TANGGAPAN ATAS TULISAN SAYID ABU ABDILLAH

Setelah membaca tulisan antum (terlampir di bawah), ada beberapa hal yang saya anggap perlu untuk ditanggapi. Namun tanggapan yang masih sangat sederhana ini bukan dimaksudkan untuk mengajak saling berdebat kusir, melainkan sekedar mencoba semampunya untuk meluruskan fakta sejarah melalui pembahasan ilmiah dan analisis logis, dengan semangat ukhuwah tentunya. Dari tulisan antum tersebut, terdapat empat hal penting yang saya anggap jauh menyimpang dari realitas sejarah dan analisis yang logis, yaitu:

1. Perangai dan peran sentral Yazid bin Mu’awiyah dalam tragedi Karbala.
2. Pengkhianatan penduduk Kufah terhadap Imam Husein as.
3. Kelompok “Al-Tawabun”.
4. Status Abu Mikhnaf

1. Perangai dan Peran Sentral Yazid bin Mu’awiyah Dalam Tragedi Karbala

Mengenai perangai Yazid, berikut saya kutipkan beberapa riwayat dari jalur ahlusunnah:

1. Hasan al-Bashri telah mengatakan hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Abul A’la al-Maududi, bahwa Mu’awiyah telah melakukan empat hal yang apabila satu saja ada pada dirinya telah cukup menjadikannya celaka. Salah satunya adalah melantik puteranya, Yazid, sebagai pemimpin setelahnya. Padahal Yazid adalah seorang pemabuk dan pemakai baju sutera.” [Lihat: Al-Maududi, “Al-Khilafah wa al-Mulk”, hal. 106].

2. Suyuthi meriwayatkan dari al-Dzahabi yang berkata: “Ketika Yazid melakukan apa yang ia lakukan pada penduduk Madinah, sembari tetap bersama minuman khamr-nya dan perbuatan mungkarnya….” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 209].

3. Ibn Katsir mengatakan: “Yazid bin Mu’awiyah telah terlalu banyak mengundang siksa atas dirinya melalui kebiasaan minum khamr-nya.” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

4. Ibn Katsir juga berkata: “Diriwayatkan bahwa Yazid telah masyhur dengan kegemarannya dalam bermusik, minum khamr, bernyanyi, dan berburu. Dan setiap hari ia selalu mabuk (makhmur).” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 259].

5. Ibn ‘Arabi berkata: “…Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah al-Husein, maka datanglah kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan zaman.” [Lihat: Ibn ‘Arabi, “Al-‘Awashim Min al-Qawashim”, hal. 229-232].

dan lain-lain.

Mengenai perintah Yazid untuk memerangi Imam Husein as, berikut saya kutipkan riwayatnya dari jalur ahlusunnah:

1. Suyuthi berkata: “Maka Yazid mengirm surat kepada gubernurnya di Irak, Ubaidullah bin Ziyad, agar memeranginya (al-Husein).” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 207].

2. Ibn Sa’ad berkata: “Kala itu Nu’man bin Basyir menjabat sebagai gubernur Kufah. Yazid khawatir bahwa Nu’man tidak berani menghadapi al-Husein. Sehingga kemudian ia mengirim surat kepada Ubaidullah bin Ziyad agar menjadi gubernur di Kufah, menggantikan Nu’man. Ia juga memerintahkan kepada Ubaidullah agar menghadapi al-Husein, dan agar segera mencapai Kufah sebelum didahului oleh al-Husein.” [Ibn Sa’ad, “Thabaqat”, seputar “Maqtal al-Husein”].

dan lain-lain.

Mengenai tindakan biadab Yazid terhadap jenazah Imam Husein as, berikut saya kutipkan riwayatnya dari jalur ahlusunnah:

1. Ibn Atsir berkata: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya, sementara kepala (al-Husein) berada di sisinya. Ia lalu memukuli mulut dari kepala tersebut, sembari mengucapkan syair.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].

2. Al-Qasim bin Abdurahman (salah seorang budak Yazid bin Mu’awiyah) berkata: “Tatkala kepala-kepala diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala al-Husein, keluarga, dan para sahabat beliau. Ia (Yazid) berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 391].

2. Uwanah bin al-Hakam al-Kalbi berkata: “Ubaidillah lalu memanggil Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata: “Berangkatlah dengan membawa perbekalan dan kepala untuk menghadap amirul mukminin Yazid bin Mu’awiyah.” Mereka lalu berangkat. Dan ketika sampai di istana Yazid, Muhaffiz berteriak dengan suara lantang: “Kami datang dengan membawa kepala manusia paling dungu dan keji.” Yazid pun berkata: “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang yang lebih keji dan lebih dungu darinya (al-Husein). Sedangkan ia (al-Husein) adalah seorang pemutus hubungan yang zalim.” Dan tatkala Yazid melihat kepala al-Husein, ia berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 394-396; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84].

3. Para penulis sejarah ahlusunnah terkenal meriwayatkan: “Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein as kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Saat itu bersama Yazid terdapat Abu Barzah al-Aslami. Lalu Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair. Abu Barzah lalu berkata: “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku sering melihat Rasulullah mencium bibir itu.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal. 190; Al-Mas’udi, “Muruj al-Dzihab”, jilid 2, hal. 90-91; “Tarikh Thabari”, jilid 2, hal. 371; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].

4. Ibn Katsir juga mengutip dari Abu ‘Ubaidah Mu’amar bin al-Matsna, yang berkata: “Ketika Ibn Ziyad telah membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau. Ia lalu mengirim kepala-kepala mereka kepada Yazid…” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

5. Al-Qasim bin Bukhait berkata: “Yazid lalu memberi izin orang-orang untuk masuk, sementara kepala (al-Husein) berada di hadapannya. Ia lalu memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 396-397].

dan lain-lain.

Mengenai kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Imam Husein as, berikut riwayatnya dari jalur ahlusunnah:

1. Ibn Atsir berkata: “Ketika kepala al-Husein sampai ke hadapan Yazid, maka hal itu telah menggembirakan Yazid terhadap apa yang telah Ibn Ziyad lakukan. Hingga kemudian orang-orang masuk, menunjukkan kebencian kepadanya, melaknatnya, dan mencacinya. Karenanya, Yazid pun buru-buru menunjukkan penyesalan atas terbunuhnya al-Husein.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 87].

2. Ibn Katsir meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang mengatakan: “Ketika Ibn Ziyad membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirimkan kepala-kepala tersebut kepada Yazid. Maka Yazid pun bergembira pada mulanya, dan menempatkan Ibn Ziyad di samping dirinya. Namun tak berapa lama kemudian, ia menunjukkan penyesalan.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

dan lain-lain.

2. Pengkhianatan Penduduk Kufah Terhadap Imam Husein as

Tidaklah adil menghukumi syi’ah hanya dengan melihat kasus orang-orang Kufah. Karena orang-orang Kufah tidak mewakili syi’ah. Sama halnya ketika seseorang mengatakan bahwa orang-orang sunni itu koruptor, hanya dengan melihat kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para pengikut ahlusunnah di Indonesia. Tentu ini bukan penilaian yang adil. Karena pengikut ahlusunnah di Indonesia tidak mewakili sunni secara keseluruhan.

Apalagi bila kita mengacu pada definisi “syi’ah”, yang memiliki makna ittiba’ (mengikuti dan mentaati), maka semakin jelaslah bahwa orang-orang Kufah yang berkhianat tersebut pada hakikatnya telah keluar dari kategori syi’ah, meskipun lisan mereka mengaku sebagai syi’ah. Oleh karena itu, kecaman Sayidah Zainab as, Imam Ali Zainal Abidin as, dan yang lainnya selalu ditujukan untuk orang-orang Kufah, bukan orang-orang syi’ah. Silakan antum baca lagi kutipan-kutipan di tulisan antum sendiri. Kalimat yang digunakan pasti “Wahai orang-orang Kufah”, bukan “Wahai orang-orang syi’ah”.

Dan sekedar info, di antara orang-orang Kufah yang berkhianat itu juga terdapat orang-orang non-syi’ah, yaitu orang-orang yang menerima kekhalifahan Abubakar, Umar, dan Utsman. Memang ketika itu orang-orang syi’ah banyak ditemui di Kufah. Namun tidak semua orang Kufah bermazhab syi’ah. Tidak semua yang menulis surat kepada Imam Husein as bermazhab syi’ah. Mereka ini turut melayangkan surat dikarenakan kebencian mereka terhadap kezaliman yang diperlihatkan oleh Mu’awiyah dan Yazid.

Pengkambinghitaman syi’ah semacam ini sebenarnya telah dilakukan sejak masa Ibn Taimiyah, sebagaimana yang termuat dalam bukunya “Minhaj al-Sunnah”. Bahkan demi membela dan bersikap apologi terhadap Mu’awiyah dan Yazid, ia menulis buku khusus yang berjudul “Fadha’il Mu’awiyah wa Yazid” (Keutamaan Mu’awiyah dan Yazid).

3. Kelompok “Al-Tawabun”

Kebangkitan kaum Tawabun terjadi pada tahun 65 H, yang dipimpin oleh Sulaiman bin Shard al-Khuza’i. Mereka adalah kelompok penduduk Kufah yang merasa menyesal atas terbunuhnya Imam Husein as. Penyesalan yang memuncak mendorong mereka meneriakkan motto “membunuh para pembunuh Imam Husein as atau terbunuh demi misi tersebut”.

Dengan demikian, salah besar ketika tulisan antum menyatakan bahwa kelompok Tawabun hendak menebus kesalahan mereka dengan saling berbunuhan di antara mereka sendiri sembari membaca ayat (QS. al-Baqarah: 54). Saya sama sekali tak menemukan ini dalam referensi syi’ah maupun ahlusunnah. Berikut saya kutipkan pernyataan Thabari: “Setelah terbunuhnya al-Husein bin Ali, orang-orang syi’ah berkumpul, saling mengecam di antara mereka dan menyesal. Mereka merasa berdosa besar, karena telah memanggil al-Husein namun kemudian meninggalkan beliau. Sehingga al-Husein terbunuh di hadapan mereka, sedangkan mereka tak menolong beliau. Mereka berpendapat bahwa tak ada yang bisa menghapus dosa dan kesalahan mereka atas terbunuhnya al-Husein, selain membunuh para pembunuh beliau atau terbunuh dalam misi tersebut.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 7, hal. 47].

Berikut saya kutipkan pula ucapan Sulaiman bin Shard yang menggambarkan besarnya musibah dan agungnya tragedi Karbala, serta menekankan perlunya membersihkan dosa dan berupaya mencari kesyahidan: “Sungguh kita telah meminta kedatangan keluarga Nabi kita dan berharap pertolongan mereka. Kita mendesak agar mereka datang. Namun ketika mereka datang, kita malah meninggalkan mereka, lemah, menghindar, dan menanti apa yang terjadi. Hingga akhirnya terbunuhlah putera Nabi kita, keturunan beliau, dan belahan jiwa beliau. Maka bangkitlah kalian, sungguh telah murka Tuhan kita. Jangan kalian kembali pada isteri dan anak kalian, hingga Allah ridha. Dan Allah tak akan ridha, hingga kalian menyerang para pembunuhnya (al-Husein) atau terbunuh. Jangan kalian takut mati. Demi Allah, tak ada yang takut mati kecuali orang yang hina. Jadilah seperti orang-orang awal Bani Israil, yaitu ketika Nabi mereka berkata kepada mereka, “Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan kalian), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kalian dan bunuhlah diri kalian. Hal itu lebih baik bagi kalian di sisi Tuhan yang menjadikan kalian” (QS. al-Baqarah: 54).” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 7, hal. 49].

Dari kalimat Sulaiman bin Shard ini, terlihat jelas bahwa kaum Tawabun berkeinginan membersihkan dosa mereka melalui penyerangan terhadap para pembunuh Imam Husein as atau syahid dalam menjalankan misi tersebut, bukan saling berbunuh-bunuhan di antara mereka.

Kemudian kaum Tawabun menyerbu Syam. Dan para penguasa Bani Umayyah pun segera memburu mereka, dengan kekuatan lima kali lebih besar dari kekuatan mereka. Sehingga terjadilah pertempuran di ‘Ain al-Wardah, yang menimbulkan korban besar di pihak Bani Umayyah. Sedang sebagian besar kaum Tawabun terbunuh. [Ali Muhammad Ali, “Para Pemuka Ahlul Bait Nabi”, seri 5-6, hal. 156, penerbit Pustaka Hidayah].

4. Status Abu Mikhnaf

Nampaknya antum kurang lengkap dalam melihat riwayat hidup Abu Mikhnaf al-Kufi. Perlu diketahui bahwa peristiwa Karbala terjadi pada tahun 60/61 H. Sedangkan Abu Mikhnaf meriwayatkan sejarah seputar tragedi Karbala dari orang-orang yang meninggal pada tahun 75 H, alias orang-orang yang hidup ketika tragedi itu terjadi. Ia mewawacarai secara langsung para saksi tragedi Karbala, seperti ‘Uqbah bin Abi al-‘Aizar al-Kalbi, Muhammad bin Qais, dan lain-lain. Dengan demikian, Abu Mikhnaf merupakan satu-satunya penulis sejarah tragedi Karbala yang paling dekat dengan peristiwa itu. Inilah mengapa Thabari dan para ahli sejarah lainnya banyak mengambil riwayat darinya. [Lihat: Syaikh Jawad Muhadditsi, “Mausu’ah Asyura”, bab “Abu Mikhnaf”; Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 328 dan 369].

Ketika diberitakan bahwa Abu Mikhnaf dinilai lemah oleh beberapa ulama ahlusunnah, maka perlu diteliti lebih lanjut motivasi apa sebenarnya di balik pelemahan statusnya tersebut. Karena selain Al-Thabari, terbukti Ibn Atsir juga menyampaikan riwayat yang berujung pada Abu Mikhnaf, sebagaimana yang telah saya kutipkan di atas. Dan tentunya antum mengetahui bahwa Ibn Atsir adalah salah seorang ulama ahlusunnah ahli rijal hadits, yang terkenal dengan kitab rijalnya yang berjudul “Usud al-Ghabah”.

Selain mereka, terdapat pula Hisyam bin Muhammad al-Kalbi, yang banyak mengambil riwayat dari Abu Mikhnaf. Mengenai status Hisyam, Ahmad bin Hanbal berkata: “Ia adalah seorang ahli nasab, yang telah menghasilkan lebih dari 150 mushannaf. Ia juga seorang yang luas hafalannya.” [Lihat: Al-Dzahabi, “Mizan al-I’tidal”, jilid 4, hal. 304; Ibn Hajar al-Asqalani, “Lisan al-Mizan”, jilid 6, hal. 196]. Sedangkan Al-Najasyi berkata: “ Ia dikenal sebagai seorang yang berilmu dan memiliki keutamaan.” [Lihat: “Tanqih al-Maqal”, jilid 3, hal. 303].

Dalam kitab “Mizan al-I’tidal” (al-Dzahabi) memang dikutipkan beberapa ulama ahlusunnah yang menolak Abu Mikhnaf. Namun demikian, perlu diperhatikan pula pernyataan Ibn ‘Adi. Di kitab ini dikutipkan pernyataan Ibn ‘Adi yang menyebut Abu Mikhnaf sebagai “Syi’i Muhtariq”. Namun pada tahqiq (penjelasan)-nya disebutkan bahwa kata yang sebenarnya digunakan adalah “Syaa’i”, yang merupakan istilah pengakuan keabsahan atas Abu Mikhnaf. Selain itu, al-Dzahabi juga menyebutkan ulama-ulama yang merujuk pada riwayat-riwayat Abu Mikhnaf, seperti al-Mada’ini dan Abdurahman bin Maghara’. [Lihat: Al-Dzahabi, “Mizan al-I’tidal”, jilid 3, hal. 420, tahqiq oleh Ali Muhammad al-Bajawi].

Selain itu, para ahli rijal hadits di kalangan ulama syi’ah juga menilai bahwa Abu Mikhnaf adalah tsiqah. [Lihat: Sayid Abu al-Qasim al-Khu’i, “Mu’jam Rijal al-Hadits”, jilid 15, hal. 140-143; Muhammad Ali al-Ardabili, “Jami’ al-Rawah”, jilid 2, hal. 33; dan lain-lain].

Sehingga sekali lagi patut dipertanyakan motif di balik pelemahan status Abu Mikhnaf, yang tidak lain sebenarnya disebabkan status kesyi’ahannya yang dianggap ekstrem karena ia berani menyampaikan fakta yang sebenarnya tentang Yazid bin Mu’awiyah. Persis seperti nasib Husein bin Hasan al-Fazari al-Asyqar al-Kufi, yang juga dinyatakan cacat oleh beberapa ulama ahlusunnah hanya disebabkan kesyi’ahannya dianggap ekstrem karena ia berani menyampaikan fakta yang sebenarnya tentang Abubakar dan Umar; meskipun terbukti banyak ulama ahlusunnah yang mengakui ketsiqahannya dan meriwayatkan hadits darinya. Mengenai hal ini bisa kita diskusikan di lain waktu, bila antum berminat.

5. Penutup

Melihat isi dan gaya bahasanya, saya rasa itu bukan tulisan asli antum. Mungkin antum hanya mengutip dari tulisan orang lain. Wallahu A’lam. Aneh kedengarannya bila seorang sayid begitu getol membela Yazid, karena di kalangan habaib sendiri telah sepakat bahwa Yazid adalah sang pembunuh Imam Husein as dan orang yang pantas dilaknat. Akhirul kalam, saya ingin kutipkan dua riwayat sebagai bahan perenungan:

1. Diriwayatkan oleh Urwah dari Aisyah, ketika Rasulullah saww memperoleh berita dari Jibril as bahwa al-Husein as akan dibunuh oleh umat beliau saww sendiri, maka beliau saww menangis pilu sembari memegang tanah Thaf (Karbala). Lalu beliau saww memberitakan hal ini kepada para sahabat. [Lihat: Ali bin Muhammad al-Mawardi al-Syafi’i, “I’lam al-Nubuwah”, hal. 83; “Musnad Ahmad”, jilid 3, hal. 242; Muttaqi al-Hindi, “Kanzul ‘Ummal”, jilid 6, hal. 222-223; “Mustadrak al-Hakim”, jilid 3, hal. 176].

2. Ummu Salamah meriwayatkan: Suatu ketika Nabi saww berkata: “Sungguh tidak akan masuk seseorang, kecuali aku telah menantinya.” Kemudian masuklah al-Husein, dan aku pun mendengar Nabi saww menangis tersedu. Ketika al-Husein berada di pangkuan atau di dekat beliau saww, maka beliau saww selalu mengelus kepalanya sembari menangis. Lalu Nabi saww berkata: “Sungguh Jibril telah datang kepadaku, dan mengabarkan bahwa umatku kelak akan membunuh anak ini di tempat yang bernama Karbala.” [Lihat: Thabarani, “Mu’jam al-Kabir”, jilid 23, hal. 289; “Musnad Ahmad”, jilid 6, hal. 294; Muttaqi al-Hindi, “Kanzul ‘Ummal”, jilid 13, hal. 656].

Dari riwayat-riwayat ini terlihat betapa hancur dan sakitnya hati Rasulullah saww. Padahal al-Qur’an menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al-Ahzab: 57).

Wassalaam,
Muh. Anis
———————————————————————————–

Berikut ini adalah tulisan muslim teroris tersebut: 

 

Pengirim: Sayid Abu Abdillah (Milis Majlas)

 

PENGADILAN TERHADAP YAZID

Dalam sejarah Islam, Yazid merupakan tokoh kontroversi yang terlibat dalam pembunuhan cucu Nabi Imam Husein. Pertanyaannya kemudian adalah :

1. Benarkah Yazid yang membunuh Imam Husein ?
2. Atau ada tangan-tangan kotor lain dan pengkhianatan yang bermain dibalik pembunuhan cucu Nabi tersebut ? Kalau memang ada siapakah mereka ?
3. Mengapa dalam kitab-kitab sejarah Islam selalu mengatakan bahwa Yazid-lah yang membunuh Imam Husein, siapakah yang pertama kali memutarbalikkan fakta sejarah yang sebenarnya ?

Benarkah Yazid yang membunuh Imam Husein ?

Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan ‘ Yazidlah pembunuhnya’ tanpa ada penelitian dan penyelidikan yang mendalam dan akurat , maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid ? Kemanakah pula akan kita bawakan segala tuduhan – tuduhan liar , fitnah dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu ?

Jika kita seorang yang cinta akan keadilan, berlapang dada , sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkan hal tersebut ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenar. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaah , sudah tentu dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh dari sumber – sumber rujukan mu’tabar dan berdasarkan prinsip – prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam halaman sejarah awal Islam .

Atau ada tangan-tangan kotor lain dan pengkhianatan yang bermain dibalik pembunuhan cucu Nabi tersebut ? Kalau memang ada siapakah mereka ?

Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahwa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid tetapi adalah golongan Syiah Kufah .
Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti – bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang mu’tabar baik dari kalangan sunnah maupun dari kalangan Syiah.

Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahwa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain . Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan “al-Tawwaabun” yang kononnya menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat , mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang – orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah karena kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina .

Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama – ulama Syiah yang merupakan tonggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain – lain di dalam buku mereka masing – masing. Baaqir Majlisi menulis :
“Sekumpulan orang – orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, ” Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain . Kita telah membunuh “Ketua Pemuda Ahli Syurga” kerana Ibn Ziad anak haram itu . Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa – apa”. ( Jilaau Al’Uyun , hal. 430 )

Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalis al’Mu’minin bahwa selepas sekian lama ( lebih kurang 4 atau 5 tahun ) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang – orang Syiah mengumpulkan orang – orang Syiah dan berkata , ” Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya , kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya . Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita “. Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang – orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, ” Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu “. ( Al Baqarah :54 ). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran “At Tawaabun”.

Sejarah tidak melupai dan tidak akan melupai peranan Syits bin Rab’ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala . Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab’ie? Dia adalah seorang Syiah, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain . Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?

Sejarah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula – mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. ( Jilaau Al’Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, hal. 37 )

Adakah masih ada orang yang ragu – ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab’ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi , seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu .

Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi – saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat dirakamkan oleh sejarah sebelum beliau terbunuh . Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau:

” Wahai orang – orang Kufah ! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang – orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami “. ( Jilaau Al’ Uyun, hal. 391 ).

Beliau juga berkata kepada Syiah :
” Binasalah kamu ! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung – sarungnya tanpa sebarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami ? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebarang sebab? ” ( Ibid ).

Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau :
” Ya Allah! Tahanlah keberkahan bumi dari mereka dan cerai beraikan mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka karena mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami “. ( Ibid )

Beliau juga telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata – katanya: “Binasalah kamu ! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang – pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang – orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya”. ( Mulla Baqir Majlisi – Jilaau Al’Uyun, hal, 409 ).

Daripada kata – kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi , dapat disimpulkan bahwa :
Pertama, Propaganda yang disebarkan oleh musuh – musuh Islam penulisan sejarah bahwa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin – pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar , Uhud, Siffin dan lain – lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata karena pembunuh – pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah .

Kedua, Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan – kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan diterimanya doa Sayyidina Husain di medan Karbala terhadap orang-orang Syiah.

Ketiga, upacara menyeksa tubuh badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah .

Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah wujud upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahwa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.

Keempat, Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian orang ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau . Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya karena setelah mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram ?

Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup setelah terjadinya peristiwa itu berkata kepada orang – orang Kufah lelaki dan perempuan yang meratap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, ” Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?” ( At Thabarsi – Al Ihtijaj, hal. 156 ).

Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata – kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang – orang Kufah. Kata beliau , ” Wahai manusia ( orang – orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kepada kamu , ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahwasanya kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang ), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu”.

Sayyidatina Zainab , saudara perempuan Sayyidina Husain yang hidup setelah peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, ” Wahai orang – orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering kerana kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran…Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami . Demi Allah ! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tumpukkan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun”. (Jilaau Al ‘ Uyun, hal. 424 ).

Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini .

Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya, ” Wahai orang – oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang – orang perempuan dari ahli rumahnya . Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu”.

Beliau juga berkata, ” Wahai orang – orang Kufah ! Orang – orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang – orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti”. ( Ibid , hal 426 – 428 )

Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, ” Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali ( Sayyidina Ali ). Sentiasa darah – darah kami menitis dari hujung – hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang – pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih “.

Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana – mana Syiah berada .
Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua – dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
Orang – orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.
Orang – orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.
Sayyidina Husain dan orang – orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara-saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh mereka .
Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung karena kematian orang – orang yang dibunuh oleh mereka .
Dari bukti-bukti tersebut dapatlah dijadikan sebagai bukti yang kuat dan jelas untuk menunjukkan siapakah pembunuh sebenarnya di dalam sesuatu kasus pembunuhan, yaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan yang tidak dapat diragukan lagi ialah pengakuan pembunuh itu sendiri . Jika keempat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kasus pembunuhan yang sangat cukup bukti – buktinya, maka bagaimana mungkin diragukan lagi tentang pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain itu ?

Mengapa dalam kitab-kitab sejarah Islam selalu mengatakan bahwa Yazid-lah yang membunuh Imam Husein, siapakah yang pertama kali memutarbalikkan fakta sejarah yang sebenarnya ?

Jika dilihat dari sudut riwayat, cerita-cerita yang berkenaan dengan peristiwa Saqifah, Syura, Perang Jamal, perang Siffin, Pembunuhan Usman, Pembunuhan Imam Ali, Peristiwa Karbala, Cerita-cerita Muhammad bin Abubakar itu tidak lebih dari hikayat yang tidak mampu bertahan apabila diuji dengan ilmu-ilmu jarh wa ta’dil. Hal ini dikarenakan tidak ada seorang pun penulis awal kisah tersebut terdiri daripada orang – orang yang menjadi saksi mata kepala bagi peristiwa ini . Penulis paling awal bagi peristiwa Karbala ini ialah Abu Mikhnaf Lut bin Yahya yang hidup di kurun ke 2H ! Boleh dikatakan 90% dari kisah-kisah daripada peristiwa Karbala adalah berasal daripada Abu Mikhhaf Lut bin Yahya ini. Dia adalah seorang yang telah dihukum oleh tokoh-tokoh ilmu rijal sebagai seorang Syiah yang kental[1][1], pembohong dan pembuat banyak hadis – hadis palsu . Dia telah menulis beberapa buah buku yang memuatkan cerita – cerita perang saudara di permulaan Islam seperti peperangan Jamal, Siffin , perang di Nahrawan juga pertempuran di medan Karbala yang terkenal dengan nama ” Maqtal Abi Mikhnaf ”

Buku – buku tersebut penuh dengan gambaran – gambaran yang berlebih-lebihan dan benar-benar mencerminkan method ahli cerita. Banyak pula cerita – cerita itu hasil rekaannya sendiri. Kumpulan tulisan Abi Mikhnaf inilah yang menjadi sumber rujukan utama at Thabari dalam tarikhnya yang terkenal dengan ” Tarikhu Al Uman Wa Al Muluk” atau ” Tarikh Thabari “. Di dalam kitabnya itu Thabari seringkali mengulangi kata – kata “Qaala Abu Mikhnaf ” yakni ” Berkata Abu Mikhnaf “.

Ahli – ahli sejarah yang datang kemudian pula bersandar terus kepada Thabari dan dengan itu cerita-cerita palsu Abu Mikhnaf ini semakin mendapat tempat di dalam sejarah .

Ketika peristiwa Karbala ini berlaku Abu Mikhnaf belum lahir di dunia ini . Imam Zahabi mengatakan , ” Dia ( Abu Mikhnaf ) mati pada tahun 170H”. Ada pula yang mengatakan dia mati pada tahun 157H. Artinya lebih kurang 100 tahun selepas berlakunya peristiwa Karbala itu .

Sekarang marilah pula kita melihat kedudukan Abu Mikhnaf ini pada pandangan tokoh – tokoh Ilmu Rijal kerana dengan bercerminkan Ilmu Rijal kita dapat melihat wajah yang sebenar pembuat cerita palsu. Wajahnya akan kelihatan kepada kita melalui cermin ini. Imam Zahabi dalam ” Mizan Al I’tidal ” menulis tentang Abu Mikhnaf ini katanya , ” Tidak boleh dipercayai “. Abu Halim dan lain – lain ulama jarh dan ta’dil telah meninggalkannya ( tidak menerima riwayatnya ). Daaraqutni berkata, “Dia seorang yang lemah” . Ibnu Ma’in berkata : “Dia seorang yang tidak boleh dipercayai”. Murrah berkata, “Dia seorang yang tidak bernilai “, dan Ibu Adiy berkata : “Dia adalah seorang Syiah yang kental, ahli membuat cerita “.

Imam As Suyuti di dalam Al Laaliu Al Masnuu’ah menghukum Abu Mikhnaf dan seorang lagi ahli cerita sepertinya iaitu Al Kalbi dengan berkata : ” Lut ( Abu Mikhnaf ) dan Al Kalbi adalah dua orang pendusta besar”. Pengarang ” Taajul Arus ” pula memperkenalkan Abu Mikhnaf dengan mengatakan : ” Dia adalah seorang ahli cerita Syiah, rusak dan ditinggalkan riwayatnya “. Berkenaan dengan Muhammad As Saaib Al Kalbi pula Ibnu Hibban berkata : ” Kalbi adalah seorang Saba’i ( orang yang mengikut jejak langkah Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya )”. Dia adalah dari kalangan orang – orang yang berfahaman bahwa Ali tidak mati bahkan dia akan datang ke dunia ini dan akan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dunia ini sebelum itu dengan kezaliman. Ibnu Ma’in berkata : ” Kalbi ini seorang yang tidak boleh dipercayai”. Jazajani dan lain – lain berkata : ” Dia adalah seorang pendusta besar”. Daaraqutni dan sekumpulan besar ulama menghukum dia sebagai “matruk” ( orang yang tidak diterima periwayatannya ). Imam A’masy pula berkata : ” Waspadalah daripada saba’i ini kerana saya mendapati banyak ulama memasukkannya dalam golongan pendusta “.

Begitu juga kedudukan anaknya Hisyam. Dia adalah seorang yang tidak diterima periwayatannya oleh ulama Rijal , bahkan mereka telah menghukumnya sebagai pendusta besar. Ringkasnya beginilah kedudukan dan latar belakang penulis kisah Karbala. Jadi bagaimanakah akan diterima cerita orang – orang yang seperti ini ?

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/Kajian_Islam/message/566