Oh…Kamis Kelabu II
(Bantahan atas artikel Riwayat Shahih Seputar Meninggalnya Rasulullah, Buletin Al-Hujjah)

 

Beberapa waktu lalu telah terbit sebuah tulisan yang mengulas masalah TRAGEDI KAMIS KELABU yang dikeluarkan oleh buletin al-Hujjah. Buletin tersebut menurunkan topik untuk menanggapi tulisan “Oh…Kamis Kelabu” yang dikeluarkan oleh Lembaran Dakwah PINTU ILMU. Namun, yang patut disayangkan bahwa buletin al-Hujjah telah melakukan berbagai kesalahan yang fatal dalam laporannya. Pada kesempatan kali ini kami akan menanggapi tulisan dalam bulletin al-Hujjah tersebut.

Apa itu Tragedi Kamis Kelabu?
Tragedi kamis kelabu adalah peristiwa terhalangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wasallam (Sawaw) dari penulisan wasiat. Riwayat tragedi kamis kelabu ini banyak diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits terkenal. Keshahihan riwayat ini tidak diragukan lagi. Berikut beberapa riwayatnya:
al Bukhari, Sahih, Jilid IV vol 5, Hadis diatas juga dirawikan al Bukhari di kitab sahih Bab al Ilm Jilid 1 hal 2. melalui sanad ‘Ubaidillah bin Abdullah dari ibnu Abbas yang berkata: “Ketika ajal Rasulullah Sawaw telah hampir, dan dirumah beliau ada beberapa orang, diantara mereka, umar bin khatab, beliau (Saw) bersabda Mari kutuliskan bagi kamu sebuah surat (wasiat) agar sesudah itu kamu tidak akan pernah sesat. Namun Umar berkata: Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan al-Qur’an ada pada kalian. Cukuplah Kitab Allah bagi kita! MAKA TERJADILAH PERSELISIHAN DI ANTARA ORANG YANG HADIR DAN MEREKA BERTENGKAR. Sebagian berkata, sediakan apa yang diinta oleh Nabi Sawaw Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian lainnya menguatkan ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi Sawaw, beliau memerintahkan: Keluarlah kalian dari sini!

Pada riwayat yang lain di kitab shahih Bukhari, Kalimat “Namun Umar berkata” diganti dengan “Mereka berkata”. Berikut riwayatnya:
Bukhari hadis No. 2846 – Ditulis Oleh Said bin Jubair. Ibn Abbas berkata. “Kamis ! Apa (Hal yang besar/hebat) terjadi di hari kamis !” Kemudian dia mulai menangis sampai air matanya membasahi tanah. Kemudian dia berkata,”Pada hari kamis penyakit Rasulullah bertambah parah, kemudian beliau bersabda, “Berikan aku alat-alat tulis sehingga aku bisa menulis sesuatu kepadamu, agar kamu tidak pernah tersesat.” Orang-orang (yang ada di sana) berbeda dalam hal ini sedangkan tidak boleh berbeda di depan seorang rasul. Mereka berkata,”Rasul Allah sedang menderita sakit yang sangat parah.’ Sang nabi berkata, “Biarkan aku sendiri, dalam keadaan aku yang sekarang, lebih baik daripada apa yang kalian kira.” Sang rasul yang sedang berada dalam ranjang kematiannya memberi tiga perintah(nasihat). Usir para penyembah berhala dari tanah arab, hormati para perwakilan orang2 luar negeri sebagaimana kau pernah melihatnya aku melakukan hal itu. “Saya lupa perintah yang ketiga”(Ya’qub bin Muhammad said, “Aku bertanya kepada Al-Mughira bin’Abdur rahman tentang ‘tanah arab’ dan dia berkata,’tanah arab itu”Mekkah,Madinah, Al – Yama, dan yaman.”yaqub menambahkan,” dan Al- Arj,awal dari tihama.”)

Bahkan menurut riwayat lain yaitu Bukhari hadits no. 2951, Umar berkata: “Ada apa dengan beliau? Apakah beliau sedang mengigau?”Buletin al-Hujjah mencantumkan beberapa riwayat mengenai kamis kelabu yang redaksinya agak berbeda dengan riwayat-riwayat di atas. Berikut kutipannya:
Dari Ibnu Abbas ketika Rasulullah Sawaw menjelang wafat, sedang di rumah Rasulullah Sawaw saat itu ada beberapa orang laki-laki, salah satunya adalah Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda, “Marilah aku tuliskan sebuah tulisan yang kalian tidak akan sesat jika kalian mengikuti tulisanku itu. Lalu Umar berkata: “Rasulullah sedang sakit parah sedangkan di tengah kalian ada al-Qur’an, maka cukuplah Kitab Allah sebagai pedoman.” AHLULBAIT PUN BERBEDA PENDAPAT dan mereka pun saling mendebat……………..”

