Ghadir Khum:

Episode Spiritual Yang Tertindih Puing-Puing Reruntuhan Peradaban

Oleh: Taufik Nur Rohman

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”. Demikian bunyi dari sebuah nasehat tua. Di masyarakat ucapan ini lebih dikenal dengan singkatan Jas Merah. Tentunya, sebaris kata bijak ini bukanlah ungkapan melancholis semata untuk lebih mengedepankan kegenitan bahasa. Bukan pula sekedar gemuruh retoris agar kita terbuai untuk berpesiar ke masa lalu. Ia hadir lebih dikarenakan ada sesuatu yang bermakna di sana. Sesuatu yang mesti dijadikan fokus perhatian karena menyangkut kualitas kehidupan sekaligus mutu masa depan umat manusia itu sendiri. Dilihat dari sisi kemunculannya saja, hikmah ini tidak mungkin lahir begitu saja lewat obrolan bahasa sehari-hari tanpa didahului adanya babak pergulatan dan jerih payah dari para pelaku-pelaku sejarah. Dibutuhkan orang-orang yang mau jatuh terpelanting dalam hidup ini lalu bangun lagi, sebelum mereka berhasil merumuskannya, kemudian mempersembahkan hikmah ini ke khalayak ramai. Dibutuhkan orang-orang yang mau berakit-rakit ke hulu terlebih dahulu agar kita yang hidup dikemudian hari bisa berenang-renang ke tepian. Dibutuhkan orang-orang yang bersedia pontang-panting ke sana kemari, dan masih juga tertimpa tangga sehingga ada pelajaran yang bisa kita petik darinya. Yaitu, pandangan dunia sejarah! Pandangan dunia sejarah inilah yang berada dibalik piwulang luhur tadi.

Setidaknya, ada dua sikap yang bisa muncul saat kita dihadapkan pada realitas sejarah yang ada. Pertama, bersikap sebagai seorang pengamat sejarah. Disini kita membuat jarak renung dengan masa lalu. Realitas sejarah dijadikan obyek analisa yang relatif terpisah dengan realitas kekinian. Sejarah hanyalah cerita lampau yang kini dikenang. Dianalisa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya kita anggap sebagai peristiwa ”tanpa tanda jasa” yang tidak memberi sumbangsih bagi realitas kekinian. Persetujuan ataupun penolakan kita atas realitas sejarah tidak ada konsekuensi apapun terhadap posisi kehidupan kita saat ini. Kedua, sikap sebagai pewaris sejarah. Pada dataran ini, realitas kekinian dianggap sebagai kelanjutan dari realitas kelampauan. Realitas kekinian merupakan akibat dari realitas masa silam yang berposisi sebagai sebab. Konsekuensi dari sikap seperti ialah kita tidak bisa mengabaikan aneka peristiwa masa lalu yang telah membentuk realitas kekinian. Disebabkan oleh sikap semacam ini maka mempertanyakan keabsahan dan validitas realitas sejarah itu sendiri menjadi hal yang tak boleh dilupakan. Bahkan bisa-bisa sikap mempertanyakan hal termaksud hukumnya menjadi wajib bila setelah didiagnose ternyata ada adegan sejarah yang tidak memperoleh legalitas ilahiah namun kenyatannya hingga saat ini masih diakui sebagai adegan sejarah yang sah. Lewat cara pandang seperti ini maka sejarah menjadi lembaran terbuka yang setiap saat siap untuk dikoreksi. Ditimbang-ulang. Dan, tidak sekedar didongengkan.

Kita pasti mencatat bahwa sejarah itu merupakan bikinan para penguasa. Sejarah tidak lahir begitu saja tanpa ada peran dari para pengambil keputusan saat itu. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Imam Ali kw, bila niat penguasa berubah maka berubahlah zaman. Dengan demikian realitas sejarah bukanlah realitas yang bebas nilai. Ia bukan suatu realitas yang bersih dari campur tangan manusia sebagai pelaku sejarah. Di sini, duduk perkaranya menjadi lebih gamblang bahwa pandangan dunia yang dianut para penguasa tentu mewarnai setiap kebijakan yang diambil, yang pada gilirannya, akan menjadi realitas sejarah itu sendiri. Cara berpikir seperti ini, akan menjadi sangat menarik bila dihubungkan dengan kehidupan keagamaan. Hal ini disebabkan, dalam beragama kita tidak bisa memilih sikap yang pertama, yang beranggapan masa lalu sekedar obyek analisa tanpa kita merasa diwarisi pandangan dunia dari para penguasa saat itu. Mau tidak mau, suka tidak suka predikat sebagai pewaris sejarah mesti kita sandang. Masalahnya akan bertambah pelik bila ternyata kita mewarisi realitas sejarah keagamaan yang keliru. Artinya, informasi yang sampai ke kita ternyata bukan informasi yang diharapkan agama itu sendiri. Tapi, informasi yang sudah diracik para policy maker saat itu yang sebenarnya tidak mempunyai paspor keahlian keagamaan. Dengan bahasa yang berbeda bisa dikatakan, sejarah yang kita pelajari dan kita yakini selama ini adalah sejarah ”jadi-jadian”. Sejarah hasil ramuan orang-orang yang bukan ahlinya.

Pembaca budiman, marilah kita buka kembali lembaran-lembaran buku sejarah tentang peradaban manusia saat kita masih duduk di bangku SD ataupun SMP. Tentunya masih segar dalam ingatan kita bahwa sejarah manusia adalah sejarah peperangan. Sejarah tentang adanya intrik-intrik politik untuk meraih kekuasaan. Sejarah perebutan kekuasaan duniawi. Ada beberapa pendapat yang bernada nyinyir tentang perjalanan hidup manusia, yaitu: ”Tidak ada waktu damai, yang ada adalah waktu di antara dua perang.” Lainnya, ”Waktu damai adalah waktu untuk mempersiapkan perang.” Lewat kedua pendapat ini terbuktikan sudah bahwa sejarah manusia adalah sejarah yang tidak pernah beres. Selalu saja berperkara, dan ini terjadi di belahan bumi manapun, dalam persoalan apapun, entah sampai kapan. Demikianlah sekelumit pelajaran sejarah yang masih sempat kita ingat.

18 Dzulhijjah tahun ke 10 Hijriah, lebih dari seribu tahun yang lalu. Saat itu kafilah Rasulullah Saw mulai bergerak meninggalkan kota Mekkah untuk kembali ke Madinah selepas menunaikan ibadah haji, yang dikenal dengan haji wada’. Rombongan tersebut yang berjumlah kurang lebih 70.000 orang sudah beranjak. Dikejauhan, gugusan fatamorgana yang mulai terlihat menggenangi landskap berpasir, sudah menunggu lama. Kepulan debu-debupun berkerumun mengitari kaki-kaki kuda maupun onta akibat hentakannya. Panas terik. Bola api matahari menyorot garang memanggang punggung-punggung. Sementara itu, di atas pelana, duduk sesosok pribadi suci yang membedakan dari selainnya. Muhammad Saw. Kepadanyalah Allah SWT beserta para malaikat-Nya dan orang-orang yang beriman bershawalat dengan shalawat yang tidak terhingga ujungnya, dan tidak terputus bilangannya.

Pandangan suci beliau Saw menyapu seluruh hamparan bumi. Purnama wajahnya tampak jelas tertimpa cahaya mentari. Dalam suasana yang mustahil dilukiskan dengan bahasa manusia biasa, Nabi Saw menerima wahyu Allah SWT: ”Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan apabila tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan (seluruh) risalah-Nya. Allah (akan) memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Maidah: 67)

Mengapa Allah SWT seakan memberi ancaman kepada kekasih-Nya? Apakah selama ini ada wahyu yang tidak disampaikan kepada umatnya? Tentunya tidak demikian cara penafsiran terhadap ayat tadi. Tapi, ancaman di ayat tersebut menunjukkan adanya sesuatu yang maha penting sehingga bila tidak segera disampaikan akan sama halnya dengan tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Lalu, risalah ap ayang harus segera disampaikan itu sehingga bila tidak segera disampaikan berarti sama dengan tidak menyampaikan seluruh risalah yang telah beliau Saw sampaikan selama ini?

Kafilah yang dipimpinnya terus berjalan menembus padang bara sahara, hingga sampailah di sudut padang pasir yang bernama Juhfah, sebuah persimpangan yang memisahkan perjalanan dan tujuan satu rombongan dari rombongan lainnya. Di tempat ini pula ada sebuah oase yang sering disebut Ghadir Khum. Untuk menyampaikan risalah-Nya, Beliau Saw memerintahkan sahabatnya berhenti dan berkumpul di tempat ini. Mereka yang telah mendahului rombongan diperintahkan untuk kembali, dan yang masih tertinggal diperintahkan untuk lebih cepat agar bergabung dnegan rombongan yang lebih dahulu. Menjelang Dhuhur, sesudah semuanya berkumpul Nabi Saw yang mulia tampak berdiri di atas susunan batu. Seluruh pandangan mengarah ke wajah sejuk 63 tahun itu.

Setelah untaian pujian kepada Allah SWT disampaikan, dengan nada yang kharismatik beliau Saw berpidato, ”Kini akan kusampaikan kepada kalian apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menghindarkannya dariku. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku dari orang-orang yang menentang. Bagiku cukuplah Allah yang Maha Pemurah sebagai penjamin. Firman-Nya untukku: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan seluruh risalah pesan-Nya, dan Allah akan memelihara dari gangguan manusia-manusia lain.” (QS Al-Maidah: 67). Selanjutnya beliau Saw mengatakan:

Wahai manusia, aku tidak pernah salah atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada kalian penyebab turunnya ayat ini. Malaikat Jibril as, turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintahkan aku untuk berdiri di tempat ini dan menyatakan kepada bangsa putih dan hitam, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudara, washiku (penerima wasiatku), penggantiku, dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nbai sesudahku.

Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu: ”Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku’.” (QS. Al-Maidah : 55)

Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalam keadaan ruku’ seperti yang dimaksudkan oleh Allah SWT itu. (Terj. Husein Shahab).

Pembaca Budiman. Kita tinggalkan sejenak pembahasan di atas dan nantinya akan kita lanjutkan. Tentu saja bisa dikatakan bahwa kaitan antara alam dunia dengan alam akhirat adalah persis sama kaitannya antara alam perut ibu dengan alam dunia ini. Tidak ada pemisahan di kedua alam tersebut, yang ada adalah kelanjutan. Konsekuensi dari pandangan dunia Islam seperti ini ialah bahwa masalah kepemimpinan tentu tidak ada pemisahan juga antara pemimpin dunia dari pemimpin akhirat. Tidak ada dualisme kepemimpinan. Di sini ada pertanyaan yang kita ajukan, lalu siapa yang mampu untuk memimpin umat manusia dari alam dunia ini hingga alam akhirat nanti? Jawabnya sangat jelas dan tegas, kita tidak tahu! Dikarenakan ketidaktahuan kita inilah maka Allah SWT lalu menunjuk siapa yang mempunyai kualifikasi spiritual untuk memberikan bimbingan pada umat-Nya, yang selanjutnya disebut Nabi atau Rasul. Maka tidak akan pernah ada Nabi atau Rasul hasil pemilihan umum. Manusia tidak akan pernah menyelenggarakan pemilu untuk memilih Nabi atau Rasul.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana bila Rasul terakhir sudah wafat dan tidak ada Rasul lagi. Siapa yang mampu memimpin umat pasca kenabian? Jawaban atas pertanyaan ini malah berupa pertanyaan balik, Apakah setelah Rasul Saw wafat lalu saat itu juga terjadi pemisahan antara alam dunia dan alam akhirat? Bukankah argument yang menyatakan bahwa akhirat merupakan kelanjutan dari dunia ini merupakan argument yang sudah tidak mungkin tersanggahkan lagi, sekalipun sudah tidak ada Nabi. Lalu, siapa yang mempunyai kualifikasi spiritual pasca kenabian sehingga beliau mampu membimbing umat manusia pasca kenabian? Jawabnya lagi-lagi sangat jelas dan tegas, kita tidak tahu! Karena ketidaktahuan kita ini maka Allah SWT lewat Nabi Saw telah pula menunjuk seseorang yang mampu membimbing umat manusia pasca kenabian. Beliau Saw berdasarkan wahyu dari Allah SWT sudah menetapkan seseorang yang mampu memimpin umat Islam sepeninggalnya sekaligus mampu menjelaskan atau menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits secara benar. Benar menurut Allah SWT dan bukan sekedar menurut manusia. Pemimpin pasca kenabian inilah yang kita sebut sebagai Imam. Dan, orang yang pertama kali menyandang julukan Imam setelah Rasul Saw wafat tak lain dan tak bukan adalah Imam Ali bin Abi Thalib Kw.

Kita kembali ke perbincangan semula. Setelah kita membaca hadits Ghadir Khum di atas, lantas apakah selesai begitu saja masalahnya? Tak ada lagi persoalan yang tersisa? Tuntas semua? Benarkah anggapan seperti itu? Oh, jangan tergesa-gesa mengatakan masalahnya sudah selesai, Pembaca yang budiman. Ternyata masih ada satu masalah yang tak lelah-lelah mengintip sejak tadi: bagaimana bila terjadi perbedaan penafsiran atas hadits tersebut atau terjadi perbedaan atas penyebab turunnya hadits itu. Bukankah perbedaan penafsiran merupakan hal yang wajar?

Ada sebagian umat Islam yang, karena terlatih dalil aqlinya atau logikanya, mereka berpendapat bahwa perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah wajar-wajarh saja. Perbedaan pendapat adalah rahmat. Kritik atas penafsiran seperti ini: perbedaan yang bagaimana yang merupakan rahmat itu? Apakah perbedaan penafsiran atas Al-Qur’an dan Al-Hadits yang pada gilirannya akan mengakibatkan perbedaan pada tingkat fiqih juga bisa dikatakan sebagai rahmat? Bukankah perbedaan penafsiran ini membuat kita tidak tahu lagi hasil penafsirannya siapa yang benar menurut Allah SWT? Pada saat yang sama kita ingin menjalankan fiqih dengan baik dan benar. Lalu, hasil penafsiran siapa yang baik dan benar menurut Allah SWT itu sehingga bisa dijadikan rujukan umat? Di sini, satu hadits saja sudah berpotensi menimbulkan perbedaan, bagaimana dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits secara keseluruhan? Jangan-jangan malah bisa dikatakan bahwa ketercerai-beraian umat Islam sekarang ini (dari dulu?) justru gara-gara terjadi perbedaan penafsiran atas Al-Qur’an dan Al-Hadits?

Syukurlah Allah SWT lewat Rasul-Nya telah menetapkan pemimpin umat ini pasca kenabian. Dialah Imam Ali kw. Sedikit kita lanjutkan hadits Ghadir Khum di atas, Nabi bersabda: ”Ketahuilah, wahai umat manusia, sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan Imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang akan datang setelahnya, orang-orang desa, kota, ’ajam (non-Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar, putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan Tauhid kepada Allah SWT. Keputusan hukum yang diambilnya (Ali) adalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi…”

Namun beribu sayang. Hadits Ghadir Khum di atas tertutup oleh sejarah bikinan orang-orang yang tak pernah menjalani proses sertifikasi spiritual. Saat ini sudah terlihat bangunan rapuh peradaban yang dibuat oleh orang-orang non sertifikasi spiritual tersebut. Perlahan-lahan pilar utamanya runtuh, dan menjatuhi oase Ghadir Khum sehingga umat Islam tak lagi mampu mereguk kebeningan air risalah-Nya. Umat Islam dibuat rabun oleh reruntuhannya.

Tapi, ini syukur kita untuk kesekian kalinya, puing-puing reruntuhan peradaban yang telah sekian abad menindih episode spiritual di oase Ghadir Khum telah diangkat, disingkirkan dan dibersihkan oleh matahari dari Persia. Ayatullah Khomeini. Puing-puing peradaban yang berserakan dan berantakan telah beliau pinggirkan. Jadi beliaulah yang telah bersedia untuk berakit-rakit ke hulu berjuang menyingkirkan puing-puing peradaban yang kita hari kita runtuh agar kita, yang hidup di kemudian hari, bisa berenang-renang ketepian menuju peradaban yang sesungguhnya. Dia pulalah yang telah pontang-panting bahkan tertimpa tangga runyamnya persoalan dunia sehingga kita bisa dengan mudah memetik nilai-nilai sejarah yang sejati dan bukan nilai-nilai yang dipungut dari sejarah ”jadi-jadian”.

Sekali lagi, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah sampai kita bisa membandingkan antara sejarah yang diseyogyakan ada dari sejarah yang yang ada. Sekarang dipenghujung perbincangan ini, kita sampaikan Al-Fatihah kepada sang matahari dari Persia, Ayatullah Khomeini.

Allahumma shalli ’ala Muhammad wa Aali Muhammad

Al-Fatihah…

Ya Allah, Engkaulah yang menguasai urusan kami sebelum kami mampui beribadat kepadaMu. Engkaulah yang mempersiapkan pahala kami sebelum kami mulai menaati-Mu. Semua itu karena Sunnah-Mu memberi, kebiasaan-Mu berbuat baik dan jalan-Mu memaafkan. Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan Ahlulbayt beliau sebagaimana Engkau perintahkan kami untuk bershalawat kepadanya, hingga Engkau relakan mereka dan engkau gandakan kerelaan-Mu, karena memang Engkaulah ahlinya, ya Arhamar Rohimin. (Terj. Jalaluddin Rakhmat).

*Ketua Umum Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Solo