Beranda > Tulisan Orang > Al-Furqan: Mengungkap Rahasia Risalah Ilahi

Al-Furqan: Mengungkap Rahasia Risalah Ilahi

Al-Furqan: Mengungkap Rahasia Risalah Ilahi

Dr. H. Thala’at

qurannn33.GIFDi antara rangkaian ayat tentang puasa, terdapat ayat 185 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi: Bulan Ramadhan diturunkan padanya Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia, dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu dan Al-Furqan. Yang menarik untuk kita renungkan dari ayat ini dan yang sekaligus akan kita jadikan topic pembicaraan kali ini adalah bagian terakhir dari ayat itu, yaitu Al-Furqan.

Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samara bagi ita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Karena kemampuan yang sangat tinggi untuk memerinci dan memperjelas inilah, Al-Furqan dijadikan Allah SWT sebagai bagian spesifik dan tersendiri bagi suatu nubuwwah (kenabian). Dapat dikatakan bahwa Al-Furqan merupakan senjata khusus para Nabi dan Rasul dalam mengungkap dengan jelas makna risalah yang dititipkan Allah SWT pada mereka. Lebih khusus lagi, dengan Al-Furqan ini pula para Nabi bisa mengungkap makna dan rahasia yang terkandung dalam kitab suci yang diberikan Allah SWT kepada mereka.

Sebagaimana kita ketahui bersama, makna yang paling benar (hakiki) dari ayat-ayat suatu kitab suci adalah makna yang ditafsirkan sendiri oleh Rasul-Nya. Keyakinan seperti itu pun masih kita rasakan sekarang ini ketika kita mencoba memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Memang ada sebagian ayat yang mudah dipahami. Begitu ia dibacakan, kita langsung dapat memahami makna dan tujuan ayat tersebut. Tetapi ada pula ayat-ayat yang untuk mendapatkan maknanya yang akurat dan pas, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan yang dalam, bahkan kadang-kadang dibantu oleh beberapa disiplin ilmu tertentu untuk lebih memantapkan makna tersebut. Ada juga ayat-ayat yang memang sangat sulit dan rumit, sehingga kita sendiri merasa tidak mampu untuk mengungkapkannya dengan pas. Walaupun maknanya secara umum sudah didapatkan, kita masih merasa tidak puas dengan makna tersebut, karena dalam hati kecil kita, kita merasa yakins ekali bahwa ayat itu mempunyai makna yang sangat dalam dan tidak sekedar apa yang tersurat.

Untuk menghilangkan ketidakpuasan ini, hati kita pun akan terusik dan bertanya-tanya, bagaimana Rasulullah Saw menafsirkan ayat tersebut. Semua ini menyadarkan kita bahwa untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu., sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53: Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk.

Kitab mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki.

Dalam ayat lain yang maknanya sejalan dengan ayat ini, Al-Qur’an menyebutkan: Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48). Kita mengetahui kedua Nabi ini diutus pada waktu yang bersamaan dan kitab suci yang diturunkan ialah Taurat. Kita tahu pula bahwa kitab suci itu diturunkan kepada Nabi Musa as, maka untuk itu tidak perlu diturunkan kitab suci yang khusus bagi Nabi Harun as. Bagi Harun hanya diberikan senjatanya saja dalam menafsirkan Taurat, yaitu Al-Furqan.

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat: Dia (Allah) turunkan kiepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dari penjelasan ayat-ayat ini dapat dilihat bagaimana tingginya derajat Al-Furqan ini sehingga oleh Allah disejajarkan dengan figure Nabi maupun nilai kitab suci. Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitterantara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut ialah; ketika kita mengetahui bahwa sekarang kita hidup di zaman yang tidak akan diutus lagi seorang Nabi pun –karena telah diakhiri masa kenabian Rasulullah Saw dan tidak ada nubuwwah lagi, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat 40– maka permasalahan yang timbul ialah: Apakah jembatan penghubung itu pun ikut terputus pula? Dengan perkataan lain, siapakah nanti yang benar-benar mampu mengungkapkan rahasia di balik risalah terakhir ini (Islam) atau siapakah yang mampu mengungkapkan makna yang hakiki dari apa yang terkandung dalam kitab Al-Qur’an? Sebagai ilustrasi, tadi kita telah menyatakan bahwa tafsiran yang paling benar dari ayat-ayat Al-Qur’an hanyalah yang diungkapkan sendiri oleh Rasulullah Saw (karena adanya senjata Al-Furqan). Sedangkan persoalannya sekarang ini kita hidup ketika Rasulullah Saw sudah tidak ada lagi.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasu, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an: aHaHhkslkdfaskdnf Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Akhirul kalam, siapakah wali-wali Allah yang kepada mereka Allah mengamanatkan Al-Furqan ini? Adakah petunjuk-petunjuk agama yang mengisyaratkan tentang itu? Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan itu semua.[]

Disampaikan oleh Dr. H. Thola’at pada acara Kuliah Tujuh Menit (Kultum) salat tarawih PAPDI, Palembang, pada tanggal 19 Desember 1999.

Kategori:Tulisan Orang
  1. ana noor furqoni
    Juli 17, 2013 pukul 9:40 am

    assalamu alaikum,
    subhanallah,,,,,,i am speechless

  2. Januari 7, 2014 pukul 5:49 pm

    suatu waktu sy pernah membaca surah ini ,,,,tapi baru sampai kurang lebih ayat ke spuluh dada ini bergetar dan tak disengaja mata berkaca2 aku sendiri bingung kenapa,,,dan kulanjutkan terus sampai ayat yg terakhir dengan suara yang bergetar menahan tangis,,,tolong pada saudaraku yang tahu apa arti dari semua itu,,,,bisa beri saya pencerahan,,,,,,,,,walaupun saya tidak pandai dalam membaca quran ini,,,

  3. Wawan
    Juni 29, 2015 pukul 1:48 pm

    Assalamualaikum pak bisa minta no telponnya atau email yg bisa saya hubungi

  4. Wawan
    Juni 29, 2015 pukul 2:03 pm

    ini no saya pak, 085341318484/082293295298

  5. imam
    November 14, 2016 pukul 9:15 am

    Tanda Wali ALLAH yang di karunia Al-Furqon sudah diturunkan pada abad ini, kita saja yang tidak mengetahui, jika ingin mengetahui mari berdiskusi dengan kami

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: