Beranda > Tulisan Orang > Mengapa Harus Agama?

Mengapa Harus Agama?

Mengapa Harus Agama?
Oleh: Ar Budi Prasetyo*

Beberapa tahun silam, sosiolog Universitas Indonesia (Alm) Dr. Selo Soemardjan, melontarkan pernyataan yang menarik menyangkut masa depan agama. Menurutnya proses sekularisasi tak terelakkan lagi bagi masyarakat Indonesia di masa depan, karena sekarang ini kita menghadapi transformasi sosial dan kultural sebagai akibat diterapkannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dominasi keduanya dalam proses industrialisasi akan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, politik, dsb. Ilmu pengetahuan dan tekonologi akan menggeser pertimbangan-pertimbangan agama dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan sosial. Beliau –sebagai sosiolog- agaknya menempatkan agama sebagai gejala sejarah, yang merupakan hasil fenomena akumulasi dan interaksi kebudayaa yang pada tahap tertentu akan mengalami pergeseran seiring tergantikannya peran agama oleh posisi lainnya.

Manusia dengan penguasaan sains dan teknologi telah terbukti mampu menyelesaikan problematika kehidupannya tanpa sedikitpun harus berkonsultasi terhadap agama, dan gejala ini disebut sebagai ambang batas ajal agama. Niestzce seorang filusuf eksistensialis menuliskan slogannya yang terkenal God is tot, Tuhan telah mati, dalam kitab Zarathustranya yang menandai perang terbuka terhadap agama. William James –tokoh psikolog- menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility, suatu gelar yang panjang dan tidak enak didengar. Menurutnya, para Nabi dan orang-orang suci dihinggapi perasaan yang berlebih-lebihan, melankoli, halusinasi, mendengar suara, atau melihat visi dan berbagai karakteristik patologikal lainnya. Sigmund Freud menganggap agama sebagai universal obsessional neurosis, bahkan Anton T Boisen berteori, sebelum orang menghayati agama lebih baik, ia harus menderita sakit jiwa terlebih dahulu. Terakhir Karl Marx dengan ideologi komunisme nya memberikan pukulan telak dengan menyebut “agama sebagai candu masyarakat.”

Adakah Masa Akhir Agama?
Dunia ini senantiasa mengalami apa yang disebut sebagai gejala sejarah – perubahan dan pergantian -, tidak ada sesatu yang bersifat permanen di dalamnya, segalanya akan berubah, memudar dan setelah itu mati. Benarkah agama juga akan mengalami siklus lahir untuk kemudian mati? Benarkah peran sains dan teknologi menggantikan agama? Atau Agama akan tetap ada? Agama adalah kebutuhan yang mendasar dan fitri bagi manusia?

Untuk menyelidiki apakah agama adalah gejala yang diprediksi akan segera berakhir atau ia akan tetap ada sebagai kebutuhan? Ayatullah Murtadha Muthahhari memberikan pandangannya, menurut beliau, fenomena-fenomena sosial yang dapat mempertahankan kehadirannya sepanjang masa, haruslah selaras dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan manusia. Dalam arti bahwa manusia jauh dilubuk fitrahnya, mencari dan mendambakan seperti itu. Menurut beliau, kebutuhan manusia setidaknya terdiri atas dua hal, yakni kebutuhan alamiah (fitriah) dan kebutuhan bukan alamiah. Kebutuhan fitriah adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia sebagai manusia, misalnya keinginan untuk mengetahui dan menyelidiki, keinginan memiliki keluarga dan keturunan dan lain sebagainya. Kendati ia menghadapi rintangan hebat ia akan menghadapinya demi memenuhi keinginan alamiahnya tersebut. Kebutuhan bukan alamiah adalah kebiasaan-kebiaasaan atau adat istiadat yang dilakukan oleh kebanyakan manusia, akantetapi mereka memiliki kemampuan untuk melepaskan diri daripadanya, atau menggantikannya dengan yang lain, misalnya keinginan minum kopi, merokok atau kebiasaan dalam masyarakat yang bisa digantikan dengan bentuk lain dan lain sebagainya. Jika demikian adakah agama itu kebutuhan fitrah ataukah kebutuhan bukan fitrah?

Kefitrian Agama
Persoalan manusia yang paling mendasar yang senantiasa muncul dalam lubuh hatinya adalah persoalan kehadiran dan tujuan dia hadir di muka bumi, sederetan pertanyaan epistemologis menyusup mengganggu ketentramannya, “Mengapa aku berada di sini?”, “Darimana aku?”, “Akan kemana aku?” Perasaan terganggu oleh parade kehidupan, ada kelahiran, sakit, kematian. Manusia menyaksikan kehidupan yang paradok adanya ketidakselarasan antaara daya kekuatan tubuhnya yang terbatas dan diakhiri dengan kematian dengan keinginan untuk tetap mengada, eksis, abadi. Adakah ia hidup untuk menuju pada titik kemusnahan, atau ia sedang menuju titik keabadian?” Kalau hidup hanya untuk menuju titik kemusnahan, apa arti keberadaanku di muka bumi? Apakah ini hanya satu kesia-siaan ataukah….?

