Berikut ini, saya kutipkan tanggapan M. Anis Maulachela atas tulisan “Asy Syaikh” Mamduh Farhan Al Buhairi di dalam Buku Gen Syi’ah.

Bagi Anda yang ingin mengetahui tulisan “Asy-Syaikh” Muslim teroris itu, silakan klik di sini

Perlu para pembaca ketahui bahwa weblog di atas adalah salah satu dari sekian banyak weblog muslim teroris.

Jadi, waspadalah terhadap propaganda dan fitnah-fitnah yang mereka lancarkan.

karena fitnah dan propaganda yang mereka lancarkan itu atas pesanan Amerika dan Israel.

——————————————————–

SIKAP PARA IMAM (AS) ATAS BEBERAPA SAHABAT

Sayang sekali ustad Mamduh telah melakukan manipulasi terhadap kalimat Imam Ali as sehingga memberikan kesan yang berkebalikan dari maksud sebenarnya. Ustad Mamduh mengutipkan kalimat Imam Ali as sebagai berikut :

“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad, tidak satupun di antara mereka yang mirip dengan kamu ! Mereka di pagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud…….”

Lalu ustad Mamduh mengomentari bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pujian kepada semua sahabat Rasul saww. Namun tidak demikian, sayang ustad Mamduh telah memotongnya. Sebenarnya kalimat tersebut berisi pujian untuk para sahabat Rasul saww yang setia. Buktinya adalah pada khutbah itu sendiri dan khutbah-khutbah lainnya, yang saya kutipkan di halaman berikutnya. Pada kalimat awal khutbah tersebut, terlihat jelas bagaimana Imam Ali as mengecam orang-orang dan sebagian dari kelompok sahabat, yang berbondong-bondong (dengan terpaksa) membai’at Imam Ali as sepeninggal Utsman bin ‘Affan, karena mereka tidak lagi melihat ada orang lain yang pantas di sekitar mereka. Kebetulan Mu’awiyah berada cukup jauh dari Madinah (di Suriah). Sehingga terpaksa Imam Ali as yang dibai’at. Selengkapnya tentang penjelasan ini bisa dilihat pada Syarh Nahjul Balaghah oleh Sayyid Ali Raza. Kalimat yang lebih lengkap dari khutbah tersebut adalah sebagai berikut :

“Demi Allah yang hidupku dalam kekuasaan-Nya, orang-orang ini [Mu’awiyah dan pengikutnya] akan menguasai anda; bukan karena mereka lebih berhak dari anda, melainkan bergegasnya mereka menuju yang salah bersama pemimpin mereka, dan kelambanan anda tentang hak saya [untuk diikuti]. Orang takut akan penindasan oleh rakyat mereka, sementara saya justru takut akan penindasan oleh rakyat saya. Saya memanggil anda, tetapi anda tidak datang. Saya memperingatkan anda, tetapi anda tak mendengarkan. Saya memanggil anda secara rahasia maupun terbuka, tetapi anda tidak menjawab. Saya berikan kepada anda nasihat yang tulus, tetapi anda tidak menerimanya. Apakah anda hadir sebagai tak hadir, dan budak sebagai tuan ?…. Tengoklah anggota keluarga Nabi. Bertautlah pada arahan mereka. Ikutilah langkah mereka, karena mereka tak pernah membiarkan anda tanpa petunjuk, dan tak akan pernah melemparkan anda ke dalam kehancuran. Apabila mereka duduk, duduklah anda; dan apabila mereka bangkit, bangkitlah anda. Janganlah mendahului mereka, karena dengan itu anda akan tersesat; dan jangan tertinggal di belakang mereka, karena dengan itu anda akan runtuh. Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun dari kalian yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah, dan melewatkan malam dengan sujud dan berdiri dalam sholat…”

Ref. Syi’ah :
1. Nahjul Balaghah, Khutbah no. 96, Tahqiq Syaikh Faris Tabrizian.
2. Sayyid Ali Raza, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96.