Dari riwayat yang dicantumkan oleh penulis di buletin al-Hujjah ada 3 buah penafsiran mengenainya:
1. Penafsiran pertama, Kalimat “Ahlulbayt pun berbeda pendapat dan mereka pun saling mendebat…” berarti bahwa di antara Ahlulbayt terjadi perbedaan pendapat. Dan inilah penafsiran yang diyakini oleh penulis di buletin al-Hujjah tersebut bahwa yang membuat keributan adalah Ahlulbait yang di sini mereka artikan sebagai keluarga Nabi. Mereka menafsirkan bahwa di antara Ahlulbait (keluarga Nabi) terjadi perbedaan pendapat dan di antara mereka terjadi perdebatan yang mengakibatkan Nabi memerintahkan keluar.
2. Penafsiran yang kedua, kalimat “Ahlulbayt pun berbeda pendapat dan mereka pun saling medebat…” orang-orang yang ada di dalam rumah berbeda pendapat dan mereka pun saling mendebat.”
3. Penafsiran yang ketiga, bahwa kalimat “Ahlulbaytpun berbeda pendapat dan saling mendebat…” tidak dapat diartikan di antara Ahlulbayt terjadi perbedaan pendapat dan di antara mereka terjadi perdebatan. Kalimat “Ahlulbayt pun berbeda pendapat…” itu ada setelah kalimat “Umar berkata, ‘Rasulullah sedang sakit parah sedangkan di tengah kalian ada al-Qur’an, maka cukuplah Kitab Allah sebagai pedoman.” Jadi seolah-olah Ibnu Abbas itu ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa ketika Rasulullah meminta kertas dan tinta, Umar menghalanginya karena menurut Umar Rasulullah sedang sakit parah bahkan mengigau. Lalu Ibnu Abbas juga ingin menunjukkan kepada kita bahwa ketika Umar berpendapat seperti itu, Ahlulbayt berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab dan akhirnya di antara para sahabat terjadi perdebatan bahkan sampai berujung pada pertengkaran. Sebagian dari sahabat berpendapat seperti pendapat Ahlulbayt yang meminta dipenuhinya permintaan Rasulullah, sedangkan sebagian yang lainnya mengikuti pendapat Umar. Inilah penafsiran yang kami yakini. Apa dasarnya?

Hadits riwayat Ibnu Abbas ra: Dari Said bin Jubair ia berkata: Ibnu Abbas ra berkata: Hari kamis, apakah hari kamis itu? Kemudian ia menangis sehingga air matanya membasahi batu kerikil. Maka aku bertanya: Wahai Ibnu Abbas, ada apa dengan hari Kamis? Ia menjawab: Pada hari itu penyakit Rasulullah Sawaw bertambah parah kemudian beliau bersabda: Kemarilah, aku akan menuliskan untukmu suatu wasiat sehingga kamu tidak akan tersesat setelahku. LALU PARA SAHABAT BERTENGKAR, padahal tidak pantas terjadi pertengkaran di hadapan Nabi. Mereka berkata: Apa yang terjadi dengan beliau, apakah beliau sedang mengigau? Tanyakanlah maksudnya kepada beliau!……………… (Shahih Muslim, Hadits No. 3089)Hadits tersebut kami dapatkan dari : “http://hadits.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=941”
Kami yakin penulis di buletin al-Hujjah itu meyakini kebenaran website tersebut. Jadi bukan Ahlulbayt yang membuat keributan, tetapi sahabat Nabi-lah yang membuat keributan. Apa yang menyebabkan para sahabat Nabi membuat keributan? Jika dibaca dengan teliti, kekisruhan, perpecahan dan kegaduhan tersebut justru dipicu oleh pernyataan Umar bin Khattab ra yang menghalangi permintaan Rasulullah itu. Itulah penyebab pertamanya, coba seandainya Umar tidak menghalangi permintaan Rasulullah itu, maka tidak akan terjadi perbedaan pendapat yang berujung kepada kegaduhan. Jika buletin al-Hujjah menyebutkan bahwa Ahlulbayt sebagai sumber perpecahan dan kegaduhan, karena di satu pihak ahlulbayt mendukung pendapat Umar dan yang lain menolak, maka itu hanyalah opini dari buletin al-Hujjah yang tidak memiliki hujjah apapun.
Sepengetahuan kami, para ulama-ulama besar tidak ada satupun yang berpendapat seperti yang dituliskan oleh al-Hujjah yang menuduh Ahlulbayt sebagai sumber perpecahan. Justru para ulama berpolemik pada pernyataan Umar bin Khattab ra tentang mengapa Umar menolak, mengapa mengatakan meracau, berikut pernyataan dan kritik para ulama:
al Qadhi Iyadh al syafi’i dalam al Syifa. al kirmani dalam Syarhu Sahih al Bukhari dan al Nawawi dalam Syarhu Sahih Muslim, para ulama terebut merasa keheranan, mengapa Umar ibnu Khatab ra, yang pergaulanya dengan Nabi saw cukup lama, dan ia mengetahui posisi Nabi, kenapa sampai menisbahkan kepada Nabi kata-kata al hajara (mengigau). Ulama tersebut mengatakan menisbahkan mengigau (hajara) kepada Rasulullah saw sama artinya tidak tahu makna kenabian dan kerasulan. Karena seluruh Nabi yang agung, dalam masa penyampaian risalahnya, dan memberikan petunjuk kepada umatnya, mereka terjaga dari kesalahan dan kekeliruan. Mereka juga menerima perintah dari Allah dan berhubungan dengan alam ghaib, baik dalam kondisi sehat maupun sakit.
Syekh Muhammad Musawi menunjukan keheranan pula dengan ucapan sayidina umar bin khatab ra, beliau mengatakan “Para ahli bahasa mengatakan al hujru dengan dhommah bermakna sesuatu yang keji atau kotor, kalau di fathah “al hajru” artinya kacau atau ngigau. padahal posisi ini sangat jauh dari posisi dan kedudukan Nabi saw, sebagaimana jaminan Allah atas nabi saw ” Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat. dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkanya itu (al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapanya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS al Najm (53): 1-4). Beliau melanjutkan Bukankah kita diperintahkan untuk taat, sebagaimana perintah Allah, Apa yang datang dari Rasul, maka ambilah Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah (QS al hasyr (59):7) taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya (QS al Nisa (4):59) dari firman-Nya tersebut kita diperintahkan tanpa syarat, baik kondisi Rasul sehat maupun sakit, hal ini diperintahkan pula oleh Allah ” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dalam kesesatan yang nyata (QS al Ahzab (33):36). Selain itu ungkapan keras melarang memberikan diwan dan kertas bertentangan dengan firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian lainya. supaya tidak hapus (pahala) amalmu, sedangkan kamu tidak menyadari (QS al Hujurat (49):2). keheranan kami kepada Sayidina Umar ra mengapa ditahanya Rasul saw dalam membuat wasiat, bukankah Allah memerintahkan ” Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiay untuk ibu – bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa (QS al baqarah (2):180)
Qathbu al din al Syirazi menuliskan keherananya terhadap sikap Umar bin Khathab ra ini, dalam Kasyfu al ghuyub ” Bagi setiap manusia pasti memiliki penunjuk jalan, yang menunjukkan mereka pada kebenaran dan jalan yang lurus. Maka saya heran dengan ucapan Umar bin Khatab, “Cukuplah Kitab Allah ” Dengan ucapan ini, ia menolak adanya penunjuk jalan dan pemberi petunjuk. Agar anda lebih mudah memahami keheranan al Syirazi ini kami berikan ilustrasi sederhana, taruhlah anda seorang mahasiswa kedokteran, yang mensyaratkan paham ilmu kedokteran dengan panduan buku – buku kedokteran yang dijelaskan oleh ahli kedokteran. Tetapi anda -mahasisawa kedokteran- mengatakan CUKUP BAGI KAMI BUKU-BUKU KEDOKTERAN KITA TIDAK BUTUH PENJELASAN APAPUN DARI AHLI KEDOKTERAN YANG MENGAJAR (DOSEN)”
Para ulama tidak satupun menyebut sumber perpecahan itu adalah Ahlulbayt, semuanya menyatakan keheranannya atas ucapan Umar bin Khattab yang berujung pada kekisruhan. Hanya buletin al-Hujjah saja yang menyebut Ahlulbayt sebagai sumber perpecahan. Al-Hujjah tengah berusaha menggiring opini publik (dengan fitnah) bahwa Ahlulbayt (keluarga Nabi) lah yang bertanggungjawab terhadap perpecahan, keributan dan kekisruhan, dengan opininya sendiri. Bahkan menggiring opini publik untuk membenci Ahlulbayt (keluarga Nabi) karena menyebabkan kekisruhan.
Kami hanya mengingatkan, Rasulullah telah memperingatkan kepada siapa saja yang membenci Ahlulbayt, Rasulullah sawaw bersabda: “wahai manusia, barang siapa yang membenci kami, Ahlulbayt, Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat sebagai Yahudi. Jabir bin Abdullah bertanya: “wahai rasulullah, walaupun ia mengerjakan puasa dan shalat?” beliau menjawab: “Sekalipun ia mengerjakan puasa, shalat, dan menyatakan dirinya sebagai muslim.” Diriwayatkan al-Haitsami, Kitab Majma’ al-Zawa’id; Ibn Asakir Kitab Tarikh seperti yang terdapat dalam Kitab Tahdzib Juz 6 hlm. 67 dari Jabir bin Abdullah.
Untuk mengakhiri tulisan ini, kami akan mencantumkan hadits riwayat turmudzi. Rasulullah berkata: “Cintailah Allah karena karunia-Nya yang melimpah. Cintailah aku karena-Nya. Dan Cintailah Ahlulbayt karenaku.”Rasulullah memerintahkan kita untuk mencintai Ahlulbayt karena kecintaan kita kepada Rasulullah. Jadi salah satu ukuran kita mencintai Rasulullah adalah kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Lalu bagaimana dengan sikap al-Hujjah? Sungguh…mereka telah memfitnah keluarga Nabi dengan fitnah yang keji. Naudzubillahi min dzalik…kami berlindung dari sikap keji seperti itu. Wallahu a’lam bishawab. []