Jika di awal tulisan ini disebutkan sains dan teknologi telah menggantikan agama, penjelasan apakah yang telah diberikan oleh sains dan agama terhadap fenomena di atas. Sains hanya memberikan penjelasan yang bersifat metabolistik dan berhenti pada tataran artifisial fisiologis dan biologis tanpa mampu memberikan makna sesungguhnya arti hidup dan kehidupan itu sendiri. Hal ini bukan berarti sains tak memiliki peran apapun, akan tetapi yang ingin kami katakan persoalan tersebut bukanlah wilayah sains dan teknologi dan amsalah suprafisika tersebut hanya dapat dijelaskan oleh agama, tidak ada yang lainnya.

Mengenai hubungan sains dan teknologi ini Ayatullah Murtadha Muthahhari memberikan penjelasan “…Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan, dan kehangatan. Sains menciptakan teknologi, dan keimanan menciptakan tujuan. Sains memberi kita momentum dan keimanan memberikan arah. Sains berarti kemampuan dan keimanan adalah kehendak baik. Sains menunjukkan kepada kita apa yang ada di sana, sementara keimanan mengilhami kita tentang apa yang mesti kita kerjakan. Sains adalah revolusi eksternal dan keimanan adalah revolusi internal. Sains menjadikan dunia tampak rumah bagi kita, sedangkan keimanan mengungkit ruh manusia. Sains memperluas manusia secara horizontal dan keimanan meningkatkannya secara vertikal. Sains membentuk kembali alam dan keimanan mencetak manuisi. Baik sains maupun keimanan memberikan kekuatan kepada kemanusiaan. Yang diberikan oleh sains kepada manusia adalah kekuatan yang lepas, tetapi keimanan memberinya suatu kekuatan yang kukuh. Baik keimanan maupun sains berarti keindahan, sains adalah keindahan kebijaksanaan, dan keimanan adalah ruh. Sains dan keimanan memberi manusia kepastian atau penawar bagi kegelisahan kesepian, ketakberdayaan, dan absurdisitas, sains menyelaraskan manusia dengan sang diri.

Menurut Murtadha Muthahhari, Islam sebagai agama yang pertama menemukan dan menandaskan bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia, sebagaimana diungkapkan Imam Ali bin Abi Thalib kw, pintu kota ilmu Rasulullah Sawaw, “Para Nabi diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian, yang telah diikat oleh fitrah mereka, kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di hadits di atas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena ciptaan Allah dipermukaan kalbu dan lubuh fitrah manusia dan di atas permukaan hati nurani serta kedalaman perasaan batiniah.”

Di tengah kemajuan sains dan tekonologi dan arogansi antropomorfisme, muncul siulan kecil menyanyikan kerinduan pada agama. Tolstoy mengatakan, “Keimanan adalah sesuatu yang dengannya manusia merasa hidup, ia adalah bekal kehidupan.” Dalam kesempatan lain Alexis Carell menuliskan, “Akal manusia telah mengalami kemajuan pesat, namun sayangnya, hati mereka masih tetap lemah. Hanya keimanan sajalah yang mampu membangkitkan kekuatan dalam hati manusia. Semua penyimpangan manusia bersumber dari keadaan itu, yakti kuatnya akal dan lemahnya hati. Apa yang telah dilakukan oleh peradaban modern? Kerjanya setiap hari hanyalah memasarkan barang-barang dan hasil produksi yang “bermutu”.

Tak ada cara dan sarana apapun yang dapat menggantikan agama, dia adalah kebutuhan paling fitri manusia, saya teringat sebuah cerita tentang Nashir Khasrou yang berpesan kepada putranya, “Telah kupalingkan diriku dari dunia dan kupusatkan pandanganku kepada agama, sebab dunia tanpa agama bagaikan sumur yang dalam atau penjara yang gelap gulita. Agama dalam lubuh jiwaku merupakan kerajaan yang amat luas, yang tak tersentuh kebinasaan dan keruntuhan untuk selama-lamanya.”

Khatimah
Mengakhiri tulisan ini kami kutipkan kegelisahan para rektor sebuah negara Adidaya, puluhan tahun lalu, puluan rektor Universitas Amerika berkumpul dalam konferensi di Universitas Michigan, mereka seakan tersentak, ketika Dr. Benjamin E Mays Rektor Morehouse College, Georgia, berkata, “Kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit…Bukan pengetahuan yang kita butuhkan, kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan sesuatu yang spiritual. []

*Pengurus IJABI Klaten dan Aktivis Komunitas Kaki Lima Asyura

Kategori:Tulisan Orang
  1. Maret 9, 2007 pukul 1:16 am

    Sip, sudah menjadi tabiat dasar manusia untuk bertanya pada dirinya dan lingkungannya : Siapakah aku. Dan aku untuk apa, kemudian dia mencari siapa yang akan disembah olehku. Pilihan-pilihan itu ada pada setiap perkembangan jaman. Tak perduli sains sudah seawal apapaun atau sudah setinggi apapun. Keinginan untuk menyembah, berbakti. Sangat boleh jadi, manusia bertanya kembali hal-hal ini karena jati dirinya terikat perjanjian dengan ilahi di alam ruh…..

  2. eviya
    Maret 27, 2007 pukul 7:51 am

    bagus

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: