ISLAM BICARA WANITA

muslimah.JPGSetelah datangnya Islam kepada Nabi Muhammad Sawaw maka kita peroleh satu ajaran suci yang menjadika manusia baik laki-laki maupun perempuan sebagai khalifah di muka bumi. Artinya mereka berhak untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan segala sesuatu ciptaan Allah dengan batasan-batasan yang telah ditetapkanNya.

Di dalam Al-Qur’an, hadits hadits Nabi serta para Imam, bahwa Allah memberikan beberapa persamaan hak dan kewajiban (hukum) yang sama antara pria dan wanita, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Kapasitasnya sebagai makhluk Allah, Allah befirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13: “Wahai manusia sesungguhnya kami ciptakan kalian dari jenis kelamin laki-laki dan wanita, dan kami jadikan kalian berkelompok dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”

Di dalam ayat ini dengan jelas Allah SWT menyebutkan bahwa manusia terdiri dari dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Dan menegaskan keduanya adalah manusia. Kemudian Allah menyebutkan pula, bahwa Ia menjadikan manusia itu berkelompok-kelompok dan bersuku-suku, namun itu semua menyimpan tujuan, yaitu untuk saling mengenal, bukan untuk saling menyombongkan diri; menganggap kelompok sendiri lebih mulia dari yang lain. Jadi, satu suku tidak akan lebih mulia dari yang lain kecuali dengan taqwa, sebagai seorang laki-laki tidak akan dianggap lebih mulia dari seorang wanita kecuali dengan taqwa.

Kedua, Kesamaan dalam mendapatkan pahala atas pekerjaan baik yang dilakukan oleh kaum wanita, sebagaimana firman Allah SWT: “Siapa yang melakukan amal kebaikan dari golongan laki-laki atau perempuan, maka Kami akan memberikan padanya kehidupan yang baik.” (QS: An-Nahl: 98)

Allamah Muhammad Husein Thabathabai, di dalam kitab tafsirnya Al-Mizan menjelaskan, bahwa ayat ini merupakan janji Allah yang indah bagi setiap orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, dan merupakan kabar gembira bagi kaum wanita, dimana Allah tidak membedakan mereka dengan kaum lelaki dalam penerimaan iman mereka dan pemberian pahala terhadap amal shaleh yang mereka amalkan, yaitu kehidupan yang baik atau dengan bahasa lain adalah kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia serta derajat yang tinggi di akhirat nanti.

Ketiga, Kesamaan di dalam tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya, baik yang berhubungan dengan kewajiban personal ataupun sosial. Maka, sebagaimana wajib atas seorang laki-laki melakukan shalat lima kali dalam sehari, atas wanita juga demikian. Atas seorang laki-laki wajib melakukan puasa di bulan Ramadhan, wanita juga memiliki kewajiban yang sama. Begitu juga, kaitannya dengan kewajiban yang bersifat kemasyarakatan seperti: zakat dan khumus, wanita pun memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki. Bahkan, pada kewajiban yang harus dilakukan bersama-sama dan tidak kosong dari nuansa politis seperti haji, wanita pun memiliki kewajiban yang sama layaknya laki-laki. Sebagaimana seorang wanita pun boleh ikut serta dalam shalat jamaah dan shalat jumat. Dan juga dalam Islam kita ketahui ada kewajiban jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Kewajiban ini bukan hanya untuk laki-laki saja, namun perlu kita ketahui bersama bawa jihad dan amar makruf nahi munkar tidak hanya berupa berperang dan mengangkat senjata atau sejenisnya, namun bisa dalam bentuk lainnya yaitu dnegan pena, ceramah, dan lainnya yang dapat dilakukan oleh laki-laki dan wanita.

Keempat, Kesamaan dalam hak warisan. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’: 7, “Orang laki-laki berhak mendapatkan warisan dari apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat mereka. Dan orang perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan warisan dari kedua orang tua dan kerabat mereka, baik sedikit atau ba nyak dari harta yang ditinggalkan, sebagai bagian yang telah ditentukan.”

Sekali lagi, ayat ini menjelaskan prinsip kesamaan hak untuk mendapatkan warisan, dalam rangka menolak ajaran lain yang menafikan hak warisan bagi kaum wanita, walaupun Allah SWT dalam ayat lain membedakan jumlah dan bagian yang berhak diterima oleh seorang wanita dengan bagian yang diterima oleh seorang anak laki-laki, karena adanya mashlahat yang Allah lebih tahu akan hal itu.

Kelima, Kesamaan hak pendidikan dan pelajaran. Dikarenakan tugas yang sama yang harus dilakukan oleh masing-masing pria dan wanita, dan tugas tersebut tidak dapat dilakukan secara baik dan benar kecuali dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan tentang tugas tersebut, maka hak belajar guna meraih pengetahuan yang dapat menunjang pelaksanaan tugas dnegan baik dan benar itu sama-sama dimiliki oleh pria dan wanita, hal tersebut tersirat di dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Diintisarikan dari artikel “Wanita dalam Perspektif Islam” oleh Hayati Muhammad)