Meruntuhkan Kepongahan

Telah datang pada kalian sang utusan
Paling mulia di antara kalian
Pedih hatinya merasakan yang kalian derita
Sangat ingin ia melihat kalian bahagia
Kepada kaum beriman
Ialah yang paling santun
Dan penuh kasih sayang
Tiadalah Aku utus Engkau Muhammad
Kecuali sebagai kasih bagi seluruh alam semesta

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Seorang lelaki kurus, berambut gondrong, bersandal jepit turun dari bukit. Orang-orang berkumpul berdesak-desakan mengelilinginya. Ada di antara mereka yang berusaha menjamahnya. Ia memandang mereka dengan penuh kasih dan bersabda:

Berbahagialah, hai kaum yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sedang menangis, karena kamu akan tertawa
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu yang sekarang tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis

Lelaki kurus itu di panggil para pengikutnya Yesus. Al-Qur’an menyapa dengan mesra; Itulah Isa putra Maryam, yang menyampaikan perkataan Al-Haq, yang mereka perdebatkan di dalamnya.
Lelaki kurus itu di panggil para pengikutnya Yesus. Al-Qur’an menyapa dengan mesra; Itulah Isa putra Maryam, yang menyampaikan perkataan Al-Haq, yang mereka perdebatkan di dalamnya.

Isa berkata: sungguh, aku ini hamba Allah.

Ia memberiku Al kitab dan menjadikanku Nabi

Di manapun aku berada, ia berkati diriku

Ia berpesan untuk melakukan shalat dan

mengeluarkan zakat sepanjang hidupku.
Untuk berbakti pada ibuku

Dan tidak Ia jadikan aku orang yang pongah dan berahklak rendah

Salam sejahtera ketika aku lahir

Ketika aku mati

Dan ketika aku dibangkitkan kembali[1]

Isa turun dari bukit untuk memberikan kerajaan Tuhan kepada orang-orang miskin, untuk memuaskan orang-orang yang lapar, dan untukmenghibur orang-orang yang menderita. Sebagaimana Musa yang turun dari bukit Sinai untuk menjatuhkan Fir’aun, ia turun dari bukit untuk meruntuhkan orang-orang pongah dan berakhlak rendah. Ia mengecam orang kaya yang menegakkan kekayaannya di atas kesengsaraan orang banyak. Ia memperingatkan orang orang yang kenyang di tengah-tengah orang yang kelaparan.

Inilah agama yang dibawa Isa as.Ia bukan hanya mengajarkan shalat, tetapi juga berbai rezeki dengan zakat. Ia bukan hanya mengajak berzikir, ia juga menghibur orang-orang fakir. Karena itu marahlah orang-orang kaya, orang-orang yang kenyang, orang-orang pongah, orang-orang berakhlak rendah. Ia diburu sebagai penjahat, Muridnya berkhianat. Ia dijebloskan ke penjara, dihadapkan ke pengadilan, hanya karena satu kesalahan: ia ingin meruntuhkan kepongahan para tiran, baik tiran politik maupun tiran agama.

Pada hari-hari terakhirnya, sebelum para prajurit penindasan menangkapnya, Isa as menyampaikan kutbah wada’ kutbah perpisahan:

Hal ini tidak kukatakan padamu dari semula, karena selama ini aku masih bersama-sama dengan kamu, tetapi sekarang aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepadaku: Kemana engkau pergi? Tetapi karena kau mengatakan hal ini kepadamu, sebab itu hatimu berduka cita.

Tetapi apabila Ia datang kepadaku, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu.

Yesus menjanjikan kedatangan pelanjut perjuangannya. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, Penolong, atau Penghibur. Ketika Ia meninggalkan murid-muridnya untuk selama-lamanya, umat manusia menunggu dengan penuh kerinduan kedatangan Roh Kebenaran itu.

Hampir enam abad setelah Isa diangkat Tuhan ke langit, dari bukit-bukit batu yang terjal turun seorang lelaki. Ia berjalan cepat dengan kepala yang selalu terpekur ke bumi. Dari wajahnya tampak cahaya Ilahi yang memancarkan cinta kasih. Kabut duka yang sekali-sekali menutup mukanya terusir mentari ceria begitu ia berjumpa dengan fuqara. Tetapi kelembutan muka yang sama berubah menjadi keras dan tegar ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh kepongahan.

Pada suatu pagi, ia turun dari bukit Abu Gubaisy. Ia bergegas menuju Rumah Tuhan. Ia mengecup batu hitam, yang pernah dikecup kakek-kakeknya, Ibrahim dan Ismail as. Di depan maqam Ibrahim, orang-orang miskin, budak-budak belian, makhluk-makhluk yang dianggap setengah manusia, berdesakan menemuinya. Tidak jauh dari situ, para tiran menonton mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Para tiran agama yang melakukan kesalehan dengan ibadat-ibadat yang hirup-pikuk agar tidak lagi mendengar jeritan orang-orang yang kelaparan di sekitarnya. Para tiran politik yang menjalankan agama dengan melakukan kekerasan pada rakyat yang lemah dan tidak berdaya.

Dengarkan ia menyampaikan firman Tuhan:

Dengan nama Allah yang Mahakasih Mahasayang

Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?

Itulah dia yang menyia-nyiakan anak yatim,

Dan tidak berusaha memberi makan orang yang miskin

Celakalah (orang-orang kaya) yang salat

Yang melalaikan (makna) shalat (yang sebenarnya)

Yang (salatnya itu hanya untuk) pamer (kesalehan saja)

Dan tidak mau memberikan pertolongan

Dengan nama Allah yang Mahakasih, Mahasayang,

(Hai orang-orang kaya) telah melalaikan kalian kerakusan untuk mengumpulkan kekayaan,

Sampai kalian tiba di pekuburan,

Kallaa, waktu itu kamu akan mendapat pengetahuan,

Kallaa, waktu itu kamu akan mendapat pengetahuan keyakinan

Sungguh kamu akan melihat neraka yang menggelegak panas,

Lalu kamu akan melihatnya dengan mata keyakinan,

Lalu hari itu kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang anugrah Tuhan.

Itulah Sang Pengibur yang telah ditunggu ratusan tahun. Itulah Sang Penolong yang datang setelah penantian yang panjang. Itulah Roh Kebenaran, yang diamanahkan Isa as kepada umat manusia.

Para tiran murka. Kelompok penguasa yang dipimpin oleh Abu Sofyan dari Bani Umayyah berusaha untuk menahan dakwah Rasulullah SAW. Mereka menyebarkan fitnah yang menjatuhkan kemuliaan Nabi. Mereka memboikot keluarga Nabi dan mengasingkannya ke lembah yang gersang. Akhirnya mereka mengusir Nabi ke Madinah.

Setelah berjuang menghadapi lebih dari 80 kali peperangn, orang yang terusir dari kampung halamannya berhasil menaklukkan para penentangnya. Lihat, manusia besar itu berdiri di tengah-tengah lembah Arafah, di kaki jabal rahmah. Pada hari Jum’at, bakda Zhuhur, tahun 10 Hijriah. Ia memandang dengan tatapan mata kasih pada ratusan ribu jemaah hajinya yang pertama. Di hadapanya bersimpuh lautan manusia yang tertunduk khusyu seakan-akan burung bertengger di atas kepala mereka. Manusia besar ini ingin agar Tuhan menyaksikan keberhasilan missinya. Sebelum sampai ke lembah Arafah, ia sudah kehilangan istri yang dicintainya. Ia sudah kehilangan ayah angkatnya. Ia sudah kehilangan karib kerabatnya, sahabat-sahabatnya dan banyak orang yang mencintainya. Ia telah mengorbankan keringat, air mata dan darah untuk melaksanakan tugas sucinya. Ia memandangi ratusan ribu manusia yang tak bergerak di hadapan kebesarannya. Mungkin air matanya menggelegak di pelupuk matanya. Dengarkan suaranya yang lembut tetapi lantang bergaung di Arafah:

“Wahai manusia, simak perkataanku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku akan berjumpa lagi dengan kalian setelah hari ini selama-lamanya.”

Ia berhenti sebentar. Ia menatap sejauh-jauhnya kepada lautan manusia yang tidak bergeming. Kalimat yang terakhir menydarkan mereka Sang Junjungan yang sangat mereka cintai itu akan menyampaikan wasiatnya yang terakhir. Mereka tersentak. Mereka mendengar Nabi Saw bertanya:

“Ayyu yawmikum hadza. Hari apakah ini?”

“Yawmul Haram. Hari yang Suci.”

“Ayyu syahrikum hadza. Bulan apakah bulan ini?”

“Syahrul haram. Bulan yang Suci!”

“Ayyu baladikum hadza. Negeri apakah negeri ini?”

“Baladul Haram. Negeri yang Suci.”

“Ketahuilah, darah, kehormatan, dan harta semua manusia, suci seperti sucinya hari ini, bulan ini dan negeri ini. Tidak boleh darahnya ditumpahkan. Tidak boleh kehormatannya dijatuhkan. Tidak boleh hartanya dihancurkan.”

Inilah pernyataan hak-hak asasi manusia. Ia ingin agar umatnya melanjutkan missi sucinya: menghentikan semua kezaliman di atas bumi ini, menghentikan pertumpahan darah, penodaan kehormatan dan perampasan kekayaan. Semua manusia, apapun agamanya, apapun status sosial ekonominya, apapun bangsanya, harus dibebaskan dari kezaliman. Inilah missinya. Inilah missi para Nabi sebelumnya. Inilah juga missi yg ingin diwariskan kepada kaum Muslim sesudahnya:

“Akan kusampaikan kepada kalian siapa yang disebut muslim, mukmin, muhajir dan mujahid. Muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. Mumin adalah orang yang menjaga jiwa dan harta orang lain. Muhajir adalah orang yang menjauhi keburukan akhlak. Mujahid adalah orang yang terus-menerus berjuang melawan hawa nafsunya dalam mentaati Allah.”

Rasul yang mulia sejenak berhenti. Kemudian berkata:

“Wahai manusia, aku sudah tinggalkan kepada kalian, yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan keluargaku, Ahli Baitku.”

Kutbah ini tercatat dalam sejarah, sebagai kutbah haji akbar. Ia menyampaikannya pada waktu wuquf di Arafah yang jatuh pada hari Jum’at. Kutbah ini juga disebut sebagai Kutbah wada’, karena disampaikan Nabi pada haji wada’. Dahulu Yesus dalam kotbah perpisahannya menyampaikan kepada umatnya kedatangan Sang Penghibur yang melanjutkan missinya. Kini Muhammad bin Abdullah, dalam kutbah wada’nya memperingatkan umatnya untuk mengikuti Ahlu Bayt yang akan datang untuk melanjutkan missi sucinya.

Kalau Nabi Isa as memberikan kabar gembira tentang Ahmad yang datang sesudahnya, siapakah yang dijanjikan Rasul Allah Saw untuk menjadi pelanjutnya? Ketika pulang dari Haji Wada’, Rasulullah Saw mengumpulkan ribuan sahabatnya di sebuah jalan simpang di tengah padang pasir yang terik. Pelana-pelana unta dan kuda ditumpuk sebagai mimbar. Seperti Kristus dihadapan para sahabatnya, ia memulai kutbahnya sekali lagi dengan ucapan perpisahan: “Sebentar lagi aku dipanggil Tuhan dan aku harus memenuhi panggilan itu. Aku tidak bakal berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini. Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka yang berat: Al-Qur’an dan keluargaku, Ahli Baitku. Perhatikanlah bagaimana kamu menjaga keduanya. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya datang kepadaku di telaga pada hari akhir nanti. Allah adalah mawlaku (pemimpinku) dan aku adalah pemimpin setiap mukmin dan mukminah.

Kemudian ia mengangkat tangan Ali dan berkata: “Man Kuntu Mawlah, fa hadza ‘Aliyyun Mawlah.” Siapa yang menerima aku sebagai pemimpin, maka jadikanlah Ali sebagai pemimpinnya juga. Rasulullah melingkarkan serban di kepala ‘Ali. Ia mengamanahkan wilayah (kepemimpinan Islam) kepadanya. Ia menitipkan kelanjutan perjuangan untuk menegakkan keadilan kepada Ali bin Abi Thalib – suami Fatimah az-Zahra.
(Ana Madinatul ‘ilm wa ‘Aliyyun Babuha / Akulah Kota Ilmu dan ‘Ali adalah Pintunya)

Tidak lama setelah Rasulullah sampai di Madinah, ia menderita sakit keras. Di pangkuan Ali bin Abi Thalib, disaksikan oleh Fatimah, putrinya yang tercinta, dan Hasan dan Husain, kedua cucunya, Sang Penghibur itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ketika keluarga Rasulullah sedang sibuk mengurus jenazah, segelintir orang berkumpul untuk meninggalkan wasiat Nabi. Mereka tidak ingat lagi sabda Nabi Saw: Man kuntu mawlah fa hadza ‘Aliyyun mawlah. Tangisan pedih masih terdengar di bilik Nabi yang sempit. Air mata kedukaan masih mengalir pada pipi Az-Zahra. Tirai kelabu masih menutup muka Ali bin Abi Thalib. Kabut kesedihan masih menyelimuti Ahlil Bayt Nabi. Tetapi para tiran berpesta ceria untuk mensyukuri pengangkatan penguasa baru. Bertentangan dengan kesunyian kamar Rasulullah Saw, hiruk-pikuk keriangan terdengar dari Mesjid Nabawi.

Maka Nabi yang mulia pun dikuburkan dalam kesunyian. Hanya keluarga Nabi saja yang menyaksikan jenazahnya dibaringkan di atas tanah yang dingin. Fatimah tidak sanggup menahan jeritannya ketika tanah Madinah perlahan-lahan menyembunyikan wajah dan senyuman Rasulullah Saw.

Nafasku tersekat dalam tangisan

Duhai mengapakah nafas tak lepas bersama jeritan

Sesudahmu tak ada lagi kebaikan dalam kehidupan

Aku menangis karena takut hidupku akan berkepanjangan

Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu

Tangisan memelukku

Kenangan padamu melupakan daku dari segala musibah yang lain

Jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah

Engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih

Berkurang sabarku bertambah dukaku

Setelah kehilangan Khatamul Anbiya

Duhai mataku, curahkan air mata sederas-derasnya

Jangan kau tahan linangan darah sekalipun

Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan

Pelindung anak yatim dan dhu’afa

Setelah mengucurnya air mata langit

Bebukitan, hutan dan burung

Dan seluruh bumi menangis

Duhai junjunganku

Untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah

Bukit-bukit dan lembah Makkah

Telah menangisimu Mihrab

Tempat belajar Al-Qur’an di kala pagi dan senja

Telah menangisimu Islam

Sehingga Islam kini terasing di tengah manusia

Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki

Akan kuliat kegelapan setelah cahaya.

(Dipotong dari Maqtal Husainiyah pada acara peringatan Asyura di Bandung )