Bahkan pada riwayat lain, sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Abduh (sunni) dan Sayyid Ali Raza (syi’ah), kalimat khutbah yang dinukil oleh ustad Mamduh tersebut justru ditujukan kepada Ahlul Bait as. Berikut kalimatnya :

“Tengoklah anggota keluarga Nabi. Bertautlah pada arahan mereka. Ikutilah langkah mereka, karena mereka tak pernah membiarkan anda tanpa petunjuk, dan tak akan pernah melemparkan anda ke dalam kehancuran. Apabila mereka duduk, duduklah anda; dan apabila mereka bangkit, bangkitlah anda. Janganlah mendahului mereka, karena dengan itu anda akan tersesat; dan jangan tertinggal di belakang mereka, karena dengan itu anda akan runtuh. Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah, dan melewatkan malam dengan sujud dan berdiri dalam sholat…”

Ref. Syi’ah :
1. Syaikh Muh. Abduh, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96, hal. 189.
2. Sayyid Ali Raza, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96, hal. 152

Jelas sekali terlihat bahwa semua kata ganti “mereka” pada kalimat khutbah ini kembali kepada Ahlul Bait as. Oleh karena itu, kalimat “Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun yang menyerupai mereka” maksudnya adalah Imam Ali as tidak menemukan seorangpun dari para sahabat Nabi saww yang menyerupai Ahlul Bait as.

‘Alla kulli haal, dari kedua riwayat tentang khutbah Imam Ali as tersebut, sama sekali tidak ditujukan untuk semua sahabat Nabi saww.

Juga pada kalimat khutbah Imam Ali as yang lain, sebagai berikut :
“Manakah kaum yang diajak kepada Islam lalu menerimanya, yang membaca Al-Qur’an dan merincinya, yang diseru kepada perang lalu berhamburan maju sambil menghunus pedang…”

Ustad Mamduh mengomentarinya bahwa kalimat ini adalah kalimat pujian kepada para sahabat Nabi saww. Namun sebenarnya tidak demikian, kalimat tersebut adalah kalimat pujian kepada sahabat atau syi’ah Imam Ali as yang setia, yang telah gugur. Berikut kalimat sebenarnya :

“Dimana mereka, yang diundang kepada Islam dan telah menerimanya. Mereka membaca Al-Qur’an dan memutuskan sesuai dengan itu. Mereka disuruh bertempur dan mereka melompat seperti unta-unta betina melompat ke arah anak-anaknya…Mata mereka telah putih karena menangis. Perut mereka telah menipis karena berpuasa. Lidah mereka telah kering, karena berdoa. Mereka pucat karena jaga. Wajah mereka mengandung debu takwa karena Allah. Ini adalah para sahabat saya yang telah pergi…”

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, khutbah no. 120.

Kalimat ini jelas berisi pujian kepada sahabat atau syi’ah Imam Ali as yang setia. Silakan anda sekalian baca khutbah lengkapnya sebagaimana yang saya lampirkan. Hal ini diperkuat juga dengan riwayat yang menyatakan bahwa suatu hari Imam Ali as melihat sekelompok lelaki di pintu rumahnya. Lalu beliau bertanya kepada Qanbar tentang siapa mereka itu, dan ia menjawab bahwa mereka adalah syi’ah beliau as. Ketika mendengar ini, dahi Imam Ali as berkerut seraya berkata : “Mengapa mereka dikatakan syi’ah ?”. Kemudian Qanbar bertanya : “Apakah tanda-tanda syi’ah ?”. Imam Ali as menjawab : “Perut mereka tipis karena lapar, lidah mereka kering karena haus, mata mereka suram karena menangis”.

Ref. Syi’ah :
Sayyid Ali Raza, dalam “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 120, hal. 181

Hal ini semakin jelas diperlihatkan pada pernyataan Imam Ali as pada saat yang lain tentang ciri-ciri syi’ah beliau as, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Mufid. Imam Menyatakan bahwa tanda-tanda syi’ah beliau as adalah : “Wajah mereka pucat karena jaga di malam hari. Mata mereka suram, karena menangis. Punggung mereka membungkuk, karena sholat. Perut mereka tipis, karena berpuasa. Bibir mereka kering, karena berdoa. Dan pada mereka terdapat debu takwa karena Allah”.

Ref. Syi’ah :
Syaikh Mufid, “Al-Irsyad”, jilid 1, hal. 237-238.

Coba bandingkan jawaban Imam Ali as ini dengan kalimat beliau as yang saya cetak tebal di atas.

Sebaliknya Imam Ali as justru pernah memberikan khutbah panjang, yang berisi, yang juga berisi peringatan kepada beberapa orang dari kelompok Muhajirin dan Anshar yang telah mengkhianati beliau as, sebagai berikut :

“Wahai orang-orang dari Muhajirin dan Anshar, orang-orang yang mendengar kata-kataku, sudahkah kalian mentaati aku untuk sesuatu yang diwajibkan atas diri kalian, maupun itu berupa bai’at kalian kepadaku untuk tunduk ataukah janji kalian kepadaku untuk menerima kata-kataku. Pada hari itu bai’at kalian kepadaku lebih bersemangat daripada bai’at kalian kepada Abubakar dan Umar. Oleh karena itu mengapa mereka, yang telah menentangku, tidak mencabut bai’at mereka dari kedua orang tersebut sampai mereka mati, sementara mereka telah mencabut bai’at mereka kepadaku dan tidak melaksanakan perintah-perintahku ? Tidakkah kalian tahu bahwa bai’at kepadaku adalah kebutuhan kalian, baik bagi yang hadir maupun yang tidak hadir !?…”

Ref. Syi’ah :
Syaikh Mufid, dalam “Al-Irsyad”, jilid 1, hal. 261-262

Pada khutbah yang lain, Imam Ali as berkata :

“Ketika [Q.S. 29:1-2] turun. Saya tahu bahwa fitnah tidak akan menimpa kita selagi Rasul saww berada di antara kita. Maka saya berkata : ‘Wahai Nabi Allah, apakah fitnah yang diberitahukan Allah Yang Mahatinggi kepada anda ?’. Beliau menjawab : ‘Hai Ali, umatku akan menciptakan kekacauan sepeninggalku’ “.

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, khutbah 156.

Dan sebagaimana yang saya singgung di atas, berikut kutipan khutbah Imam Ali as yang memuji para sahabat Rasul saww yang setia, yang di kemudian hari menjadi pendukung dan sahabat beliau as yang setia pula :

“Dimanakah saudara-saudaraku, yang telah mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran ? Dimanakah Ammar ? Dimanakah Ibn Tayyihan ? Dimanakah Dzusy-syahadatain ? Dimanakah lainnya yang seperti mereka di antara sahabat mereka, yang telah membai’at sampai mati dan yang kepalanya dibawa kepada musuh yang keji ?”

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, khutbah no. 182.

Ustad Mamduh juga mengatakan bahwa Imam Ali as mengingkari orang-orang yang mencela Mu’awiyah dan bala tentaranya, pada salah satu khutbah beliau as di Nahjul Balaghah. Terlihat bahwa ustad Mamduh ingin membela Mu’awiyah dengan memakai nama Imam Ali as. Tidak cukupkah kesesatan dan kedzoliman Mu’awiyah, yang telah amat banyak ditulis di kitab-kitab ahlusunnah maupun syi’ah ? Sehingga akhirnya ustad Mamduh perlu memotong kalimat Imam Ali as dan menafsirkannya dengan seenaknya.

Berikut kalimat Imam Ali as yang sebenarnya :

Dalam perang Shiffin, Imam Ali as mendengar beberapa dari anak buahnya sedang mencerca orang Suriah (pendukung Mu’awiyah), lalu beliau as berkata :
“Saya tidak suka anda mulai mencerca mereka, tetapi bila anda menggambarkan perbuatan mereka dan menceritakan situasi mereka, maka itu akan merupakan cara berbicara yang lebih baik dan cara berhujjah yang lebih meyakinkan. Ketimbang mencerca mereka, sebaiknya anda mengatakan : ‘Ya Allah, selamatkanlah darah kami dan darah mereka, adakan perdamaian antara kami dan mereka, dan bimbinglah mereka keluar dari kesesatan mereka, sehingga orang yang tak tahu akan kebenaran dapat mengetahuinya, dan orang yang cenderung kepada pendurhakaan dan pemberontakan dapat berpaling darinya”.

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, khutbah 206.

Kalimat Imam Ali as ini jelas sekali menyatakan bahwa perang Shiffin bukanlah keinginan Imam Ali as. Beliau as terpaksa melakukan perang ini demi mempertahankan diri dari pemberontakan dan serangan Mu’awiyah dan bala tentaranya. Dan dalam kondisi seperti ini, yang diperlukan bukanlah cercaan atas mereka, melainkan informasi tentang situasi mereka. Dan pada kalimat tersebut juga terlihat bahwa Imam Ali as mengakui kesesatan Mu’awiyah dan bala tentaranya.
Berikut akan saya kutipkan kalimat Imam Ali as, yang mengecam Mu’awiyyah sekaligus merupakan peringatan atasnya. Dalam surat beliau as yang ditujukan untuk Mu’awiyah, beliau as berkata :

“Apa yang akan anda lakukan apabila pakaian duniawi, dimana anda terbungkus ini, disingkirkan dari anda ? Dunia menarik anda dengan perhiasannya dan menipu anda dengan kesenangannya. Ia memanggil anda dan anda menyambutnya. Ia membimbing anda, dan anda mengikutinya. Ia memerintah anda, dan anda mentaatinya.…Iblis telah mengambil anda dalam cengkeramannya, telah mengamankan keinginan-keinginannya dalam diri anda, dan telah mengambil kekuasaan penuh atas anda seperti jiwa dan darah anda”.

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, surat no. 10.

Imam Ali as juga berkata tentang Mu’awiyah :
“Demi Allah, Mu’awiyah tidak lebih cerdik dari saya, tetapi ia menipu (licik) dan melakukan perbuatan jahat. Seandainya saya tidak benci akan penipuan, maka saya adalah orang yang paling cerdik dari semua manusia. Tetapi setiap penipuan adalah dosa, dan setiap dosa adalah pendurhakaan [kepada Allah]…”.

Ref. Syi’ah :
Nahjul Balaghah, khutbah no. 200.

Ketika Imam Ali as mengetahui bahwa Mu’awiyyah telah melanggar gencatan senjata dan mulai menyerang Iraq, maka beliau as berkata setelah sebelumnya mengagungkan Allah :

“Apa maksud Mu’awiyah, semoga Allah membinasakannya. Ia menginginkan aku untuk masuk ke dalam permasalahan yang mengerikan. Ia ingin aku berbuat seperti apa yang telah ia perbuat…”
Ref. Syi’ah :
Syaikh Mufid, dalam “Al-Irsyad”, hal. 275

Serta cukuplah riwayat berikut ini untuk mengatakan bahwa Mu’awiyah adalah seorang munafik. Rasul saww bersabda kepada Imam Ali as: “Tidak mencintaimu kecuali orang-orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang-orang munafik”. Dan riwayat lainnya dengan kandungan makna yang sama.
Ref. Ahlusunnah :
1. Ibn Abdul Birr, dalam “Al-Isti’ab”, jilid 3, hal. 204.
2. Syaikh Manshur, dalam “At-Taj”, jilid 3, hal. 297.
3. Ibn Taimiyyah, dalam “Fadhlu Ahlil Bait Wa Huququhum”, hal. 80.

Demikian halnya dengan kalimat-kalimat lainnya dari para Imam as, yang telah dipotong sedemikian rupa dan atau ditafsirkan secara sepihak oleh ustad Mamduh. Sayang sekali.[]