OBROLAN SANTAI SUNNI SYI’AH (II)

IMAM MAHDI
A: Lama gak ketemu nih Baqir.. kangen juga, kepingin ngobrol lagi nih…
B: Iya, saya juga, alhamdulillah bisa bertemu…
A: Saya nanya lagi nih… Syiah ini pahamnya aneh, masa percaya kepada Imam Mahdi yang katanya sedang Ghaib, dan nanti akan turun…
B: Wah, kamu kurang teliti… Sebenarnya kepercayaan akan Imam Mahdi juga kepercayaan Ahlu Sunah juga… Banyak buku ulama Suni tentang Imam Mahdi, misalnya di buku Aqidah Islam karya Sayid Sabiq, bahkan Al-Bani juga menjelaskan di salah satu bukunya…
A: Ya, setahu saya Imam Mahdi juga diyakini oleh kalangan Suni, cuma tidak populer… Dan kita hanya menunggu saja…Kalau di Syiah apa populer?
B: Bukan hanya populer, tetapi bahkan kalangan Syiah percaya Imam bagi kaum Syiah sekarang adalah Imam Mahdi. Di Iran, misalnya, dalam konstitusinya yang dianggap Imam Negara yang sesungguhnya adalah Imam Mahdi… Sedang Imam Khamaeni hanya mewakili, menunggu Imam Mahdi muncul.
A: Apa Imam Mahdi yang dimaksud Syiah dan Suni itu sama?
B: Banyak persamaannya, misalnya Imam Mahdi bernama Muhammad, dari kalangan Ahlul bait, akan muncul di akhir zaman, ketika Al-Masih Ad-Dajjal muncul… kemudian Nabi Isa AS juga turun… Imam Mahdi dipercaya baik Suni maupun Syiah akan memimpin dunia dengan sangat adil dan sejahtera di akhir zaman…dan lain-lain. Tetapi memang ada bedanya.
A: Apa saja bedanya?
B: Ada, misalnya kalangan Suni menganggap Al-Mahdi belum lahir, sedang Syiah sudah… yaitu putra Imam ke-11 (Hasan Al-Asykari), tetapi sekarang sedang dalam ghaib kubra, berada di tempat yang hanya Allah yang tahu… Sebagaimana Nabi Isa AS, yang diangkat Allah ke tempat yang hanya Dia yang tahu…
A: Apalagi bedanya?
B: Menurut Syiah, Imam Mahdi bernama Muhamad bin Hasan, sedang kebanyakan Suni berpendapat bernama Muhammad bin Abdullah… Perbedaan lain, ya, seperti tadi bagi kaum Syiah, Imam Mahdi dinanti-nanti dan diakui sebagai the real Imam di masa kini… Sedang bagi kaum Suni, tidak begitu, bahkan ada yang tidak meyakini adanya Al-Mahdi… Namun bagi banyak ulama Suni, riwayat Al-Mahdi bahkan merupakan riwayat yang mutawatir…
A: Ok, lah… kalau begitu kita berpegang kepada kesamaan saja, bahwa kita sama-sama mempercaya
kehadiran Al-Mahdi…

SAHABAT RASUL

A: Ini lho kawan, salah satu masalah yang sering mengganjal hubungan dengan temen2 Syiah… Yaitu mereka suka sekali mencela sahabat. Padahal, meski mereka bukan orang yang bebas dari kesalahan, bagi kami para sahabat adalah anutan umat… Dari merekalah kita memahami Islam. Bagaimana sih pandangan Syiah terhadap Sahabat Nabi RA?
B: Jujur saja, saya juga menyesalkan kenapa banyak orang syiah yang kerjaanya mencela sahabat Nabi. Tapi, memang kami menilai sahabat agak beda dengan kaum Suni…
A: Bedanya bagaimana?
B: Kaum Suni menganggap semua sahabat adalah adil, di antaranya begitu kaidah dalam ilmu hadis, sehingga semua ucapan dan tindakannya bisa menjadi rujukan… Sedang bagi kaum Syiah, terlepas bahwa mereka adalah salah satu generasi terbaik Islam, kami menganggap sahabat itu bermacam-macam. Salah satu kaidahnya adalah bagaimana kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap Ahlul Bait Nabi, yaitu Fatimah, ALi, Hasan, Husein dan keturunannya…
A: Bukankah semua sahabat telah mendapat rida dari Allah SWT dan panutan umat, sebagaimana hadis, “Sahabatku seperti bintang…” dalam arti bisa menjadi petunjuk?
B: Sayangnya, kaum Syiah memang memaknai berbeda… Di antara sahabat ada yang sangat saleh, tetapi ada juga yang tidak saleh. Indikasinya adalah di antara mereka ada yang mengkutuk dan membenci Ahlul Bait…
Nah, yang shaleh itulah yang kami jadikan Rujukan…
A: Yah, kalau kita agak teliti membaca sejarah pada masa sahabat, tidaklah semua berisi keindahan… Pada masa mereka pertentangan bahkan peperangan antar sesama muslim terjadi… Namun, bagi kami kaum Suni menganggap itu adalah ijtihad mereka, mereka bisa benar bisa salah. Sikap kami adalah tidak banyak membicarakan masalah ini, tetapi mengambil yang baik-baik… Mengapa Syiah tidak demikian?
B: Memang sulit, karena ini memang berkaitan dengan sebab asal munculnya Syiah Ali… Sulit menjelaskan sebab adanya Syiah Alitanpa mempelajari sejarah di sekitar pertentangan antar sahabat, hingga munculnya perang jamal, perang Siffin, dan apalagi tragedi Karbala…
A: Ok, lah … Yang sudah terjadi biarlah berlalu, masing-masing mengambil pelajaran dari sudut pandang masing-masing… Mereka adalah salah satu generasi terbaik umat Islam, yang di samping ada kelemahannya, tetapu lewat tangan merekalah terutama umat Islam bisa berkembang ke seluruh dunia. Bahkan pada masa Umar RA perkembangan Islam sangat pesat dalam waktu singkat… Jadi, kalau memang tidak ada hal yang urgen ngapain bicara kelemahan mereka…
B: Saya setuju… Mestinya pertentangan mereka bisa menjadi pelajaran bagi kita agar mengambil yang baik, sekaligus menghindari yang kurang baik… Seperti kata Imam Ja’far Sidiq dalam Lentera Ilahi, tentang Sahabat, saya lupa isinya, tetapi kurang lebih agar kita mengenang kebaikan dan keutamaan mereka….
A: Nah, gitu dong… baru bagus! Tapi apa orang Syiah mau begitu?
B: Insya Allah mau… Untuk kebaikan bersama…
A: Amien…

TRAGEDI KARBALA

A: Oh, ya sebentar lagi hari Asy-Syuro, bagi kaum Suni merupakan salah satu hari besar yang
disunahkan untuk berpuasa… Bagaimana kaum Syiah malah memperingati tragedi Karbala?
B: Ya, ini adalah perbedaan lain antara Suni-Syiah… Kaum Suni memperingati sebagai hari baik,
sedang kami memperingati tragedi Karbala dengan kesedihan. Mungkin kita mulai dengan membaca
komentar Haidar Nashir, seorang tokoh Muhammadiyah di Republika.. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=214675&kat_id=49
Kutip
Kita dapat belajar pada kegetiran sejarah di Karbala, sebuah daerah di Irak bagian Tengah yang berjarak sekitar 90 km dari Baghdad atau 40 km dari Kufah. Bagaimana Husain putra Ali bin Abi Thalib harus mengakhiri hidupnya secara tragis dan menyedihkan sebelum sampai ke Kufah yang menjadi tujuannya. Perselisihan politik yang keras dengan baju agama yang dikobarkan rezim khalifah Yazid Mu’awiyah telah menelan korban cucu terkasih Nabi itu bersama sanak keluarga dan pengikut setianya secara memilukan.

Dalam catatan sejarah yang muktabar, Ubaidillah sang Gubernur Iraq wakil Dinasti Umayyah di negeri Seribu Satu Malam itu harus mengarak penggalan kepala Husain dan korban lainnya di kota Basrah dan Kufah untuk kemudian dibawa ke Damaskus untuk diserahkan ke Yazid sebagai bukti. Sebuah tragedi getir yang dilakukan Muslim terhadap Muslim lainnya secara tak kenal perikemanusiaan.

Tragedi Karbala bukanlah milik Syiah maupun Sunny. Siapa pun Muslim yang cinta damai dan kebenaran, pasti merasa getir membuka sejarah yang kelam itu. Di depan makam cucu Nabi yang terkenal itu, di dalam Masjid Husain di Karbala, penulis sempat terpana. Di tengah ratapan para pengikut Syiah yang mengelilingi dinding makam, terbersit pertanyaan gugatan. Apa yang ada di benak Yazid Mu’awwiyah (Khalifah Bani Umayyah), Syamir bin Zil-Jausyan (panglima Basra yang dikenal bengis), Umar bin Saad bin Abi Waqas (panglima perang yang peragu), dan Ubaidillah bn Ziyad (Gubernur Irak wakil Yazid yang cinta kuasa) ketika membantai Husain dan rombongannya yang hanya berjumlah sekitar seratus orang? Di mana ruh Islam mereka ketika melakukan pembantaian yang oleh ahli sejarah disebut sebagai puncak dari kekerasan dan kekejian dalam konflik politik umat Islam Wallahu ‘alam.

Jadi, bagi kaum Suni pun, tragedi ini menjadi pelajaran pentingnya bersatu, menghindari perpecahan,
mementingkan ukhuwah.
A: Terus bagaimana Tragedi Karbala bagi kaum Syiah? Mengapa mereka sampai ada yang menyiksa diri?
Itukan tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam??
B: Tindakan menyiksa diri seperti sebagian kalangan Syiah, sebenarnya diharamkan oleh ulama Syiah.
Yang dibolehkan adalah memukul dada tapi tidak perlu keras-keras, sekedar ungkapan kesedihan…
Imam Husein adalah salah satu panutan umat Islam, diperlakukan seperti itu… Maka kami memperingatinya sebagai ungkapan kecintaan kami kepada Imam Husein, dan kesetiaan kami kepada Imam Husein.
A: Kalau saya perhatikan dalam sejarah, konflik yang paling sering di antara kaum muslim adalah karena masalah politik. Menurutnya bagaimana?
B: Benar, politik memang kadang ruwet… Saudara bisa menjadi musuh karena perbedaan politik.
Dalam konteks juga politik, kita bisa menganalisa konflik dan persaingan antara kaum Suni dan Syiah.
A: Bagus juga kalau masalah kontemporer ini kita bahas juga.
B: Ya, tapi mungkin lain kali, ya.. Saya lagi ingin membaca buku mengenai Tragedi Karbala.
A: Baiklah, saya juga akan baca namun dari kacamata Suni, seperti tulisan Abul A’la Maududi…
B: Ok, sampai ketemu lagi…

Pertentangan Politik dalam Islam

Ahmad: Saya telah membaca sebagian kisah tragedi Karbala baik dari sumber Syiah
maupun Suni. Saya sungguh sedih sekali, bagaimana cucu kesayangan Rasul SAW
beserta handai taulannya dibantai begitu sadis. Tidak mungkin dalam hal ini
saya membela atau memaklumi Yazid, seorang penguasa yang zalim dan fasik.

Baqir: Yah, itulah politik… Kalau kita pelajari sejarah, hampir semua pertengkaran
penuh dengan nuansa politik, termasuk dalam sejarah Islam, seperti kasus
Karbala tadi. Dan politik itu, sesuai sifatnya rumit dan penuh dengan siasat, dan tipu daya…

A: Penuh tipu daya bagaimana, bukankah ada politik yang baik…

B: Mungkin ada, tapi sayangnya kebanyakan buram. Penuh intrik dan kekerasan, di
mana-mana sama… coba lihat sejarah politik bangsa Indonesia.

A: Lho kalau begitu apa orang Islam itu tidak usah berurusan dengan politik, karena
politik itu buram? Itu kan pandangan sekuler?

B: Bukan begitu, tetapi kita harus hati-hati penuh cek dan ricek, serta tidak emosional,
berpikiran sempit, dan mudah percaya begitu saja… Dan ini yang penting, lebih
mengutamakan dialog dan kerja sama dalam berpikir dan bertindak… Sebagai contoh
kasus Irak, sungguh sangat memilukan…

A: Bagaimana kamu memahami kasus Irak? Saya lihat kaum Suni dibantai Syiah…

B: Ya, dan kaum Suni juga melakukan hal sama dengan membakar Masjid-masjid, Ulama-ulama
Syiah… dalam kasus terakhir, ratusan muslim Syiah tewas dalam peringatan Asy-Syura…

A: Menurut kamu bagaimana sih, peta politik di Irak itu?

