Orang
  1. ROBBY WAHYU
    Februari 8, 2007 pukul 3:36 am

    Sungguh menarik artikel yang tertera diatas. Sebuah problematika tentang madzhab dibahas dengan menjalin persatuan. Jika saya baca ada kira-kira 15-20 petinggi ulama’ yang menghadiri majma’ tersebut kecuali WAHABI dan ini sangat ironis sekali. Seandainya dari pemerintahan Arab Saudi (WAHABI) mau berdamai tentunya persatuan Islam tidak akan makin terpecah. Memang sepertinya dari dulu orang-orang WAHABI tidak senang kepada AKIDAH yang berasal dari Keluaraga Rasul. Jika mereka mau berpikir lebih jernih,diantara para pewaris Nabi yang paling dulu mendapatkan curahan ilmu itu siapa? Sekalipun ulama’ WAHABI benci kepada madzhab Imamiyah lebih baik kita bicarakan secara terbuka dan lebih masuk akal. Sebenarnya,dari IMAMIYAH sering mengadakan dialog-dialog terbuka baik di Indonesia sendiri ataupun di Timur Tengah. Saya sarankan bagi teman-teman yang memiliki paham-paham WAHABI,kalian harus menyikapi lebih bijak dan lapang dada. Jika perlu anda harus mengulas ushul-ushul Islam dari semua kitab dan beberapa ulama’.Syukron!

  2. Februari 8, 2007 pukul 4:23 pm

    Saya harapkan juga kawan-kawan pencinta dan para pengikut Ahlulbayt dapat bersabar atas fitnah-fitnah yang dilontarkan oleh kawan-kawan kita dari salafy/wahabi.

    yang dapat kita lakukan adalah menanggapi semua fitnah-fitnah keji itu yang berusaha memecah belah umat Islam dan berdoa semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran.

  3. Mohammad Rofiq Al Hasni
    Februari 15, 2007 pukul 2:25 am

    Allahu Akbar, mari rapatkan barisan perkuat persatuan hadapi fitnah-fitnah dari semua musuh Ahlul Bayt.
    Allahu Akbar…

    Semoga Allah Azza Wa Jalla, selalu bersama kita Amiin Istajib

    Salam Kenal

  4. albiaqy
    Juni 20, 2008 pukul 1:19 am

    salafy jg mencintai ahlul bait..
    tp tidak mengkultuskan mereka dan juga memusuhi mereka…
    karena mencintai ahlul bait merupakan wasiat rasullah..
    tp bukan berarti ghuluw terhadap mereka..
    syiah aj yang terlalu ghuluw/berlebihan dalam beribadah..
    dan mereka hanya mencintai beberapa ahlul bait spt fatimah, ali, ja’far, hasan, husein, abu thalib…
    ahlul bait tuh banyak…
    aisyah juga ahlul bait, napa di benci????????????????????????????

    lihat objektif???
    liat dulu dari syiahnya bagaimana manhajnya?????
    semua itu fakta..
    liat aja di kitab2 mereka..
    aqidah syiah aj beda dengan islam.
    salafy sesat????
    ya sesat karena memberantas bid’ah.
    tidak ada bid’ah yang baik, semua bid’ah sesat.
    syiah termasuk bid’ah….

    wallahu ‘alam

  5. Juni 20, 2008 pukul 4:37 am

    @albiaqy
    Wasiat Rasulullah bukan hanya mencintai Ahlulbayt, tetapi juga menjadikannya rujukan dalam Islam setelah Al-Qur’an.

    Mengenai siapa-siapa saja Ahlulbayt yang dimaksudkan?

    diskusi di http://www.jakfari.wordpress.com yuk. Undang sekalian ustadz-ustadz Anda yach. Pingin dapet ilmu dari beliau-beliau euy.

  6. albiaqy
    Juni 20, 2008 pukul 5:00 am

    afwan, ustadz2 ana gak ma’sum seperti imam2 antum..
    gak sepadan dengan imam antum..
    yang ma’sum hanyalah rasulullah

  7. Juni 20, 2008 pukul 5:08 am

    ya sudah, bilang saja ndak berani. simple khan? gitu aja kok repot, kata gus dur.

