Berkilah dan Berbohong

(Tanggapan untuk Risalah Dakwah Al-Hujjah) 

Oleh: Yasser Arafat

Tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan martabat orang lain. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk menyudutkan orang lain. Tetapi tulisan ini dibuat dalam rangka untuk meluruskan sesuatu yang dibelokkan, menyampaikan yang benar dan mengungkap yang salah.

Suatu saat saya mendapat buletin Al-Hujjah dari seorang teman. Saya begitu kaget karena baru minggu lalu saya mendapatkan buletin itu. Buletin yang membuat saya tidak habis pikir, “Mengapa ada orang Islam yang seperti itu?” Setelah saya baca-baca isi buletin tersebut, tanpa sadar bibir saya melebar, tandanya saya sedang tersenyum. J

Mengapa saya tersenyum? Karena baru beberapa hari kemarin saya mengkritik redaksi buletin ini. Buletin Al Hujjah ini awalnya belum berani menampilkan alamat redaksi dengan jelas, nomor telphone yang terdaftar, dan email yang terdaftar. Saya pernah mencoba beberapa kali untuk mengirimkan sms ke nomor handphone yang tercantum di buletin Al Hujjah itu. Apa yang terjadi? Sms itu tidak terkirim karena nomornya tidak terdaftar. Saya mencoba untuk mengirimkan email, dan email saya itupun tidak terkirim karena alamat email yang saya tuju tidak terdaftar. Spontan setelah itu saya berpikir, “Pengecut sekali mereka itu.”

Melihat keadaan yang seperti itu, maka kita patut bertanya-tanya apakah data-data yang disajikan Al Hujjah itu adalah data-data valid atau tidak?

Nampaknya redaksi Al Hujjah ini adalah kumpulan orang-orang yang sangat reaksioner. Baru digoyang sedikit saja, mereka langsung terlihat seperti orang yang tidak punya pegangan saja. Saya khawatir orang-orang seperti mereka nantinya mudah diombang-ambingkan dengan berbagai wacana yang mungkin akan memeras otak mereka lebih keras lagi.

Buktinya, mereka menulis pada ruang redaksi:
“Berkenaan dengan fitnah bahwa kami mencantumkan alamat palsu, sebagai jawaban singkat maka kami jawab bahwa kami telah berpindah ke alamat baru (bawah). PUAS…PUAS…!!!

Saya katakan sekarang, “Saya sangat puas…!!” Tetapi saya sedikit sedih dengan tulisan redaksi di atas. Mereka bilang bahwa ada yang memfitnah mereka mencantumkan alamat palsu. Padahal saya tidak pernah mengatakan bahwa alamat yang mereka cantumkan adalah alamat palsu. Saya mengatakan bahwa Alamat redaksi mereka TIDAK JELAS. Saya pikir orang yang cerdas akan dapat dengan mudah membedakan antara TIDAK JELAS dengan PALSU.

Ok, itu sekilas mengenai buletin Al-Hujjah yang sebenarnya lebih tepat diberi nama Buletin Al-Hujjat karena mereka senang sekali menghujat orang yang tidak sepemikiran dengan mereka dengan menghalalkan segala cara. Apa bukti mereka menghalalkan segala cara untuk menyerang orang yang berbeda pemikiran dengan mereka? Berikut ini akan saya ulas.

Sekarang saya akan mencoba untuk menanggapi beberapa comotan-comotan hadits yang dilakukan oleh penulis di buletin Al-Hujjah yang bernama Abdurrahman Al-Atsary ini. Mungkin ia mencomot hadits-hadits agar terkesan ilmiah.

Abdurrahman Al-Atsary tersebut menganggap bahwa Nabi pernah berwasiat kepada Abu Bakar yang intinya bahwa kelak Abu Bakarlah yang pantas untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau. Hadits ini sudah sering saya dengar dari para pemuja Abu Bakar.

Saya pernah mendengar sebuah perkataan orang bijak, “Berangkatlah kamu dari keragu-raguan kepada keyakinan.” Untuk itu, dalam menganalisa hadits di atas pun saya berangkat dari keragu-raguan. Saya meragukan kebenaran hadits itu. Untuk itu saya menyusun beberapa pertanyaan, diantaranya adalah, “Kalau memang Rasulullah berwasiat seperti itu, lalu mengapa Abu Bakar tidak berargumen dengan hadits Nabi itu ketika berada di Saqifah?” Apa yang terjadi di Saqifah?

Bahwa ketika Rasulullah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dan belum sempat jenazah Nabi dikuburkan, kumpulan orang-orang yang haus akan kekuasaan berkumpul di Saqifah. Di situlah terjadi perdebatan mengenai siapa yang layak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Bahkan kalau bisa dikatakan perdebatan yang terjadi pada saat itu bukan musyawarah, tetapi sampai pada perkelahian.

Bayangkan…! Nabi belum dikuburkan, sekelompok manusia pemuja kekuasaan itu berkumpul dan bertengkar untuk mengangkat seseorang yang menggantikan posisi Rasulullah ditengah-tengah umatnya. Umat macam apa ini?

Akhirnya, pada saat itu dibaiatlah Abu Bakar menjadi khalifah. Dan beberapa sejarah yang saya baca, Abu Bakar tidak pernah berargumen dengan hadits Nabi di atas. Kalau memang hadits itu sudah ada ketika peristiwa Saqifah itu berlangsung, mengapa Abu Bakar tidak mengajukan argumen dengan menggunakan hadits itu? Karena tidak mungkin Abu Bakar melupakan hadits itu. Hadits itu sangat penting guna melegalisasi kepemimpinannya.

Saya juga teringat dengan perkataan Umar bin Khattab bahwa Pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah adalah faltah (tergesa-gesa). Jadi tidak ada yang namanya Musyawarah dan penunjukkan dari Nabi.

Abdurrahman Al-Atsary juga berusaha memperkuat argumen dan keyakinannya dengan mencoba mengutip khotbah Imam Ali di Kitab Nahjul Balaghah.

Abdurrahman Al-Atsary menulis:
Pada khotbah ke 92, saat diminta oleh manusia untuk dibaiat setelah terbunuhnya Utsman: “Tinggalkanlah aku dan carilah orang lain (untuk dibaiat). Jika kalian meninggalkan aku, maka aku adalah sama seperti kalian, barangkali saya akan menjadi orang yang paling mendengar dan paling taat kepaa yang kalian baiat untuk menjadi khalifah, lebih baik saya menjadi seorang menteri (yang menolong sang khalifah) daripada menjadi khalifah.”

Saya ingin sekali mengatakan kepada Abdurrahman Al-Atsary, bahwa sepengetahuan saya, khotbah tersebut adalah khotbah yang ke 91 di Kitab Nahjul Balaghah, bukannya khutbah yang ke 92. Berikut kutipan lengkapnya:

“Tinggalkan saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai (beberapa) wajah dan warna, yang tak dapat ditahan hati dan tak dapat diterima akal. Awan sedang menggelantung di langit, dan wajah-wajah tak dapat dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut Anda, saya akan memimpin Anda sebagaimana saya ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang mungkin dikatakan atau dicercakan orang. Apabila Anda meninggalkan saya maka saya sama dengan Anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat ketimbang seorang kepala.”

Jadi, Penulis buletin Al-Hujjah ini tidak jujur dalam menyampaikan laporannya. Sungguh jauh dari sikap ilmiah. Ini adalah sikap-sikap muslim teroris. Apakah Abdurrahman Al-Atsary ini salah satu dari gerombolan muslim teroris? Wallahu a’lam.