B: Seperti saya katakan, rumit, buram… Ada banyak sekali kelompok, dan masing-masing
bertindak berdasar interes masing-masing.
A: Misalnya?
B: Pertama, pihak paling berkepentingan adalah USA & UK dan sekutunya. Mereka telah
keluar uang dan nyawa banyak orang, tentu mereka ingin menguasai Irak sedalam-dalamnya,
terutama untuk menguasai minya dan gas. Makin tergantung orang Irak dengan mereka
makin senang dia… Saya kira salah satunya dengan menebarkan dan mendukung
kebencian antara Suni-Syiah. Mereka punya keuntungan besar dengan kondisi ini…

A: Keuntungan bagaimana? Bukanlah mereka banyak tentaranya yang mati?
B: Pertama adalah menciptakan image bahwa memang benar Islam, baik Suni dan Syiah
memang sukanya bertengkar, berperang, kekerasandan terorisme. Kedua, untuk
meyakinkan dunia bahwa Irak memang sangat membutuhkan & tergantung kepada
USA. ketiga, senjata mereka laku… Perlu diingat bahwa bahwa senjata adalah bisnis
besar bagi USA & UK. Konon, di UK ada pabrik senjata yang sudah mem-PHK ribuan
karyawannya, begitu perang Irak, mereka memanggil semua karyawannya. keempat,
menyibukkan umat Islam di dunia dengan masalah yang makin banyak melingkupi
mereka, sehingga mereka lemah, putus asa. kelima, kasus Irak adalah sinyal penting
dari USA kepada negara mana saja yang menentangnya, bisa mengalami nasib seperti
Irak. Muamad Khadafi, dan pemimpin Arab lainnya, paham sekali hal ini. Sehingga kita
bisa lihat semua pemimpin negara Islam, tunduk patuh kepada USA…
Kita bisa menambahkannya lagi…

A: Tapi orang Syiah sendiri juga mengambil keuntungan dari kehadiran USA, kan?
B: Dalam beberapa hal mungkin benar. Seperti kemungkinan untuk ikut berperan
dalam politik akan makin besar, mengingat mereka mayoritas. Hal yang tidak mungkin terjadi pada masa Sadam Husein yang sangat menindas kaum Syiah. Bahkan, mungkin ada sebagian orang Syiah yang dendam dengan Sadam yang telah berpuluh tahun menindas mereka…

A: Sebenarnya siapa yang mendahului saling membunuh itu? Kalau kami kaum Suni
hanya membela diri saja…
B: Sulit untuk dipastikan… Bagi kami orang Syiah, kami lahhanya membela diri. Orang Suni
juga begitu, mereka hanya merasa membela diri. Tetapi, sebenarnya ada pihak lain
seperti eks pengikut sadam dan kelompok-kelompok lain… Yang jelas, peristiwa di Irak
ini telah membunuh sekitar 500 ribu orang. Dan menyatukan lagi kayaknya merupakan
jalan panjang. Ketika darah sudah banyak bertumpah, perkara menjadi lain…

A: Rumit juga, yah. Jadi nampaknya, tragedi Irak tidaklah simpel, tetapi melibatkan
banyak pihak yang memiliki interes masing-masing. Baik, USA dan Konconya, kaum
Syiah, Kaum Suni, yang keduanya juga masing-masing berpecah-belah, para pengikut Sadam,
dan mungkin kelompok-kelompok lain…