  8. Arif
    Juni 20, 2008 pukul 10:51 pm

    salam..
    ada satu pertanyaan bwt albiaqy,anda blg smua bid’ah itu sesat,tidak ada bid’ah yg baik..prtnyan sy,gmn tuh dgn yg diblg umar al khattab,bhwa tarawih itu bid’ah yg baik?klo anda konsisten dgn omngn anda,silakan blg ke smua umat muslim klo tarawih itu sesat..berani ndak anda blg gt?bwt diwebsite salafy anda, ttg bid’ah tarawih donk..PLIZZZ🙂
    @kang yasser
    salam dari rausyanfikr jogja..
    salam,

  9. Juni 21, 2008 pukul 3:57 pm

    salam wa rahmah,
    Terima kasih atas kunjungannya ustadz. Salam untuk kawan-kawan di Rausyan Fikr. Ingin saya kesana, tapi saya sendiri ndak pernah menyempatkan diri untuk sekedar jalan-jalan ke jogja.

    wassalam.

  10. abu mizan
    Oktober 16, 2008 pukul 6:51 am

    @arif&ressay
    Assalamu’alaikum

    ada empat pertanyaan bwt Arif
    1. antum ustadz ya ?
    2. Kata siapa tarawih berjamaah itu bid’ah??
    3. Kata siapa itu tidak ada di zaman rasulullah??
    4. Antum benar-benar gak suka belajar ya?, syubhat ecek-ecek kayak githu mah udah basi kalee,, ha2

    berikut ana kutip dari kitab Qiyam Ramadhan, Pustaka at Tibyan, Solo.
    Shalat malam berjama’ah pada bulan Ramadhan telah disyari’atkan oleh Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam berdasarkan nash dan dalil yang berdiri kuat dan kokoh serta telah ditahqiq oleh para ulama yang masyhur.

    Dari Jubair bin Nufair, dari Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata,

    “Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan beliau tidak pernah shalat bersama kami sehingga tersisa tujuh hari (dari bulan Ramadhan). Dimana beliau bangun
    bersama kami sampai sepertiga malam berlalu.
    Kemudian beliau tidak shalat bersama kami pada malam yang keempat. Baru kemudian pada malam berikutnya (malam yang kelima) beliau keluar mengerjakan shalat bersama kami hingga berlalu separuh malam.

    Kami katakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau mengerjakan shalat malam bersama kami pada sisa malam kami ini’. Lalu beliau menjawab,

    ‘Innar rajula idzaa qaama ma’al imaami hatta yanshari fa-husibat laHu qiyaamu laylatin” (yang artinya) Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam pergi, maka ditulis baginya pahala shalat malam dari sisa malamnya itu’” (HR. at Tirmidzi no. 806, an Nasai III/83, Abu Dawud no. 1375 dan Ibnu Majah no. 1327, hadits ini dinilai shahih oleh at Tirmidzi dan oleh muhaqqiq Kitab Jamii’ul Ushul VI/121 serta oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 1245 dan al Irwa’
    no. 447)

    Imam at Tirmidzi rahimahullah mengomentari hadits tersebut di atas, “Ibnul Mubarak, Ahmad dan Ishaq memilih shalat bersama imam pada bulan Ramadhan. Dan asy Syafi’i memilih pendapat bahwa seseorang boleh shalat seorang diri jika dia memang ahli qira-ah” (Sunan at Tirmidzi III/170)

    Adapun perkataan sahabat Umar bin al Khaththab radhiyallaHu ‘anHu pada suatu atsar yang shahih, tentang shalat tarawih berjama’ah pada bulan Ramadhan yaitu,

    “Ni’mal bid’atu HaadziHi (Inilah sebaik-baik bid’ah)” (HR. al Bukhari no. 2010 dan lainnya), maka perkataan beliau radhiyallaHu ‘anHu perlu diteliti kembali. Yaitu bid’ah apa yang dimaksudkan.

    Jika ada sebagian kaum muslimin mengira yang dimaksud oleh Umar bin al Khaththab adalah bid’ah yang dimaksud oleh syariat yaitu al muhdats (perkara yang baru, yaitu shalat tarawih di bulan Ramadhan adalah perkara yang baru) maka hal tersebut merupakan sesuatu kekeliruan karena Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah mensyari’atkannya shalat tarawih berjama’ah pada bulan Ramadhan sebagaimana hadits Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHu di atas.

    Demikian pula, jika ada sebagian kaum muslimin yang mengatakan bahwa hal ini adalah dalil dibolehkannya bid’ah hasanah, maka Allah Ta’ala berfirman,

    “Hai orang – orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Hujurat : 1).