Setelah pembunuhan ‘Utsman, kursi kekhalifahan tertinggal kosong, dan kaum Muslim mulai melihat kepada Ali a.s. yang berperangai damai, kukuh pada prinsip, dan perilakunya telah banyak mereka saksikan selama masa panjang itu. Akibatnya, mereka berduyun-duyun menyerbunya untuk menyampaikan baiat kepadanya seperti musafir tersesat melihat tujuannya. Mereka menyerbu ke arah-nya, sebagaimana dicatat sejarawan Thabari,

“Orang maju berdesakan-desakan kepada Ali seraya mengatakan, ‘Kami hendak membaiat kepada Anda dan Anda melihat kekacauan apa yang menimpa Islam dan kita sedang dicoba tentang kerabat Nabi.'” (Tārīkh, I, h. 3066, 3067, 3076)

Tetapi Amirul Mukminin menolak permohonan mereka. Karenanya rakyat berteriak-teriak dengan kacau dan berseru dengan nyaring, “Hai Abu Hasan, apakah Anda tidak menyaksikan kehancuran Islam atau melihat datangnya banjir kerusuhan dan bencana? Apakah Anda tidak takut kepada Allah?” Namun demikian Amirul Mukminin tidak menunjukkan kesediaan untuk menyetujuinya, karena ia melihat bahwa dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi telah menguasai hati dan pikiran rakyat; keakuan dan hawa nafsu untuk kekuasaan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme, dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan maksud mereka. Sekarang mereka hendak mematerialkan dan mempermainkan kekhalifahan Ilahi pula. Dalam keadaan itu mustahil mengubah mentalitas atau mengalihkan arah temperamen mereka. Selain dari itu, ia pun melihat bahwa rakyat harus mendapatkan waktu lebih panjang untuk berpikir agar kelak mereka tidak mengatakan bahwa baiat mereka telah diberikan di bawah kebutuhan temporer dan pemikiran sewaktu dan tanpa pemikiran matang, tepat sebagaimana gagasan ‘Umar tentang kekhalifahan pertama, yang muncul dalam pernyataannya,

“Kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa dipikirkan, tetapi Allah menyelamat-kan kita dari bencananya. Apabila seseorang mengulangi hal semacam itu, ia harus dibunuh.” (al-Bukhari ash-Shahih, VIII, h. 210-211; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 55; Thabarf, I, h. 1822; Ibn Atsir, II, h. 327; Ibn Hisyam, IV, h. 308-309; Ibn Katsir, V, h. 246)

Singkatnya, ketika desakan mereka meningkat melampaui batas, Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini, di mana ia menjelaskan bahwa “Apabila Anda menghendaki saya demi tujuan-tujuan duniawi Anda, maka saya tidak siap melayani sebagai alat Anda. Tinggalkan saya dan pilihlah seseorang lain yang mungkin memenuhi tujuan Anda. Anda telah melihat kehidupan masa lalu saya bahwa saya tidak bersedia mengikuti apa pun selain Al-Qur’an dan Sunah, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan. Apabila Anda memilih seseorang lain, saya akan menghormati hukum negara dan konstitusi sebagaimana warga yang suka damai. Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Malah, justru demi memelihara kebaikan bersama, sampai saat ini saya memberikan nasihat yang benar, saya tak akan enggan untuk berbuat sama seperti itu. Apabila Anda biarkan saya dalam kedudukan yang sama, hal itu adalah lebih baik bagi tujuan duniawi Anda, karena dalam hal itu saya tidak memegang kekuasaan untuk menghalangi urusan duniawi Anda dan menciptakan rintangan terhadap keinginan hati Anda. Tetapi, jika Anda telah bertekad untuk membaiat kepada saya, ingatlah bahwa apabila Anda menger-nyitkan dahi atau berbicara menentang saya maka saya akan memaksa Anda me-langkah pada jalan yang benar, dan dalam hal kebenaran saya tidak akan peduli terhadap siapa pun. Apabila Anda hendak membaiat walaupun dengan ketentuan ini, Anda boleh memuaskan kehendak Anda.”

Kesan yang telah dibentuk oleh Amirul Mukminin tentang orang-orang ini sesuai sepenuhnya dengan kejadian-kejadian di kemudian hari. Ketika orang-orang yang telah membaiat dengan motif-motif duniawi tidak berhasil dalam tujuannya, mereka kemudian membelot dan bangkit melawan pemerintahannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

Kita saksikan lagi bahwa ternyata maksud dari Imam Ali mengucapkan khotbahnya itu bertentangan dengan yang dipikirkan oleh Abdurrahman Al-Atsary.

Apakah sampai di sini fitnah yang disebarkan oleh Abdurrahman Al-Atsary? Tidak…!! Dia kembali mengutip surat Imam Ali kepada Muawiyah yang tersusun di dalam Kitab Nahjul Balaghah. Abdurrahman Al-Atsary telah memotong surat Imam Ali itu. Surat yang dikutip oleh Abdurrahman Al-Atsary itu tidaklah lengkap.Berikut tulisannya:

Bahkan Ali sendiri menekankah bahwa kekhalifahan adalah syura, dimana? Dalam Kitab Nahjul Balaghah, surat ke enam, dalam suratnya untuk Muawiyah, mengajaknya untuk berbaiat kepada Ali, yang akhirnya mau dibaiat setelah awalnya menolak, karena tidak pernah merasa ada nash. “Sesungguhnya musyawarah adalah hak kaum Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat untuk mengangkat seseorang sebagai imam dan mereka menyebutnya sebagai imam, maka Allah akan ridha dengan pilihan mereka.”

Lalu bagaimana surat Imam Ali yang lengkap tersebut?

“Sesungguhnya orang-orang yang membaiat kepada Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman telah membaiat kepada saya atas dasar yang sama di mana mereka membaiat kepada mereka. (Atas dasar ini) orang yang hadir tidak mempunyai pilihan (untuk mempertimbangkan), dan orang yang tak hadir tidak berhak untuk menolak; dan suatu musyawarah dibataskan pada Muhajirin dan Anshar. Apabila mereka menyetujui seorang individu dan mengambilnya sebagai pemimpin (khalifah), hal itu dianggap bermakna keridhaan Allah. Apabila seseorang menjauh dengan jalan keberatan atau menuntut perubahan, mereka akan mengembalikannya kepada posisi dari mana ia menjauh. Apabila ia menolak, mereka akan memeranginya karena mengikuti jalan yang lain dari jalan kaum mukmin, dan Allah menempatkannya kembali (ke asal) dari mana ia melarikan diri. Demi hidupku, hai Mu’awiah, apabila engkau melihat dengan akalmu tanpa nafsu, maka engkau akan mendapatkan saya orang yang paling tak berdosa dari semua berkaitan dengan darah ‘Utsman, dan tentulah engkau akan melihat bahwa saya dalam keadaan terkucil darinya, kecuali apabila engkau menyembunyikan apa yang sangat terbuka bagimu. Maka engkau boleh melakukan keberangan (pada saya) sesuka hatimu. Wasalam.”

Ketika penduduk Madinah secara serempak membaiat kepada Amirul Mukminin, Mu’awiah menolaknya karena ia melihat bahaya yang mengancam kekuasaannya sendiri; dan untuk menandingi kekhalifahan Amirul Mukminin ia membuat dalih bahwa baiat itu tidak diberikan secara bulat dan oleh karena itu, harus ada pemilihan umum. Padahal sejak awalnya proses pemilihan khalifah dimulai adalah akibat dari situasi sesaat. Tak ada pemilihan umum sehingga hal itu tak dapat dikatakan hasil pemilihan rakyat. Namun hal itu dipaksakan kepada rakyat dan dianggap sebagai keputusan mereka. Sejak waktu itu telah menjadi prinsip bahwa orang yang dipilih oleh para pemuka Madinah dianggap mewakili seluruh dunia Islam dan tak seorang pun boleh mempertanyakannya, apakah ia hadir pada saat pemilihan atau tidak. Bagaimanapun, setelah mapannya prinsip itu, Mu’awiah tak berhak mengusulkan pemilihan ulang atau menolak baiat. Pada praktiknya ia sendiri telah mengakui para khalifah sebelumnya yang telah ditetapkan oleh orang-orang penting Madinah. Itulah sebabnya, maka ketika merasa bahwa pemilihan ini tak sah dan menolak pembaiatan itu, Amirul Mukminin menunjukkan kepadanya cara pemilihan yang telah diakui itu dan menuntaskan argumen dengan dia. Metode itu yang dikenal sebagai berargumentasi dengan lawan atas dasar premis-premis lawan yang salah sehingga menghabisi argumennya. Amirul Mukminin sama sekali tak pemah menyatakan bahwa musyawarah dengan para sesepuh ataupun pemilihan rakyat umum adalah tolok ukur bagi absahnya kekhalifahan. Bila demikian, maka sehubungan dengan kekhalifahan sebelumnya yang dianggap berdasarkan kesepakatan suara Muhajirin dan Anshar, ia akan sudah memandang kesepakatan sebagai wewenang yang baik dan memandangnya sebagai absah; tetapi penolakannya atas baiat sejak awal mula (pemilihan khalifah pertama), yang tak tersangkal oleh siapa pun, merupakan bukti bahwa ia tidak memandang cara yang dibuat-buat itu sebagai tolok ukur absahnya kekhalifahan. Itulah sebabnya maka ia selalu terus menekankan kasusnya sendiri untuk jabatan khalifah yang telah dikukuhkan atas dasar hadis Nabi. Namun, menyatakan demikian kepada Mu’awiah berarti membuka pintu tanyajawab. Oleh karena itu maka ia berusaha meyakinkannya dengan premis-premis dan kepercayaan Mu’awiyah sendiri sehingga tak ada ruang untuk penafsiran atau untuk membingungkan hal itu; sesungguhnya tujuan Mu’awiyah adalah untuk menunda hal itu sampai wewenangnya beroleh dukungan.

Jadi, para pembaca yang budiman, penulis buletin Al Hujjah ini nampaknya tidak jujur dalam menyampaikan laporannya. Entah itu karena disengaja atau karena ketidaktahuannya, yang jelas bahwa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan apa yang tercantum di dalam kitab Nahjul Balaghah.

Nampaknya Abdurrahman Al-Atsary ini berusaha mengikuti para pendahulunya yaitu “Asy-Syaikh Mamduh”, penulis buku Gen Syi’ah. Di dalam bukunya tersebut “Asy-Syaikh” Mamduh telah melakukan manipulasi terhadap kalimat Imam Ali as sehingga memberikan kesan yang berkebalikan dari maksud sebenarnya. Ustad Mamduh mengutipkan kalimat Imam Ali as sebagai berikut :

“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad, tidak satupun di antara mereka yang mirip dengan kamu ! Mereka di pagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud…….”

Lalu ustad Mamduh mengomentari bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pujian kepada semua sahabat Rasul saww. Namun tidak demikian, sayang ustad Mamduh telah memotongnya. Sebenarnya kalimat tersebut berisi pujian untuk para sahabat Rasul saww yang setia. Pada kalimat awal khutbah tersebut, terlihat jelas bagaimana Imam Ali as mengecam orang-orang dan sebagian dari kelompok sahabat, yang berbondong-bondong (dengan terpaksa) membai’at Imam Ali as sepeninggal Utsman bin ‘Affan, karena mereka tidak lagi melihat ada orang lain yang pantas di sekitar mereka. Kebetulan Mu’awiyah berada cukup jauh dari Madinah (di Suriah). Sehingga terpaksa Imam Ali as yang dibai’at. Selengkapnya tentang penjelasan ini bisa dilihat pada Syarh Nahjul Balaghah oleh Sayyid Ali Raza. Kalimat yang lebih lengkap dari khutbah tersebut adalah sebagai berikut :

“Demi Allah yang hidupku dalam kekuasaan-Nya, orang-orang ini [Mu’awiyah dan pengikutnya] akan menguasai anda; bukan karena mereka lebih berhak dari anda, melainkan bergegasnya mereka menuju yang salah bersama pemimpin mereka, dan kelambanan anda tentang hak saya [untuk diikuti]. Orang takut akan penindasan oleh rakyat mereka, sementara saya justru takut akan penindasan oleh rakyat saya. Saya memanggil anda, tetapi anda tidak datang. Saya memperingatkan anda, tetapi anda tak mendengarkan. Saya memanggil anda secara rahasia maupun terbuka, tetapi anda tidak menjawab. Saya berikan kepada anda nasihat yang tulus, tetapi anda tidak menerimanya. Apakah anda hadir sebagai tak hadir, dan budak sebagai tuan ?…. Tengoklah anggota keluarga Nabi. Bertautlah pada arahan mereka. Ikutilah langkah mereka, karena mereka tak pernah membiarkan anda tanpa petunjuk, dan tak akan pernah melemparkan anda ke dalam kehancuran. Apabila mereka duduk, duduklah anda; dan apabila mereka bangkit, bangkitlah anda. Janganlah mendahului mereka, karena dengan itu anda akan tersesat; dan jangan tertinggal di belakang mereka, karena dengan itu anda akan runtuh. Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun dari kalian yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah, dan melewatkan malam dengan sujud dan berdiri dalam sholat…”

Ref. Syi’ah :
1. Nahjul Balaghah, Khutbah no. 96, Tahqiq Syaikh Faris Tabrizian.
2. Sayyid Ali Raza, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96.

Bahkan pada riwayat lain, sebagaimana yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Abduh (sunni) dan Sayyid Ali Raza (syi’ah), kalimat khutbah yang dinukil oleh ustad Mamduh tersebut justru ditujukan kepada Ahlul Bait as. Berikut kalimatnya :

“Tengoklah anggota keluarga Nabi. Bertautlah pada arahan mereka. Ikutilah langkah mereka, karena mereka tak pernah membiarkan anda tanpa petunjuk, dan tak akan pernah melemparkan anda ke dalam kehancuran. Apabila mereka duduk, duduklah anda; dan apabila mereka bangkit, bangkitlah anda. Janganlah mendahului mereka, karena dengan itu anda akan tersesat; dan jangan tertinggal di belakang mereka, karena dengan itu anda akan runtuh. Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah, dan melewatkan malam dengan sujud dan berdiri dalam sholat…”

Ref. Syi’ah :
1. Syaikh Muh. Abduh, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96, hal. 189.
2. Sayyid Ali Raza, “Syarh Nahjul Balaghah”, khutbah no. 96, hal. 152

Jelas sekali terlihat bahwa semua kata ganti “mereka” pada kalimat khutbah ini kembali kepada Ahlul Bait as. Oleh karena itu, kalimat “Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tidak menemukan seorangpun yang menyerupai mereka” maksudnya adalah Imam Ali as tidak menemukan seorangpun dari para sahabat Nabi saww yang menyerupai Ahlul Bait as.

‘Alla kulli haal, dari kedua riwayat tentang khutbah Imam Ali as tersebut, sama sekali tidak ditujukan untuk semua sahabat Nabi saww.

Semoga para pembaca sekarang menjadi tersadarkan dari obat bius yang telah disebarkan oleh Abdurrahman Al-Atsary ini. Bagaimana menurut Anda? Sudah ilmiah-kah Abdurrahman Al-Atsary ini dalam menyampaikan laporannya? Itu saya kembalikan lagi kepada para pembaca yang budiman.[]