B: Ya, dan yang rugi adalah orang-orang tak berdosa dan Islam itu sendiri

PERSATUAN & UKHUWAH ISLAMIYAH

A: Memang setelah saya pelajari sejarah Islam, bahkan pada masa Sahabat,
sulit untuk dipungkiri bahwa masalah politik memiliki andil besar dalam perpecahan
umat Islam.
B: Ya, itulah sebabnya kita perlu membangun kembali semangat persatuan dan
ukhuwah Islamiyah, sebagaimana diserukan oleh Rasulullah SAW dari dulu.
Bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh. Seharusnya kita menjadikan Islam sebagai
ikatan paling kuat di antara kita.
A: Sebenarnya memang sebaiknya mesti begitu, ya, perbedaan kalau mau
diungkit-ungkit tidak pernah akan selesai untuk diperdebatkan. Tetapi bukankah,
mestinya umat Islam itu satu, berasal dari sumber yang satu dan tidak ada lagi perbedaan?
B: Ada dua hal dari pertanyaan Akhi Ahmad. Pertama, apakah Islam tidak memungkinkan
perbedaan? Kedua, apakah perbedaan yang menyebabkan perpecahan?
A: Kalau saya baca sejarah Islam, maupun sebab-sebab perbedaan memang
sudah ada bahkan zaman Nabi SAW. Bedanya pada masa Nabi SAW ada yang
yang menjadi pemutus, yaitu Rasul SAW sendiri. Sedang pada masa sesudahnya
tidak ada…
B: Ya, kalau kita baca sebab perbedaan pendapat adalah banyak sekali, termasuk
di antaranya perbedaan memahami Al-Quran dan Sunah itu sendiri dalam menjawab
tantangan hidup yang terus berkembang. Perbedaan adalah keniscayaan di dalam
hidup ini, kita tidak bisa menghindarinya…
A: Betul juga, ya, bahkan dalam kelompok yang sudah digembleng dalam satu
“aqidah” yang sangat kuat, dan mencela yang berbeda pun akhirnya berbeda-beda
pendapat juga, bahkan kadang-kadang perbedaan itu keras sekali…
B: Ya, karena persatuan itu ada di dalam HATI, di dalam SIKAP… Bukan ditentukan
oleh persamaan pendapat atau bahkan persamaan lahir, misalnya pakaian, atribut…
A: Betul juga, persatuan akan muncul dari sikap menganggap orang lain sebagai saudara,
dari sikap rendah hati, tawadlu, dan menghargai orang lain. Karena meskipun kita ada
dalam satu kelompok dengan pendapat sama, bahkan pakaian, atribut sama semuanya
hingga kecil-kecil, namun dalam hati masing-masing merasa paling baik, paling benar,
paling shaleh, ingin menonjolkan diri sendiri, dan mau menang sendiri… Perpecahan tinggal
menunggu waktu.
B: Tapi bukan berarti persamaan atau kesepakatan itu tidak baik, lho? Karena kira umat Islam
sebenarnya memiliki persamaan dalam sangat banyak hal, seperti misalnya shalat, secara
menakjubkan sebenarnya kita shalat dengan cara yang secara umum sama sehingga bisa
dipimpin oleh imam dari madzhab mana pun, tanpa makmumnya kesulitan untuk mengikuti…
Di samping itu, kita punya ikatan yang sangat kuat, yaitu Tauhid, Al-Quran, kecintaan kepada
Rasulillah dan Islam… Ini adalah sesungguhnya ikatan yang sangat kuat (urwatul wustqa)…
Kalau orang lain, bisa bersatu dalam hal yang remeh temeh seperti kesamaan selera musik,
mengapa tali yang begitu kuat di atas tidak mampu menyatukan umat Islam?
A: Saya juga ingat anjuran tokoh-tokoh persatuan Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani
dan Rasyid Ridha agar “KITA BANTU-MEMBANTU DALAM MASALAH YANG KITA SEPAKATI,
DAN BERSIKAP TOLERAN DALAM MASALAH YANG KITA PERSELISIHKAN”
B: Alhamdulillah, sebenarnya tokoh-tokoh utama umat Islam dari semua kelompok
sebenarnya sangat toleran. Dalam NU, KH Hasyim Muzadi, Said Agil Siraj, atau
Gus Mus misalnya. Dalam Muhamadiyah ada , Pak Amien Rais, Pak Syafi’i juga Din
Syamsudin… Adalah tokoh-tokoh yang menyerukan persatuan Umat Islam, termasuk
dengan kelompok minoritas Syiah seperti saya ini…
A: Apakah toleransi, mementingkan ukhuwah Islam bukan berarti kita tidak punya pendirian, mencla-mencle?
B: Oh, bukan… Kita tetap memiliki pendirian masing-masing secara kuat. Seperti saya akan
tetap mencintai, mengikuti dan membela Ahlul Bait Nabi SAW bahkan dengan jiwa raga saya…
Namun, di saat yang sama saya tetap bisa bergaul, berdialog, bekerja sama dengan teman2
dari kelompok lain dalam hal-hal yang sama, yang sebenarnya memang sangat banyak…
A: Betul juga, kalau waktu kita hanya dihabiskan untuk bertengkar masalah khilafiah tanpa
henti, bagaimana umat Islam akan bisa maju jika kita tidak bisa bersatu dan melakukan hal-hal
yang lebih bermanfaat?
B: Setuju Akhi…

SEKTARIAN, HIZBIYAH, MAZHAB & ABSOLUTISME

Ahmad: Melanjutkan ide tentang persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah, kayaknya
salah satu rintangannya adalah sikap hizbiyah atau sektarianisme. Tetapi apakah merasa
bahwa pemahamannyalah yang benar itu salah?
Baqir: Tentu semua orang akan mengikuti pendapat yang menurutnya paling benar. & adalah
kecenderungan, dan sikap semua orang. Itu sikap yang wajar dan memang harus begitu…
Yang jadi masalah adalah sikap menegasikan orang lain, sikap yang menganggap bahwa
pendapatnya dan kelompoknya sama dan sebangun dengan Islam itu sendiri dan yang
tidak sesuai dengan pendapatnya sebagai bentuk kekafiran… Itulah sikap absolutisme…
A: Kalau begitu sektarianisme, bukan berarti tidak memiliki mazhab atau kelompok
B: Menurut saya, ya! Hizbiyah atau sektarianisme adalah sikap bagaimana memandang
orang lain yang berbeda pendapat dengan kita. Kita bisa saja, dan itu wajar, mengikuti
pendapat suatu ulama, kelompok atau hizb… Namun, ketika kita pada saat yang sama
memandang orang lain yang berbeda itu dengan sikap toleransi, dan tetap menjadikan
saudara seiman, dia tidaklah sektarian. Contohnya adalah NU dan Muhamadiyah…
Orang NU tetap menganggap orang Muhamadiyah sebagai saudara seiman, walau mereka
berbeda pendapat dalam banyak sekali masalah. Namun, di saat yang sama ketika kita
TIDAK memilih mazhab atau hizb apa pun, namun KITA BERSIKAP: hanya kitalah yang
benar, yang lain adalah kesesatan. Kita telah bersikap sektarian, hizbiah, meski kita secara
fisik tidak menjadi anggota kelompok apa pun, atau tidak menisbahkan kepada mazhab
apa pun…
A: Ya, kalau saya membaca sekilas fikh perbandingan (muqaran), saya dapati perbedaan
yang sangat banyak dalam satu masalah saja. Sehingga Ahmad Deedat mengatakan bahkan
dalam masalah shalat saja terdapat perbedaan dalam lebih dari 200 masalah…
B: Itulah kawan, agama kita sudah melalui lebih dari 1400 tahun… Melalui berbagai generasi
dari berbagai bangsa, dengan latar belakang dan kecenderungan masing-masing. Masing-
masing memiliki pola anutan yang berbeda, sehingga sangat wajar pendapatnya menjadi
berbeda. Bagi kami Mazhab Ahlul Bait, rujukan paling utama adalah 12 Imam itu, serta
para ulama yang mengikuti 12 Imam kami.
A: Ya, begitu juga kami kaum Ahlu Sunah… Memiliki banyak sekali ulama anutan. Misalnya
dalam masalah fikh ada 4 mazhab besar, yang paling banyak diikuti. Belakangan memang
ada yang tidak mengikuti mazhab tertentu, namun sebenarnya juga membentuk mazhab
tersendiri juga. Bagi kaum NU misalnya, tentu rujukannya Imam Nawawi, Imam Al-Ghazali,
Al-Baghawi, dll. Atau yang belakangan Sayid Alawi Al-Maliki, misalnya… Sedang bagi
kelompok lain, rujukannya berbeda misalnya Ibnul Qayim atau yang belakangan Syaikh
Al-Bani atau Al-Qaradawi…
B: Meskipun begitu tidak ada alasan bagi kita untuk berpecah belah, dan saling hujat sendiri…
A: Setuju Akhi Baqir… Semoga Allah mengaruniai seluruh umat Islam kasih sayang
kepada saudaranya sendiri, dan menjauhkan fitnah, sikap iri, dan prasangka di hati kaum
Muslimin.
B: Amien… Ya Rabbal ‘alamiin…

(Selesai)

Sumber: http://soni69.tripod.com/