    Karena kita telah mengetahui bahwa semua bid’ah dalam agama adalah hal yang dilarang oleh syari’at sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

    “Wa syarrul umuuri muhdatsaatuHa wa kullu bid’atin dhalaalaH” yang artinya “Seburuk – buruk perkara adalah hal – hal baru yang diada – adakan dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867).

    Pada suatu saat ‘Urwah bin Zubair berkata kepada Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu,

    “Celaka engkau, engkau telah menyesatkan manusia. Karena engkau memerintahkan untuk melakukan ibadah umrah pada sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) padahal tidak ada umrah pada hari – hari itu”

    Maka Ibnu Abbas berkata,

    “Ya Uray, tanyakanlah kepada ibumu !”

    ‘Urwah bin Zubair berkata kembali,

    “Bahwasan-nya Abu Bakar dan ‘Umar tidak pernah berkata seperti itu, sedangkan mereka benar – benar lebih mengetahui dan lebih mengikuti Rasulullah dari padamu”

    Maka dijawab oleh Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu,

    “Min Haa Hunaa tu’tawna najii-ukum birasulillaHi watajii-uukuuna bi abii bakrin wa ‘umara !?” yang artinya “Dari sinilah kalian didatangi. Kami membawakan kepadamu (perkataan) Rasulullah dan kamu membawakan (perkataan) Abu Bakar dan Umar !?” (HR. Ahmad, ath Thabrani, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Syaibah dan Ishaq bin Rahawaih, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam al Mathaalib dan dihasankan oleh al Haitsami dalam al
    Majma’ III/234 serta Ibnu Muflih dalam al Aadaabusy Syar’iyyah II/66)

    Setelah membawakan ucapan Ibnu Abbas di atas, Syaikh Abdurahman bin Hasan rahimahullah menuturkan,

    “Dalam ucapan Ibnu Abbas terdapat dalil yang menunjukkan bahwasannya seseorang yang telah sampai padanya suatu dalil lalu tidak mengambilnya karena bertaklid kepada imamnya, maka orang itu wajib
    diingkari, karena sikapnya yang menyelisihi dalil” (Fathul Majiid Syarh Kitaabit Tauhid, hal. 338)

  11. Khadija
    Oktober 28, 2008 pukul 7:33 pm

    duh… aneh deh… jika aisyah tu katakanlah ahlbayt… kenapa ya perang jamal ada…? kok bisa sih sesama ahlbayt berantem (imam ali as melawan aisyah maksud gw) … hihihihi… gw jd puyeng….

  12. bunga liar
    Januari 27, 2009 pukul 2:51 pm

    banyak belajar bung, kalau ilmu yang anda dapatkan ga ada seujung jari dan banyak banyak banyak banyak BELAJAR, dari mana akarnya syiah, kalau bukan dan yahudi yang masuk islam………………please banyak belajar.jangan SOK TAU.

  13. Januari 27, 2009 pukul 6:04 pm

    Saya hanya bisa menyarankan, berkunjunglah ke http://jakfari.wordpress.com agar banyak belajar.

  14. November 1, 2009 pukul 3:01 pm

    kalau begitu sama dong dengan dokrin ketuhanan yesus, di alkitab tidak ada perkataan yesus yang nebgaku tuhan dokrin trinitas. imam ali juga tidak memberontak, kalaul antun berhujjah dengan Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298. padahal menurut penulisnya sendiri riwayat itu mursal sebagai mana ketuhanan yesus yang sudah dianggap ayat palsu oleh kalngan gerja. disini ada 2 kemungkinan
    a. imam ali menyetui kholifah sebelumnya
    b. Imam ali bertaqiyah ( ini berarti imannya lemah , karena menolak kemungkaran dengan hati alias tidak mungkin) sebgaimana kaum nasrani berpendapat bahwa yesus bertaqiyah ketuhanan mereka

  15. November 1, 2009 pukul 4:34 pm

    Hehehe…komentar ngawur Anda sudah dibantah diblog http://jakfari.wordpress dan http://secondprince.wordpress.com. Coba deh baca2 lg artikel yg ada di kedua blog tsb. Biar Anda tambah pinter yah

  16. jakfar
    Januari 5, 2011 pukul 7:08 am

    Dari pada berdebat endak karuan lbh baik masalah SYIAH kita ikuti fatwa dari ulama besar AL AZHAR seperti sudah disampaikan diawal blok ini.tks

    • Januari 9, 2011 pukul 5:25 pm

      sepakat…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: