Lima Wallahu A’lam

Oleh: Ust. Miftah Fauzi Rakhmat

Pertengahan Ramadhan lalu saya bertemu dua orang kawan lama saya. Yang pertama baru kembali setelah ‘uzlah hampir satu dekade di Australia. Yang kedua warga negara Amerika yang justru memilih untuk ‘uzlah di Indonesia. Yang pertama mengatakan bahwa nilai-nilai Islam tercermin dalam perilaku orang Barat. Yang kedua ingin menyelamatkan keluarganya dari nilai Barat yang dianggap sesat. Yang pertama sangat filosofis, yang kedua sangat sufistik. Beruntunglah saya yang menimba ilmu dari pengalaman keduanya.

Kebetulan, pada pertemuan itu saya berada dalam posisi musafir. Menurut fikih yang saya anut, saya diharuskan berbuka puasa dan mengganti puasa saya pada hari yang lain. Kebetulan yang kedua, saya memilih tempat pertemuan yang dipenuhi dengan berbagai restoran, café, dan kedai makanan. Semua tempat duduk yang ada hanya disediakan bagi mereka yang hendak menyantap makan siang mereka. Meski saya tidak berpuasa, kami mencari tempat duduk gratis yang tidak mengharuskan saya untuk berbuka. Kedua kawans aya membujuk saya untuk mengambil makanan saja (apalagi karena menurut agama itu dibolehkan). Saya tetap berusaha untuk memelihara perut yang lapar (paling tidak di depan mereka). Saya mengemukakan alasan bahwa kita harus menghormati orang yang berpuasa. Maka kedua kawan saya membalas saya dengan menjawab, “Sudah terlalu lama kita diajarkan untuk menghormati orang yang berpuasa. Mengapa kita tidak membiasakan juga untuk menghormati orang yang tidak berpuasa? Bukankah di antara kita ada orang sakit, ibu hamil, para musafir yang dibolehkan untuk mengqadha puasanya, meskipun para fukaha masih berbeda pendapat tentang rinciannya? Bukankah tetangga kita ada yang berbeda agama dengan kita? Mengapa jendela restoran harus ditutupi padahal orang tahu di dalamnya ada yang sedang menikmati sajiannya?” Kawan saya yang kedua bahkan mengatakan, sesuatu yang ditutup cenderung mendatangkan akibat yang lebih besar dari pada sesuatu yang dibuka. Karena sehelai tirai, imajinasi yang bermain dalam otak kita bisa menjadi sangat liar. Pernah di Amerika diadakan penelitian tentang mana yang lebih kuat membangkitkan gairah seseorang: apakah melalui tayangan televisi, drama radio, ilustrasi komik, atau sekedar bacaan saja. Hasilnya menakjubkan, bacaan ternyata lebih menggairahkan, karena itu menyertakan pembacanya dalam imajinasi tak terbatas. Begitu pula kedai yang ditutup tirai. Ia lebih menggoda daripada saat ketika dibuka. Wallahu a’lam.

Maka diskusi kami yang pertama dalam reuni itu adalah bagaimana menyuburkan tradisi untuk menghormati orang yang tidak puasa. Diskusi kedua berkenaan dengan –bukan saja pemberian tirai terhadap warung-warung, melainkan– “penutupan” beberapa tempat hiburan. Pertanyaan yang muncul seputar ketiadaan lapangan kerja, kebutuhan para pekerja itu akan keperluan hari raya yang besar, dan peluang –sekali lagi– untuk memberikan layanan yang biasa kepada umat agama lain yang tidak berpuasa. Saya bahkan mengajukan pertanyaan: Manakah yang lebih baik, menjadi saleh ketika semua lingkungan mendukung kita? Ketika televisi, radio, pengeras suara masjid, bahkan stiker di jalan raya menyiarkan dakwah agama; ataukah menjadi saleh ketika lingkungan menentang kita? Menurut saya, nilainya lebih tinggi tatkala seseorang menjadi dan memelihara keshalehannya, justr ketika lingkungan sekitarnya mengajaknya ke arah sebaliknya. Tentu dengan tidak mengesampingkan kewajiban kita untuk beramar makruf dan nahi munkar. Wallahu a’lam.

Hasil diskusikami yang ketiga berkenaan dengan pluralisme. Entah karena spontanitas, atau memang alam ini diatur dalam satu keterkaitan niat dan ide yang sama. Kebetulan, dalam beberapa agenda, Ust. Jalal, Yayasan Muthahhari, dan IJABI sedang “rajin-rajin”nya menjalin kerjasama dengan para penganut agama lain. Divisi Fathimiyyah mengadakan pengobatan gratis dan pemeriksaan Cuma-Cuma di beberapa daerah pinggiran kota Bandung bekerjasama dengan RS Borromeus. SMA Muthahhari mengirimkan murid-muridnya untuk bersilaturahmi ke beberapa gereja dan berdiskusi dengan para pendetanya. Kang Jalal mengadakan pembagian sembako di halaman SMA Muthahhari bagi 600 fakir miskin bekerja sama dengan Aliansi Kerukunan Umat Beragama. Semangat itu kemudian di”gong”kan dalam diskusi malam takbiran yang disiarkan potongannya oleh MetroTV. Tayangan Metro TV mengambil tema “memilih jalan Islam yang benar”. Sebagian saudara kita kaum Muslimin mensomasi MetroTV karena menayangkan acara yang –menurut mereka– melecehkan MUI karena disebut oleh Emha Ainun Nadjib bukan sebagai kumpulan Ulama Islam, melainkan ulama fiqih. Dalam diskusi yang berjalan hangat itu, Ust. Jalal, Gus Dur, Emha dan Dhani Dewa membahas sedikit tentang Pluralisme. Ust. Jalal menyebutkan bahwa Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 62 adalah ayat yang berbicara tegas tentang pluralisme; bahwa kriteria “keselamata” seseorang hanyalah dari tiga hal: beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal shaleh. Uniknya, beberapa penafsir Al-Qur’an juga menggunakan ayat yang sama sebagai dalil tentang tiadanya Pluralisme. Dalam bagian yang lain, Gus Dur menerangkan penafsirannya tentang Al-Baqarah ayat 120 yang berbunyi: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Menurut Gus Dur, bila Yahudi dan Nasrani tidak senang dan ridho kepada kaum Muslimin karena mereka datang dengan agama yang baru, justru kaum Muslimin semestinya ridho sekiranya ada orang yang berbeda keyakinan dengan mereka. Gus Dur malah menegaskan bahwa pengertian ayat itu agar kita tidak menjadi seperti Yahudi dan Nasrani yang tidak rela dnegan orang yang beragama berbeda. Bukankah tidak ada paksaan dalam agama? Tafsir Nurul Qur’an dari Syaikh Faqih Imani bahkan menceritakan kisah dua pemuda yang memeluk agama Islam, kemudian orangtuanya datang menemui Nabi dan memohon agar Nabi mengizinkan kedua pemuda itu untuk kembali menganut agama moyang mereka. Lalu turunlah ayat, “La ikraha fi al-din” Walhasil, semangat pluralisme –menurut Gus Dur dan Ust. Jalal– justru dianjurkan oleh Al-Qur’an.

Terkait dengan itu, dalam diskusi dengan kedua karib saya di atas, kawan saya dari Amerika dalam bahasa yang sangat jernih mengatakan, “Dahulu saya mengecilkan Pancasila. Apa itu Pancasila? Ia buatan manusia. Tetapi sekarang, I am a true Pancasilais!” Menurutnya, justru Pancasila memberikan ruang gerak bagi agama yang berbeda dan itu sejalan dengan semangat Al-Qur’an. Ia tidak begitu sependapat dengan beberapa kawan aktivis yang berjuang hendak menegakkan syariat Islam. Menurutnya, syariat Islam lebih terletak pada penerapan nilai-nilai Islam dalam hal akhlak dan moralitas ketimbang hal ritual yang sifatnya personal. Sejarah Islam sudah cukup menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak sepenuhnya sepakat dalam semua urusan. Bila diberlakukan syariat Islam, maka syariat yang seperti apakah yang akan dijalankan? Dalam contoh kecil di Indonesia, bila NU yang berkuasa mungkin syariatnya cara NU? Apakah kawan-kawan yang berbeda paham dalam syariat dengan NU, seperti Muhammadiyyah, PERSIS, dan sebagainya akan mengikuti saja, atau bagaimana? Kebetulan kawan saya yang orang Amerika itu aslinya berasal dari satu negeri yang pernah mencoba menerapkan syariat Islam. Negeri itu kini porak poranda. Tingkat kriminalitas sangat tinggi. Dan karena label syariat itu terjadi juga pembunuhan, kekerasan, dan genosida. Mungkin kawan saya benar, bahwa perjuangan menegakkan syariat Islam semestinya dimulai dari revolusi kesadaran terutama dalam akhlak dan moralitas. Wallahu a’lam.

Saya ingin mengamini kawan saya itu dengan mengutip jawab Jodie Foster dalam film Contact. Jodie Foster menempuh perjalanan antarwaktu yang tidak bisa dibuktikan secara empiris. Ia melihat dunia lain. Ia melintasi galaksi dan semesta yang lebih luas. Di akhir film, ketika seorang anak kecil bertanya kepadanya, “Do you believe in aliens?” Apakah ia mempercayai ada makhluk di luar angkasa selain manusia? Jodie foster menjawabnya dengan mengatakan: alangkah mubazirnya semesta yang begitu luas bila yang difungsikan Tuhan hanya satu planet biru kecil saja bagi manusia bernama Bumi. Bagi siapakah semesta yang lebih luas itu? Mungkinkah Tuhan menciptakannya tanpa manfaat?”

Mengikuti Foster saya akan berkata: Mungkinkah Tuhan menciptakan surga yang bentang daratannya seluas langit dan bumi hanya untuk segelintir kecil saja yang mempunyai label tertentu? Ataukah Tuhan memasukkan siapapun ke dalamnya, apapun label duniawi dia asalkan di berakhlak seperti akhlak para Nabi, beriman kepada Tuhan dan tidak menyekutukannya dalam perbuatan dan ucapan, serta meyakini hari akhir sebagai saat pertanggungjawabannya. Wallahu a’lam.

Terakhir, Anda boleh setuju dengan pendapat saya atau punya pendapat yang lain. Bukankah keragaman itu sendiri justru menunjukkan relativitas kebenaran. Pada saat yang sama ia membuktikan kebutuhan kita pada penafsir mutlak wahyu yang diberi petunjuk oleh Tuhan (Hadina Al-Mahdiyin).

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengajak saudara semuanya –ketika dihadapkan pada pendapat yang berbeda– untuk juga mengatakan: Wallahu a’lam bishawab.[]

Sumber: Buletin Dakwah Al-Tanwir Nomor: 268, Edisi: 19 November 2005/17 Syawal 1426 H